Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Patuh pada perintah


__ADS_3

Pagi ini, Diandra seperti biasa mengantarkan sang suami ke depan ketika berangkat bekerja. Semalam ia merasa lega karena Austin tidak memintanya untuk melayani sebagai kewajiban seorang istri ketika ia tidak enak badan, membiarkannya tidur lebih awal.


Apalagi ia tidak bisa berbicara panjang lebar dengan sang suami seperti hari-hari biasanya setelah mengetahui tentang masa lalu yang sudah diingatnya kembali. Jadi, alasan untuk tidur lebih awal agar segera sembuh dan tidak pusing lagi ketika bangun pagi hari.


Jadi, saat pagi hari ia berusaha untuk bersikap seperti biasa karena hari ini ingin menelpon ibu dari Yoshi agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia yang saat ini membawakan tas kerja sang suami, menyerahkannya ketika hendak masuk ke dalam mobil.


"Kamu hari ini ingin pesan apa? Nanti biar aku bawakan langsung pulang dari kantor," ucap Austin yang masih duduk di balik kemudi dan belum menutup pintu karena ingin mengetahui makanan apa yang diinginkan oleh sang istri.


Diandra sebenarnya sangat malas untuk makan ketika pikirannya tengah dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang mengganggu dan tidak membuatnya tenang.


Namun, ia saat ini mencoba untuk memikirkan sesuatu yang ingin dimakan agar membuat pria itu terlambat pulang karena membeli makanan untuknya.


"Ehm ... apa ya? Aku belum memikirkan sesuatu. Nanti saja aku melihat-lihat di pusat kuliner. Aku akan menghubungi setelah menemukan makanan yang kuinginkan." Diandra yang merasa buntu karena tidak bisa menemukan sesuatu yang disukai, akhirnya mencari aman dengan berbicara seperti itu.


Ia yakin jika menolak, akan curiga ataupun merasa aneh karena ia terbiasa sering minta dibelikan sesuatu sekalian jalan ketika sang suami pulang kerja.


"Baiklah. Nanti aku akan menelponmu untuk mengingatkan. Kamu Lebih baik istirahat saja di dalam kamar bersama putra kita agar cepat sembuh dan kita bisa kembali berbulan madu untuk membuatkan adik Aksa." Austin lalu mengedipkan mata dan kini melambaikan tangan setelah sang istri menutup pintu mobil karena kesal pada kenakalannya.


Diandra saat ini hanya mengerucutkan bibir tanpa berkomentar apapun agar sang suami cepat berangkat ke kantor dan tidak lagi membahas tentang hal-hal yang bersifat intim dan membuatnya merasa tidak nyaman.


"Hati-hati di jalan dan jangan ngebut," seru Diandra yang saat ini juga melambaikan tangan begitu kendaraan berwarna hitam tersebut mulai meninggalkan halaman rumah dan menghilang di balik pintu gerbang berwarna hitam.


Kemudian ia saat ini menatap ke arah sekeliling untuk memeriksa Apakah bodyguard berada di halaman rumah. 'Aku belum melihat mereka. Apakah hari ini mereka tidak datang karena aku seharian ini akan berada di rumah?'


Ingin mengetahui apakah bodyguard berada di rumah atau tidak, ia kini berjalan masuk ke dalam dan bertanya pada salah satu pelayan. Saat mendengar jawaban jika 2 bodyguard saat ini hanya berjaga di luar rumah, sehingga merasa lega.


'Akhirnya aku bisa menelpon mama untuk menanyakan bagaimana keadaan Yosi saat ini. Semoga dia baik-baik saja dan tidak seperti yang kutakutkan,' gumam Diandra yang saat ini memasuki ruangan kamar dan terlihat putranya masih menikmati susu satu botol sambil tiduran.


Ia yang mempertimbangkan untuk menelpon sekarang atau nanti saat putranya tertidur. Namun, karena sudah tidak sabar ingin mencari tahu tentang semua hal yang terjadi padanya, hingga saat ini menghampiri putranya untuk menjelaskan sesuatu.


