
Beberapa saat lalu, Austin yang yang tengah membicarakan mengenai bisnis dengan Tony Herlambang, mendengar suara dari handphone miliknya yang berbunyi. Kemudian menatap ke arah pria yang berada di hadapannya.
"Sebentar," ucapnya sambil meraih ponsel yang ada di balik saku celana dan mengerutkan kening begitu melihat nama seseorang yang sudah lama diputuskan dan membuatnya tidak tertarik untuk mengangkat.
Ia langsung mematikan panggilan agar tidak mengganggu saat sedang meeting dengan Tony Herlambang.
'Ngapain Annisa tiba-tiba menelponku? Menggangu saja. Tidak penting dan tidak perlu diangkat. Ia pasti hanya ingin merayuku agar kembali padanya,' gumam Austin yang saat ini kembali menatap ke arah pria dihadapannya.
"Kita lanjutkan saja yang tadi kita bahas."
"Kenapa tidak diangkat, Tuan Yoshi? Siapa tahu ada berita penting," sahut Tony Herlambang saat ini mengerutkan kening karena pria dihadapannya tidak mengangkat telpon dan memilih untuk mematikannya.
Namun, Austin yang tidak berniat untuk berbicara dengan mantan kekasih karena memang dari dulu tidak pernah berpikir untuk kembali dengan wanita yang sudah tidak ada hubungan dengannya lagi.
Bahkan ia sudah mengakhiri hubungan dengan kekasih barunya yang bernama Maria Belinda setelah memutuskan untuk mengakhiri petualangan dan berniat menikahi Diandra setelah membeli keperawanan wanita yang menghilang tanpa pesan itu.
Austin sangat berharap bisa menemukan sosok wanita yang telah membuatnya memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan serius menikah.
Namun, ia saat ini masih menunggu kabar baik dari sang detektif yang bekerja untuk melaksanakan perintah darinya mencari Diandra yang membuatnya sangat marah karena pergi.
Kini, ia mengalihkan pandangan dari pria itu ke ponselnya. "Tidak, aku yakin jika tidak ada yang penting dari seorang mantan. Apalagi aku paling anti dengan seorang mantan yang masih saja mengejar seperti tidak tahu malu."
Austin paling tidak suka jika ada seorang wanita yang mengejar-ngejarnya setelah diputuskan olehnya. Muak, mungkin itu adalah kalimat yang sangat mewakili perasaannya saat ini.
"Sepertinya mantan kekasih Anda masih sangat mencintai dan ingin kembali bersama, sehingga menghubungi lagi. Memangnya siapa yang membuat Anda memutuskan hubungan dengan kekasih?" Tony Herlambang sebenarnya tidak ingin membahas ataupun bertanya mengenai masalah pribadi klien pentingnya tersebut.
Namun, karena Austin yang pertama membahas mengenai masalah pribadi terlebih dahulu, membuatnya hanya menanggapi dan lama-kelamaan merasa penasaran dengan seorang pria tampan yang pastinya punya banyak pesona di hadapan para kaum hawa.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban santai dari pria dengan paras rupawan tersebut.
"Biasa, aku sudah bosan dan menemukan wanita baru yang membuatku tertarik," sahut Austin yang saat ini indra pendengarannya menangkap suara notifikasi dan memeriksa pesan yang baru saja diterima.
Kemudian ia langsung membuka pesan yang tak lain dari mantan kekasihnya dan membuat beberapa kali memicingkan mata untuk mencoba mengerti arti pesan yang baru saja dibacanya.
__ADS_1
Sepertinya kamu benar-benar tidak ingin berhubungan lagi denganku, Austin. Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan memberitahumu mengenai informasi penting yang berhubungan dengan kekasih barumu yang membuatmu memutuskanku hanya demi wanita miskin itu.
Austin masih mencoba mencerna kalimat terakhir dari mantan kekasihnya yang menyebut kekasih baru karena ia punya banyak kekasih dan terakhir adalah Maria Belinda yang baru saja diputuskan.
