Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bantu aku


__ADS_3

Austin saat ini tengah menatap ke arah pintu utama ruangan kerjanya ketika mendengar suara ketukan pintu dan membuatnya berpikir bahwa itu adalah asisten pribadi. Hingga ia menunggu sampai pintu terbuka dan ternyata benar apa yang ada di pikirannya.


"Ada apa?"


Daffa yang saat ini menangkap ke arah atasannya, berjalan sambil membawa kotak berukuran sedang. "Tuan, ada paket untuk Anda. Entah mengapa paket ini ditujukan ke perusahaan karena tidak ada nama pengirimnya."


Ia lalu berjalan menuju ke arah bosnya dan meletakkan kotak itu di atas meja. Saat ia hendak kembali ke ruangan, tidak jadi melakukannya begitu mendapatkan perintah dari bosnya tersebut.


"Buka saja karena aku sepertinya sudah menduga jika itu adalah paket yang sama dengan yang kamu bawa ke kantor polisi," ucap Austin yang saat ini tidak tertarik untuk membuka paket itu.


Sampai pada akhirnya ia melihat asisten pribadinya membuka paket yang sudah bisa ditebak jika berisi foto Diandra yang berlumur darah. "Jika benar apa yang aku katakan saat ini, bawa ini ke kantor polisi lagi. Aku harap para polisi itu segera menemukan siapa dalang dibalik semua ini."


"Meskipun aku sudah menduga jika pelakunya adalah salah satu dari keluarga Narendra, tapi karena tidak ada bukti yang mengarah ke sana, jadi harus sabar para aparat kepolisian membereskan masalah ini." Saat Austin baru saja menutup mulut, melihat kotak itu sudah terbuka dan kali ini ternyata apa yang dipikirkan salah.


Daffa menunjukkan apa yang ada di dalam kotak. "Bukan foto, Presdir." Kemudian mengambil sesuatu dari dalam yang tak lain adalah sebuah kain putih dan satu lagi adalah kemeja berwarna hitam."


Austin yang saat ini mengepalkan tangan karena paham apa arti dari barang yang dikirimkan oleh orang tak dikenal itu. Ia pun saat ini menggebrak meja karena tidak bisa mengontrol amarah yang memuja di dalam hati ketika mengingat apa maksud dari paket itu.


"Kau paham apa maksud ini, bukan?" Ia tahu jika asisten pribadinya bukanlah orang yang bodoh dan tidak tahu apa arti dari paket yang baru saja dikirimkan ke kantor tersebut.


Daffa seketika menganggukkan kepala karena memang terlihat sangat jelas jika kain berwarna putih itu berarti sebuah pakaian terakhir untuk manusia sebelum dikebumikan dan pakaian berwarna hitam tersebut identik dengan kata turut berduka cita.


"Iya, Tuan. Saya mengerti artinya. Sebenarnya siapa orang jahat yang mengirimkan hal-hal seperti ini? Apakah benar jika salah satu dari keluarga Narendra? Lalu apa yang mereka inginkan sebenarnya?" Ia saat ini kembali mengembalikan isi dari kotak tersebut.


Sampai pada akhirnya ia menutup kembali karena akan membawanya ke kantor polisi sesuai dengan perintah dari bosnya tersebut agak segera menemukan orang yang mengirimkannya.


"Saya akan memeriksa CCTV kantor untuk melihat siapa yang tadi mengirimkan paket ini," ucap Daffa yang bisa melihat wajah muram dari atasannya yang tidak langsung menjawab.


Austin yang selalu merasa jika nasib dari istrinya tidak aman karena menjadi incaran balas dendam orang-orang jahat yang ditebaknya adalah ibu dari Yoshi serta pamannya. Namun, ia menyadari tidak akan pernah bisa untuk menjebloskan mereka ke dalam penjara jika tidak ada bukti sama sekali.


Kini, ia menatap ke arah asisten pribadinya tersebut. "Mereka tidak pernah suka melihat kebahagiaan kami dan ingin membalas dendam atas apa yang dialami oleh karena mengalam koma selama satu tahun belakangan ini."


Kemudian ia saat ini membuka ponselnya dan menunjukkan video yang baru saja diterima dari nomor asing. "Lihatlah! Bahkan sekarang dia sudah sadar. Apa dia akan kembali ke Jakarta? Lalu kenapa masih ada teror setelah dia pulih dari koma?"


