Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Malu memiliki menantu cacat


__ADS_3

"Sebenarnya siapa orang yang marah-marah di depan ruangan ini?" tanya Diandra pada sang ibu begitu melihat ayahnya keluar untuk memeriksa.


Meski samar-samar, tetap saja bisa mendengar jika ada seorang wanita yang berteriak di depan ruangan dengan memanggil namanya.


Ia merasa sangat penasaran dengan siapa wanita yang seperti marah-marah padanya. Namun, jawaban dari wanita paruh baya di hadapannya yang mengendikkan bahu, menjelaskan bahwa tidak tahu apapun.


"Mana Ibu tahu. Lagipula kami baru saja tiba di kota ini setelah dijemput oleh orang suruhan bosmu. Jadi, tidak tahu siapa wanita yang tengah berteriak seperti orang tidak punya sopan santun." Wanita paruh baya itu merasa sangat khawatir jika putrinya tidak percaya dengan kebohongan yang baru saja dilakukan.


Berharap setelah menjawab seperti itu, putrinya tidak lagi bertanya padanya.


Hingga beberapa saat kemudian, sudah tidak ada lagi suara teriakan dari luar yang menyebut nama putrinya. Namun, sang suami tak kunjung kembali dan membuatnya bertanya-tanya.


'Di mana suamiku? Kenapa tidak kunjung masuk ke dalam? Apakah sedang berbicara serius pada nyonya Asmita?' gumamnya yang saat ini tersadar dari lamunan ketika merasakan tangannya dipegang oleh putrinya.


"Ibu saat ini sedang memikirkan apa?" Diandra beberapa saat lalu mencoba mengingat siapa kira-kira wanita yang datang dengan marah-marah menyebut namanya.


Namun, dalam ingatan, tidak bisa mengingat apapun dan melirik ke arah sang ibu yang terlihat melamun. Hingga merasa aneh dan menyadarkan wanita paruh baya di hadapannya.


Hingga suara sang ibu seperti sangat mencurigakan ketika menolak untuk menjawab.


"Tidak ada. Ibu akan memeriksa di luar terlebih dahulu. Apakah ayahmu masih berbicara dengan wanita yang berteriak memanggil namamu dengan marah-marah." Beranjak dari tempat duduk dan langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari putrinya.


Merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi dan sang suami tak kunjung kembali ke dalam, sehingga kini ingin memeriksa sendiri.


Namun, saat hampir tiba di dekat pintu, melihat sang suami baru saja masuk dan memberikan kode dengan mata serta lirih berbicara agar Diandra tidak mendengar.


"Apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu?"


Pria paruh baya tersebut hanya menggeleng perlahan untuk menegaskan tidak akan bercerita sebelum Diandra tidur karena khawatir jika putri mereka akan curiga dan memilih berjalan menuju ke arah ranjang putrinya.


"Siapa wanita yang ada di depan dan marah-marah dengan menyebut namaku? Kenapa tidak diajak masuk agar aku tahu siapa?" Diandra dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari pintu dan merasa senang melihat sang ayah kembali.

__ADS_1


Berharap bisa segera mengobati rasa penasaran karena berpikir jika terjadi sesuatu yang tidak diketahui.


Sang ayah beberapa saat lalu mendapatkan pesan dari Austin jika Aksa terus menangis mencari Diandra dan Yoshi. Bahkan tidak mau menerima pria itu sebagai seorang ayah. Namun, sedikit lega begitu beberapa saat kemudian kembali mendapatkan pesan jika Austin sudah berhasil menenangkan dengan membelikan es krim dan coklat.


Akhirnya tidak jadi datang ke rumah sakit untuk mempertemukan ibu dan anak laki-laki itu dengan status palsu, yaitu putra Austin dan membohongi jika sangat membutuhkan figur seorang ibu.


Ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan setelah berbohong. "Wanita itu tadi adalah ibu dari supir truk yang menabrak taksi dan tidak terima putranya dipenjara karena ingin kamu membebaskannya."


"Semuanya diurus oleh nak Austin dan kamu tidak perlu memikirkan apapun. Barusan ia mengirimkan pesan jika sebentar lagi, calon ibu mertuamu datang ke rumah sakit. Kamu harus bersikap baik dan sopan untuk mengambil hati wanita itu."


Saat Austin tadi mengatakan agar ia mengawasi Diandra agar tidak melihat televisi atau ponsel karena itu akan bisa memicu masalah. Apalagi pernikahan antara Diandra dan Yoshi sudah bukan merupakan rahasia lagi untuk bisa dilihat oleh semua orang tanpa terkecuali.


Bahkan Austin tadi juga mengemukakan sebuah jalan keluar, yaitu membawa Diandra untuk berobat ke luar negeri. jika Asmita Cempaka akan membawa Yoshi ke New York. Ia akan membawa ke negeri tetangga, yaitu Singapura.


Mengatakan jika di sana juga mempunyai pusat medis terbaik dan tentunya tidak terlalu jauh membawa ke luar negeri. Asalkan keluar dari negara sendiri sampai semua kabar pernikahan Diandra menghilang dari peredaran dan menghindari para wartawan yang pastinya akan mencari informasi dengan mewawancarai.


Hal yang tidak boleh dilakukan agar Diandra tetap bersih dan tidak tahu apapun mengenai pernikahan dengan Yoshi. Austin akan mengurus semuanya di balik layar demi memastikan Diandra tidak tahu.