'Apa yang dimaksud adalah Maria Belinda? Tidak mungkin! Karena Maria bukan wanita miskin,' gumam Austin yang merasa sangat penasaran dengan maksud dari mantan kekasihnya yang diputuskan setelah menemukan Maria.
Ia ingin tahu kenapa Annisa mengatakan bahwa Maria adalah seorang wanita yang miskin karena saat ini berpikir ada sesuatu yang menari di otaknya. Saat mengingat kata wanita miskin, yang terbersit di pikirannya hanyalah wanita yang tak lain adalah Diandra.
Apalagi mengetahui bahwa Diandra membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit karena sang ayah yang menderita penyakit jantung dan harus dioperasi, sehingga berakhir menjual keperawanan yang selama ini dibanggakan atas nama berbakti kepada orang tua.
Austin yang tidak ingin pembicaraannya didengar oleh Tony Herlambang, kini memberikan kode untuk menelpon saat keluar dari restoran.
"Sebentar! Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan seseorang." Bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke arah luar restoran setelah pria yang diajaknya bicara menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
Sementara itu, Austin yang saat ini bisa mendengar suara dari mantan kekasihnya yang tertawa dan membuatnya sangat kesal, tapi harus menahan diri demi sesuatu yang ingin diketahui.
"Halo, Austin. Ternyata kamu sudah tidak jual mahal lagi padaku hanya karena merasa penasaran dengan wanita miskin itu, bukan? Aku susah payah menelponmu, tapi tidak kamu angkat. Namun, hanya sekali aku menyebutkan wanita miskin yang sudah kuberikan pelajaran dengan menarik rambutnya hingga rontok, kamu langsung menghubungiku."
Kemudian Annisa seketika tertawa terbahak ketika mengingat wajah mengenaskan dari wanita yang tadi diberikan sebuah pelajaran karena membuatnya sangat muak.
Di sisi lain, Austin hanya membiarkan Annisa tertawa sepuasnya hingga selesai karena tidak ingin memotong kepuasan mantan kekasihnya tersebut yang membuatnya makin penasaran dengan siapa yang dimaksud.
Hingga begitu wanita itu berhenti tertawa, seketika membuatnya kembali membuka mulut.
"Kau bertele-tele dan membuatku pusing, Annisa. Bukankah kamu tahu bahwa ada banyak wanita yang menjadi kekasihku? Lalu, kamu ingin aku mengingat satu persatu mereka? Bahkan saat ini aku sudah tidak mempunyai hubungan dengan wanita manapun, lalu wanita mana yang kamu maksudkan?"
Austin sengaja memancing Annisa dengan berbicara jujur bahwa ia saat ini tidak sedang bersama dengan wanita manapun, agar mantan kekasihnya tersebut merasa memiliki kesempatan untuk kembali padanya.
Padahal yang sebenarnya adalah sangat yakin jika Annisa akan berbicara jujur padanya mengenai siapa sosok wanita yang tadi diberikan pelajaran dengan menarik rambut hingga rontok.
Hingga ia kembali harus menahan kesabaran karena suara tawa dari Annisa terdengar seperti mengejeknya habis-habisan dan semakin meyakinkannya jika wanita yang dimaksud oleh mantan kekasihnya tersebut adalah Diandra yang menghilang.
"Wah ... sungguh sangat luar biasa wanita itu karena bisa membuat seorang Casanova seperti Austin Matteo tidak lagi mempermainkan perasaan banyak wanita. Sepertinya kamu sangat patah hati ditinggalkan wanita itu. Sial! Harusnya aku tadi menampar lebih kuat serta membuatnya botak."
__ADS_1
Annisa makin marah begitu mengetahui bahwa seorang playboy yang tidak pernah sepi wanita itu ternyata sekarang tidak mempunyai hubungan dengan wanita manapun.
Tentu saja ia berpikir bahwa penyebabnya adalah wanita bernama Diandra yang sudah angkat kaki dari apartemen karena merasa malu.
