
Sosok pria yang saat ini keluar dari pesawat yang sudah mendarat di bandara, kini berjalan menuju ke arah terminal kedatangan dan langsung menyalakan ponsel miliknya. Ia berniat untuk menghubungi orang yang akan menjemputnya.
Saat melihat ponsel miliknya sudah aktif kembali, ada panggilan tak terjawab dari Diandra dan membuatnya tersenyum menyeringai.
"Diandra pasti dari tadi merasa sangat cemas dan ketakutan karena khawatir aku mengatakan pada orang tuanya mengenai uang yang didapatkan dari menyerahkan kesuciannya padaku. Dasar bodoh karena tidak tahu apa yang saat ini kurasakan padanya." Kemudian ia memencet kontak yang sudah disimpan.
Hingga beberapa saat kemudian langsung mendapatkan jawaban dari seberang telepon.
"Halo, apakah sudah ada di depan bandara karena aku baru saja turun dan akan langsung ke depan," ujar Austin yang saat ini berjalan menuju ke arah terminal kedatangan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu mendengar jawaban dari seberang telepon.
"Iya, Tuan Austin. Saya saat ini sudah menunggu di depan dan membawa papan nama dengan nama Anda," sahut pria di seberang telepon sambil melihat ke sekeliling untuk mencari pria yang akan dijemputnya.
Sementara itu, Austin yang baru saja keluar, kini mengedarkan pandangan ke sekeliling orang-orang yang menjemput dan melihat papan nama dengan tulisan Austin dan melambaikan tangannya.
Kemudian berjalan mendekat dan menghampiri pria berusia sekitar 35 tahunan tersebut.
"Selamat datang di Surabaya, Tuan Austin." Kemudian berjalan menuju ke arah mobil yang sudah terparkir rapi di area depan dan langsung membuka pintunya dan pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut masuk ke dalam.
Austin yang saat ini sudah duduk di kursi belakang, hanya melihat keadaan sekitar bandara dan begitu sopir masuk ke dalam, bertanya mengenai sesuatu hal yang tidak diketahui.
"Kira-kira, berapa lama perjalanan menuju ke rumah sakit dari bandara ini?" Austin saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 6 petang.
Hingga ia pun memasang sabuk pengaman dan melihat sopir menatap ke belakang.
"Kurang dari satu jam karena saya akan melewati jalur tikus agar lebih cepat, Tuan karena jika melalui jalan utama, akan memakan waktu 1 jam. Lumayan menyingkat waktu 15 menit." Sang supir pun memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil serta mengemudikannya meninggalkan area bandara.
Austin yang saat ini menganggukkan kepala tanda setuju dan berpikir bahwa sang sopir sangat cerdas karena menghemat waktu perjalanan.
"Baiklah. Lakukan saja sesuai dengan keinginanmu karena yang penting sampai di sana tidak larut malam," ucap Austin yang saat ini tengah menatap jalanan kota Surabaya yang sering didengar adalah kota maju di daerah Jawa Timur.
Ia ada banyak pertanyaan yang menari-nari di otaknya mengenai Diandra dan orang tuanya. Namun, saat merasa percaya diri menemui orang tua Diandra untuk melamar wanita itu, mendadak pikirannya seperti tumpul karena bingung harus memulai dari mana jika bertemu dengan mereka.
'Apa yang harus kukatakan pada orang tua Diandra saat pertama kali? Apa aku langsung mengungkapkan lamaran padanya?' gumam Austin yang saat ini berpikir bahwa ia tidak mungkin bisa terlihat percaya diri saat menghadapi orang tua wanita yang ingin dinikahi.
'Sial! Kenapa aku jadi bingung seperti orang bodoh seperti ini? Benar-benar menyebalkan sekali! Seorang Austin yang selama ini selalu percaya diri di depan semua orang, kini berubah seperti ketakutan. Takut ditolak lamarannya seperti yang dilakukan Diandra.'
'Bahkan para klien bisnis yang merupakan orang luar negeri saja tidak pernah bisa membuatku gugup seperti ini,' gumam Austin yang memilih untuk menetralkan perasaannya agar tidak dipenuhi oleh kekhawatiran serta gugup dengan cara menatap jalanan kota yang dilalui.
Mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata tersebut sudah membelah jalanan kota yang dipenuhi oleh banyaknya lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang.
Pukul 7 malam, mobil warna hitam yang melaju membawa Austin tersebut sudah tiba di pelataran rumah sakit. Austin yang merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat karena ia belum selesai menormalkan perasaannya yang gugup, tapi sudah sampai di rumah sakit.
"Cepat sekali," lirihnya ya saat ini menghembuskan napas karena mau tidak mau harus berani dan membuang rasa gugupnya dengan mengganti percaya diri yang biasa ia tampilkan pada semua orang, termasuk wanita yang menolaknya mentah-mentah saat dilamar.
'Semoga aku tidak mendapatkan umpatan atau penolakan seperti yang dilakukan Diandra padaku,' gumam Austin yang saat ini melepaskan sabuk pengaman dan beranjak dari tempat duduk begitu pintu dibukakan oleh sang supir.
"Silakan, Tuan." Sang supir saat ini masih menunggu di dekat sebelah kanan mobil dan berpikir akan mendapatkan perintah dari pria tersebut.
Sementara itu, Austin yang saat ini tengah menatap bangunan rumah sakit yang menjadi tempat dirawat ayah Diandra hingga membuatnya berhasil mendapatkan kesucian wanita itu. Ia tadi sudah membaca pesan dari asisten pribadinya yang memberitahu mengenai ruangan tempat dirawat ayah Diandra, sehingga tidak perlu bertanya pada pegawai rumah sakit.
__ADS_1
Hingga ia pun menatap ke arah sang supir. "Kau tunggu saja di sini sampai aku kembali. Aku akan masuk sekarang," ucap Austin yang kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lobi rumah sakit.
Bahkan ia menghembuskan napas kasar untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan saat hendak menemui orang tua Diandra.
Hingga ia pun kini menatap ke arah petunjuk jalan dan mengikuti anak panah sesuai dengan ruangan yang hendak ia datangi.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di depan ruangan yang menjadi tempat ayah Diandra dirawat dan membuatnya mengambil napas teratur sebelum mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
'Tenang ... tenang! lirih Austin yang kini mengetuk pintu dan menunggu beberapa detik, lalu membukanya.
Ia saat ini bisa melihat seorang wanita paruh baya dengan memakai setelan panjang, juga hijab berwarna hitam pria paruh baya tengah berbaring di atas ranjang dan menatap ke arahnya.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Laksmi Mustika seketika langsung bangkit berdiri dari kursi setelah tadi berbicara dengan sang suami mengenai uang yang hendak dikembalikan dan belum tahu akan ditransfer ke nomor siapa.
Sementara itu, Romy Sudrajat saat ini mengerutkan kening dan merasa tidak kenal pria yang dianggap salah ruangan. Apalagi dengan setelan sangat rapi yang tidak mungkin ingin datang menemui mereka yang hanyalah buruh di sana.
Ia semakin merasa bingung begitu melihat pria dengan setelan jas lengkap tersebut malah membungkuk hormat dan mendengarkan apa yang dikatakan.
"Selamat malam, Bu, Pak. Saya Austin Matteo." Kemudian berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya agar bisa bersalaman dengan pasangan suami istri di hadapannya yang terlihat sangat bingung.
Bahkan sebenarnya saat ini ia tengah mencari celah untuk menenangkan perasaan sebelum mengungkapkan semua hal yang ingin dikatakan pada pasangan suami istri yang langsung menerima dengan menyambutnya.
"Laksmi dan Romy seketika saling bersitatap karena merasa bingung karena tiba-tiba ada seorang pria dengan berpenampilan rapi datang dan mengungkapkan namanya.
Mereka bahkan semakin bingung karena seperti pernah mendengar nama itu dan langsung mengerti siapa sosok pria tersebut begitu menjelaskan tujuan datang ke sana.
"Jadi, saya adalah bos dari Diandra yang merupakan putri Bapak dan Ibu." Austin akhirnya membuka suara dengan membuka jati dirinya dan menunggu seperti apa respon dari orang tua Diandra begitu melihat kedatangannya.
