
Saat Diandra bingung dengan sikap sosok anak laki-laki yang sudah mendekat dan duduk di sebelahnya, seolah merasa ada sesuatu yang yang aneh di dalam hati. Apalagi saat melihat wajah menggemaskan anak kecil di hadapannya tersebut seperti ada getaran yang sangat kuat di dalam hati.
'Kenapa aku merasa sangat aneh begitu melihat anak kecil ini? Padahal aku baru pertama kali bertemu hari ini, tapi seperti sudah tidak asing dan hatiku bergetar saat ini,' gumam Diandra yang masih menatap intens wajah menggemaskan anak laki-laki itu.
Kemudian ia langsung beralih menatap ke arah Austin karena ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam hati.
Sementara itu, Austin tadinya bersitatap dengan sang ibu, beralih menatap ke arah Diandra dan mengungkapkan alasan yang tadi sudah dipikirkan.
"Diandra, maafkan aku karena tadi mengatakan pada putraku bahwa sebentar lagi akan memiliki seorang ibu. Sebenarnya putraku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu semenjak kecil."
"Jadi, saat sering melihat anak seusianya bersama dengan ibu, merasa iri dan pastinya ingin merasakan kasih sayang seperti yang didapatkan anak lain. Aksa langsung sangat bersemangat dan mengajakku untuk bertemu dengan calon ibunya."
Kemudian Austin menceritakan semua hal yang tadi dilakukan dengan Aksa di Mall. Bahkan terakhir kali ketika mengajak makan, juga diceritakan agar wanita di hadapannya tersebut mau menyuapi Aksa karena sangat iba pada putranya yang tidak mau makan.
"Aksa tidak mau makan jika tidak disuapi dengan calon ibu yang tadi kuceritakan. Seharusnya aku tidak menceritakan hal ini dan membuatmu kesusahan." Austin saat ini berakting menyesali apa yang baru saja dilakukan dan mengajak putranya untuk turun dari ranjang.
"Sayang, kita beli mainan yang banyak saja. Nanti Papa membelikan banyak mainan, oke!" Austin berniat untuk menggendong Aksa, tapi sama sekali tidak diperdulikan oleh putranya tersebut yang hanya fokus pada sang ibu.
Sementara itu, Diandra yang berpikir bahwa perkataan dari Austin seolah membuatnya merasa sangat bersalah karena berpikir jika ia tidak bersedia untuk menyuapi anak kecil yang berhasil menggetarkan hatinya.
Refleks ia langsung mengempaskan tangan Austin. "Aku sama sekali tidak mengatakan bahwa tidak bersedia untuk menyuapi putramu. Jadi, jangan mengambil persepsi sendiri atas pertanyaanku."
Kemudian beralih menatap ke arah sosok anak kecil yang memiliki paras rupawan yang diketahuinya memang sangat mirip dengan Austin. Seolah saat ini tengah melihat Austin kecil. "Aksa mau makan disuapi Mama?"
"Mau," sahut Aksa tanpa berpikir dan seketika menganggukkan kepala serta tersenyum lebar begitu mendengar pertanyaan dari sang ibu.
Saat ini, Diandra seketika mengusap lembut rambut Aksa dan semakin membuatnya merasa aneh, tetapi berusaha untuk tidak memikirkan hal itu.
'Mungkin karena aku melihat anak ini sangat menggemaskan, sehingga ada sesuatu yang aneh di dalam hati,' gumam Diandra saat ini mengamati sosok pria di hadapan yang dipikirnya tengah membawa makanan.
"Aku akan menyuapi Aksa, lalu di mana makanannya?" Mengerutkan kening saat mencari makanan.
"Aku tadi belum sempat membeli makanan karena putraku hanya menginginkan bisa bertemu denganmu. Kondisimu saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Biar aku merayu putraku agar tidak menyusahkanmu."
Austin merasa tidak tega melihat keadaan sosok wanita di hadapannya tersebut yang hanya bisa berbaring terlentang di atas ranjang perawatan.
__ADS_1
Sebenarnya ia tadi tidak bisa menolak permintaan putranya karena berpikir hanya ingin mempertemukan seorang anak yang merindukan sang ibu.
Namun, tidak berniat untuk menyuruh Diandra menyuapi karena tidak tega melihat wanita itu yang masih belum pulih.
Bahkan sekilas menoleh ke arah sang ibu untuk memberikan sebuah kode agar membantunya membujuk Aksa.
Mengerti dengan keinginan putranya, wanita paruh baya tersebut bangkit berdiri dari kursi dan mendekati sosok anak kecil laki-laki tersebut sambil mengusap lembut punggung.
"Sayang, di luar ada banyak coklat dan es krim. Ayo, kita pergi membeli." Menatap ke arah Diandra dengan memberikan kode agar wanita yang sangat dicintai oleh putranya tersebut tidak memenuhi keinginan Aksa.
Kemudian berbicara dengan lirih untuk memberikan nasihat. "Kamu akan kesusahan jika menyuapi cucuku saat berbaring seperti itu. Apalagi masih harus banyak beristirahat untuk memulihkan kesehatanmu."
Diandra yang dari tadi fokus menatap ke arah Aksa, saat ini tidak menyukai dengan respon ibu dan anak tersebut yang seperti melarang ia menyuapi anak kecil menggemaskan yang bahkan tidak merasa keberatan melakukan hal itu.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku sangat menyukai Aksa dan ingin menyuapinya. Lebih baik belikan saja makanan agar aku bisa melakukannya. Kasihan sekali anak manis ini jika tidak mau makan."
