
Austin yang saat ini sudah berada di tempat kos, berkali-kali mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Diandra. Namun, meskipun sudah berkali-kali melakukannya, ia tidak mendapatkan jawaban apapun hingga mendapatkan sebuah jawaban dari tetangga kos wanita yang dicarinya.
"Diandra sudah pergi dari tadi karena barusan ibu kos mengabarkannya dengan menyuruhku dan penghuni kamar lain untuk mencari orang yang butuh kamar," ucap wanita dengan memakai pakaian kerja dan rambut masih memakai handuk kecil.
Ia yang tadi pagi membuang sampah di depan, bertemu dengan pemilik tempat kos yang memeriksa ruangan yang satu bulan ini ditempati oleh Diandra. Jadi, mengetahui kepergian Diandra yang sama sekali tidak berpamitan pada siapapun di tempat itu.
Hanya berpamitan pada pemilik kos karena menyerahkan kunci dan mengatakan ingin balik kampung.
Sementara itu, wajah Austin yang terlihat sangat terkejut karena merasa tidak percaya pada apa yang dilakukan oleh Diandra karena berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.
"Jadi, Diandra mengatakan pada pemilik kos ini bahwa ia balik kampung pagi tadi? Bukankah ia sudah bekerja di perusahaan? Lalu, kenapa balik kampung? Apa ibu kos mengatakan penyebab Diandra kembali ke kampung secara tiba-tiba?"
Austin sebenarnya merasa konyol pada pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya. Namun, ia masih ingin mencari sebuah informasi dari wanita di hadapannya tersebut.
Namun, gelengan kepala dari wanita yang dianggap memberikan informasi setengah-setengah itu membuatnya kesal.
"Maaf, aku tidak tahu karena saat aku menelpon Diandra untuk bertanya kenapa tiba-tiba pergi, ternyata nomornya sudah tidak aktif. Aku curiga ia tengah menghindari seseorang, sehingga menonaktifkan nomornya." Menatap curiga pada pria yang kini berdiri dengan penampilan sangat rapi tersebut.
Ia memang selama ini tidak terlalu dekat dengan Diandra, tapi tahu jika pria itu pernah datang mengunjungi Diandra dan menguping pembicaraan mereka saat pertama kali interaksi.
Dari sesuatu yang ditangkapnya, mengetahui bahwa Diandra sama sekali tidak menyukai pria dengan penampilan rapi dan berkelas tersebut. Bahkan hanya sekilas menatap saja, bisa mengetahui bahwa semua yang melekat di tubuh pria itu adalah barang-barang mahal.
Ia curiga jika pria yang diketahuinya bukan pria sembarangan tersebut membuat Diandra ketakutan dan memilih untuk kabur diam-diam demi menghindar.
"Aku juga sudah menghubungi Diandra dan benar kalau nomornya kini tidak aktif. Apa tidak ada nomor lain yang kamu ketahui? Aku adalah kekasihnya dan benar-benar tidak tahu kenapa ia tiba-tiba pergi tanpa pesan."
__ADS_1
Austin sengaja berbohong karena berpikir bahwa wanita itu mungkin akan merasa iba padanya, lalu memberikan informasi mengenai Diandra. Padahal sebenarnya ia saat ini ingin mengumpat dengan mengabsen seluruh kebun binatang untuk melampiaskan amarah.
Namun, harus menahan diri demi bisa mengorek informasi dari teman kos Diandra. Hingga lagi-lagi ia mendapatkan sebuah kekecewaan begitu kembali tidak menemukan titik terang.
"Tidak ada. Itu saja nomor yang diberikan Diandra saat kami bertukar nomor." Sang wanita yang baru saja menjawab, kini menoleh ke belakang ketika mendengar suara dari teman sebelah.
"Jadi yang pergi pagi-pagi tadi Diandra? Aku mendengar mobil berhenti, tapi kupikir bukan menjemput salah satu dari penghuni kos ini," sahut seorang wanita yang kini masih mengenakan piyama berwarna biru yang langsung keluar kamar karena mendengar suara dari luar.
Saat Austin kehilangan harapan untuk mencari titik terang mengenai Diandra, ia semakin bertambah marah karena di dalam pikirannya saat ini adalah wanita yang dianggapnya hanyalah miliknya dijemput oleh pria lain memakai mobil.