"Oh ... Jadi Anda adalah bos baik hati Diandra yang meminjamkan uang pada putri kami untuk biaya operasi. Ternyata semuanya benar-benar kebetulan karena kebetulan kami tadi membahas mengenai uang yang akan dikembalikan pada Anda," sahut Romy Sudrajat yang saat ini berpikir ingin segera menyelesaikan masalah putrinya mengenai uang yang berjumlah sangat banyak tersebut.
Ia sebenarnya merasa sangat aneh dengan kedatangan pria itu yang tiba-tiba, tapi satu hal yang tidak pernah dilupakannya adalah ingin segera mengembalikan uang tersebut pada yang bersangkutan.
"Iya, ternyata Anda benar-benar panjang umur karena langsung datang saat kami tengah membicarakan mengenai Anda," sahut Laksmi Mustika yang mendukung perkataan dari sang suami.
Bahkan saat ini berpikir jika kedatangan pria tersebut adalah untuk membahas mengenai uang yang akan dikembalikan karena berpikir tidak ada yang lain.
Berbeda dengan yang saat ini tengah dipikirkan oleh Austin karena merasa bingung apa yang dimaksud oleh pasangan suami istri tersebut mengenai pengembalian uang yang harusnya digunakan untuk membiayai pengobatan serta biaya operasi.
Ia saat ini memasang telinga lebar-lebar untuk mencari penjelasan. "Pengembalian uang? Maksudnya? Saya benar-benar tidak paham dengan maksud Bapak dan Ibu? Karena tujuan saya datang ke sini bukan untuk membahas masalah uang."
Austin bahkan saat ini berpikir orang tua Diandra membahas masalah uang karena mengetahui bahwa ia sudah merenggut kesucian putri mereka. Namun, karena sikap pria itu tidak kasar ataupun murka padanya, sehingga membuatnya berpikir bukanlah itu yang menjadi penyebabnya.
Namun, ia benar-benar merasa sangat penasaran apa yang sebenarnya dimaksud oleh orang tua Diandra ketika membahas mengenai uang yang harus dikembalikan padanya.
Hingga ia pun seketika membulatkan mata begitu mendengar penjelasan dari ibu Diandra yang membahas mengenai masalah Yoshi.
Laksmi Mustika saat ini menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan hal yang menjadi alasan untuk mengembalikan uang pria itu karena sudah mendapatkan dari pria bernama Yosi yang sepupunya telah ditolong oleh putrinya.
Bahkan ia mengatakan semua hal tanpa terkecuali agar pria di hadapannya tersebut tidak salah paham mengenai pengembalian uang pinjaman yang diberikan.
__ADS_1
"Jadi, kami benar-benar berterima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Austin karena telah membantu putri kami dengan meminjamkan uang. Hanya saja, karena uang dari teman Diandra sudah cukup dan bahkan lebih untuk biaya berobat setelah operasi, Jadi kami tidak ingin menambah beban Diandra."
Romy Sudrajat saat ini menyambung perkataan dari sang istri agar pria yang dianggap sangat baik tersebut tidak merasa tersinggung. "Kami benar-benar sangat berhutang budi pada Anda, Tuan Austin."
"Tapi tidak bisa menerima uang sebanyak ini dan membebankan Diandra untuk membayar cicilan utangnya. Jadi, biar Diandra fokus membayar cicilan utang pada temannya yang bernama Yoshi saja."
Saat Romy Sudrajat baru saja menutup mulut, seketika rasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh pria di hadapannya tersebut.
"Saya tidak meminjamkan uang itu pada Diandra karena memberikannya secara cuma-cuma." Akhirnya Austin yang sangat marah karena ternyata perbuatannya didahului oleh pria bernama Yoshi.
Sekarang ia jadi mengerti apa alasan Diandra lebih menyukai Yoshi daripada dirinya. Bahkan ia kali ini semakin murka dan tidak akan pernah melepaskan di antara walau bagaimanapun caranya.
'Diandra, jadi ini alasanmu menolak lamaranku? Bahwa kamu sangat memuja Yoshi karena langsung meminjamkan uang padamu tanpa meminta jaminan darimu?' gumam Austin yang saat ini merasa semakin terobsesi untuk bisa segera memiliki Diandra melalui orang tua wanita itu.
