
Oscar saat ini melihat sahabatnya memencet passcode apartemen karena tadi mengantarkan pulang karena khawatir jika sampai mengalami kecelakaan saat mengemudi karena di bawah pengaruh minuman beralkohol.
Meskipun sahabatnya sudah jauh lebih baik setelah memuntahkan semua isi perut di depan klab tadi dan kini terlihat berjalan masuk setelah pintu terbuka. Ia berjalan mengekor di belakang.
"Apa di kulkas ada minuman serbuk menghangatkan tubuh?" tanya Oscar yang ingin membuatkan sesuatu untuk sahabatnya agar lebih baik karena saat ini terlihat sangat lemas.
Sementara itu, Austin yang mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah, kini hanya menggeleng perlahan. Ia mengingat semua yang dilakukan hari ini di depan pria yang kini berjalan ke arah dapur.
"Buatkan teh panas saja!" teriak Austin yang tiba-tiba ingin menikmati teh untuk menghangatkan tubuhnya.
Saat ini, ia memijat pelipis yang terasa berat. "Sial! Kenapa aku jadi sebodoh ini hanya gara-gara Diandra?"
Saat baru saja menutup mulut, Austin mendengar suara dering ponsel miliknya yang ada di saku blazer miliknya. "Siapa orang gila yang malam-malam begini menelpon!"
Dengan gerakan malas, Austin mengambil blazer yang tadi ia sampaikan ke badan sofa dan seketika membulatkan mata begitu melihat kontak dari ponselnya.
Ia saat ini merasa bahwa sedang berada dalam sebuah halusinasi dan membuatnya mengucapkan mata beberapa kali. Refleks ia langsung memukul kepala agar sadar dari mabuk dan tidak melihat kontak wanita yang dari tadi dipikirkan.
"Mana mungkin ia menelponku." Austin yang kembali menatap ke arah benda pipih di tangan, kini mulai sadar bahwa wanita yang membuatnya berakhir mabuk-mabukan di klab malam benar-benar menelpon saat ini.
Hingga ia melihat sahabatnya membawa teh panas yang masih mengepulkan asap dan menaruh di atas meja.
"Pakai tatakan saat akan meminumnya agar lidahmu tidak terbakar." Oscar berniat untuk segera pulang karena sudah sangat mengantuk. Apalagi besok ia harus berangkat kerja.
Namun, ia mengerutkan kening ketika sahabatnya menunjukkan ponsel padanya dan bertanya hal yang konyol dan dianggap sangat berlebihan ketika menunjukkan kebodohan karena bucin pada satu wanita.
"Apa kau bisa membaca siapa yang menghubungiku?" tanya Austin saat memastikan sesuatu yang tidak diyakini, sehingga ingin meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang dilihatnya benar dan bukan khayalan semata karena efek mabuk.
Oscar ketika meninju lengan kekar sahabatnya untuk menyadarkan agar tidak bersikap seperti pria lemah. "Apa cinta membuatmu tiba-tiba buta aksara? Iya, itu buncinmu! Cepat sana angkat!"
"Keburu Diandra pergi karena kesal tidak ditanggapi saat menghubungi." Oscar yang kali ini merasa sangat penasaran, kini mendaratkan tubuhnya di dekat sahabatnya dan menunda untuk pulang karena ingin tahu apa alasan wanita yang digilai sahabatnya itu menelpon.
Austin seketika merutuki kebodohannya dan tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas agar tidak mati untuk kedua kalinya.
Ia sengaja tidak mau buka suara karena ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh wanita di seberang telpon sana. Meskipun sejujurnya ia benar-benar penasaran apa yang dilakukan oleh Diandra saat ini, sehingga menelpon setelah tadi murka padanya.
"Halo, Tuan Austin. Saya butuh uang itu dan menerima syarat Anda, tapi bukan sebagai jaminan. Aku ingin menjual keperawananku untuk biaya operasi ayah." Diandra yang berbicara sambil menahan dadanya ketika bulir air mata membasahi pipi putihnya.
