
Tiga tahun kemudian ...
Tiga telah berlalu, sosok wanita cantik dengan penampilan yang rapi memakai setelan rok dan blazer yang modis. Ia memakai setelan berwarna merah dengan kamisol berwarna hitam dan sepatu berhak abu-abu dari bahan suede.
Tidak lupa rambut panjangnya sudah digelung ke atas dengan hiasan rambut berbentuk bunga yang membuatnya makin rapi dan cantik. Kini, wanita yang tampak profesional, kompeten itu tengah sibuk menatap layar komputer di depannya untuk memeriksa laporan perusahaan.
Saat ini yang merupakan perusahaan teh dan kopi yang inovatif dan berorientasi global.
Sosok wanita yang tak lain adalah Diandra Ishana meraih reputasi sebagai market leader di perusahaan yang dalam penjualan produk sejenis sudah dikenal luas di seluruh dunia.
Saat jam pulang kantor, Diandra beranjak dari kursi kerjanya setelah membereskan semuanya. Ia berniat berjalan keluar dari tempatnya, tetapi ada CEO perusahaan yang masuk ke ruangannya, tak lain adalah Emran yang selama ini sudah memperlakukannya seperti putri sendiri.
"Diandra, aku butuh bantuanmu." Emran kini menyerahkan sebuah amplop yang tak lain berisi undangan.
Diandra mengerutkan keningnya dan menerima kertas berukuran sedang yang sudah berpindah ke tangannya. Kemudian membukanya untuk mengetahui permintaan tolong apa yang diungkapkan oleh pria paruh baya tersebut, agar ia tidak perlu bertanya.
"Undangan untuk menghadiri acara para pengusaha sukses di Jakarta? Ini ...." Diandra tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh pimpinan perusahaan yang dihormatinya tersebut.
__ADS_1
"Aku tahu itu untukku, tapi kebetulan acaranya tepat saat jadwalku untuk mengunjungi putri dan cucuku di Singapura. Jadi, aku ingin kamu yang datang mewakili perusahaan kita. Lagipula kamu yang telah banyak berjasa bagi perusahaan.
"Aku harap dengan menghadiri acara ini, bisa bertemu dengan para pengusaha sukses di Jakarta dan bisa makin membuatmu terinspirasi."
Emran berharap Diandra yang sampai sekarang belum membuka hati pada pria dan memilih untuk menjadi single parent untuk putranya yang kini sudah berusia 2 tahun lebih dan sudah dianggap sebagai cucunya sendiri, mendapatkan seorang pria yang bertanggungjawab di acara tersebut.
Sementara itu, Diandra yang merasa tidak tertarik untuk pergi menghadiri acara tersebut karena diadakan di Jakarta. Ia khawatir akan bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya di masa lalu, khususnya dua pria yang pernah hadir di hidupnya dan meninggalkan kenangan membekas di hati.
"Presdir, bagaimana kalau mencari orang lain saja? Aku ... sebenarnya aku khawatir jika bertemu dengan ...." Diandra tidak bisa menyebutkan seseorang yang paling dibenci, yaitu Austin yang menipunya mentah-mentah.
"Bukannya aku ingin mengingatkanmu pada bajingan itu, tapi sampai kapan kamu memilih untuk menyembunyikan diri dan merasa takut bertemu dengannya? Hidup terus berjalan dan kamu bisa menjalaninya dengan baik, bukan? Lalu, kenapa kamu takut pada si berengsek itu?" tanya Emran yang ingin menyadarkan sosok wanita di hadapannya.
Diandra hanya diam dan meresapi semua pendapat dari pemimpin perusahaan yang selama ini telah merubah kehidupannya dan membuatnya tidak terpuruk sampai sekarang. Bahkan ia bisa hidup dengan baik membesarkan putranya tanpa kekurangan suatu apapun.
Bahkan tidak berani menghinanya maupun putranya karena lahir tanpa seorang sosok ayah. Ia kini menatap ke arah pria paruh baya di hadapannya. "Ya, Anda memang benar, Presdir. Aku tidak seharusnya hidup dengan perasaan ketakutan hanya karena si berengsek itu."
"Baiklah. Aku akan menghadiri undangan ini untuk mewakili Anda." Diandra saat ini tengah mengingat akan sesuatu hal. "Oh ya, bukankah Anda dan nyonya akan berangkat ke luar negeri, berarti aku harus mengajak putraku ke Jakarta?" tanya Diandra yang kini kembali bimbang.
__ADS_1
"Biarkan putramu ikut bersama kami. Lagipula kami hanya satu minggu dan akan kembali lagi ke sini." Emran tidak ingin Diandra mengkhawatirkan tentang masalah anak laki-laki yang sudah dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh wanita tanpa suami itu.
Refleks Diandra menggelengkan kepalanya karena ia tidak bisa berpisah dengan putranya walau hanya satu hari saja. "Tidak, Tuan Emran. Biarkan putraku di sini bersamaku. Aku akan mengajak satu pelayan nanti ke Jakarta agar ikut bersamaku.
Diandra memang berencana untuk menghadiri acara tersebut, tapi akan meninggalkan putranya di hotel bersama dengan pelayan.
Karena berpikir tidak ingin pergi meninggalkan putranya di puncak saat ia menghadiri acara di Jakarta. Ia berniat untuk mengajak putranya jalan-jalan selama di Jakarta agar senang.
Sementara itu, Emran yang awalnya khawatir Diandra tidak mau datang menghadiri acara penting yang dihadiri banyak pengusaha hebat di seluruh Indonesia, kini merasa lega.
"Baiklah kalau memang kamu tidak mengizinkan kami membawa putramu ke luar negeri. Aku pun tidak mungkin memaksa. Sekarang ayo kita pulang." Emran kini berjalan menuju ke arah pintu keluar dengan perasaan lega.
'Aku berharap kamu nanti bisa kenal banyak pengusaha sukses dan siapa tahu berjodoh dengan salah satu dari mereka. Kamu berhak hidup bahagia bersama dengan pria yang mencintaimu dengan tulus dan bisa menerima putramu,' gumamnya di dalam hati karena tidak mungkin mengatakan secara langsung pada Diandra.
"Baik, Presdir." Diandra kini mengangukkan kepala dan tersenyum simpul. Kakinya yang jenjang kini menapaki lantai licin berwarna putih itu dan sibuk mengulas senyum dengan sesekali menganggukkan kepala untuk menjawab sapaan dari para staf perusahan.
To be continued...
__ADS_1