
Yoshi baru saja selesai pertemuan dengan klien. Ia memeriksa ponsel dan membaca pesan dari sepupunya mengenai Diandra. Kini, ia mulai mengerti apa yang selama ini ditutupi oleh wanita yang baru saja dikenalnya tersebut.
Kini, ia menatap ke arah asisten pribadinya. "Kembalilah ke kantor karena aku ada urusan mendadak yang harus segera diselesaikan."
"Baik, Tuan Yoshi. Hati-hati di jalan." Sang asisten langsung membungkuk hormat begitu melihat bosnya bangkit dari kursi dan berlalu pergi meninggalkannya.
Sementara itu, Yoshi yang mengetahui bahwa Diandra masih berada di rumah sakit, kini buru-buru menuju ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil.
"Aku yakin ada masalah yang dialami Diandra. Melihat wajahnya yang murung, membuatku merasa sangat tiba padanya dan ingin menolongnya agar keluar dari masalah yang dihadapi."
Yoshi saat ini mengemudikan kendaraan keluar dari area restoran dan membelah kemacetan kota Jakarta. Ia kini menghubungi nomor sepupunya untuk memberikan sebuah perintah. Setelah memasang earphone di telinga, kini menunggu hingga telponnya tersambung.
"Jangan biarkan Diandra pergi sebelum aku datang. Ajak Diandra berbicara semua hal agar tidak berniat untuk pergi dari rumah sakit. Ia butuh tempat tinggal dan juga pekerjaan, aku bisa membantunya."
"Baiklah."
Yoshi kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan menginjak gas begitu lampu merah berubah menjadi hijau. Ia sedikit merasa lega karena sudah keluar dari kemacetan dan letak Rumah Sakit tidak jauh dari restoran, sehingga tidak butuh waktu lama untuk tiba.
Setelah 15 menit berlalu, kini Yoshi sudah berbelok ke area Rumah Sakit. Ia kemudian langsung menuju ke arah pos security karena ingin mengambil koper milik Diandra agar ikut bersamanya mencari tempat tinggal.
"Selamat siang, Pak. Saya disuruh wanita yang tadi menitipkan koper pada Anda untuk mengambilnya." Yoshi berakting dengan meyakinkan pria berseragam tersebut agar percaya padanya.
Namun, sikap security itu tidak menjelaskan bahwa percaya pada perkataannya.
Sang security yang tadinya tengah memeriksa sesuatu di ponselnya, bangkit berdiri dari kursi dan menata penampilan pria di hadapannya mulai dari ujung kaki hingga rambut.
Meskipun penampilan pria di hadapannya tersebut sangat rapi seperti seorang bos, ia tidak ingin tertipu karena zaman sekarang ini banyak orang-orang yang berbuat jahat dengan berpenampilan ragu agar lebih meyakinkan.
"Maaf, Tuan karena saya tidak bisa memberikan koper ini atas dasar tanggung jawab saat diberikan kepercayaan oleh seorang wanita yang tadi menitipkan. Jika bukan pemilik yang mengambil, saya tidak akan memberikan koper ini."
Yoshi merasa tertampar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh security tersebut yang dianggap sangat bertanggung jawab dan membuatnya hanya tersenyum simpul, selalu mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sepupunya.
Meskipun ia memiliki nomor ponsel Diandra, tapi tidak menghubungi wanita itu karena berpikir akan tidak nyaman jika ia sering menelpon. Jadi, mencari aman dengan menyuruh sepupunya agar berbicara pada Diandra.
"Aku sudah berada di depan rumah sakit. Suruh Diandra turun sekarang dan menemuiku di pos security."
Tanpa menunggu jawaban dari sepupunya, Yoshi saat ini masih belum beranjak dari tempatnya dan menatap ke arah pria dengan tubuh kekar tersebut.
__ADS_1
"Sebentar lagi, pemilik koper itu akan turun dan Anda akan mempercayaiku." Yoshi ingin menyombongkan diri pada security saat Diandra turun dari ruangan sepupunya.
