
Beberapa saat lalu, setelah Diandra mendapat telpon dari Austin, ia langsung buru-buru bersiap dan berjalan keluar dari ruangan kamar setelah mengganti piyama dengan pakaian hangat.
Ia memilih bertemu dengan Austin di taman kota karena dekat dengan lokasi tempat tinggalnya saat ini. Apalagi jalanan cukup ramai dan ia tidak takut jika sampai ada orang-orang jahat yang mengincarnya.
Diandra malah hanya takut pada Austin yang telah merenggut kesuciannya daripada orang lain. Tidak butuh waktu lama ia tiba di taman setelah berjalan kaki sambil sesekali mengusap lengannya yang tertutup sweater hangat.
"Hari ini aku akan menunjukkan pada si berengsek itu agar tidak lagi mengganggu kehidupanku. Akan kulakukan apapun untuk membuatnya berhenti mengusikku!" Diandra saat ini menatap ke sekeliling area depan taman yang kini sudah sepi.
Entah mengapa ia bahkan sama sekali tidak takut berada di sana sendirian. Padahal adalah seorang wanita yang rawan mendapatkan sebuah kejahatan dari lawan jenis.
__ADS_1
Satu-satunya hal yang dipikirkannya hanyalah Austin pria paling jahat di dunia ini dan benar-benar sangat membenci pria yang telah membuatnya berada dalam kehancuran karena keterpurukan.
Diandra pun mengirimkan posisinya agar dia yang ingin ditemuinya tersebut mengetahui ia berada di sana. "Semoga dia segera datang karena aku tidak ingin berlama-lama berada di sini. Apalagi ini sudah sangat larut dan semakin dingin."
Bahkan beberapa kali Diandra mengusap lengannya karena merasa hangatnya sweater yang dikenakan tidak mampu menghalangi udara malam hari yang semakin menusuk tulang.
Hingga saat ia sibuk mengusap lengannya karena kedinginan, merasa sangat terkejut ketika merasakan sesuatu di tubuhnya karena ada yang tiba-tiba memakaikan jas.
"Dasar wanita ceroboh! Berani-beraninya kamu mengajak bertemu seorang pria pada tengah malam begini. Apalagi hanya mengenakan sweater tipis saat keluar dan sekarang kedinginan!" sarkas Austin yang tadi langsung berinisiatif untuk memasangkan jas miliknya karena melihat dari belakang saat Diandra beberapa kali merusak lengan karena kedinginan.
__ADS_1
Ia bahkan saat ini sudah berdiri dihadapkan wanita dengan tatapan yang sama, yaitu selalu membuatnya seperti menjadi seorang pria paling dibenci. Hari ini, ia ingin menyelesaikan semua masalah yang selama ini membuatnya berpikir bahwa Diandra salah paham padanya.
"Lain kali aku tidak akan pernah mau menuruti perintahmu yang ingin menemui di tengah malam seperti ini. Bagaimana jika sampai ada orang jahat yang berbuat macam-macam padamu?"
Austin yang baru saja menutup mulut untuk meluapkan kekesalan pada wanita di hadapannya, kini merasa tertampar dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh Diandra.
"Aku sama sekali tidak takut pada orang lain karena hanya takut padamu yang telah berbuat macam-macam padaku," sarkas Diandra yang saat ini tetap menatap tajam penuh kebencian pada pria yang terlalu banyak berbicara dan membuatnya sangat ilfil.
"Aku tidak ingin bertele-tele karena ingin membahas mengenai apa yang kau sampaikan pada orang tuaku. Aku tetap tidak akan pernah mau menikah denganmu karena mencintaimu pria lain dan sangat jijik padamu!"
__ADS_1
Diandra yang baru saja meluapkan amarah yang membuncah di dalam hati, seketika membulatkan mata atas perbuatan pria yang saat ini malah membungkam bibirnya.
To be continued...