Sementara itu, Diandra merasa sangat gugup begitu mengetahui apa yang baru saja disampaikan oleh sang ayah.


Sang ayah menganggukkan kepala dan beralih menatap ke arah sang istri. "Sepertinya kita harus menyambut ibu dari bosmu dengan baik, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi situasinya seperti ini, pasti akan membuatku kita tidak nyaman."


Meskipun belum pernah bertemu dengan ibu dari Austin, tapi wanita paruh baya itu seolah telah terbiasa berhadapan dengan para orang kaya yang sudah pasti level atau kasta di atas mereka.


Namun, sudah tidak lagi merasa gugup karena berpikir jika orang tua Austin pasti tidak akan menolak Diandra karena telah melahirkan keturunan untuk keluarga Matteo.


"Tidak perlu bersikap berlebihan itu karena wanita itu ingin menjenguk Diandra. Meskipun kita tidak kaya seperti keluarga mereka, tapi etika lebih utama dan tunjukkan bahwa orang miskin tidaklah hina."


Jujur saja ia merasa sangat tersinggung dengan perkataan dari dari Asmita Cempaka yang seolah menganggap sampah setelah kejadian nahas yang menimpa.


Apalagi sampai menghina putrinya adalah seorang wanita pembawa sial langsung memutuskan hubungan sepihak sebelum Yoshi sadar, sehingga berpikir jika wanita yang berasal dari keluarga berada tidak menjamin akan memiliki nilai moral dan etika.

__ADS_1


Diandra yang tadinya merasa sangat gugup karena akan bertemu dengan ibu dari Austin, kini mengerutkan kening karena merasa sangat aneh dengan tanggapan dari sang ibu.


"Ibu? Kenapa Ibu terlihat seperti sangat marah dengan para orang kaya? Tidak semua orang berada seperti itu. Meskipun mayoritas, tapi aku yakin jika ibu dari tuan Austin adalah seorang wanita baik. Gen baik dari tuan Austin pasti diturunkan dari sang ibu."


"Namun, aku masih heran dengan sikap aneh Ibu yang seperti tidak menyukai orang-orang dari kasta tertinggi seperti keluarga bosku." Diandra masih menunggu jawaban dari sang ibu yang menampilkan wajah datar seperti orang tengah marah, sehingga semakin menegaskan jika ada sesuatu yang mencurigakan.


"Ibu hanya kesal saja pada orang-orang yang menilai harga diri seseorang dari materi. Ada tetangga kita yang diceraikan di hari pertama menikah karena orang tua pengantin pria membuat masalah." Ia yang baru saja menutup mulut, melihat tatapan tajam dari sang suami.


Seolah khawatir jika akan membuka rahasia besar yang tidak boleh diketahui oleh putri mereka.


Hingga beberapa menit kemudian, mendengar pintu diketuk dari luar dan membuat mereka langsung mengalihkan perhatian ke pintu.


Begitu melihat seseorang membuka pintu dan melangkah masuk, orang tua Diandra kini mencoba untuk menebak jika itu adalah ibu dari Austin.


Begitu juga dengan Diandra yang berpikir jika wanita dengan penampilan elegan semakin mendekat itu adalah ibu dari bosnya. Namun, tidak bisa menyapa duluan karena khawatir salah orang.


"Selamat siang," sapa wanita dengan setelan berwarna navy yang kini tersenyum simpul dan mengulurkan tangan pada orang tua Diandra terlebih dahulu, baru calon menantunya.


"Anda adalah ibu dari tuan Austin?" tanya ibu Diandra yang baru saja melepaskan pelukan wanita itu.


"Ternyata tanpa saya memperkenalkan diri, sudah tahu. Sepertinya putraku sudah memberitahu kalian?" Kemudian beralih menatap ke arah sosok wanita di atas ranjang yang terlihat sangat pucat tersebut.


"Diandra, putraku sudah banyak bercerita tentangmu dan tidak sabar bisa segera menikah, tapi kami ingin kamu bisa berjalan terlebih dahulu. Jadi, setelah pulang dari rumah sakit, putraku akan membawamu berobat ke Singapura."


Lina Rosmala tadi berbicara dengan putranya dan mendengar ide dari putranya untuk menjauhkan Diandra dari negara ini terlebih dahulu demi menjaga perasaan sekaligus keselamatan yang mungkin akan berdampak buruk jika mengetahui status sebenarnya yang merupakan istri sah Yoshi.


Sementara itu, perasaan Diandra berkecamuk karena berpikir jika wanita paruh baya tersebut malu memiliki seorang menantu perempuan cacat sepertinya.


"Apakah Anda merasa malu memiliki seorang menantu perempuan cacat seperti saya?" tanya Diandra yang kini menunggu hingga wanita di hadapannya tersebut berbicara jujur padanya.


Refleks pasangan suami istri paruh baya tersebut saling bersitatap karena merasa bingung untuk menjelaskan pada putri mereka jika apa yang baru saja dikatakan oleh ibu dari Austin adalah jalan terbaik.

__ADS_1


Sementara itu, Lina Rosmala bisa memahami perasaan Diandra dan mencoba untuk menguraikan kesalahpahaman. "Jika Austin mendengarmu berbicara seperti ini padaku, aku yakin pasti akan sangat sedih. Padahal ide ini murni dari putraku, bukan orang tuanya."


To be continued...


__ADS_2