Sementara itu, sang security hanya menganggukkan kepala dan kembali duduk di kursi sambil menunggu apakah semua yang dikatakan oleh pria berpenampilan rapi tersebut benar adanya.
Sementara itu, sosok wanita yang tak lain adalah Diandra baru saja keluar dari lift dan bertanya-tanya kenapa sepupu dari wanita yang ditolongnya saat ini berada di pos security.
"Apa yang dilakukan oleh tuan Yoshi sebenarnya? Bukankah tadi tengah menemui rekan bisnis? Kenapa cepat sekali kembali?" Diandra mempercepat langkahnya agar bisa segera tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Yoshi.
Hingga begitu keluar dari lobby dan menuju ke arah pos security, ia melihat lambaian tangan dari pria yang berdiri di sana dan tersenyum padanya, sehingga membuatnya mengerutkan kening karena merasa aneh dengan sikap Yoshi.
"Kenapa Anda berada di sini?" tanya Diandra yang saat ini melihat sang security keluar dari pos dan menyapanya.
"Tuan ini ingin mengambil koper Anda dan saya tidak percaya karena berpikir ini adalah sebuah tanggung jawab untuk menjaga amanah dari seseorang. Maaf karena tidak percaya bahwa pria ini adalah suruhan Anda untuk mengambil koper."
Sang security langsung mengambil koper yang tadi disimpan di sudut ruangan dan memberikan pada pria yang tadi tidak dipercayainya.
"Aku memanggilmu turun agar nama baikku tidak tercemar karena sepertinya security menganggapku adalah seorang pencuri koper milikmu. Aku ingin membawakan kopernya dan memasukkan ke dalam mobil. Ayo, aku akan mengantarmu mencari tempat tinggal."
Tanpa menunggu tanggapan dari Diandra yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan dan itu dimakluminya, Yoshi kini mengangkat koper dan berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir rapi di sebelah kanan parkiran.
Sementara itu, Diandra saat ini buru-buru menganggukkan kepala dan mengeluarkan uang dari dalam dompet miliknya, lalu memberikan pada security yang telah menjaga koper miliknya.
"Terima kasih, Mbak," teriak sang security karena merasa sangat senang mendapatkan satu lembar uang lembaran merah. "Alhamdulillah dapat rezeki tambahan."
Sementara itu, Diandra ingin menghentikan perbuatan pria yang sudah memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi mobil.
"Apa yang Anda lakukan sebenarnya? Kenapa memasukkan koper saya ke dalam mobil Anda?" Diandra benar-benar merasa trauma dekat dengan seorang pria yang tiba-tiba menolong karena selalu teringat pada pria yang sangat dibenci.
Ia tidak ingin nasibnya berakhir sama dengan semalam karena berhubungan dengan pria yang suka memaksa seperti seorang Austin Matteo.
Namun, ia seketika terdiam begitu mendengar alasan dari pria yang sudah menolongnya tanpa pamrih.
Yoshi tahu bahwa wanita di hadapannya tersebut sangat susah untuk didekati ataupun ditolong, sehingga langsung memanfaatkan nama sepupunya agar tidak menolak.
"Nauraku tadi mengirimkan pesan padaku untuk menolongmu sebagai ucapan terima kasih karena menyelamatkan nyawanya. Ia ingin membantumu mencari tempat tinggal serta pekerjaan.
"Jadi, jangan menolak kebaikan dari Nauraku karena ia akan bersedih karena tidak bisa membantu orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Oh ya, bukankah sudah kukatakan jangan berbicara secara formal padaku? Aku benar-benar sangat risi mendengarnya."
__ADS_1
Kemudian Yoshi membukakan pintu agar wanita yang masih terdiam di tempat tersebut segera masuk ke dalam mobil. "Aku bukan orang jahat yang memanfaatkan kemalangan seorang wanita."
"Percayalah padaku, Diandra!" Yoshi bahkan menegaskan suaranya agar wanita yang masih terlihat ragu dan tidak mempercayainya tersebut tidak berpikiran macam-macam padanya.
