
Beberapa saat lalu, Leony yang berhasil menormalkan perasaannya setelah mengalami traumatis saat Diandra menceritakan tentang keadaan yang tengah hamil, kini langsung kembali ke ruangan orang tuanya.
Saat baru saja masuk sudah disambut oleh beberapa pertanyaan yang diungkapkan oleh sang ibu dan membuatnya mengingat pertemuan dengan istri dari pria yang dicintai.
"Bagaimana, Sayang. Ceritakan semuanya pada Mama mengenai wanita itu. Siapa dan bagaimana seorang istri dari Austin Matteo karena kami sama sekali tidak mendapatkan kabar jika dia sudah menikah." Wanita baya tersebut bahkan tidak menemukan berita apapun tentang istri dari Mateo.
Jadi, saat ini berpikir ada sesuatu yang menjadi penyebab pria itu dan keluarganya menyembunyikan pernikahan agar tidak diketahui oleh publik.
"Sepertinya mereka diam-diam menikah karena belum ada resepsi yang dilakukan. Siapa sebenarnya wanita itu?" Menatap ke arah putrinya yang terlihat sangat aneh ketika mendaratkan tubuh di kursi yang berada di sampingnya.
Sementara itu, Leony yang tadinya merasa sangat malas mengingat atau menceritakan tentang pertemuan dengan wanita yang dianggap sama sekali tidak istimewa dan tidak lebih baik darinya.
Namun, tidak mungkin mengecewakan sang ibu yang terlihat sangat ingin tahu tentang istri dari seorang pria yang pernah dicintainya. "Aku harusnya tadi mengajaknya foto bersama agar mama bisa menilai sendiri dengan melihatnya. Lain kali saja aku melakukannya."
"Wah ... benarkah itu, Sayang? Mama pikir Austin mendapatkan seorang wanita yang dua kali lipat lebih baik darimu. Ternyata kenyataannya seperti itu? Kamu masih tadi merasa sangat kesal," ucap sang ibu yang kini ingin menghibur putrinya dengan mengucap lengan untuk menguraikan kekesalan yang dirasakan.
Leony sangat malas ingin membahas tentang wanita yang menurutnya tidak jauh lebih baik darinya. Ia judul lebih mengingat tentang perkataan Austin yang ingin meminta tolong pada sang ayah dan membuatnya kini menoleh ke arah pria paruh baya yang masih terbaring di atas ranjang perawatan.
Ia pun menceritakan tentang garis besar yang tadi dikatakan oleh Austin. "Jadi, apa Papa mempunyai kenalan petinggi di kepolisian? Austin tadi memintaku menyampaikannya pada Papa."
Sementara itu, Samsudin yang saat ini berdiam mengingat beberapa kenalannya di kepolisian. "Aku akan menghubungi sahabatku yang masih menjabat sebagai brigadir jenderal polisi agar membantu Austin. Katakan itu padanya."
Leony yang tidak tahu harus menghubungi Austin karena tidak memiliki nomor pria itu. "Dia tadi tidak memberikan kartu namanya padaku, tapi aku sudah memberikan kartu namaku. Mungkin menunggu hingga dia menelpon saja, baru aku memberitahunya."
"Kenapa harus menunggu dia menelpon? Bukankah ruangan yang di sebelah? Katakan saja sekarang padanya. Papa sekarang akan menghubungi Brigadir jenderal polisi yang dulu merupakan junior Papa." Ia saat ini memberikan kode pada putrinya agar mengambilkan ponsel di atas laci.
Leony yang saat ini langsung mengulurkan tangannya untuk melaksanakan perintah sang ayah, tapi ia benar-benar sangat malas untuk kembali ke ruangan perawatan istri dari Austin yang membuatnya kesal.
"Rasanya malas sekali melihat wanita itu, Pa." Saat ia tidak berniat bangkit dari posisinya, ini malah merasa sangat terkejut ketika sang ibu berbicara hal yang dianggapnya konyol.
"Kalau begitu, biar Mama saja yang pergi ke ruangan perawatan istri Austin untuk memberitahunya. Sekalian Mama ingin melihat seperti apa istrinya yang tidak jauh lebih baik darimu." Saat ia bersemangat akan pergi, tidak bisa melanjutkan langkah kaki begitu tangannya ditahan oleh putrinya.
"Berhenti, Ma!" sarkas Leony yang seketika bangkit berdiri dari tempat duduk dan tidak ingin sang ibu mempermalukannya hanya gara-gara ingin tahu seperti apa istri dari seorang pria yang menolaknya atas dasar pertemanan.