Austin dan sang ibu, kini saling bersitatap dan berpikir bahwa tidak mungkin melarang ataupun menolak keinginan Diandra.
Karena tidak ingin mengecewakan Diandra karena berpikir bahwa ikatan batin antara ibu dan anak tersebut sangat kuat, sehingga memilih untuk menuruti keinginan putranya.
Saat Austin berjalan, Diandra berbicara dengan Aksa. "Mau mamamapa? Bilang pada papa!" Tunjuk Diandra pada sosok pria yang hendak membuka pintu.
Namun, merasa sangat terkejut begitu mendengar jawaban dari Aksa dan seketika melihat Austin berbalik badan, sehingga saling bertatapan.
"Bukan papa Itu bukan papa," sahut anak laki-laki yang berbicara sambil menoleh ke arah pintu.
Austin yang merasa bahwa sandiwaranya akan terbongkar dan bisa menggagalkan rencana untuk menikahi Diandra, seketika berpikir bahwa sosok anak laki-laki tersebut masih belum bisa menerimanya sebagai ayah meskipun sudah berbuat baik dan membelikan semua yang diinginkan.
'Putraku, papa bahkan sudah melakukan apapun untuk membuatmu menyayangiku, tapi tetap saja tidak membuatmu melupakan ayah palsu itu.'
'Bahkan Yoshi sudah tidak ada di antara kami, tapi tetap saja membuatku kalah sebelum bertanding,' gumam Austin yang saat ini tidak tahu harus menjawab apa ketika putranya menolak untuk mengakui bahwa ia adalah ayah kandung.
Saat Austin terlihat hanya diam saja, sedangkan sang ibu langsung menguraikan suasana penuh keheningan yang terasa sangat aneh dengan berjalan mendekati putranya dan berakting seperti sangat sedih.
"Sabar, Putraku. Sepertinya cucuku tidak akan menganggapmu sebagai ayah setelah menemukan ibu baru."
__ADS_1
Austin yang tadinya merasa bingung untuk menanggapi seperti apa, tetapi begitu mengetahui bahwa sang ibu baru saja menyelamatkannya dari kecurigaan sosok wanita di atas ranjang perawatan tersebut, seketika mengikuti permainan itu.
Tentu saja ia berpura-pura sangat bersedih karena mendengar Aksa yang tidak mau mengakuinya sebagai ayah.
"Sepertinya posisiku langsung direbut, Ma, tapi aku sama sekali tidak keberatan karena hanya menginginkan Diandra untuk menjadi ibu dari putraku." Austin semakin totalitas dalam berakting karena sang ibu sudah mengusap punggungnya beberapa kali.
Saat ibu dan anak tersebut berakting untuk mengelabui, sedangkan Diandra seketika merasa bersalah karena telah membuat hubungan antara ayah dan anak menjadi renggang.
Awalnya Diandra merasa curiga dengan perkataan dari Aksa dan sempat meragukan perkataan Austin karena berpikir bahwa seorang anak kecil tidak mungkin bisa berbohong. Itu karena masih sangat polos dan suci.
Namun, begitu perkataan dari wanita paruh baya yang masih sibuk mengusap lembut punggung putranya untuk menghibur, sehingga berpikir bahwa penyebab dari sikap Aksa adalah karenanya.
Kini, ia langsung beralih menatap Rafa dan tersenyum. "Sayang, tidak boleh berbicara seperti itu. Aksa harus tetap memanggil Papa meskipun sedang bersama mama, ya!"
"Jika tidak mau memanggil papa, Mama juga tidak mau menyuapi Aksa. Sekarang Aksa meminta maaf dan memanggil Papa!"
Anak laki-laki itu seketika menganggukkan kepala karena tidak ingin membantah perintah dari sang ibu dan kini beralih menatap ke arah pintu.
"Papa, maap. Mau mamam disuap Mama."
Austin saat ini sudah tidak lagi merasa kebingungan seperti beberapa saat yang lalu karena semua permasalahan sudah diselesaikan oleh sang ibu dan benar-benar merasa berterima kasih karena telah selamat dari pemikiran buruk Diandra.
Kemudian berjalan mendekati putranya dan langsung mencium beberapa kali untuk mengungkapkan kasih sayang serta mengikuti alur yang diciptakan oleh Aksa ketika membuatnya cemas.
"Iya, Sayang. Papa juga minta maaf dan sangat menyayangi Aksa," ucap Austin yang saat ini tidak melepaskan pelukan pada putranya.
Bahkan saat ini bisa melihat senyuman terukir dari bibir Diandra ketika melihat interaksinya dengan Aksa.
'Seandainya kamu tahu bahwa sebenarnya Aksa memang tidak mengetahui bahwa aku adalah ayah kandungnya. Karena selama ini kamu memperkenalkan Yoshi untuk mengambil peranku sebagai ayah.'
'Sebenarnya ingin sekali aku marah padamu karena sudah bertahun-tahun memisahkan kami, tapi melihat keadaanmu yang seperti ini, mana mungkin tega melakukan itu.'
Austin yang hanya bisa meluapkan keluh kesah di dalam hati, kini mendengar suara Diandra yang seperti terharu melihat kedekatan antara ia dan putranya.
"Aku akan menjadi ibu yang baik untuk Aksa karena hanya sekali menatapnya, sudah sangat menyayanginya." Diandra ikut merasa bahagia sekaligus terharu begitu melihat kedekatan antara seorang ayah dan anak tersebut, sehingga ingin menjadi bagian dari mereka setelah menikah dengan Austin.
__ADS_1
To be continued...