
Satu bulan setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Austin Matteo, kini terlihat pria yang tengah berdiri di balik kaca jendela raksasa di ruangan kerjanya. Austin sudah satu minggu ini kembali bekerja di perusahaan. Ia menatap ke arah jalanan ibu kota di bawah perusahaannya.
Ada banyak kendaraan yang melintas dan berlalu lalang di sana. Embusan napas kasar kini mewakili apa yang tengah dipikirkannya.
"Kenapa ingatanku tidak kunjung kembali setelah melakukan pengobatan intensif di Singapura? Aku bahkan sudah menuruti apapun yang disarankan oleh Maria, tapi tidak ada hasilnya. Semenjak kehilangan memori dua tahun dalam hidupku akibat kecelakaan, aku merasa hidupku sangat hampa."
Austin yang baru saja mengungkapkan keluh kesahnya, kini melihat sekeliling ruangan kerjanya. Entah mengapa ia merasa aneh seperti ada sesuatu yang kurang.
"Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Kenapa aku merasa sepi dan hampa setelah mengetahui kehilangan sebagian memoriku?" Austin saat ini masih berdiri di tempatnya dan berpikir ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya, tapi tidak tahu jelasnya itu apa
Hingga beberapa saat kemudian ia melihat pintu terbuka dan sang ayah berjalan masuk ke dalam. "Papa?"
Sementara itu, Malik Matteo yang saat ini tengah menatap ke arah putranya, ingin membuat Austin segera memutuskan tentang perjodohan.
"Kamu sekarang sudah benar-benar sehat dan kembali bekerja. Lalu, kapan kamu akan melamar Maria? Atau dilakukan pertunangan dulu karena teman Papa sudah bertanya kapan akan datang untuk mengesahkan hubungan."
Malik Matteo sangat khawatir jika ingatan putranya segera kembali dan akhirnya seperti dulu, menolak perjodohan dengan diam-diam pergi ke Singapura.
Ia sempat bertanya pada Maria Belinda saat kecelakaan putranya, mengenai apa yang dikatakan Austin saat ke sana.
Namun, ia mendapatkan sebuah jawaban jika Austin belum sempat berbicara dengan Maria dan mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
'Aku tidak ingin pernikahan yang akan menyatukan keluarga besar kami gagal. Apalagi jika kami bersatu, akan semakin kuat dan menjadi rekan bisnis serta besan yang solid,' gumam Malik Matteo yang saat ini masih menunggu jawaban dari putranya yang selalu terlihat ragu semenjak mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Austin yang bahkan belum ingin menikah, tapi malah selalu didesak oleh sosok pria paruh baya di hadapannya tersebut, membuatnya risi.
"Aku sama sekali tidak punya perasaan pada Maria Belinda itu, Pa. Padahal aku sudah berusaha untuk mencoba menyukainya saat ia merawatku di rumah sakit. Jadi, aku masih butuh waktu untuk bisa membuka hati untuknya."
"Lagipula pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan aku tidak ingin hidup dengan wanita yang sama sekali tidak kucintai seumur hidupku." Austin bahkan tidak ingin Maria hidup menderita karena ia tidak mencintainya sama sekali.
Alasan itulah yang membuatnya tidak ingin segera menikah. Karena ia ingin menikah dengan seorang wanita yang mampu menggetarkan hatinya dan menyebut dengan yakin bahwa inilah wanita yang ingin kunikahi.
"Apa Papa tidak bisa mengerti perasaanku? Aku tidak akan mau menikah sebelum aku berkata, 'Inilah wanita yang ingin kunikahi'." Masih belum ada sesuatu yang bisa membuatnya meyakinkan diri sendiri, sehingga Austin merasa sangat ragu untuk menerima perjodohan.
Hingga ia menelan saliva dengan kasar begitu melihat ekspresi wajah memerah dari sang ayah yang murka padanya dan membuatnya tidak berkutik.
"Cinta akan hadir seiring kalian bersama setelah menikah. Papa tidak mau tahu alasannya karena mau tidak mau, kamu harus menerima perjodohan ini karena pihak keluarga Maria Belinda baru saja mendapatkan sebuah kabar buruk."
Austin yang saat ini menatap ke arah ponsel sang ayah, langsung mengambilnya dan seketika membulatkan mata begitu fotonya terpampang besar di sana bersama dengan Maria Belinda.
Sementara di bawahnya ada foto pria paruh baya yang merupakan orang hebat di Singapura. "Wah ... jadi di sini aku dijadikan kambing hitam?"
Kemudian Austin membaca caption dari berita utama di Singapura tersebut dan merasa jika saat ini merasa hanya dimanfaatkan demi menjaga nama baik wanita itu.
"Dokter bedah terbaik di Singapura membantah menjadi wanita simpanan perdana menteri dan menunjukkan calon suami yang sesungguhnya berasal dari Jakarta dan merupakan pengusaha sukses muda yang hebat."
Austin seketika tertawa terbahak-bahak menanggapi hal tersebut. Meskipun tawanya sangat mewakili nasib hidupnya yang miris karena di zaman modern malah dijodohkan.
__ADS_1
Austin terdiam sejenak karena ia merasa seperti pernah berada di situasi seperti ini. "Kenapa aku merasa seperti pernah berada di situasi seperti ini, Pa? Aneh sekali."
Malik Matteo yang dari tadi ingin menyadarkan putranya, kini merasa jika ada warning di otaknya. Bahwa sedikit demi sedikit ingatan putranya bisa pulih kapan saja. Ia kini tidak ingin ambil pusing, sehingga merasa jika saat ini harus segera mengubah jalan pikiran dari putranya.
"Papa tidak mau tahu, pokoknya kamu tidak boleh menguarkan statement tidak mencintai Maria Belinda. Kamu harus mengiyakan pertanyaan para media yang bertanya. Bahwa kamu akan menikahi Maria Belinda!" Kemudian Malik Matteo berlalu pergi dari ruangan kerja putranya.
Ia berjalan sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Kemudian memberikan sebuah informasi bahwa putranya akan menikah dengan wanita yang merupakan dokter bedah terbaik di Singapura.
Sementara itu di dalam ruangan kerja, Austin yang saat ini merasa sangat pusing karena memikirkan tentang ancaman sang ayah yang bahkan belum dilakukan sampai sekarang.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku masih ingin bebas dan tidak ingin menikah dengan Maria Belinda. Apalagi aku tidak suka wanita terlalu mandiri dan hebat untuk dijadikan istri karena wibawanya sebagai seorang laki-laki seolah berkurang.
Austin terdiam sejenak untuk mencari jalan keluar. Hingga ia pun kini mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan begitu membacanya, membulatkan kedua mata karena sangat terkejut.
"Sial! Kenapa cepat sekali menyebar di media? Padahal tadi hanya ada di luar negeri, tapi sekarang malah sudah ada di Jakarta," lirih Austin yang saat ini merasa sangat kesal atas apa yang terjadi hari ini padanya.
Saat masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan di pikirannya, ia pun memilih untuk menghilangkan rasa stres dengan membenamkan diri pada pekerjaan.
Saat ia baru saja mendaratkan tubuh di atas kursi kerja, mendengar suara telpon di mejanya dan langsung mengangkat panggilan.
"Halo, Tuan Austin. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," sahut Daffa yang tadi baru mendapatkan kabar dari resepsionis dari lobi perusahaan.
"Siapa?" tanya Austin yang kini merasa sangat pusing memikirkan banyak masalah di pikirannya.
__ADS_1
To be continued...