Sang ibu yang kini gini mengerutkan kening karena merasa heran putrinya melarang pergi. "Memangnya kenapa?"
"Jika pergi ke sana, pasti wanita itu bisa tahu jika Mama penasaran padanya karena aku memberitahu dia tidak jauh lebih baik dariku. Aku tidak ingin dianggap seperti seorang wanita yang suka mengadu dan dianggap anak mama oleh istrinya Austin." Akhirnya ia berubah pikiran demi menghentikan sang ibu.
"Aku sudah terlihat jauh lebih baik agar dia sadar diri, jadi jangan mengacaukannya. Biar aku saja yang menyuruhnya ke sini untuk berbicara dengan Papa secara langsung. Mungkin nanti aku akan menemaninya saat Austin pergi karena dia tadi marah-marah saat sendirian di ruangan."
Berpikir sekalian ingin tahu apa kelebihan wanita itu yang membuat Austin jatuh ke pelukannya, Leony berharap menemukan pertanyaan yang menari-nari di otaknya dan sangat mengganggu pikirannya.
"Ya, seperti itu jauh lebih baik," ucap sang ayah yang kini memencet tombol panggil untuk berbicara dengan brigadir jenderal polisi.
Leony akhirnya terpaksa kembali ke ruangan perawatan wanita yang sangat tidak disukainya. Ia bahkan terlihat berjalan dengan sangat malas karena akan melihat istri dari pria yang masih belum dilupakannya.
Ia yang langsung masuk tanpa mengutuk pintu, seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan di depannya yang membuat dadanya sesak.
Bahkan kakinya saat ini seperti tidak bisa digerakkan dan hanya bisa diam di tempatnya karena terkejut melihat pria yang dicintai tengah berciuman dengan sang istri dan membuatnya merasa sakit hati.
__ADS_1
Refleks ia menelan saliva dengan kasar dan menormalkan perasaan bergejolak yang dirasakan ketika melihat dua orang di hadapannya kini sudah berhenti berciuman.
Tidak ingin lihat seperti seorang pecundang karena hanya diam di tempat tanpa berbicara apapun, ia seketika membuka suara untuk menguraikan suasana canggung di antara mereka.
"Aaah ... maaf, aku benar-benar tidak tahu. Tadi aku lupa mengetuk pintu saat masuk. Kalau begitu, kalian lanjutkan saja. Aku akan kembali nanti," ucapnya yang saat ini berbalik badan dan berniat untuk membuka knop pintu.
Namun, seketika terdiam ketika mendengar suara wanita yang berhasil membuatnya terlihat seperti tidak berharga.
"Tunggu! Apa ada urusan penting dengan suamiku? Katakan saja daripada harus bolak-balik dan malah melihat kami berciuman lagi," seru Diandra yang saat ini sengaja menyindir wanita yang dianggap tidak tahu sopan santun karena masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.
Ia tadinya berpikir bahwa yang datang adalah perawat atau dokter yang akan memeriksanya, tapi begitu mengetahui bahwa itu adalah wanita yang membuatnya seperti diremehkan, sehingga ingin tahu apa yang diinginkannya.
Bahkan saat ini menatap tajam sang suami yang hanya diam tanpa berkomentar apapun dan ia tahu jika pria tampan itu takut padanya.
'Lihatlah wajah suamiku malah terlihat sangat menggemaskan dan ingin sekali aku cium di depan wanita ini. Tapi jika melakukannya, pasti dianggap sengaja memperlihatkannya karena cemburu. Tidak, aku tidak boleh melakukannya,' gumam Diandra yang saat ini beralih kembali menatap ke arah sosok wanita di belakang pintu yang kini sudah berbalik badan menatapnya.
Leony sebenarnya merasa sesak di dada dan seperti kesulitan bernapas dengan lega saat berada di ruangan itu, tapi terpaksa harus menjelaskan agar tidak dianggap menjadi seorang pengganggu ketika mereka berciuman.
Ia pun mulai menceritakan pembicaraannya dengan sang ayah tadi yang akan berbicara dengan brigadir jenderal polisi.
"Jika kamu tadi memberikan kartu namamu, mungkin akan langsung menelpon dan tidak perlu datang ke sini. Papa saat ini menunggumu dan ingin berbicara untuk membahas permintaanmu yang memintanya menolong untuk laporanmu di kepolisian."
Wajah panik yang dipenuhi oleh kekhawatiran itu seketika berubah berbinar. Austin saat ini merasa senang karena akhirnya berhasil mendapatkan bantuan agar bisa secepatnya bisa memberikan hukuman yang setimpal pada orang-orang yang telah mengusik rumah tangganya.
