
Saat ini, ibu dan anak itu terlihat saling berpelukan dan keduanya sama-sama berkaca-kaca karena merasa sangat buruk ketika akan berpisah untuk pertama kalinya setelah sekian lama selalu bersama-sama.
Yoshi yang selalu bersama dengan sang ibu dan tidak pernah berpisah, kini merasakan dirinya seperti seorang anak yang tidak berguna karena tidak bisa menghentikan aparat kepolisian untuk membawa sang ibu pergi dari London dan dipulangkan secara paksa ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan.
Ia bahkan saat ini tidak melepaskan pelukannya karena merasa takut tidak akan bisa bertemu lagi dengan wanita yang telah melahirkannya tersebut. Itu karena ia takut jika wanita paruh baya tersebut mengalami sesuatu hal yang buruk seperti serangan jantung atau hal lainnya ketika berada di sel yang dingin.
'Mama, aku akan melakukan apapun untukmu asalkan bisa keluar dari penjara. Bahkan aku pun akan berlutut di bawah kaki posting atau menggantikan Mama berada di penjara.'
'Lebih baik aku saja yang dipenjara karena Mama melakukan semua itu juga karena aku,' gumam Yoshi yang saat ini tidak berhenti menyalahkan diri sendiri karena ia tahu jika sang ibu sebenarnya melakukan semua itu juga karenanya.
Sang ibu tidak mungkin melakukan semua itu jika ia sudah sembuh dari dulu. Sekarang benar-benar sangat menyesal karena dirinya, membuat sang ibu menjadi seorang wanita yang jahat dan rela melakukan apapun untuk memisahkannya dengan Diandra.
Ya, cintanya untuk Diandra sangatlah besar dan tidak pernah hilang dari dalam hatinya. Hanya saja, ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun jika itu berhubungan dengan wanita yang telah berjasa banyak padanya karena merawatnya tanpa merasa lelah ataupun mengeluh.
Yoshi saat ini mendengar suara dari sang ibu yang membuatnya tidak bisa menahan kesedihan luar biasa.
"Jaga diri kamu baik-baik di sini dan segera sembuh agar bisa kembali ke Jakarta untuk menjenguk ibu di penjara," sahut Asmita Cempaka yang saat ini tidak bisa lagi berbicara banyak karena jujur saja ingin sekali ia menangis tersedu-sedu di hadapan putranya.
Namun, merasa tidak tega jika putranya akan semakin bersedih dan berdampak pada kesehatan. Ia saat ini benar-benar berharap jika putranya akan mengerti dan mau membantunya keluar dari penjara karena tidak tega melihatnya berada di balik jeruji besi.
'Mama harap, kamu mengerti jika semua ini dilakukan karenamu. Mama tidak akan pernah membiarkanmu menderita karena Austin ataupun Diandra. Sekarang tugasmu adalah menjadi anak yang berbakti pada orang tua,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini berharap putranya mau membalaskan dendam pada Austin Matteo.
Ia benar-benar tidak bisa lagi menghilangkan kebencian yang sudah mendarah daging di dalam dirinya Karena menganggap jika pasangan suami istri tersebut hanya bisa menimbulkan penderitaan bagi putranya dan keluarga besarnya dari dulu hingga saat ini.
Kemudian ia melepaskan pelukannya yang menurutnya sangat berat untuk dilakukan karena harus berpisah dengan putranya yang dirawat di rumah sakit.
"Mama harus bersiap pergi, Sayang. Kamu tunggu saja kepala pelayan datang karena sudah menghubunginya untuk segera berangkat ke London menemanimu di sini," ucap Asmita Cempaka yang saat ini mengusap lembut lengan kekar putranya dan tersenyum simpul agar tidak terlihat bersedih ataupun marah atas apa yang terjadi hari ini.
Sementara itu, Yoshi benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi karena jujur saja melihat sang ibu mengalami hal seperti ini adalah sebuah hal yang pertama kali dirasakan dan membuatnya mengerti jika wanita paruh baya yang telah melahirkannya tersebut adalah segalanya baginya.
Bahwa baginya saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan sang ibu, bukan mengejar cinta yang tidak pasti karena Diandra sudah bahagia bersama dengan pria pilihannya yang menjadi ayah dari anak-anaknya.
