Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak ingin kehilangan


__ADS_3

Austin saat itu bangun dari tempat tidurnya dan memakai kembali celananya yang telah berserakan di lantai dan langsung berjalan keluar menemui putranya yang kehilangan ibunya karena ulahnya.


Ketika ia baru saja membuka pintu, melihat beberapa pelayan dan tidak melupakan ibunya yang baru saja keluar dari kamar.


Tentu kesunyian malam membuat suara anak laki-laki menjerit dan menangis karena mencari ibunya, terdengar sangat riuh memenuhi rumah keluarga besar Matteo.


"Sayang, ada apa?" tanya wanita paruh baya yang baru saja keluar kamar sambil menghampiri cucu kesayangannya.


Sementara itu, bocah laki-laki yang saat ini sedang menangis karena mencari keberadaan ibunya. "Mama! Di mana Mama?"


Sedangkan Austin yang saat ini sedang menatap putranya merasa bingung harus menjelaskan karena tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja membawa Diandra ke kamar.


Apalagi sekarang sang istri tidak berpakaian karena ingin melanjutkan aktivitas intinya. Terlebih lagi, ia keluar tanpa mengenakan pakaian dan saat ini terlihat bertelanjang dada dengan beberapa kali mengusap lengannya.


"Sayang, mungkin Mama keluar. Nanti, pasti akan kembali tidur dengan Aksa." Austin terpaksa berbohong dengan mengarang hal yang konyol karena mengira saat ini tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


Ia bahkan melirik ibunya untuk memberikan kode penyelamatan dari putra mahkota yang akan meneruskan jejak keluarga Matteo.


'Semoga mama bisa mengerti bahwa saat ini aku butuh bantuan,' gumam Austin yang tak bisa membuka suaranya untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya.


Sementara itu, sang ibu yang sebelumnya merasa aneh saat melihat putranya telanjang di malam yang dingin, kini bisa memahami arti kode mata itu.


"Kapan kamu pulang? Mama pikir kamu belum pulang. Kenapa tiba di rumah begitu cepat." Lalu berjalan menghampiri sang cucu yang sedang ditenangkan oleh baby sitter. "Aksa tidur dengan nenek, ya!"


"Nanti, setelah ibu kembali, kita akan bersama lagi, oke!" Mengulurkan kedua tangan pada cucu kesayangan dan ingin ikut ke kamar.


Sementara itu, Austin saat ini masih berdiri di dekat ibunya dan berharap usaha wanita yang sangat ia cintai itu berhasil meluluhkan sang putra.


Sebenarnya ia ingin mendiamkan putranya agar tidak terus menangis, tapi menyadari bahwa hal itu hanya akan menghalanginya untuk melanjutkan aktivitas intim dengan wanita yang berada di ruangan lain.


Austin hanya menatap ibu dan berbicara dengan lembut, "Aku langsung kembali setelah berbicara dengan Yoshi. Aku tidak bisa lama-lama jauh dari istri dan anak-anakku, Ma."


Lalu ia menoleh menatap putranya yang masih terus menggeleng-gelengkan kepala saat dirayu sang ibu. "Sayang, Aksa tidur sama nenek dulu, ya?"


"Bukankah mama bilang tidak boleh nakal lagi jika masih ingin disayangi?" Ia sengaja memakai nama Diandra karena saat ini hanya itu yang terpikirkan.

__ADS_1


Saat berusaha membujuk putranya agar patuh dan tidak cerewet karena mencari istri, kini Austin terlihat sibuk mengelus punggung setelah mengatur posisi dengan jongkok.


"Putra Papa tidak boleh menangis seperti perempuan. Apakah Aksa lupa apa yang mama katakan?" Saat ia baru saja mengatupkan mulutnya, melihat ekspresi putranya sangat mengharukan dan membuatnya tersenyum sambil memeluk erat.


"Aksa ingat dan tidak akan menangis lagi. Aku adalah seorang master dan tidak boleh menangis. Mama akan pergi lagi nanti," kata Aksa sambil menyeka wajahnya karena dipenuhi air mata.


Tentu saja saat ini Austin sudah memeluk putranya dengan erat. "Jagoan Papa memang sangat pintar. Mama pasti sangat senang mendengarnya. Kalau begitu, Aksa tidur dengan nenek, ya!"


Refleks Aksa menggeleng karena tidak mau menuruti perintah ayahnya. "Aksa mau tidur sama Papa sambil nungguin mama datang."


Saat ini, tubuh Austin langsung terasa lemas karena rencananya tidak sesuai ekspektasi.


Tidak mungkin memaksa putranya untuk tidur dengan ibunya, jadi saat ini terpaksa menurut dan berdiri untuk menggendong bocah yang begitu dibanggakannya.


"Oke. Aksa tidur sama Papa sambil nunggu mama kembali." Ketika ia telah mencium putranya dengan penuh kasih sayang, yang menjadi alasan utama percintaan yang tertunda, kini terdengar suara sang ibu yang mengejek dengan sinis.