Ia bahkan bisa melihat raut wajah terkejut pasangan suami istri paruh baya tersebut dan membuatnya merasa akan menjadi pemenangnya setelah mengatakan hal yang terpikirkan olehnya.
"Apa, Tuan Austin? Anda memberikan uang ratusan juta untuk Diandra secara cuma-cuma?" Romy Sudrajat merasa tidak percaya dan mencium ada sesuatu yang tidak beres begitu mendengar apa yang disampaikan oleh pria dengan tubuh tinggi tegap di hadapannya.
Sementara itu, Laksmi Mustika saat ini hanya diam karena merasa bingung sekaligus shock ketika ada seorang pria yang bisa memberikan banyak uang pada putrinya.
Sebagai seorang ibu, tentu saja ia sangat peka apa yang mungkin terjadi pada putri dan pria di hadapannya. 'Apa mereka menjalin hubungan?'
Jika beberapa saat yang lalu, Yoshi merasa tidak percaya diri pada orang tua Diandra, tapi setelah mendengar cerita mereka, kini merasa sangat percaya diri untuk menjelaskan apa yang ada di otaknya saat ini.
"Saya memang memberikan uangnya pada Diandra secara cuma-cuma karena saya sangat mencintai putri Bapak dan Ibu. Bahkan tujuan datang ke sini adalah ingin melamar Diandra untuk menjadi istri saya. Itu karena saya ingin bertanggung jawab karena kami telah melakukan hubungan layaknya suami istri."
Austin saat ini merasa telah meledakkan bom waktu dan sebentar lagi akan menghancurkan wanita yang telah menolaknya dan memilih pria lain.
Ia sangat yakin jika orang tua Diandra akan memilihnya karena sudah melakukan hubungan intim dengan putri mereka. Bahkan ia bisa melihat jika raut wajah pasangan suami istri tersebut yang sangat terkejut mendengarnya.
"Maafkan saya, Bapak, Ibu karena mengecewakan kalian. Saya jauh-jauh dari Jakarta ke sini hanya untuk meminta restu kalian agar bisa menikahi Diandra. Bahkan bisa saja Diandra hamil, jadi sebelum itu terjadi, ingin segera menikahi wanita yang saya cintai."
Akhirnya Yoshi benar-benar merasa sangat lega setelah mengungkapkan ide yang baru saja memenuhi otaknya untuk menghancurkan sikap arogan dari Diandra serta sikap percaya diri seorang Yoshi yang berani merebut wanitanya.
'Baiklah. Bom waktu sudah diluncurkan dan tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kira-kira, calon mertuaku akan berbicara apa?' gumam Austin yang saat ini berpikir bahwa takdir akan berpihak padanya mulai hari ini karena berpikir akan mendapatkan dukungan penuh oleh orang tua Diandra.
Hingga ia seketika tersenyum simpul begitu mendengar apa yang diungkapkan oleh ayah Diandra.
"Saya akan memberikan restu pada pria yang bertanggung jawab seperti Anda. Anda bahkan adalah seorang pria yang gentleman karena berani mengakui kesalahan." Pertanyaan Romy Sudrajat kini sudah terjawab sudah begitu melihat pria di hadapannya mengungkapkan segalanya.
"Saya tahu bahwa ini bukan murni kesalahan Anda karena putri kami juga bersalah dalam hal ini," ucap Romy Sudrajat yang kini tengah menatap ke arah sosok pria yang membuatnya merasa sangat kagum akan keberaniannya mengakui kesalahan dan dengan sikap gentleman melamar putrinya cara langsung.
Kemudian ia menatap ke arah sang istri untuk memberikan sebuah pertanyaan. "Bagaimana, Bu? Apa kamu setuju Diandra menikah dengan tuan Austin?"
Refleks Laksmi Mustika seketika menganggukkan kepala tanpa berpikir panjang karena ia merasa jika putrinya sudah berani melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri, berarti mencintai pria itu, hingga rela menyerahkan kesuciannya.
"Ya, saya setuju Anda menjadi menantu kami."
Austin seketika mencium punggung tangan pasangan suami istri paruh baya tersebut untuk mengungkapkan rasa kemenangan karena berhasil mengalahkan Diandra.
__ADS_1
'Diandra, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Sayang? Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku?'
To be continued...