Apalagi ia benar-benar merasa terluka karena sudah tidak ada lagi harapan untuk mengejar seorang wanita yang dicintai. Setelah mendengar jika wanita itu kini telah hamil lagi anak kedua dan ketiga, sehingga membuatnya berpikir bahwa takdir tidak pernah berpihak padanya.
Bahwa cintanya selalu berakhir buruk dan ia tidak ditakdirkan untuk bahagia bersama dengan seorang wanita yang dicintai dari dulu. Mencintai seorang wanita yang ternyata sudah bahagia dengan pria lain dan tidak memberikan harapan padanya, sehingga saat ini membuatnya menyerah.
Berpikir jika itu jauh lebih baik karena tidak ingin tersisa dengan penderitaan yang tiada ujung, Yoshi benar-benar mengikhlaskan perasaannya pada Diandra dan merelakan wanita itu bahagia dengan pilihannya.
Namun, ia tetap akan berusaha untuk membebaskan sang ibu dengan cara melakukan segala cara dengan berbicara pada Austin dan Diandra.
"Hati-hati, Ma. Aku akan kembali ke Jakarta dan membebaskan Mama dari penjara," ucap Yoshi yang saat ini berusaha untuk menguatkan hati agar tidak terlihat lemah di depan sang ibu yang akan segera pergi meninggalkannya untuk kembali ke tanah air.
Perasaannya saat ini benar-benar seperti ingin meledak karena jujur saja tidak tega melihat raut wajah muram dari sang ibu yang benar-benar bersedih karena akan berpisah dengannya setelah sekian lama merawatnya dengan baik di rumah sakit yang ada di London.
__ADS_1
Asmita Cempaka saat ini tersenyum simpul dan melambaikan tangannya ketika berjalan keluar menuju ke arah pintu bersama dengan dua polisi yang menggiringnya.
Ia kemudian berjalan keluar dan menoleh ke belakang untuk terakhir kali sebelum benar-benar tidak melihat putranya yang menjadi harapan satu-satunya untuk menyelamatkan dari penjara.
'Sekarang kamu harus sadar antara memilih cintamu atau kasih sayangmu pada mama, Yoshi. Mama benar-benar berharap kamu akan menjadi seorang anak yang berbakti dan menyelamatkan mama dengan cara apapun agar tidak menghabiskan waktu di penjara di masa tua,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini sudah berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ke arah lift bersama dengan dua polisi tersebut.
Ia bahkan saat ini menelpon saudaranya dan memberitahukan jika Austin Matteo telah melaporkannya dan berharap akan segera ditangani, sehingga tidak mendekam di penjara karena ia benar-benar tidak mau menghabiskan masa tua di balik jeruji besi.
'Aku tidak akan tinggal diam karena saat ini hanya bisa mengandalkan saudaraku. Austin benar-benar harus disingkirkan jika sampai membuatku tidak bisa keluar dari penjara. Aku bahkan belum melakukan apa-apa pada Diandra, tapi berani-beraninya dia memenjarakanku,' sarkas Asmita Cempaka yang saat ini tidak bisa menahan diri dari amarah yang memuncak dan bergemuruh di dalam hatinya.
Saat ini, sesuatu hal yang membuatnya benar-benar merasa jika pria itu perlu dihabisi adalah, putranya tadi memohon untuk menarik tuntutan agar ia bisa bebas.
Bahkan memelas untuk merendahkan harga diri demi dirinya, tapi sama sekali tidak dianggap oleh pria itu dan membuatnya benar-benar sangat marah.
'Austin Matteo, tunggu pembalasanku karena aku tidak akan tinggal diam dan akan menghancurkanmu. Aku akan membuatmu menyesal karena berani mengusik ketenanganku dan membuatku berpisah dari putraku, sehingga tidak bisa lagi merawatnya dengan baik di sini saat masa pemulihan.'
Ia benar-benar tidak bisa lagi berpikir jernih saat ini selain menghancurkan pria yang dari dulu ingin sekali ia habisi. Bahkan kita di sempat mengirimkan pesan pada saudaranya agar menghabisi keluarga Austin kita sampai ia tidak bisa keluar dari penjara.