"Kamu telah membuat anakmu bangun karena ...."


Ia tidak melanjutkan ucapannya karena khawatir cucunya salah mengartikannya. Sebenarnya ingin mengatakan bahwa Austin baru saja menculik seorang ibu dari seorang anak.


Austin terdiam tanpa berkomentar karena putranya saat ini sedang digendong. "Aku tidur bersama Aksa dulu, Ma."


Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, kini sudah berjalan menuju pintu kamar tidur utama dan sesuai keinginan sang putra, langsung memeluknya erat setelah membaringkan tubuh Aksa di ranjang.


Bahkan ia pun sudah menyanyikan lagu pengantar tidur berharap putranya segera tertidur di alam bawah sadar. Tadi, menyuruh baby sitter untuk menunggu di kamar putranya.


Hal itu karena tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi dan baby sitter bisa langsung bertindak saat putranya bangun tidur lagi.


Meski bukan keinginan karena berharap anak kecil yang disayanginya bisa tidur nyenyak sampai besok pagi.


Hingga setengah jam kemudian ia yang kesulitan menidurkan, menahan rasa kantuk yang dirasakan akibat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.


Begitu melihat putranya tertidur, Austin dengan sangat hati-hati turun dari tempat tidur dan tentu saja langsung menuju ke kamar tidur sederhana. Di manakah sosok wanita yang ditinggalkan itu?


Bahkan sebelumnya, sempat mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk ke kamar.

__ADS_1


"Sayang," lirih Austin, yang tidak ingin orang lain mendengar suaranya selain istrinya.


Apalagi jika putranya mendengarnya, ia pasti akan gagal untuk kedua kalinya. Ia bahkan sempat menahan gejolak nafsu yang dirasakannya karena telah menghabiskan beberapa menit menyatu dengan sang istri.


Saat panggilan tidak mendapat respon sama sekali, ia langsung berjalan menuju ranjang king size dan melihat sosok wanita yang sedang tertidur lelap dan membuatnya tidak bisa membangunkannya.


Austin awalnya merasa sangat kesal dan kecewa karena ditinggal tidur, tapi ketika melihat wajah damai istrinya, kini terdiam dengan tatapan tajam saat tubuh mendarat di sebelah kanan wanita dengan suara nafas teratur yang memenuhi ruangan.


'Ibu dan anak ini ternyata sama saja. Selalu membuatku harus bersabar dengan tingkah mereka,' gumam Austin yang kini sedang merapikan rambut istrinya agar bisa menatap lebih leluasa.


Austin bahkan sekarang ingat tentang Yoshi. Sebelum terbang ke tanah air, mengetahui kabar bahwa Yoshi harus dioperasi karena ada gumpalan di otak.


'Tentunya wanita itu berpikir bahwa akulah yang menyebabkan kesialan pada putranya. Dia tidak pernah berpikir bahwa penyebabnya adalah kecelakaan yang merupakan takdir. Bahkan aku dulu merasakan hal yang sama dan tidak pernah menyalahkan siapa pun atas kemalangan itu.'


Austin yang sibuk bergumam pada dirinya sendiri saat mengingat kemalangan yang terjadi di antara mereka bertiga. Bahwa yang terjadi tidak jauh berbeda dan dirasa semua itu sudah menjadi garis tangan.


'Aku, Yoshi, Diandra sudah terikat oleh takdir dan tidak bisa lari dari semua ketentuan Tuhan. Kalau Yoshi bisa mengerti bahwa itu bukan jodoh Diandra, tidak akan terjadi apa-apa.'


Harapan terbesar Austin adalah segera melihat Diandra kembali berjalan dan tidak ada lagi laporan dari kepala sekolah putranya mengenai perilaku serupa yang merupakan bentuk penghormatan kepada ibu.


"Semoga keluarga kita bisa lebih bahagia lagi." Austin mengakhiri ucapannya dengan senyuman dan berniat mengangkat tubuh istrinya yang tertidur lelap.


Ia ingin pindah ke kamar bersama putranya. Namun, saat berdiri, tubuhnya langsung terhuyung saat wanita yang ternyata membuka mata dan tertawa melihat pemandangan itu.


"Aku sudah menunggumu, Sayang." Diandra sengaja berpura-pura tidur saat suaminya masuk ke kamar.


"Sayang, ternyata kamu masih terjaga dan menipuku." Austin merasa kesal karena telah digoda oleh wanita yang bahkan hanya tertawa tanpa menjawab.


Hingga ia yang tadinya berniat membungkam bibir wanita itu tiba-tiba terdiam.


"Aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan saat istrimu tertidur ketika hasratmu terbangun. Ternyata kamu selalu bersikap seperti pria terhormat dan membuatku semakin jatuh cinta padamu."


"Aku mencintaimu. Kuharap cintamu tidak akan pernah berubah selamanya karena aku tidak ingin kehilangan pria sebaik dirimu." Diandra mengakhiri ekspresi perasaannya yang penuh keikhlasan dengan mencium bibir tebal pria yang hanya diam saat diciumnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2