Sebelumnya ia mengusap lembut rambut hitam berkilau putranya. "Sayang, Mama ke kamar mandi sebentar, ya. Aksa tidak boleh turun dari ranjang lho. Ini, mainan hape saja, ya."


Diandra yang mengetahui jika putranya suka menonton YouTube film kartun, sehingga sudah memutarkan agar tidak rewel ataupun pergi keluar dari kamar untuk mencarinya.


Begitu melihat putranya menganggukkan kepala dan langsung fokus pada film kartun yang ada dalam YouTube tersebut, kini merasa sangat lega dan ia berjalan ke kamar mandi untuk melakukan panggilan internasional.


Saat berjalan menuju ke arah kamar mandi, ia mengetik di mesin pencarian untuk mencari tahu kode dari nomor yang dihubungi itu berasal dari mana. Jadi, ketika nanti bertanya pada ibu dari Yoshi, bisa mengetahui jika berbohong atau tidak.


"London? Jadi mama berada di London sekarang?" ucap di antara sambil menutup pintu agar bisa segera menelpon wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung sendiri karena menerimanya dengan baik meskipun statusnya wanita dengan anak satu.

__ADS_1


Awalnya ia merasa sangat kecewa karena panggilan pertama tidak diangkat dan berpikir apa yang tengah dilakukan oleh mertuanya. "Apakah Mama di sana menemani Yoshi yang bekerja?"


Berpikir jika mungkin mertuanya tengah sibuk, sehingga tidak membawa ponsel. Jadi, tidak tahu jika ia menelpon. Namun, ia yang saat ini masih menatap ke arah layar ponsel miliknya, tidak ingin menyerah untuk menghubungi wanita paruh baya itu demi mencari sebuah informasi tentang masa lalu yang membuatnya berakhir mengenaskan.


Hingga ia kembali memencet tombol panggil dan beberapa saat kemudian panggilan diangkat. Refleks ia langsung mengeluarkan suara untuk bertanya beberapa hal dan pastinya adalah tentang keberadaan Yoshi dan bagaimana keadaan pria itu saat ini.


Namun, ia mengerutkan kening karena wanita di seberang telepon seolah tidak ingin menceritakan tentang Yoshi padanya karena masih terdiam dan tidak langsung menjawabnya.


"Ma, kenapa diam? Sebenarnya apa yang terjadi pada Yoshi saat kecelakaan di malam pernikahan itu?" tanya Diandra yang sudah tidak sabar ingin mengetahui rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh orang-orang mengenai Yoshi.


Saat ia masih sabar menunggu jawaban dari mertuanya, Diandra saat ini memasak indera pendengaran lebar-lebar begitu mendengar suara dari seorang telepon.


"Yoshi mengalami koma selama 1 tahun akibat kecelakaan itu dan aku membawanya ke London untuk berobat. Aku tidak bisa membawamu ke sini karena ada putramu dan orang tuamu tidak mengizinkan. Jadi, aku fokus mengurus putraku," ucap Asmita Cempaka yang saat ini tengah menyusun siasat sebagai konspirasi demi menghancurkan rumah tangga Diandra dan Austin.


Bahkan ia benar-benar tidak menyangka jika Diandra yang menghubunginya setelah mengingat semua hal yang sempat dilupakan akibat amnesia ketika kecelakaan.


Saat ini, ia berpikir jika Diandra seperti ikan yang berjalan ke arahnya tanpa harus memberikan umpan dan akan dimanfaatkan dengan baik agar bisa menangkap dua ikan dalam satu kali jaring.


"Bagaimana bisa kamu menghubungiku, Diandra? Aku pikir kamu tidak akan pernah menghubungi Mama lagi karena sudah hidup berbahagia dengan Austin dan melupakan Yoshi." Ia bahkan tersenyum menyeringai saat Diandra terpancing karena sudah mencari tahu.