__ADS_1
Ia yang tadi keluar dari rumah sakit, langsung menghubungi pria yang sangat tidak disukai dan membuang ego serta harga dirinya sebagai seorang wanita yang bermartabat.
Diandra saat ini berada di depan rumah sakit karena ingin mengetahui jawaban dari Austin setelah mengubah permintaan.
Ia berpikir jika mengunakan tubuhnya sebagai jaminan, maka pria yang sangat dibencinya itu akan terus memanfaatkannya dengan menikmati tubuhnya berkali-kali.
Diandra tidak ingin itu karena berpikir hanya melakukannya sekali dan menghilang dari hadapan pria yang telah menikmati kesuciannya. Itu adalah rencananya untuk bisa bertahan hidup karena tidak mungkin bisa melihat setiap hari bos yang sudah tidur dengannya.
Mungkin ia merasa sangat jijik pada tubuhnya dan pria itu, jadi tidak ingin bertemu lagi atau pun berurusan dengan seorang Austin Matteo. Diandra mengerutkan bening karena tidak kunjung mendengar suara dari seberang telpon dan berpikir bahwa ponsel telah mati.
Ia memeriksa dan merasa aneh karena saat ini melihat detik waktu masih berjalan, tapi seolah tidak ada orang di seberang sana.
"Halo! Tuan Austin!"
Sementara itu di apartemen, Austin yang sangat terkejut dengan permintaan dari Diandra, kini mengerjapkan mata beberapa kali dan menoleh ke arah sahabatnya.
Kemudian ia mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran karena tidak ingin sahabatnya tersebut mengetahui sampai sejauh mana hubungannya dengan Diandra.
Ia tidak bisa berbicara leluasa saat ada sahabat yang di samping sebelah kiri tepatnya duduk, sehingga refleks meraih kerah kemeja dan menyeretnya ke pintu depan agar segera keluar.
Bahkan ia sampai membuka pintu dan mengarahkan kakinya untuk menendang sahabatnya agar segera pergi karena tidak menurutinya saat hanya diberikan sebuah kode.
"Padahal Aku ingin sekali mendengar apa yang dibicarakan oleh wanita itu, sehingga malam-malam menelpon Austin." Karena merasa tidak ada harapan untuk mencari tahu, kini ia berjalan ke arah lift.
Oscar langsung masuk ke dalamnya begitu terbuka dan membawanya ke lobi apartemen. Ia pulang dengan tangan hampa karena tidak mendapatkan informasi yang diinginkan.
Sementara itu, Austin yang beberapa saat lalu mengusir sahabatnya dan langsung menutup pintu, mendengar suara Alesha yang beberapa kali memanggilnya dan seketika Ia membuka suara untuk menjawab.
"Baiklah, aku setuju. Aku akan membeli keperawananmu! Berapa kau menjualnya?" tanya Austin yang merasa itu punya memanas karena saat ini membayangkan jika sebentar lagi akan mendapatkan apa yang diinginkan.
Hingga ia mendengar jawaban dari Diandra.
"Aku butuh 150 juta dan transfer setelah selesai. Aku mau malam ini karena tidak punya banyak waktu," ucap Diandra yang kini masih berusaha untuk menormalkan perasaannya membuncah.
Hal yang sama kini dirasakan oleh seorang Austin Matteo karena ketika memikirkan akan bercinta dengan seorang wanita untuk pertama kalinya, membuatnya sangat gugup.
Apalagi melakukannya dengan wanita yang sangat diinginkannya, sehingga merasa ada sensasi luar biasa yang bergejolak di dalam dadanya.
__ADS_1
Bahkan itu punya memanas dengan bulu kuduk normal ketika membayangkan bahwa sebentar lagi yang bisa mendapatkan apa yang diinginkan dari sosok wanita yang membuatnya terobsesi memiliki seutuhnya.
"Baiklah. Datang ke alamat yang aku kirimkan. Aku akan menunggumu di sini."
Karena tidak bisa berbicara lebih banyak saat sedang gugup, Austin langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari wanita yang membuat pikirannya hanya terfokus pada satu hal, yaitu make love.
