Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Besar kepala


__ADS_3

Diandra yang tadinya berpikir akan segera pergi setelah selesai melayani nafsu pria di hadapannya, kini merasa kebingungan atas perintah dari pria di hadapannya. Ia yang baru selesai memindahkan makanan ke dalam wadah, seolah mendadak menjadi lemas tak bertenaga.


Ingin sekali ia melempar piring berisi makanan itu ke wajah pria dengan tatapan tajam penuh seringai padanya. Namun, tidak mungkin melakukannya karena pria tersebut sudah mentransfer uang untuk biaya operasi ayahnya.


Ingin berteriak atau pun marah, tapi sama sekali tidak bisa dan membuatnya merasa menjadi orang tidak berguna, sehingga saat ini hanya mengangguk perlahan sebagai tanda persetujuan.


Meskipun di hari besar berontak, tetap saja tidak bisa mengungkapkan karena saat ini pria itu berkuasa atas dirinya.


'Paling tidak, aku bisa menyelamatkan ayah mengunakan tubuhku. Bagiku itu sudah lebih dari cukup,' gumam Diandra yang kini sudah mendapatkan seulas senyuman dari Austin.


Melihat jawaban seperti yang di harapkan, kini Austin seketika mengarahkan ibu jarinya. "Aku sangat senang saat melihatmu sadar dan patuh seperti ini."


"Kau tidak akan pernah menyesal karena aku akan menjadikanmu seorang wanita yang paling beruntung di dunia ini saat patuh padaku." Kemudian mengangkat piring dan mengarahkan pada wanita yang masih berdiri di hadapan.


"Baiklah, kita makan dan lanjutkan sesuatu yang tadi tertunda gara-gara kamu kelaparan. Aku tidak pernah membiarkan para wanitaku kelaparan. Habiskan makanannya agar kamu kuat melayaniku nanti di atas ranjang."


Diandra bahkan merasakan bulu kuduknya meremang seketika hanya dengan membayangkan hal itu dan ia berusaha untuk bersikap tenang tanpa menunjukkan bahwa saat ini perasaan bergejolak.


Hingga ia mengambilkan makanan untuk pria dengan tatapan penuh seringai jahat itu. 'Pria ini benar-benar berengsek! Ia pasti sudah terbiasa melakukan hal menjijikkan seperti ini pada para wanita.'


'Nasibku benar-benar sangat sial karena bertemu dengan pria ini,' lirih Diandra yang sudah mengambilkan makanan untuk sosok pria yang kini menyuruhnya untuk duduk di sebelah kanan.


"Datanglah padaku karena aku ingin kamu makan di sebelahku, Sayang," ucap Austin yang menunjuk ke arah kursi di sebelahnya.


Bahkan ia kini tidak sabar ingin segera membawa wanita itu ke atas ranjangnya agar menjadi pemilik seutuhnya. Namun, sadar bahwa ia tidak tega jika melihat Diandra kelaparan.


Saat melihat Diandra hari ini lebih pendiam dan kurang berbicara, ia seolah merasa ada yang kurang. 'Sebenarnya Diandra lebih memesona saat marah dan kesal.'


'Saat melihatnya lebih pendiam seperti ini malah membuatku seolah menjadi seorang pria jahat saja. Padahal pada kenyataannya adalah aku Dewa penolongnya.'


Ingin mengungkapkan nada protes pada wanita yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sebelahnya, kini Austin mengarahkan dagu Diandra agar menghadap ke arahnya.


"Kau harusnya senang dan lega saat sudah mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit ayahmu. Bukan malah menampilkan wajah masam dan selalu diam seperti orang bisu seperti itu. Jangan membuat kecewa aku yang sudah menolongmu keluar dari masalah."


Austin bahkan kini bisa melihat bayangannya sendiri kala menatap netra kecoklatan di hadapannya. Ia benar-benar tidak suka melihat wajah murung perawan di hadapannya tersebut.