"Apa kamu melihat Diandra dijemput oleh seorang pria?" tanya Austin yang kini berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah khas bangun tidur karena rambut masih acak-acakan.
"Tidak. Aku hanya mendengar suara mobil berhenti, tapi tidak mengeceknya karena kembali tidur dan malas untuk mencari tahu." Bukan tipe orang yang ingin tahu apapun mengenai orang lain, sehingga ia menjawab apa adanya dan melihat bagaimana respon dari pria yang kini mengepalkan tangan.
Berpikir bahwa ia hanya membuang waktu berada di tempat kos dan berbicara dengan dua wanita yang sama sekali tidak bisa membantunya untuk memberikan informasi mengenai Diandra, kini Austin langsung beranjak pergi.
Ia sama sekali tidak menghiraukan umpatan yang tertangkap indra pendengarannya dan melaju meninggalkan area tempat kos yang kini ada beberapa orang berlalu lalang.
"Dasar pria tidak tahu terima kasih!"
"Dasar pria arogan!"
Kalimat umpatan dari dua wanita yang sangat kesal karena baru saja diejek, sehingga buru-buru mengejar demi bisa mengumpat pria yang telah meninggalkan area tempat kos mereka.
Bahkan mereka mengarahkan jari tengah pada pria di dalam mobil itu karena berpikir bahwa itu bisa dilihat dari spion mobil. Tanpa memperdulikan tanggapan dari beberapa tetangga yang melintas.
__ADS_1
Sementara itu, Austin yang tidak ingin mengambil pusing teriakan dua wanita yang dianggap tidak berguna untuknya, kini memasang earphone di telinganya dan menghubungi orang kepercayaannya.
"Cari tahu keberadaan Diandra saat ini. Aku ingin kau mengerahkan ahli IT kita untuk menemukan wanitaku yang menghilang!" Austin mengempaskan tangan pada kemudi untuk melampiaskan amarah.
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, langsung mematikan sambungan telpon karena ia berpikir akan bertemu di perusahaan untuk melihat hasil kerja asisten pribadinya.
"Diandra ... Diandra! Pergi ke mana kamu? Apa kau pikir bisa lari dariku saat aku memutuskan untuk menjadikanmu istriku? Sampai kapan
pun, aku tidak akan pernah berhenti sampai bisa menemukanmu, Sayang."
"Aku selama ini tidak pernah punya pikiran untuk menikah, tapi karena bercinta denganmu, berubah pikiran dan hanya menginginkanmu. Semua wanita yang pernah menjadi kekasihku sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku."
Austin kini menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan agar bisa segera tiba di perusahaan. Tentu saja ingin memastikan sesuatu.
Apakah Diandra benar-benar menghilang darinya atau masih tetap bekerja di perusahaannya. "Bagaimana jika Diandra benar-benar pergi dan aku tidak bisa menemukannya?"
"Apa yang harus kulakukan pada wanita bodoh itu agar bisa membuatnya kembali ke hadapanku?" Austin saat ini berpikir bahwa ia akan melakukan apapun untuk bisa membuat seorang wanita yang telah direnggut kesuciannya agar kembali.
"Aku akan menemukannya dan tidak akan kubiarkan kamu menghilang, Diandra. Kamu satu-satunya wanita yang kuinginkan, Diandra. Aku hanya menginginkanmu untuk kujadikan istri. Bukan wanita lain."
"Apa kau tidak bisa melihatnya semalam? Bahwa aku tidak bisa berhenti menyentuhmu dan selalu memelukmu setelah bercinta." Austin kini terdiam saat ia mengingat ekspresi wajah wanita yang sudah berhasil ia miliki seutuhnya.
Wajah tanpa ekspresi ketika ia semalam menggauli Diandra. Namun, ia ingat tetesan bulir bening yang lolos dari bola mata indah Diandra.
"Apa aku telah membuat Diandra membenciku? Hingga ia memilih kabur dariku? Tidak, itu tidak mungkin! Tidak ada yang bisa menolak pesonaku selama ini, termasuk Diandra." Austin saat ini masih mencoba untuk mencari pembenaran diri sendiri demi menghibur kekhawatirannya.
__ADS_1
To be continued...