"Justru itu yang ingin aku tanyakan pada Mama karena benar-benar sangat bingung bagaimana bisa aku menikah dengan Austin saat hilang ingatan. Lalu pernikahanku dengan Yoshi apakah berakhir saat itu juga?" Diandra yang tidak ingin bertele-tele berharap bisa segera mendapatkan penjelasan dari mertuanya tersebut.


Ia berpikir bahwa mertuanya akan berbicara tentang semua yang terjadi tanpa menutupi apapun seperti orang tua dan juga Austin.


Hingga beberapa saat kemudian, ia kembali fokus mendengarkan penjelasan dari mertuanya tersebut. Bahkan sesekali ia membekap mulutnya karena merasa tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.


"Sebenarnya ceritanya sangat panjang, Diandra. Aku benar-benar sangat terkejut kamu meneleponku karena pasti Austin akan murka jika mengetahuinya. Apalagi jika sampai suamimu itu mengetahui jika kamu sudah mengetahui semuanya dariku, pasti aku akan dihabisi." Asmita Cempaka bahkan saat ini ingin membuat Diandra seolah-olah merasa bersalah.


Ia ingin menyerang kelemahan hati Diandra karena mengetahui jika wanita itu selalu tidak pernah tega menyakiti orang lain. Jadi, menyerang sisi terlemah mantan menantunya tersebut agar menghancurkan suami sendiri setelah ia mengungkapkan sebuah kebohongan.


"Sebenarnya saat aku fokus mengurus putraku di sini, sudah tidak bisa memperhatikanmu dan akhirnya orang tuamu serta Austin bekerja sama untuk membuat pernikahan-pernikahan kalian berakhir dengan perceraian."


"Mereka khawatir kamu hanya akan hidup menderita jika menunggu suami yang koma dan tidak jelas kapan sadar. Jadi, seperti itu ceritanya. Apa sampai di sini kamu sudah paham apa yang terjadi? Yoshi sampai saat ini masih koma karena memang belum ada perkembangan."


Ia yang tidak ingin putranya berbicara dengan Diandra karena khawatir jika sampai kembali lemah dan bersatu lagi. Apalagi ia sudah menganggap jika hubungan di antara mereka telah berakhir setelah putranya kecelakaan.


Berpikir jika Diandra adalah seorang wanita pembawa sial karena setelah menikah malah membuat putranya kecelakaan dan berakhir koma.


"Apa bener apa yang Mama maksud? Bahwa Austin dan orang tuaku berbuat jahat seperti ini? Bahwa mereka memisahkanku dengan Yoshi yang bahkan masih berjuang melawan maut?" tanya Diandra yang saat ini memilih untuk segera memastikan jika perkataan dari wanita di seberang telepon tersebut bukanlah sebuah candaan semata.

__ADS_1


"Jika kamu tidak percaya pada semua kata-kataku, tanyakan saja pada Austin karena dia yang merupakan dalang dibalik semuanya. Dia memang sangat terobsesi untuk memilikimu dan tidak memperdulikan statusmu yang masih merupakan istri dari Yoshi. Tapi sekarang hidupmu sudah bahagia, Diandra, jadi jangan memikirkan Yoshi. Mama terbiasa mengurus hidup putra sendiri."


Diandra hendak membuka suara untuk menanggapi pemikiran dari mertuanya tersebut yang ternyata sudah bukan lagi. Bahwa wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung sendiri tersebut sudah bukan lagi mertuanya.


Ia kini berpikir untuk beralih meminta penjelasan pada Austin karena orang tuanya tidak mungkin bisa melakukan sebuah konspirasi dalam hidupnya tanpa pria itu.


Menganggap jika Austin adalah seorang pria yang tidak punya perasaan karena memisahkannya dengan Yoshi yang bahkan masih belum sadarkan diri sampai 1 tahun lamanya.


Hingga ia pun memilih untuk mengakhiri sambungan telepon karena khawatir jika tiba-tiba Austin menghubungi dan mengetahui jika ia melakukan panggilan.


"Ayah dan ibuku tidak akan pernah bisa memikirkan hal seperti ini karena hanyalah orang biasa yang berasal dari kampung. Pasti Austin yang menghasut mereka dan akhirnya setuju karena berpikir jika hanya menyusahkan."