"Aku sedang ada meeting dengan klien. Jika tidak menyebutkan siapa wanita yang kamu maksud, aku akan menutup teleponnya sekarang." Austin benar-benar muak mendengar suara Annisa yang bertele-tele.
Berpikir jika wanita yang dimaksud oleh mantan kekasihnya itu adalah Diandra, maka yang terjadi adalah ia akan memberitahu detektif.
Bahwa Diandra sempat bertemu dengan Annisa. Hingga ia kini mengepalkan tangan begitu mendengar penjelasan dari mantan kekasihnya ternyata seperti dugaannya.
"Baiklah. Aku sepertinya tidak bisa bercanda denganmu karena merupakan tipe pria yang sangat serius dan pekerja keras. Aku semalam melihat seorang wanita yang dulu kulihat pergi ke klab malam menemuimu. Ia sekarang tinggal di unit sebelah apartemenku. Jadi, karena marah padanya saat berpikir bahwa ia yang menjadi penyebab kita putus, aku langsung memberikannya pelajaran."
Saat Annisa belum selesai menjelaskan, kalimatnya yang terpotong dengan suara bariton Austin yang berhasil ia buat penasaran dengan apa yang disampaikannya.
"Diandra? Apa Diandra yang berada di sebelah unit apartemenmu?" Austin seketika merasa sangat senang karena mendapatkan sebuah berita yang membuatnya bersemangat karena akan menemukan wanita yang ingin dinikahi sebagai bentuk pertanggungjawaban karena telah merenggut kesuciannya.
Bahkan saat ini ia langsung berjalan menuju ke arah restoran untuk berpamitan agar bisa segera pergi ke apartemen mantan kekasihnya tersebut. Hingga lagi-lagi ia mendengar suara terbahak dari Annisa.
"Ternyata benar apa yang kupikirkan bahwa seorang Austin sangat mencintai wanita miskin murahan itu. Ya, wanita itu kuketahui dipanggil Diandra oleh seorang pria yang tak lain adalah pemilik apartemen. Seharusnya kamu berpikir kenapa wanita miskin sepertinya bisa tinggal di apartemen mewah milik seorang pria?"
Tujuan Annisa yang berhasil untuk membuat rasa penasaran seorang Austin telah sukses dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan, sehingga langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
Annisa saat ini sangat yakin jika mantan kekasihnya tersebut akan datang ke apartemennya untuk bertanya mengenai wanita miskin yang ia ketahui bernama Diandra tersebut.
Bahkan ia mengumpat habis-habisan dengan mengabsen seluruh isi kebun binatang karena merasa iri pada wanita yang tadi ia tarik rambutnya hingga beberapa helai berada di genggaman.
"Berengsek! Kenapa wanita yang membuat Austin tergila-gila bukan aku? Apa hebatnya wanita sialan miskin itu? Aku menyesal kenapa tadi tidak menamparnya habis-habisan karena merebut Austin dariku!"
Karena merasa sangat murka dan tidak bisa menahan amarah yang memuncak di dalam hati, refleks Annisa membanting ponsel yang berada di genggamannya hingga porak poranda di lantai mengkilap berwarna putih itu.
"Berengsek! Aku bahkan masih tidak rela Austin memutuskanku dan berpikir bisa kembali padanya. Tapi responnya mengenai wanita miskin itu membuatku merasa tidak ada kesempatan lagi untuk kembali. Padahal selama ini aku sangat mencintainya dan tidak peduli dengan pria lain."
Merasa sangat frustasi memikirkan hal itu, Annisa benar-benar sangat marah karena harapannya untuk bisa menikah dengan pria sehebat dan sekaya Austin Matteo gagal hanya gara-gara seorang wanita bernama Diandra yang dianggapnya tidak lebih cantik darinya.
__ADS_1
"Diandra sialan! Semoga kau hidup menderita di luaran sana karena telah membuat Austin berpaling dariku," umpat Annisa dengan wajah memerah dan kini jatuh terduduk di atas lantai karena merasa tubuhnya lemas ketika membayangkan bahwa pria yang dicintai sudah benar-benar hilang dari kuasanya.
To be continued...