Austin yang saat ini memijat pelipis karena merasa bahwa apa yang dilihatnya merupakan sebuah kabar baik sekaligus buruk. Ia sangat senang melihat Yoshi sudah sadar kembali dan berharap tidak ada lagi dendam yang mengarah pada istrinya yang sama sekali tidak bersalah dalam kecelakaan.


Namun, harus mendapatkan sebuah kebencian dari para keluarga Narendra gara-gara Yoshi yang mengalami koma dan ditambah dengan dirinya saat mengatakan hal yang jujur pada pria itu dan berakhir semakin parah.


Saat tadi pertama kali melihat Yoshi sadar dan sudah berbicara dengan dokter, hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah apakah ia akan kembali ke Jakarta dan merebut Diandra darinya.


Jadi, meskipun dalam hati kecilnya ikut senang ketika melihat Yoshi sudah sembuh dan kembali normal, tetap saja ada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena saat ini yang dipikirkan hanyalah sang istri.


"Apakah istriku akan mengingat tentang masa lalu saat bertemu dengan Yoshi?" tanya Austin pada asisten pribadinya karena ingin mengetahui tanggapan dari pria yang saat ini masih menonton video berdurasi beberapa menit tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai menonton video dari ponsel bosnya, Daffa saat ini mengembalikan benda pipih tersebut pada pemiliknya. "Saya yakin bahwa meskipun nyonya melihat ini, tidak akan dengan mudah meruntuhkan sebuah cinta yang dimiliki untuk Anda."


"Apalagi rumah tangga Anda yang penuh dengan liku-liku dan perjuangan, tidak akan dengan mudah membuat Nyonya Diandra memilih untuk kembali pada Yoshi. Apalagi Anda selalu memperlakukan nyonya selayaknya ratu dan selalu membuatnya bahagia, pasti akan tetap memilih berada di sisi Anda daripada Yoshi."


Meskipun tujuan utamanya adalah ingin membuat bosnya tersebut tidak patah semangat, tetap saja ingat ia juga merasa was-was karena tidak tahu apa yang ada di pikiran seorang Diandra jika ingatannya telah kembali dan mengetahui jika mantan suami sudah sadar.


"Kau sangat pintar menghiburku agar tenang dalam menghadapi semua masalah yang menimpa keluargaku," ucap Austin yang saat ini berpikir bahwa ia tidak boleh terlalu merasa khawatir akan sesuatu hal yang belum terjadi dan membuat hidupnya tidak tenang.


Diperbudak boleh kekhawatiran karena takut kehilangan wanita yang sangat dicintai, membuatnya tidak ingin itu terjadi dan mencoba untuk berpikir positif.


"Kau benar. Aku tidak boleh memikirkan hal yang membuatku hidup tidak tenang bersama dengan istri dan anakku. Baiklah. Cepat bawa ini ke kantor polisi dan katakan mengenai pemikiran kita yang serupa." Ia menatap ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan bahwa satu jam lagi saatnya ia pulang.


Apalagi tadi mengingat pesanan sang istri yang merupakan makanan khas Jepang. "Oh iya, nanti saat pulang dari kantor polisi, sekalian belikan aku makanan khas Jepang di sebelah perempatan yang sangat ramai pembeli itu. Kau tahu, kan?"


Daffa saat ini menganggukkan kepala karena memang sering melewati pedagang tersebut. "Iya, Tuan. Saya akan membelikannya. Isian apa, Tuan? Ada banyak sekali isiannya."


"Istriku tadi bilang isian gurita. Ada-ada saja keinginannya karena membayangkan makan gurita saja membuatku mual, tapi dia malah suka. Bahkan apapun makanan yang dipesan, pasti selalu habis dan tidak pernah ia buang." Hal itulah yang membuat Austin selalu bersemangat untuk membelikan apapun yang diinginkan sang istri.


Bahwa wanita yang sangat dicintainya tersebut sangat menghargai makanan dan tidak pernah membuang-buang jika tidak suka ataupun tidak habis karena selalu saja menghabiskannya.