Tidak peduli apapun yang terjadi karena yang dipikirannya saat ini hanyalah ingin segera terbebas dari tuntutan karena ia tidak tega meninggalkan putranya yang masih belum pulih sepenuhnya.
'Semoga putraku segera pulih dan kembali ke Jakarta, sehingga bisa mengunjungiku di penjara. Aku tidak bisa lagi merawatnya dan sekarang merasa seperti seorang wanita yang tidak berguna,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini baru saja keluar dari lift menuju ke arah lobi ke rumah sakit.
Ia bahkan saat ini menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang melintas karena berjalan dengan didampingi para polisi yang berada di kanan dan kirinya.
'Austin, kau membuatku pertama kali merasakan seperti seorang penjahat karena mendapatkan tatapan aneh dari semua orang yang melihatku. Aku akan melakukan hal serupa dan membuatmu mendapatkan hujatan dari banyak orang.'
'Aku akan membalas dendam padamu dan juga Diandra. Jadi, tunggu saja pembalasanku dan jangan berpikir jika aku dipenjara, kalian bisa tenang dan masalah selesai sampai di sini. Ini semua baru dimulai karena kehancuranmu sebentar lagi akan datang,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini sudah tidak bisa lagi menahan puncak amarah yang seperti membakarnya.
Bahkan ia merasa seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan lahar panasnya dan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya. Ia masuk ke dalam mobil masih dengan tatapan dari orang-orang yang seolah menganggapnya adalah seorang penjahat yang sangat kejam dan harus dihukum.
Kini, ia seolah merasa sangat lega bisa duduk di dalam mobil polisi dan sudah tidak mendapatkan tatapan penuh curiga dari semua orang yang melihatnya.
Ia saat ini bersandar pada jok mobil dan menghempaskan kepalanya karena ingin menenangkan pikiran yang saat ini seperti hendak meledak. Dengan kedua mata yang tertutup rapat, ia memijat pelipis yang saat ini benar-benar pusing.
'Aku tidak ingin menghabiskan masa tuaku di penjara. Aku hidup bersama dengan putraku dengan bahagia tanpa memikirkan apapun,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini sudah tidak bisa lagi memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari penjara.
Namun, saat ini ia bertanya-tanya tentang tuntutan dari Austin Matteo padanya saat ia bahkan belum melakukan percobaan pembunuhan.
Ia sebenarnya tadi ingin bertanya pada polisi yang berada di depan dan fokus mengemudi, tapi saat ini seolah tidak punya tenaga untuk pembicara karena memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk jika sampai ia tidak bisa bebas dari penjara.
'Apa tuntutan Austin Matteo padaku? Apakah sebuah ancaman bisa membuatku berada di penjara sangat lama?' gumam Asmita Cempaka yang merasa jika semuanya tidak masuk akal.
Ia berpikir belum melakukan apapun pada mereka, tapi sudah dipaksa pulang untuk segera diperiksa oleh kepolisian. Hingga ia memilih untuk memejamkan mata sambil memijat pelipis dan tidak lagi bisa berpikir jernih untuk saat ini.
__ADS_1
'Aku saat ini benar-benar sangat lelah pikiran dan tenaga. Aku akan beristirahat selama di dalam pesawat untuk menenangkan pikiran dan akan memikirkan semuanya setelah berada di Jakarta.'
'Ini bukan akhir segalanya karena segalanya baru dimulai sekarang,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini menuju ke apartemen untuk mengambil semua perlengkapan, dokumen dan barang-barang.
Bahkan ia tidak pernah berpikir akan kembali dengan cara seperti ini. Dulu berpikir akan kembali ke Jakarta dengan membawa banyak oleh-oleh untuk keluarga. Bahwa ia kembali ke Jakarta dengan senyuman bersama dengan putranya yang sudah sembuh.
Itulah yang dibayangkannya beberapa hari ini setelah putranya sadar dan tidak lagi koma seperti beberapa tahun yang dilalui.
Saat ia masih memejamkan kedua mata, mendengar suara notifikasi masuk dan berpikir jika itu adalah saudara laki-lakinya yang sudah membaca pesannya.