"Baiklah. Aku akan ke sana." Ia pun saat ini beralih menatap ke arah sang istri untuk meminta izin. Namun, ia khawatir jika wanita hamil itu kembali marah-marah seperti tadi.
"Kamu tidak apa-apa, kan aku tinggal sebentar? Hanya membahas tentang cara untuk segera memulangkan wanita jahat itu ke Jakarta." Austin kita kan saat ini mengusap lembut lengan sang istri agar mengizinkannya pergi.
Namun, tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang takut kehilangan suami karena tergoda oleh wanita lain, ia saat ini hanya menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
"Jangan lama-lama seperti tadi. Aku benar-benar kesepian sendirian di ruangan luas ini." Ia yang baru saja menutup mulut, seketika menoleh ke arah sahabat sang suami yang menawarkan diri dan sebenarnya ingin ditolaknya mentah-mentah.
Namun, lagi-lagi ia tidak ingin terlihat terganggu dengan kehadiran wanita itu karena merasa cemburu.
"Biar aku temani kamu di sini sampai Austin kembali. Jadi, tidak akan merasa kesepian." Leony akhirnya kembali melangkah mendekati ranjang perawatan wanita itu dan menatap ke arah Austin. "Pergilah dan tanya papaku tentang apa saja yang ingin kamu ketahui."
Austin sebenarnya saat ini sangat berat melepaskan sang istri hanya berduaan dengan sahabatnya karena khawatir jika mereka bertengkar. Apalagi mengetahui jika mood sang istri berubah-ubah karena tengah hamil, jadi merasa tidak tenang meninggalkan mereka.
Namun, suara dari sang istri membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Cepat pergi sana, Sayang. Aku sekarang tidak kesepian lagi karena ada Leony." Tidak bisa menolak, Diandra berniat untuk mencari tahu tentang hubungan suami dengan sahabatnya tersebut.
Jadi, kini berubah pikiran untuk keberatan bersama dengan wanita yang sudah mendapatkan tubuhnya di kursi sebelah ranjang perawatan.
"Baiklah. Aku akan segera kembali, Sayang," sahut Austin yang saat ini mencoba berpikir positif bahwa dua wanita itu tidak akan saling menarik rambut hanya gara-gara membahas tentangnya.
Ia berniat untuk segera kembali setelah membahas tentang apa yang diinginkannya. 'Semoga mereka bisa menjadi teman dan tidak saling bermusuhan,' gumamnya yang saat ini berjalan menuju ke arah pintu dan keluar dengan perasaan dipenuhi oleh kekhawatiran pada dua wanita yang berada di dalam ruangan.
Sementara itu di dalam ruangan perawatan, Diandra yang saat ini berdehem sejenak ketika berniat untuk berbicara dengan sahabat dari sang suami semasa kuliah. Ia ingin menguraikan suasana penuh keheningan di antara mereka yang membuat kikuk.
__ADS_1
"Berapa lama kalian sudah tidak bertemu?"
Leony yang tadinya ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh istri dari Austin Karena penasaran apakah wanita itu akan menampakkan wajah aslinya atau masih berakting menyukainya. Padahal ia bisa melihat jelas jika ada sorot kekhawatiran dari mata seorang istri pada suami ketika ia memperkenalkan diri sebagai teman baik.
"Ehm ... berapa lama, ya? Sepertinya sudah lebih dari 5 tahun," ucapnya yang berusaha untuk mengingat-ingat tentang kapan terakhir kali ia bertemu dengan Austin.
"Oh ... sudah sangat lama berarti." Diandra saat ini mulai menghitung pertama kali bertemu dengan Austin juga lima tahun yang lalu, sehingga merasa sangat tertarik untuk membahas hal itu.
"Jadi, itu adalah pertama kali kamu berangkat ke luar negeri?" Diandra tidak peduli dianggap sedang mengintrogasi karena ia ingin mengetahui perihal masa lalu sang suami yang berteman baik dengan wanita secantik itu.
Refleks Leony seketika menggelengkan kepala karena tidak membenarkan pemikiran itu. "Itu adalah pertama kalinya aku pulang ke Jakarta setelah 2 tahun bekerja. Aku di rumah selama dua minggu dan mengajaknya bertemu di restoran."
Ia yang dulu masih tidak menyerah untuk mendapatkan Austin, bahkan sempat melakukan sesuatu yang sangat gila. Hingga ia yang saat ini mengingatnya, menyadari jika dulu adalah wanita yang sangat tidak tahu malu karena mengemis cinta dari seorang Austin Matteo.