"Itu namanya menghargai rezeki, Tuan. Nyonya selalu menghargai dan bersyukur atas rezeki yang didapatkan, sehingga Tuhan menambah nikmat yang diberikan pada umat-Nya. Kalau begitu, saya akan pergi untuk membelikan nyonya takoyaki sepulang dari kantor polisi." Kemudian ia membungkuk hormat sebelum berbalik badan untuk meninggalkan ruangan kerja atasannya tersebut.


Austin yang tadinya membenarkan perkataan dari Daffa bahwa semua orang yang bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, akan berkali lipat ditambah karena ia merasakannya sendiri.


Mensyukuri nikmat yang didapatkan dan membuatnya merasakan lebih dan lebih dari biasanya. "Dia terkadang sangat pantas menjadi seorang penceramah karena selalu berhasil membuatku tenang ketika gelisah."


Rutinitas sehari-hari yang membuatnya selalu bersemangat ketika pulang kerja karena mendapatkan obat dari rasa lelah melihat istrinya yang cantik tersenyum padanya dan juga putranya yang menggemaskan dan tampan menghambur ke arahnya saat meminta digendong.


Kebahagiaan yang ia ketahui didapatkannya itu berbanding terbalik dengan Yoshi yang hanya bisa berbaring di atas ranjang selama setahun lebih. Ia saat ini kembali mengingat video yang tadi ditonton.


"Istriku, aku harap kamu tetap bersamaku meskipun ingatanmu sudah kembali dan mengetahui keadaan Yoshi saat ini."


Saat mencoba untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif, Austin dengan membenamkan diri melalui pekerjaan hari ini, bisa membuatnya melupakan apa yang dirasakan setelah melihat video yang dikirimkan oleh seseorang yang diyakininya merupakan keluarga Narendra.


Ia pun kembali fokus bekerja agar bisa segera pulang. Hingga ruangan yang dipenuhi oleh keheningan tersebut hanya bisa mendengar suara dari nafas dari Austin yang sudah kembali sibuk dengan beberapa dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani.


Detik yang berganti menit dan jam telah berlalu dan saat waktu pulang telah tiba. Austin tersenyum simpul karena selalu merasa senang setiap pulang kerja. Ia saat ini tepat baru menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa Daffa belum kembali?" Ia menatap mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan tidak terasa jika asisten pribadinya tersebut sudah pergi selama satu jam dan belum kembali.


Ia ingin memastikan apakah asistennya tersebut masih berada di jalan. Kemudian menghubungi untuk mengetahui apakah ia perlu membeli sendiri pesanan dari sang istri atau menunggu asisten datang.


Namun, ia mengerutkan kening karena nomor asisten pribadinya tidak aktif. "Tumben nomornya tidak aktif? Apa kehabisan daya?"

__ADS_1


Tidak mau menunggu di dalam ruangan yang membuatnya bosan, Austin kini memilih untuk bangkit berdiri dari kursi dan membawa tas kerjanya keluar dari ruangan. Ia berniat untuk menunggu asisten pribadinya tersebut di lobi.


Saat berjalan menuju ke arah lift, ponsel miliknya berbunyi dan awalnya berpikir yang menelpon adalah asisten pribadinya, tapi ternyata kontak dari sang istri dan membuatnya tidak membuang waktu karena langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Iya, Sayang. Aku saat ini baru saja keluar dari ruangan dan akan pulang," ucap Austin menunggu apa yang diinginkan oleh sang istri karena tubuh menelpon.


Hingga ia mendengar suara bisa ngisi yang sangat dicintainya tengah mengungkapkan sesuatu hal yang tidak pernah ia duga sama sekali dan membuatnya mengepalkan tangan dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah.


"Halo, Sayang. Ini di rumah ada tamu yang mencarimu. Aku bilang bahwa kamu belum pulang dan bisa menemuinya di perusahaan, tapi mengatakan ingin menunggu di rumah saja karena ingin berbicara denganku juga. Namanya adalah tuan Adi Putra dari perusahaan konsultan terbesar di Jakarta," ucap Diandra yang saat ini ingin mengetahui respon dari sang suami.