Kini, ia segera membuka kelopak mata dan ingin memeriksa siapa yang mengirimkan pesan. Begitu melihat jika apa yang dipikirkannya benar, ia seketika tersenyum karena saat ini merasa bahwa saudara laki-lakinya bisa diandalkan.
Kakak tidak perlu khawatir karena pengacara akan mengurus semuanya dan membebaskan dari tuntutan tidak berdasar Austin Matteo. Kakak memang dipaksa pulang ke Jakarta untuk diperiksa, tapi itu bukan berarti akan mendekam dengan berada di balik jeruji besi seumur hidup.
Asmita Cempaka saat ini tersenyum simpul dan merasa senang dengan sikap optimis dari saudaranya yang selalu dibanggakan dan tidak pernah mengecewakannya.
Kini, ia mulai mengetik pesan balasan untuk saudaranya agar tidak menelpon saat ia bersama dengan para polisi.
Aku benar-benar tangga mempunyai seorang saudara laki-laki yang melindungi kakaknya dari ulah seorang pria berengsek seperti Austin Matteo. Aku benar-benar berharap kau bisa membebaskanku dari penjara karena aku tidak ingin menghabiskan masa tuaku dengan berada di balik jeruji besi yang dingin dan tidak nyaman.
Kemudian ia mengirimkan pesan tersebut dan berharap semuanya akan baik-baik saja saat ia tiba di Jakarta.
Hingga suara bariton dari salah satu polisi yang duduk di depan membuatnya tersadar jika sudah tiba di area apartemen. Ia kita kan saat ini beranjak keluar setelah pintu mobil terbuka.
Awalnya ia merasa lega bisa berkemas dan mengambil beberapa dokumen yang mungkin dilakukan pemeriksaan di bandara. Namun, suara dari salah satu pria yang baru saja turun dari mobil dan tadi mengemudikan kendaraan, membuatnya mengerjapkan mata.
"Kami harus memeriksa apartemen ada untuk memastikan tidak ada bukti-bukti kejahatan yang disingkirkan," ucap pria berseragam tersebut untuk menyadarkan wanita itu agar bekerjasama dan tidak mempersulit proses pemeriksaan.
Seketika Asmita Cempaka ingin mengetahui apakah ia lupa menyimpan sesuatu yang penting dan berhubungan dengan Diandra di apartemen. Hingga ia saat ini mengingat ada beberapa foto Diandra yang ia simpan di fila laptop miliknya.
Ia khawatir jika polisi menemukannya dan membuatnya akan menjalani hukuman berat jika sampai bukti-bukti itu ditemukan oleh polisi.
'Gawat, ini tidak boleh dibiarkan karena jika mereka mengetahui ada beberapa foto yang ubah dengan memberikan darah serta beberapa hal buruk lainnya, sudah dipastikan hukumanku tidak akan bisa dihindari,' gumamnya sambil memutar otak agar para polisi itu tidak menemukan apapun.
Namun, ia tidak ingin mendapatkan kecurigaan dari mereka dan saat ini hanya tersenyum simpul saat masuk ke dalam lift.
"Ya, periksa saja apartemen karena tidak ada apapun di sana," ucap Asmita Cempaka yang saat ini berusaha untuk menenangkan diri agar tidak terlihat gugup ketika jantungnya sebenarnya seperti hendak keluar dari tempatnya.
Ia bahkan ingin waktu berhenti di sana agar para polisi itu tidak membuka laptop miliknya. Apalagi sama sekali tidak memakai sandi apapun dan pasti akan memudahkan mereka membukanya, saat ini membuatnya ingin sadar jika apa yang dilakukannya sangatlah ceroboh.
'Aku sama sekali tidak menyangka jika para polisi akan memeriksa di apartemen karena tadi berpikir hanya mengantarkanku saja sampai ke bandara,' gumamnya pada saat ini sudah merasa kebingungan harus bagaimana jika semua foto-foto Diandra ditemukan oleh dua pria itu.
Ia berpikir jika ketahuan, akan semakin memberatkan proses pemeriksaan dan hukuman untuknya semakin bertambah.
__ADS_1
To be continued...