Jujur saja ia yang belum pernah bercinta harus bersikap seperti orang yang sudah melakukannya demi sebuah kesombongan di hadapan wanita itu. Padahal sebenarnya merasa sangat bodoh karena belum tahu apapun mengenai momen intim yang akan mereka lakukan karena sama-sama ini adalah pertama kali bagi keduanya.

__ADS_1


Ia ingin Diandra pun menikmatinya seperti ia yang sangat bersemangat untuk hal yang paling dinantikan selama ini. Meskipun ia berpikir sudah gila karena melanggar prinsip hidup saat berbicara tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita saja.


"Memangnya Anda ingin aku berbuat apa?" Diandra yang tidak tahu harus berbuat apa, kini hanya bisa bertanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan pria berengsek yang ingin sekali ditampar olehnya.


Selama ini ia mempunyai sebuah impian untuk memberikan kesuciannya pada suaminya kelak dan sama-sama saling mencintai, tapi kini semuanya hanya semu setelah perbuatan pria yang mengincar tubuhnya.


Ia sebenarnya merasa sangat heran pada Austin karena menginginkan tubuhnya saat selalu mengejeknya wanita yang kurus kerempeng seperti triplek dan sama sekali tidak memesona seperti para kekasih pria itu.


"Tersenyumlah dan anggap aku adalah pria yang kau cintai. Jadi, kamu bisa melayaniku dengan baik." Austin kini mengarahkan tangannya untuk menarik kedua sisi pipi putih itu agar tersenyum.


Ia tidak suka melihat wajah murung dan masam yang ditampakkan Diandra, sehingga ingin sekali menyingkirkan itu dari tadi. Hingga ia pun tertawa melihat Diandra mencoba untuk berakting tersenyum dengan terpaksa.


"Astaga! Kamu sangat jelek sekali saat memaksakan diri mematuhi perintahku!" Austin kini tidak lagi mempermasalahkan hal itu dan kembali pada makanan yang berada di atas meja.


"Baiklah, makan saja sekarang. Kamu benar-benar sangat mengecewakanku!" sarkas Austin yang kini mulai menikmati makanannya karena ia tahu bahwa Diandra tidak sama seperti para wanita yang selama ini dipacari olehnya saat selalu menunjukkan senyuman manis padanya.


'Apa yang kau harapkan dari wanita polos seperti Diandra? Ya seperti inilah yang akan didapatkan karena memang tidak mempunyai pengalaman apapun dalam masalah pria. Seharusnya kau bangga karena mendapatkan wanita langka seperti ini.'


Dengan mengunyah makanan yang sudah berpindah ke dalam mulut, kini Austin berusaha untuk menghibur diri sendiri. Ia bahkan bisa melihat ada raut penuh kelegaan dari wajah wanita yang kini tengah duduk di sebelahnya saat mengambil makanan.


Diandra saat ini tengah menoleh ke arah sosok pria yang saat ini ada di sebelahnya. Ia tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh pria itu. "Ada apa, Tuan?"


"Pakai ini saja!" Austin kini mendorong pelan piringnya ke hadapan Diandra.


Tidak paham apa yang diinginkan oleh pria itu, kini Diandra mengerutkan keningnya karena merasa sangat heran dengan apa yang diinginkan Austin. Hingga ia mendengar jawaban yang membuatnya meremas kedua sisi pakaian.


"Makan satu piring saja dan suapi aku! Aku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang raja yang dilayani oleh ...." Austin kini tengah memikirkan kalimat yang pantas untuk Diandra.


Hingga jawaban dari Diandra membuatnya seperti menjadi seorang pria jahat saja.


"Dilayani oleh kacungnya," sahut Diandra yang kini menyadari posisinya sebagai seorang wanita yang sama sekali tidak berharga di mata pria itu.


'Harga diri yang selama ini kubanggakan tidak ada artinya di mata pria berengsek ini. Padahal bagi wanita miskin sepertiku, hanya ini satu-satunya hal yang bisa kubanggakan,' gumam Diandra yang kini tengah mengambil sendok dan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.