"Apa yang harus kulakukan sekarang untuk persiapan?" Austin yang merasa itu punya memanas, seketika berjalan ke kamar dan melepaskan seluruh bagian karena ia ingin membersihkan diri agar jauh terlihat segar serta tidak seperti orang yang habis minum-minuman beralkohol.
Bahkan ia sudah bersenandung di bawah shower ketika mandi saat di luar suasana sangat gelap karena hari sudah larut. Jika biasanya ia tidak terlalu lama membersihkan diri, kali ini melakukannya dua kali lipat lebih dari biasanya karena benar-benar ingin tampak fresh, wangi dan memesona di mata Diandra.
"Setelah aku berhasil memiliki Diandra seutuhnya, tidak akan pernah melepaskannya dimiliki oleh pria lain," ujar Austin yang saat ini tersenyum menyeringai ketika mandi.
Jika perasaan seorang Austin Matteo sangat bersemangat dan senang, tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang saat ini tengah Diandra rasakan.
Diandra yang saat ini sudah berada di dalam taksi menuju alamat yang tadi dikirimkan oleh Austin, beberapa kali meremas kedua sisi pakaian untuk menenangkan perasaan yang berkecamuk.
Bahkan ia tidak bisa mengendalikan lelehan bulir kesedihan yang mewakili perasaan hancur saat ini. Namun, Diandra beberapa saat kemudian menghapus kasar bulir air mata itu saat mengingat bahwa ia melakukan ini demi menyelamatkan nyawa sang ayah.
"Kau tidak salah mengambil keputusan ini karena semua akan baik-baik saja setelah ayah selamat dari operasi." Diandra saat ini memakai bedak tipis di wajah serta lipstik agar tidak terlihat pucat ketika berhadapan dengan pria yang akan membelinya.
"Aku tidak boleh terlihat lemah di depan bajingan itu." Diandra saat ini menyadari bahwa ia masih berantakan karena memang belum pulang sama sekali dari kantor karena lembur.
"Rasanya percuma aku lembur hari ini karena besok sudah tidak bekerja di sana lagi." Diandra memikirkan banyak hal, hingga merasa kepalanya sangat pusing dan beberapa kali memijat di sana.
Hingga setengah jam kemudian, ia sudah diturunkan di area depan bangunan tinggi menjulang yang tak lain adalah sebuah apartemen mewah. Diandra melihat kemegahan bangunan di hadapannya.
Degup jantung tidak beraturan dirasakan olehnya saat melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lobi apartemen dan masuk ke dalam lift.
Karena tadi sudah membaca pesan dari Austin mengenai lantai berapa dan nomor apartemen. Bahkan dia tidak bisa menormalkan perasaannya yang berkecamuk ketika menatap angka digital lift yang bergerak ke lantai atas.
"Berat sekali rasanya melihat wajah pria yang sangat kubenci, tapi harus membuang rasa itu karena menyerahkan harta paling berharga satu-satunya yang kumiliki."
Diandra sebenarnya ingin sekali waktu berhenti berputar hanya sampai di sana agar tidak bertemu dengan pria yang telah membelinya, tapi ketika menyadari kenyataan tak seindah yang diharapkan, kini menghembuskan napas kasar dan mencoba untuk menerima semua yang terjadi dalam hidupnya.
Diandra keluar dari lift dan mendengar notifikasi pada ponsel yang berada di dalam tas, tapi ia tidak ingin melihatnya karena hanya fokus pada apa yang akan dilakukannya malam ini.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja setelah malam ini karena kau telah berhasil menyelamatkan ayahmu yang sangat berarti dalam hidupmu," ucap Diandra yang berjalan sambil mengedarkan pandangan untuk mencari nomor apartemen yang tadi sudah dihafal.
__ADS_1
Bahkan ia sudah dikirimkan passcode apartemen agar bisa langsung masuk tanpa memencet bel. Begitu menemukan apartemen milik pria yang akan merenggut kesuciannya, Diandra langsung memencet kode yang tadi dikirimkan dan segera masuk ke dalam apartemen.
To be continued...