Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Terluka kesekian kali


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Diandra terlihat turun dari mobil bersama Aksa dengan membawa dua koper. Ia meminta pertolongan dari pria berseragam tak lain adalah security di apartemen untuk membantu membawa koper berisi pakaian miliknya dan Aksa.


Karena tidak mungkin menyuruh pelayan membawa semuanya.


Ia memang tidak menginap di hotel karena kebetulan ada apartemen dari teman pria paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ayah kandung sendiri tersebut kosong dan pemiliknya tengah pergi ke luar negeri. Jadi, ia bisa tinggal selama beberapa hari di Jakarta.


Setelah tiba di lantai sepuluh yang menjadi tempat tinggal sementara untuknya, Diandra yang sudah memencet passcode, mengucapkan terima kasih pada pria yang mempunyai kumis tebal itu dan tak lupa sudah memberikan uang.


Lalu ia, pelayan dan putranya masuk ke dalam apartemen yang sudah dilengkapi segala furniture mewah.


Diandra kini memeriksa ruangan kamar dan semuanya karena ingin mengetahui setiap sudut apartemen. Kemudian menatap ke arah pelayan yang akan disuruh untuk menjaga Aksa nanti di apartemen saat ia pergi ke acara pesta yang dihadiri oleh para pengusaha sukses di seluruh Indonesia.


"Bibik bisa istirahat jika lelah. Aku pun juga akan mengajak putraku beristirahat di kamar. Nanti malam aku pesan makanan saja untuk kita bertiga makan karena ribet jika harus memasak saat tubuh lelah setelah perjalanan jauh." Diandra kini menunjuk ke arah ruangan kamar yang lebih kecil dari kamar utama.


Sementara itu, wanita berusia 40 tahunan tersebut langsung mengangukkan kepala karena ia memang sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh untuk pertama kalinya.


"Baik, Nyonya. Kalau butuh bantuan, Anda bisa langsung masuk ke dalam kamar untuk memanggil saya," ucap wanita yang kini membungkuk hormat sebelum masuk ke dalam kamar.


"Iya, Bik. Aku akan membangunkan Bibik nanti jika butuh bantuan." Diandra tersenyum sekilas dan beralih membungkuk untuk menggendong putranya masuk ke dalam kamar.


"Sayang pasti capek, ya? Kita istirahat dulu, Sayang." Diandra berniat untuk mengganti pakaiannya dan milik putranya. Namun, putranya merengek meminta sesuatu.


"Mainan," rengek bocah laki-laki yang kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar, tapi sama sekali tidak melihat sesuatu yang menarik hatinya.


Sementara itu, Diandra yang awalnya berniat untuk mengajak istirahat putranya karena lelah mengemudi selama lebih dari 3 jam, kini menepuk jidatnya begitu menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Mama lupa, Sayang. Tadi mainan yang ada di dalam kotak tidak dimasukkan ke mobil." Diandra yang masih menggendong putranya, bisa melihat raut wajah masam yang menunjukkan kesal.


"Mama, beli mainan," ucap Aksa dengan logat khas anak-anak yang sangat menggemaskan sambil mengerucutkan bibir.


Diandra yang memang menyadari kesalahannya, tidak mungkin menolak dan akhirnya menuruti kemauan putranya. "Baiklah, kita beli mainan sekarang, ya. Kita bilang dulu sama bibik, ya."


Diandra kini merapikan rambut putranya yang baru saja disisir karena sedikit berantakan. Ia tersenyum saat mendengar jawaban Aksa dengan logatnya yang lucu saat mengatakan iya sambil menganggukkan kepala, sehingga membuatnya kembali mencium gemas pipi putranya.


Puas dengan kegiatannya, Diandra sudah meletakkan tas punggung berisi semua perlengkapan Aksa. Mulai dari baju ganti, susu dan makanan, tak lupa ada buku cerita bergambar kesukaan putranya.


"Sekarang kita berangkat, Sayang." Diandra menggendong putranya dan berniat untuk mengatakan pada pelayan.


Namun, pintu tidak ditutup dan ia melangkah masuk. Begitu melihat sosok wanita sudah tertidur pulas di atas ranjang, ia hanya tersenyum simpul.


