
Diandra yang berada dalam gendongan Austin saat keluar dari kamar mandi, terlihat bibirnya mengerucut karena sang suami benar-benar melakukan keinginan, yaitu ronde kedua di dalam bathtub.
Ia yang sebenarnya ingin buru-buru karena khawatir terjebak macet dan terlambat menjemput Aksa kini tidak bisa melakukan apa-apa.
"Dasar pria mesum!"
"Aku sudah lama menahan untuk tidak menyentuhmu, Sayang. Jadi, wajar jika seorang suami memuaskan diri pada istri yang telah memberikan izin." Austin yang kini menggendong wanita dengan hanya memakai kimono handuk tersebut, tersenyum simpul sambil mengedipkan mata untuk menggoda.
Kembali Diandra mengarahkan sebuah cubitan pada lengan kekar di balik jubah handuk tersebut. "Kan bisa melakukannya besok atau lusa. Bukan berkali-kali seperti ini. Mana ini rasanya sakit setelahnya."
Diandra merasakan nyeri pada bagian inti karena dua ronde dihajar oleh suami dan merasa takut jika semakin sakit. "Rasanya nyeri. Jadi, jangan melakukannya lagi. Tunggu sampai nyerinya sembuh."
Austin yang dulu sering membaca mengenai masalah hubungan ****, kini mengerti alasan apa yang membuat sang istri merasakan nyeri setelah berhubungan. Padahal bukanlah seorang wanita perawan dan bahkan pernah melahirkan satu bayi.
'Efek beberapa tahun tidak melakukan **** dan saat aku melakukannya dua ronde, sehingga membuat Diandra merasakan nyeri. Aku memang perlu dihajar karena tidak bisa menahan diri setelah istriku memberikan izin tadi,' gumam Austin yang kini menyesali perbuatannya dan menatap ke arah sang istri.
"Maafkan aku karena terlalu serakah hari ini, Sayang," ucap Austin yang kini menurunkan tubuh Diandra ke atas ranjang king size.
Kemudian berjongkok di bawah kaki wanita yang duduk di pinggir ranjang tersebut, lalu menggenggam erat telapak tangan dengan jemari lentik itu.
"Kamu tahu, hari ini aku merasa sangat bahagia setelah kita menjadi suami istri sesungguhnya karena sudah tidak ada jarak di antara kita, Sayang. Jadi, aku sampai tidak bisa mengendalikan diri saat tidak bisa berhenti menyentuhmu."
Kemudian mengangkat tangan yang digenggam dan mencium di punggung tangan itu. "Sayang, aku tidak bisa janji, tapi satu yang pasti, akan bertanya dulu sebelum meminta. Saat kamu bilang iya, aku langsung tancap gas. Namun, jika kamu menolak, tidak akan memaksamu."
Kemudian Austin melepaskan genggaman dan memberikan jari kelingking karena teringat pada perbuatan sang istri beberapa saat lalu.
Diandra yang awalnya kesal dan ingin memarahi pria di bawahnya, akhirnya mengaitkan jari. "Baiklah. Aku percaya. Awas saja jika mengingkarinya."
Sementara itu, Austin hanya tertawa melihat ekspresi wajah dari sang istri ketika mengarahkan tatapan mengintimidasi.
"Aku janji, Sayang. Memangnya kapan aku memaksamu?" Austin sadar jika pertanyaan yang berani diajukan saat ini karena sosok wanita di hadapannya amnesia, jadi berani berkata seperti seorang pria munafik.
'Maafkan aku karena dulu memaksamu untuk melayaniku, Sayang. Aku berjanji akan menebusnya. Jadi, akan memegang janji untuk tidak memaksamu lagi,' lirih Austin di dlm hati.
"Baiklah. Sekarang ambilkan pakaianku!" Diandra menunjuk ke arah lantai, di mana pakaiannya teronggok sembarangan bersama milik sang suami.
"Kita harus cepat karena jika nanti Aksa lama menunggu, akan kecewa. Aku pun tidak tega membiarkan putraku menunggu terlalu lama."
__ADS_1
Diandra yang baru saja menutup mulut, kini melihat Austin bangkit berdiri dan menghambur memeluk.
"Terima kasih karena kamu selalu menyayangi Aksa dan membiarkannya memanggilmu mama." Kemudian Austin mencium kening Diandra karena saat ini merasakan kebahagiaan tidak terperi.
Apalagi setelah mendapatkan jawaban dari Diandra yang menyejukkan hati, sehingga kini kembali menyalurkan kehangatan yang dimiliki.
"Sudah seharusnya Aksa dan aku benar-benar sangat menyayangi seperti putra kandung dan ibu kandung dan akan selamanya seperti itu." Jujur saja Diandra sampai saat ini masih belum percaya jika sekarang adalah seorang wanita bersuami.
Bahwa pria yang menjadi suaminya bukanlah seorang pria biasa, tapi merupakan konglomerat sukses yang pastinya bisa menjamin kehidupan dalam segi finansial. Selalu ada rasa tidak pantas dan merasa jika tidak sepadan dengan Austin.
Hal itulah yang membuat Diandra tidak banyak bergaul dengan orang dan lebih suka mencari ketenangan dengan hanya berada di rumah. Namun, saat melihat Aksa yang menyayangi dan memanggil mama, merasa yakin jika memang ini adalah jalannya.
Bahwa di dunia ini tidak ada sebuah kesempurnaan dari pasangan, tapi hal tersebut justru bisa membuatnya semakin bersyukur karena dibalik kecelakaan, sekarang mendapatkan keluarga bahagia.