"Baiklah. Saya akan menyuapi Anda, Tuan Austin." Mengarahkan satu sendok ke mulut pria yang sudah terbuka.


Hingga ia pun kini mengerjapkan mata ketika sendok di tangannya direbut. "Apa yang Anda lakukan?" tanya Diandra dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Biar aku yang melakukannya agar kamu sangat lambat. Kamu harus kenyang dan kita segera melanjutkan sesuatu yang tadi tertunda." Austin bangkit berdiri dari kursi dan menambah nasi serta seafood hingga memenuhi piring.


Ia berubah pikiran saat melihat gerak Diandra sangat lambat dan berpikir akan sangat lama selesainya. Kini, ia langsung menyuapi wanita yang seperti tidak selera makan itu.


"Makanlah yang banyak agar tidak pingsan seperti dulu!" Kemudian melihat bagaimana cara Diandra mengunyah makanan di dalam mulut.


Jika selama ini ia melihat para wanita yang tak lain adalah kekasihnya selalu bersikap elegan, sangat berbeda ketika Diandra kini mengunyah makanan yang penuh di dalam mulut.


Ia merasa menyukai apapun dari Diandra yang selalu tampak apa adanya dan tidak dibuat-buat seperti para wanita yang tak lain adalah kekasihnya selalu bersikap layaknya wanita tanpa cela.


"Aku baru sadar."


Diandra yang terpaksa melakukan perintah dari Austin saat disuapi, kini hanya ingin mendengar apa yang belum dilanjutkan. Hingga ia merasa mual mendengarnya karena tahu bahwa itu hanyalah seorang pria pembual.


"Bahwa semakin dilihat, kamu menarik juga!" ujar Austin yang kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


Ia ingin melihat apakah Diandra merasa senang saat melihatnya, tapi tidak seperti yang diharapkan, sehingga membuatnya kesal. Sebenarnya ia ingin melihat Diandra tersenyum malu-malu saat dipuji olehnya.


Namun, ia berpikir bahwa tidak mungkin akan melihatnya saat wajah Diandra tetap datar. Seolah tidak percaya pada perkataannya. "Apalagi saat tidak memakai apapun, semakin cantik. Semua yang kulihat tadi sungguh seperti sebuah karya seni mahal yang sangat cantik."


Diandra yang tadinya mendengarkan sambil mengunyah makanan di mulut, seketika tersedak hingga meninggalkan rasa panas di tenggorokan.


Ia bahkan merasa sangat jijik mendengarnya dari mulut pria yang tadi memang sudah melakukan hal pertama kali untuknya. Saat ia hendak mengambil air, melihat pria itu memberikan padanya, sehingga langsung meneguknya hingga habis.


Hingga tenggorokan yang tadinya panas kini mulai berangsur membaik. 'Sabar, Diandra. Hanya yang


Saat memikirkan sesuatu, ia kini berbicara sesuatu yang dipikirkan olehnya. "Jangan berbicara hal-hal yang tabu, Tuan Austin. Mungkin hal seperti itu sangat biasa bagi para wanita yang berhubungan dengan Anda, tapi bukan berarti saya pun juga demikian."


Diandra kini ingin mengetahui sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikiran saat ini. "Sudah berapa kali Anda bercinta dengan para wanita? Ataukah tidak bisa dihitung mengunakan tangan ini?"


Kemudian Diandra menunjukkan sepuluh jarinya dan ia berharap tidak bisa lagi menahan rasa penasaran pada pria yang sering dipanggilnya adalah penjahat wanita.


Sementara itu, Austin kini tertawa terbahak-bahak menanggapinya dan tidak berniat untuk mengatakan yang sebenarnya.


'Dasar wanita bodoh! Ia tidak tahu bahwa aku memilihnya secara khusus untuk melepaskan keperjakaanku. Seharusnya ia bangga jika mengetahui itu, tapi aku tidak ingin Diandra tahu karena nanti akan besar kepala.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2