Diandra yang merasa jika Austin sangat jahat karena tidak mempunyai rasa iba sedikitpun pada Yoshi karena malah mengurus perceraian dan menikahinya karena memanfaatkan hilangnya ingatan yang dialami setelah kecelakaan.


Sampai pada akhirnya ia pun hanya diam karena kini sudah mengerti konspirasi apa yang diciptakan oleh seorang Austin demi bisa menikahinya.


"Apa dia tidak punya perasaan atau rasa iba sebagai sesama manusia? Jika posisinya di balik dan ia menjadi Yoshi yang koma setelah kecelakaan, apakah tidak marah?" geram Diandra saat ini mengepalkan tangan karena dikuasai oleh amarah ketika memikirkan jika perbuatan Austin membuat Yoshi sampai sekarang hidup menderita dan disebabkan karena dirinya.


"Yoshi, maafkan aku karena berbahagia di atas penderitaanmu. Aku benar-benar bersalah padamu karena saat kamu berjuang untuk bertahan hidup, yang ada malah aku bersenang-senang dengan Austin," lirih Diandra yang saat ini berkaca-kaca karena membayangkan pria sebagai Yoshi harus menghabiskan sepanjang hidupnya di atas ranjang dan tidak sadarkan diri.


Ia saat ini apa nama memikirkan sesuatu tentang keputusan setelah mengetahui semua hal yang terjadi. Kini, satu-satunya yang terpikirkan hanyalah ingin melihat bagaimana keadaan Yoshi.


"Mungkin saja Yoshi akan mendapatkan sebuah keajaiban dan aku berharap jika nanti bertemu dengannya dan mengajaknya berbicara, ia bangun dari koma." Diandra yang berpikir bagaimana caranya bisa pergi ke London, sedangkan ia tidak pernah pergi ke luar negeri dan juga dikawal oleh beberapa bodyguard.


Berpikir jika ia tidak mungkin bisa pergi meninggalkan Austin membawa putranya, saat ini berniat untuk meminta bantuan kepada mantan mertuanya. Ia saat ini mengirimkan pesan untuk bertanya.


Aku ingin bertemu dengan Yoshi di London, Ma. Apakah mama bisa membantuku? Austin selama ini selalu menyuruh bodyguard untuk mengawal pergi kemana-mana, Jadi sepertinya sangat susah untuk bisa lolos dari perhatian mereka.


Ia pun langsung menekan tombol kirim dan menunggu jawaban dari mertuanya tersebut. Kemudian ia perjalanan keluar dari kamar mandi karena tidak ingin terlalu lama meninggalkan putranya.


Apalagi saat ini tengah memikirkan sebuah ide bisa pergi dari rumah bersama dengan putranya. Diandra kini naik atas ranjang dan berbaring di sebelah putranya.


Ia menatap ke arah putranya yang selama ini hidup dengan nyaman ketika menjadi putra dari seorang Austin Matteo. Bahwa pria yang memang ayah biologis dari Aksa selalu memberikan yang terbaik. Namun, itu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk pergi melihat keadaan Yoshi.


"Apa aku bertanya pada dia saja mengenai apa maksudnya melakukan semua ini padaku dan Yoshi?" Saat baru saja menutup mulut, merasa jika pertanyaannya tidak akan dijawab oleh Austin yang mungkin akan berkelit dan beralasan.


"Lebih baik aku merahasiakan semuanya sampai menemukan sebuah ide untuk bisa pergi ke London bersama dengan putraku. Aku akan memastikan semuanya dan mengambil keputusan setelah melihat keadaan Yoshi dengan mata kepalaku." Diandra yang saat ini baru saja memikirkan keputusannya, mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Ia merasa yakin jika itu adalah pesan balasan dari mertuanya dan langsung diperiksa, lalu dibaca.

__ADS_1


Aku akan membantumu bisa datang ke New York asalkan kamu patuh pada perintahku!


To be continued...


__ADS_2