Ia melihat keraguan di mata seorang Diandra yang seperti trauma dekat dengan seorang pria dan itu membuatnya merasa iba. Yoshi saat ini merasa yakin bahwa Diandra saat ini memiliki traumatik karena disakiti oleh seorang pria, sehingga selalu menjaga jarak.
Meskipun sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Diandra, tapi menyadari bahwa ia tidak mungkin bertanya dan saat ini berusaha untuk mencari kepercayaan wanita yang sangat ingin ditolongnya.
Diandra seketika merasa bersalah pada pria yang diketahuinya sangat baik hati karena mencurigai dan menyamakan seorang Yoshi dengan Austin. Karena merasa berhutang budi pada pria itu, kini Diandra bergerak untuk masuk ke dalam mobil.
'Tidak semua pria jahat seperti si bajingan itu, Diandra. Jadi, jangan membuat Yoshi terlihat seperti seorang pecundang. Padahal ia adalah seorang pria baik yang sangat berjasa pada orang tuamu karena duluan mentransfer uang untuk biaya operasi ayah.'
Diandra yang tadinya mencoba untuk memenuhi pikiran dengan aura positif agar tidak selalu menganggap semua pria brengsek seperti Austin, kini melihat pria yang baru masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Diandra kini menoleh dan ingin bertanya apa yang akan dilakukan oleh Yoshi. "Sebenarnya kamu mau mengajakku ke mana?"
Karena merasa senang saat Diandra sudah tidak berbicara formal padanya karena terasa kaku jika berbicara seperti atasan dengan bawahan, kini Yoshi menoleh sekilas sebelum menyalakan mesin mobil.
"Tentu saja mencari tempat tinggal untukmu, lalu pekerjaan agar kami tidak menjadi pengangguran di kota besar yang penuh dengan banyak persaingan dalam dunia kerja."
"Sekarang aku ingin bertanya padamu mengenai tempat tinggal seperti apa yang kamu inginkan." Yoshi tidak ini salah langkah dan berharap bisa membuat Diandra merasa nyaman berbicara dengannya.
Diandra tidak langsung menjawab Karena sejujurnya ia benar-benar merasa sangat bingung hari ini saat akan mendapatkan kebaikan dari lawan jenis.
Mungkin jika yang melakukan adalah Naura yang ditolongnya, tidak akan ragu seperti ini. Ia benar-benar tidak nyaman berada di dekat seorang lawan jenis setelah mengalami sebuah trauma dengan Austin.
Meskipun mengetahui bahwa tadi pria di sebelahnya itu mengatakan bahwa sepupunya yang menyuruh untuk menolong, tapi saat pergi dengan seorang pria, membuatnya tidak bisa menghilangkan rasa trauma.
Hingga kamu nanya seketika buyar begitu mendengar kembali suara bariton pria di balik kemudi yang menatapnya dengan intens.
"Diandra ... hallooo!" Yoshi takkan melibatkan tangan beberapa kali di dekat wajah wanita yang malah terlihat melamun seperti tengah banyak pikiran tersebut.
"Aaah ... maaf. Aku sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanmu. Aku ingin mencari tempat yang jauh dari pusat kota. Kalau bisa, hanyalah sebuah tempat kos kecil di dalam gang sempit yang tidak diketahui oleh banyak orang."
Diandra benar-benar ingin bersembunyi di tempat yang aman agar seorang Austin Matteo tidak menemukannya. Ia jangan khawatir jika pria itu terobsesi padanya karena menunjukkan sikap over protektif setelah berhasil merebut kesuciannya.
Seketika Yoshi merasa sangat pusing karena ia menyesali perbuatannya yang tadi bertanya pada Diandra karena tidak tahu tempat yang diinginkan oleh wanita itu.
__ADS_1
'Seharusnya aku tidak bertanya padanya karena saat ini membuatku pusing tujuh keliling. Mana ada tempat kos seperti yang diinginkan oleh Diandra? Jika ada, bagaimana orang bisa betah tinggal di sana?'
To be continued...