"Semoga selamanya kita merasa bahagia seperti ini, Sayang." Kemudian Austin mengambil pakaian sang istri dan membantu memakaikan.
"Aku bisa sendiri. Tidak perlu melakukan itu padaku." Diandra masih berusaha untuk menolak.
Namun, jawaban sang suami membuatnya mati kutu dan akhirnya membiarkan perbuatan pria yang sedang membantunya berpakaian. Bahkan seperti tengah memakaikan baju pada anak kecil.
"Diamlah dan menurut jika ingin segera berangkat. Nanti kamu make up di mobil saja." Austin berpikir masih ada waktu, sehingga hanya ingin menuruti dengan terburu-buru.
"Sebenarnya aku tidak suka make up, tapi nanti hanya akan memakai bedak tipis agar tidak terlihat pucat." Diandra kembali mendapatkan berkah karena bertemu dengan pria bertanggungjawab yang tidak pernah menyakitinya meskipun kondisi sekarang tidak sempurna.
Setengah jam kemudian, mereka telah tiba di depan sekolah Aksa dan Austin langsung turun dari mobil untuk mengeluarkan kursi roda. Kemudian menggendong Diandra dan menurunkan di sana.
Nasib baik hari ini tidak terjebak macet. Jadi, saat ini putranya belum keluar dari ruangan. Saat ia berniat untuk mendorong kursi roda menuju ke tempat yang nyaman saat menunggu, tiba-tiba ponsel Diandra berdering dan tidak menunggu waktu lama, sudah mengangkat telpon dari kepala sekolah.
"Halo, Bu." Diandra merasa ada sesuatu yang tidak beres saat mendengar suara tangisan dari seberang telpon.
"Halo, nyonya Diandra. Apakah Anda sudah menjemput di sekolah? Saya sedang di dalam kelas Aksa."
"Saya ada di depan, Bu. Apa terjadi sesuatu pada putra saya?" Diandra makin was-was jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Aksa, sehingga saat ini menatap ke arah sang suami yang terlihat penasaran, sehingga ia menyalakan loudspeaker.
Hingga ia kembali mendengar suara dari wanita di seberang telpon.
"Tolong Anda ke kantor sekarang karena saya harus menjelaskan sesuatu mengenai Aksa," sahut wanita yang menjadi kepala sekolah.
__ADS_1
"Baik, Bu. Saya dan suami akan ke sana sekarang." Diandra kini mematikan sambungan telpon dan beralih pada pria yang terlihat sangat tenang tersebut. "Sayang, ayo cepat ke kantor. Apa yang sebenarnya terjadi pada Aksa?"
Sementara itu, Austin yang masih berusaha bersikap tenang di depan istri karena berharap jika dipenuhi oleh ketakutan, akan membuatnya panik dan tidak bisa berpikir jernih.
"Aku yakin hanya masalah kecil," sahut Austin yang kini merasa lega karena saat mendorong kursi roda menuju ke ruangan kepala sekolah, melihat putranya digendong wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam.
Merasa jika putranya baik-baik saja, kini Austin tidak lagi khawatir dan begitu mengetuk pintu, beberapa saat kemudian masuk setelah mendapatkan jawaban dari dalam.
Diandra yang masih di kursi roda, menyapa wanita yang merupakan kepala sekolah tersebut.
"Selamat sore, Nyonya Paula," sapa Diandra yang kini mendengar suara teriakan dari Aksa dan berlari mendekat sambil memeluk.
"Mama! Papa!"
Sementara itu, Diandra sangat gelisah karena yang ditanya tidak menjawab dan berpikir jika ada yang tidak suka.
"Selamat datang, tuan dan nyonya. Kebetulan saya ingin menjelaskan sesuatu," ucap seorang wanita yang sudah lama hidup di luar negeri dan kembali hanya untuk mendirikan sekolah terbaik.
Sementara itu, Aksa yang saat ini tidak bisa memeluk dengan leluasa, kini mendongak menatap ke arah sang ibu. "Mama kapan bisa berjalan lagi seperti dulu?"
Dengan logat khas anak-anak, tentu saja tidak jelas apa maksud dari perkataan tersebut. Hingga begitu mengajukan pertanyaan, langsung membuat banyak orang terdiam.
Di sisi lain, Austin yang merasa tidak tega pada Diandra karena berpikir jika perkataan Aksa akan membuat down, kini langsung menggendong putranya tersebut.
"Sayang, papa rindu pada Aksa. Apa semuanya baik?"
"Tidak baik, Papa," sahut Aksa yang kini menatap ke arah sang ibu.
Karena merasa ada sesuatu yang harus segera diketahui, kini Austin beralih menatap ke arah wanita paruh baya di hadapannya. "Ada apa dengan putra saya, Dokter? Kenapa hari ini tiba-tiba sifatnya seperti orang dewasa."
"Iya, Dokter. Kenapa putra saya seperti terlihat sedih?" Diandra sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai kakinya, tapi mental Aksa.
Sementara itu, sang kepala sekolah kini membuka suara dengan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini di dalam kelas.
Tidak ingin ada pertikaian di sekolah, sehingga hari ini memanggil para orang tua yang mempunyai anak pembuat masalah. Termasuk Aksa yang merupakan putra dari pengusaha sukses dan terkenal tersebut.
"Jadi, sebenarnya tadi Aksa ...."
__ADS_1
Diandra dan Austin terlihat serius mendengarkan perkataan wanita itu, tapi khawatir jika itu adalah sesuatu yang buruk.
To be continued...