'Bibik pasti sangat lelah, makanya begitu mencium aroma ranjang dan bantal, bisa langsung tertidur pulas,' gumam Diandra yang akhirnya tidak jadi berpamitan pada pelayan.


Ia bahkan perlahan keluar dan tadi sudah memberikan sebuah kode pada putranya dengan menaruh jari telunjuk di depan bibir agar tidak bersuara. Hingga ia kembali tersenyum dan mencium gemas putranya yang digendong karena mengerti dan patuh.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, bunyi denting lift menandakan pintu sudah terbuka dan kaki jenjangnya mulai melangkah keluar dari sana menuju ke arah parkiran.


Begitu tiba di dekat mobil, ia menurunkan Aksa ke kursi depan di sebelahnya, sedangkan ia duduk di balik kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Lalu, mengemudikannya meninggalkan area apartemen.


Tidak membutuhkan waktu lama karena jarak apartemen dengan Mall terbesar di Jakarta hanya beberapa kilometer saja dan kini sudah tiba di lokasi yang dituju. Ia sudah hafal daerah Jakarta hanya dengan mengikuti maps.


"Sudah sampai, Sayang. Aksa bisa memilih banyak mainan di sini." Diandra kini menggendong putranya yang terlihat sangat senang dan bersemangat.


Diandra yang berjalan menuju ke arah pintu masuk dan berniat untuk mencari

__ADS_1


"Ada acara apa sebenarnya?"


Tanpa mempedulikan para pria berseragam yang saat ini tengah sibuk dengan kegiatannya, Diandra berniat untuk mencari stand toko mainan. Namun, putranya malah menunjuk ke arah lain.


"Mama, mamam!" rengek Aksa yang kini menunjuk ke arah restoran cepat saji dengan menu andalan ayam Kentucky yang terkenal di seluruh dunia tersebut.


Diandra hafal betul dengan selera putranya yang sangat menyukai Kentucky dan karena kebetulan ada di depan restoran paling terkenal tersebut, kini ia menunda untuk membeli mainan.


"Baiklah. Kita mamam ayam goreng kesukaan Aksa, ya." Diandra akhirnya berbalik badan dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu masuk kaca di depannya dan melangkah masuk.


Diandra mengerutkan kening saat tidak mengerti ada acara apa sebenarnya karena terlihat banyak orang di salah satu sudut kanan restoran cepat saji tersebut.


"Sepertinya ada acara ulang tahun," lirih Diandra yang kini melihat ada MC dan badut.


Ia mengalihkan perhatian karena berniat untuk memesan makanan, tapi begitu sampai di kasir, mendengar suara dari pegawai yang berpesan pasang.


"Kebetulan sekali, Nyonya. Hari ini ada salah satu anak yang berulang tahun dan orang tuanya memilih untuk mengadakan acara di sini. Tadi berpesan jika ada orang tua datang bersama anak kecil, dipersilakan untuk ikut memeriahkan dan ikut mendoakan."


Sebenarnya, Diantara merasa aneh dan ingin menolak ajakan wanita tersebut, tetapi merasa seperti orang yang tidak menghargai kebaikan orang lain. Ia hanya ingin ikut mendoakan karena juga memiliki seorang putra yang mungkin suatu saat juga butuh didoakan oleh orang lain.


Pada akhirnya ia memilih untuk menganggukkan kepala dan berjalan di samping pegawai yang mengantarkan dan indra pendengarannya bisa menangkap suara dari anak-anak kecil yang terdengar riuh rendah.


Karena ia ingin melihat seperti apa orang tua yang memeriahkan ulang tahun anaknya dan mengizinkan orang lain ikut memeriahkan, sehingga Diandra mencari celah agar bisa menelusup ke area depan.


Akhirnya ia berhasil sampai ke area depan dan terlihat sudah dihiasi sedemikian rupa dengan balon dan pernak-pernik ulang tahun.


Namun, bola matanya membulat sempurna saat melihat sosok pria yang tengah menggendong anak perempuan sepantaran dengan putranya.

__ADS_1


'Ya Allah, apa ini adalah rencana-Mu untuk membuat hatiku terluka kesekian kalinya? Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu lagi?' lirih Diandra yang saat ini ber-sitatap dengan netra pekat milik pria yang sangat dibencinya.


To be continued...


__ADS_2