
Sosok Malik Matteo yang baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan, kini merasa sangat terkejut melihat respon dari wanita yang sangat dicintai putranya.
Namun, seolah semesta berkata jika apa yang dulu dilakukan saat menjodohkan adalah sebuah hal buruk dan berakibat pada putranya secara langsung. Hingga berakhir kecelakaan dan amnesia. Bahkan hal sama didapatkan Diandra, sehingga saat ini merasa bersalah sekaligus tidak tega.
Apalagi melihat sosok wanita yang tengah memegangi kepala dan seperti tengah kesakitan, sehingga berinisiatif untuk segera keluar dari ruangan.
Itu karena ingin segera memanggil dokter, agar menangani pasien yang sedang kesakitan. Begitu melihat perawat dan dokter sudah berjalan masuk ke dalam ruangan, ia memilih untuk duduk di depan karena tidak ingin membuat keadaan semakin kacau karena kehadirannya.
Kini, ia memilih duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Berharap tidak terjadi hal buruk pada calon menantunya.
'Meski saat ini tengah amnesia, tapi sepertinya ada kepingan memori di otak Diandra yang tertanam sangat kuat. Itu sudah dipastikan dan aku benar-benar sangat menyesal karena dulu pernah memaksa Austin menikah dengan wanita lain.'
'Seandainya aku dulu tidak memandang kasta, mana mungkin akan terjadi hal seperti ini. Mungkin mereka sudah hidup dengan berbahagia,' gumam Malik Matteo Mahendra yang saat ini tengah sibuk menyesali semua perbuatan yang dianggap sangat jahat di masa lalu.
Saat masih sibuk menyesali perbuatan, melihat pintu ruangan perawatan terbuka dan sosok wanita yang sudah menemani dalam suka dan duka selama lebih dari 30 tahun telah berjalan mendekat.
"Kamu pasti tengah menyalahkan diri sendiri begitu melihat respon Diandra begitu melihatmu," ucap sosok wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik tersebut kala mendaratkan tubuh di kursi sebelah sang suami.
"Iya, aku yakin jika Diandra di masa lalu sangat membenci Austin dan aku karena menjodohkannya." Malik Matteo kini benar-benar sangat menyesal karena tidak bisa melihat kebaikan sosok wanita yang sangat dicintai putranya.
Namun, penyesalan tidak berguna karena semuanya seolah sudah terlambat, meski Austin akhirnya akan bisa menikahi Diandra.
Apalagi pernikahan terjadi saat Diandra kehilangan memori dan langsung menerima putranya.
"Diandra bahkan sebenarnya bisa menuntut Austin untuk bertanggungjawab, tapi sama sekali tidak melakukan itu dan malah memilih membesarkan Aksa seorang diri.
Raut wajah penyesalan dari suami bisa dilihat jelas oleh sang istri, sehingga saat ini mencoba untuk menghibur. Namun, ketika baru mengusap lengan kekar itu, melihat putranya keluar dari ruangan dan berjalan mendekat.
"Bagaimana? Apa Diandra baik-baik saja? Apa kata dokter?" tanya Malik Matteo yang saat ini seketika bangkit berdiri dari posisi.
Sementara itu, Austin yang beberapa saat lalu berusaha untuk menenangkan Diandra karena benar-benar merasa sangat iba dengan wajah pucat itu. Hingga begitu melihat perawat sudah menyuntikkan obat ke dalam selang infus dan beberapa saat kemudian berangsur tenang dan tertidur.
Kemudian meminta orang tua Diandra menjaga putranya yang dari tadi menangis karena mengkhawatirkan keadaan sang ibu.
__ADS_1
"Diandra sudah tenang dan beristirahat," ucap Austin yang saat ini tengah menatap wajah penuh sang ayah.
"Syukurlah," ucap pasangan suami istri tersebut dengan wajah penuh kelegaan.
"Sepertinya untuk sementara waktu, Papa jangan ke sini karena aku khawatir akan berdampak pada kesehatan Diandra. Apalagi ini berhubungan dengan syaraf, jadi harus berhati-hati." Akhirnya Austin memilih untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
Meskipun merasa jika sang ayah akan sangat kecewa, tapi terpaksa harus lebih mengutamakan Diandra. "Maafkan aku, Pa karena harus mengatakan ini."
Malik Matteo tidak langsung menjawab karena sebenarnya juga berpikir seperti itu, tapi sedikit kecewa pada putranya karena semenjak kehadiran Diandra, sikap Austin benar-benar berubah sangat berbeda.
Selalu membantah jika itu berhubungan dengan Diandra, seperti hari ini, tanpa berpikir panjang, langsung melarang datang.
"Papa tahu bahwa meskipun ke sini dengan niat baik untuk menerima sepenuhnya sosok wanita yang kini amnesia dan cacat menjadi menantu di keluarga kita tidak mampu mengubah mindset Diandra."
"Jadi, Papa tidak akan pernah lagi datang ke sini. Tadi pulang kerja, ingin membicarakan mengenai pernikahan kalian dan juga pengobatannya. Namun, setelah kejadian ini, sepertinya akan menyerahkan semua pada kalian, khususnya kamu, Putraku."