Ia yang masih berakting tidak mengingat siapa pria yang datang ke rumah, padahal mengetahui jika itu adalah paman dari Yoshi. Berpikir akan ada sesuatu hal yang dikatakan oleh pria itu karena berani datang ke rumah. Padahal selama ini tidak pernah ada siapapun yang berani datang ke rumah dan berpikir bahwa hari ini ada sesuatu hal yang tidak beres.


'Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh paman dari Yoshi hingga datang ke rumah seperti ini? Apalagi selama ini tidak ada yang berani datang ke rumah ini dan membuatku merasa aneh, sekarang makin bertambah aneh karena pertama kali melihat pamannya Yoshi,' gumam Diandra yang malah mendengar suara dari sang suami seperti Tengah menahan amarah.


"Suruh dia datang ke perusahaan saja! Siapa yang mengizinkannya masuk ke dalam rumah? Apa para pengawal tidak melarangnya masuk?" Austin ya saat ini sudah memecat tombol lift agar segera membawanya turun ke lobi, merasa sangat marah karena saat ini yang dipikirkan hanyalah Diandra.


Ia benar-benar sangat khawatir jika ia paruh baya tersebut mengatakan pada sang istri mengenai Yoshi dan membuatnya bisa mengingat tentang masa lalu.


'Berengsek! Aku sama sekali tidak menyangka jika pria tua bangka itu datang ke rumah dan berani menemui istriku. Aku tidak akan tinggal diam begitu mengetahui jika ia berani macam-macam pada istriku," sarkas Austin di dalam hati dan saat ini mendengar jawaban yang membuatnya makin bertambah kesal.


"Aku tadi sudah mengatakan itu, tapi katanya sama sekali tidak keberatan menunggu di rumah. Ia juga merasa lelah karena tadi mengatakan baru saja melakukan meeting di area sekitar sini dan terlalu jauh jika ada tangga perusahaan, jadi sengaja mampir ke rumah. Lebih baik kamu cepat pulang, Sayang. Aku sudah terlalu lama meninggalkannya, aku tutup dulu karena ingin menemaninya berbicara."


Kemudian Diandra mengakhiri dengan mengucapkan salam dan tidak menunggu tanggapan dari sang suami karena ingin mengetahui apa kira-kira yang akan disampaikan oleh paman dari Yoshi.


Apalagi kebetulan ia sangat ingin mengetahui tentang pria itu. Jadi, sekalian ini bertanya apa maksud kedatangan paman dari Yoshi ke rumah.


Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Austin yang memerah wajahnya karena dikuasai oleh amarah ketika membayangkan hal-hal yang akan dilakukan oleh pria paruh baya tersebut.


Bahwa mungkin saja akan mengatakan keadaan Yoshi dan menceritakan bahwa mereka pernah mempunyai hubungan dan sempat menikah. "Aku akan membunuhmu, Adi Putra!"


Austin seketika berjalan cepat keluar dari kulit begitu terbuka dengan tangan mengepal karena dikuasai angkara murka. Hingga ia yang berniat untuk masuk ke dalam mobil, mendengar suara bariton dari asisten pribadinya yang baru saja datang.


"Tuan Austin, ini pesanan Anda."


"Kenapa ponselmu mati? Apa kau tahu itu sangat penting? Aku tadi menghubungimu dan berpikir macam-macam karena nomormu tidak aktif." Austin meluapkan amarah pada asisten pribadinya untuk melampiaskan perasaannya yang memuncak ketika membayangkan jika sang istri akan mengetahui tentang Yoshi.


Namun, ia mendadak mendapatkan sebuah ide di kepalanya. "Ikut aku. Cepat setir mobilnya!"


Daffa yang tadinya ingin menjawab kekesalan dari sang atasan, kini mengetahui jika ada sesuatu yang tidak beres dan membuatnya tidak banyak bertanya. Ia langsung melaksanakan perintah dari bosnya tanpa meminta penjelasan.


"Baik, Bos." Kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, selalu menyalakan mesin.


Saat mengemudikan kendaraan meninggalkan area perusahaan, baru mendengar perkataan dari atasannya dan membuatnya mengerti apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Bantu aku untuk membuat Adi Putra pergi dari rumahku," ucap Austin yang saat ini menceritakan tentang apa yang ada di pikirannya untuk membuat paman dari Yoshi segera pergi dari rumah dan tidak berbicara apapun pada diantara.


To be continued...


__ADS_2