Ia saat ini tengah memikirkan apakah akan menceritakan pada wanita di hadapannya atau tidak. Namun, setelah berpikir ulang, memilih untuk menyimpan rapat rahasianya.
'Aku dulu pernah mengajaknya tidur saat akan kembali ke luar negeri, tapi dia seperti biasa menolakku dengan alasan hanya ingin tidur dengan wanita yang diinginkan,' gumam Leony yang saat ini ingin mengetahui tentang rumah tangga Austin dan wanita di hadapannya.
"Apakah kalian baru saja menikah dan baru akan memiliki momongan?" Ia yang baru saja menutup mulut, seketika mengerjapkan mata begitu merasa ada hubungan antara kegagalannya dulu dengan wanita itu.
"Tidak. Kami sudah memiliki seorang putra berusia 4 tahun lebih," sahut Diandra yang saat ini tidak ingin menyembunyikan tentang hubungan mereka yang sudah berlangsung lama dan memiliki ikatan batin sangat kuat meskipun tidak diumbar atau dipublikasikan.
Ia tidak ingin wanita di hadapannya salah paham dengan pernikahannya yang disembunyikan karena dulu mengalami amnesia.
"Mempunyai seorang putra berusia 4 tahun lebih?" Itu berarti kamu sudah mengenal Austin lebih dari 5 tahun? Tapi rumah tangga kalian tidak dipublikasikan? Bagaimana mungkin?"
Ia saat ini memikirkan apakah saat ia mengajak tidur Austin dulu, sudah mengenal Diandra. Namun, merasa bingung harus bertanya bagaimana dan mendengarkan penjelasan wanita itu.
Diandra yang saat ini tidak mungkin menceritakan panjang lebar tentang masa lalunya, jadi hanya menceritakan garis besarnya saja. "Apa suamiku tidak menceritakan jika aku mengalami amnesia karena kecelakaan?"
"Ya, tadi hanya mengatakan itu padaku dan melarangku untuk berbicara macam-macam padamu karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk karena kamu baru saja pulih dari amnesia." Saat melihat senyuman terukir dari bibir Diandra, seolah membuatnya sadar jika seorang Austin Matteo sangat perhatian pada sang istri dan wanita di hadapannya tersebut terlihat bahagia.
'Aah ... sial, dia jadi kepedean di depanku,' gumamnya yang saat ini merasa kesal berbicara jujur pada wanita itu.
Hingga ia berhasil menemukan jawaban begitu wanita itu kembali menceritakan tentang pertemuan pertama dengan Austin Matteo.
"Suamiku langsung jatuh cinta padaku dan sangat terobsesi untuk mendapatkanku setelah pertama kali bertemu di perusahaannya ketika aku melamar pekerjaan." Kemudian ia mengingat waktu ia datang ke perusahaan untuk melamar pekerjaan dan bertemu di dalam lift.
"Itu terjadi satu bulan sebelum ulang tahunku yang ke 23. "Kira-kira bulan Februari tahun 2018," ucap Diandra yang masih sangat mengingat kejadian sebelum hari ulang tahunnya.
Hal yang meninggalkan momen penuh dramatis yang mengubah seluruh kehidupannya setelah mengenal sosok pria yang takluk hanya padanya dan tidak lagi melirik wanita manapun.
"Kamu pasti tahu jika dia adalah seorang Playboy, kan? Apa saat itu kamu tidak berpikir jika dia hanya memanfaatkanmu?" Leony kini mengerti jika ajakannya untuk tidur bersama Austin, sahabatnya itu sudah bertemu dengan wanita di hadapannya saat ini.
'Jadi, alasan Austin Matteo tidak mau tidur denganku adalah karena ingin tidur dengan wanita ini? Sialan! Apa hebatnya wanita kampungan ini? Bahkan dia tidak cantik maupun seksi sepertiku,' sarkas Leony yang hanya bisa meluapkan kekesalannya di dalam hati dan mendengar jawaban mengejutkan dari Diandra yang menjawab semua pertanyaan di otaknya.
"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Makanya aku tidak tertarik pada seorang Austin Matteo dan menolaknya ketika ingin menjalin hubungan denganku."
"Memangnya siapa aku? Aku hanyalah seorang wanita kampungan dan tidak sepadan dengan para kekasihnya," ucap Diandra yang saat ini melihat respon dari wanita di hadapannya seperti sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan olehnya.
__ADS_1
To be continued...