Kemudian menepuk bahu Austin. "Papa percaya pada semua keputusanmu."
Sementara itu, Austin kini memeluk erat sang ayah karena jujur saja, meskipun belum bisa sepenuhnya memaafkan kesalahan pria paruh baya tersebut, tapi sangat berterima kasih karena sekarang telah sepenuhnya percaya pada keputusannya.
Apalagi Austin mengingat kejadian di apartemen yang membuatnya menghancurkan hidup Diandra karena jika tidak melakukan itu, wanita itu tidak akan hidup menderita karena memiliki seorang anak laki-laki tanpa ayah.
Malik Matteo menganggukkan kepala dan mengingat sesuatu, sehingga mengungkapkan pada putranya. "Iya, Papa paham dan tidak mungkin berpikir seperti itu. Jadi, tenang saja. Kalau begitu, Papa akan pulang bersama mamamu."
"Apakah sekalian kami membawa cucu untuk pulang? Kasihan jika anak kecil terus di rumah sakit karena rawan tertular penyakit." Menatap ke arah putranya agar memberikan jawaban.
"Bagaimana kalau kita ajak cucu ke rumah utama?" tanya ibu dari Austin dan menunggu putranya tersebut memberikan izin.
Khawatir jika mereka salah, jadi harus bertanya terlebih dahulu. Saat masih menunggu jawaban dari putranya, melihat perawat dan dokter yang tadi menangani Diandra.
Tidak hanya itu saja, semua orang melihat beberapa orang keluar dari ruangan sebelah dan mendorong brankar melewati mereka.
Di baris paling belakang, melihat sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari pasien, yaitu Asmita Cempaka menatap mereka dengan sinis.
__ADS_1
"Dasar keluarga tidak tahu diri! Kalian semua akan mengalami nasib sama seperti kami jika tetap membela Diandra—wanita pembawa sial itu."
"Jika itu terjadi, aku akan bersorak kegirangan," sarkas Asmita yang merasa sangat marah melihat keluarga Mahendra karena akan menerima Diandra sebagai menantu setelah nasib putranya koma.
Tadi sudah berbicara dengan dokter yang menangani putranya. Bahwa diizinkan membawa ke rumah sakit terbaik di luar negeri karena melihat tanda-tanda vital putranya tersebut jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, langsung memutuskan untuk membawa ke luar negeri. Namun, begitu melihat orang-orang yang dianggap musuh besar, langsung mengumpat.
Sementara itu, Austin yang tidak suka dengan wanita itu mengatakan Diandra pembawa sial, kini langsung menyahut untuk membantah.
"Seandainya Diandra tidak terpaksa menikah dengan Yoshi karena kasihan, pasti tidak akan pernah berakhir amnesia dan lumpuh. Seharusnya sebagai seorang wanita yang bermartabat dan terhormat, bisa menjaga dan memfilter perkataan."
"Bukan malah mempermalukan diri sendiri dengan memutarbalikkan fakta jika Diandra bersalah atas kemalangan putra Anda yang saat itu mengemudikan mobil dan kendali ada di tangan Yoshi, bukan Diandra."
Berharap jika wanita paruh baya tersebut tidak berani lagi mengusik karena jika bertemu dengan wanita itu ketika tengah bersama Diandra, pasti akan kembali seperti ini situasinya dan membuat mereka malas ketika bertemu.
Asmita Cempaka berusaha untuk tidak terpancing emosi, tetapi tidak bisa melakukan itu saat mengingat keadaan putranya yang bahkan sudah pernah meninggal, tetapi selamat lagi.
Tentu saja setiap mengingat hal itu, langsung membuatnya mengangkat tangan untuk mengarahkan pada wajah pria yang diketahui sepantaran dengan putranya.
"Dasar pria sialan!" sarkasnya yang membulatkan mata begitu tidak bisa melakukan niat karena dihentikan oleh wanita yang berdiri tak jauh dari sang putra.
"Jangan pernah menyentuh putraku, Nyonya! Karena aku sama sekali tidak pernah melakukan itu pada anak laki-laki yang kulahirkan!" sarkas ibu dari Austin karena benar-benar tidak terima.
Ibu mana yang bisa melihat putranya dimarahi oleh wanita lain. Tentu saja tidak bisa membiarkan hal itu.
Austin yang tadinya sama sekali tidak takut akan ditampar, sehingga membiarkan ibu Yoshi berbuat sesuka hati. Berharap akan bisa mencari celah untuk mengancam, tapi sang ibu menunjukkan kekuatan dan membuatnya merasa sangat terharu.
'Aku sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang sangat penyayang,' gumam Austin yang kini merasakan tepukan tangan dari sang ayah.
Seolah ingin membahas mengenai hal yang berhubungan dengan kebersamaan keluarga mereka. Namun, ternyata malah mengusirnya.
"Austin, masuklah. Papa akan berbicara dengan wanita ini untuk menyelesaikan masalah yang sengaja dibuat seperti kamu juga ikut andil dalam kejadian malang itu.
__ADS_1
To be continued...