
Beberapa saat lalu, Austin yang masuk ke dalam club malam, berbicara pada salah satu manager di sana untuk menyuruh para wanita melayani di dalam private room. Awalnya ia berpikir untuk berduaan saja dengan Diandra tanpa ada yang mengganggu.
Namun, ia berubah pikiran dengan menyuruh empat teman baiknya datang karena ingin memberikan pelajaran pada wanita yang telah membuatnya kesal karena selalu menahan kesabaran menghadapi Diandra.
Berpikir bahwa wanita seperti Diandra sama saja dengan yang lain dan bisa dengan mudah takluk di bawah kakinya seperti hari ini karena ia tahu kelemahannya.
Tentu saja saat empat temannya datang, mendapatkan umpatan karena diombang-ambingkan untuk datang dan juga membatalkan acara secara tiba-tiba, tapi kini kembali menyuruh ke Club.
"Kau selalu berbuat sesuka hati, Bro!" ucap pria yang saat ini memakai kemeja berwarna hitam dan bernama Oscar Damian.
Sementara itu, pria yang lain langsung meninju lengan kekar Austin karena ingin memberikan pelajaran pada sahabatnya tersebut saat selalu berbuat seenak jidat.
"Dasar penjahat wanita! Kami bahkan bukan para wanita yang takut di bawah kakimu, tapi kau selalu menyuruh datang sesuka hati," sarkas Patrick Valentino yang saat ini mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa sebelah sahabatnya.
Sementara itu, dua pria yang tak lain adalah Mirza Naashir dan Raka Sarhan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari para sahabatnya yang mengungkapkan nada protes, tapi tetap saja datang.
"Kalian kesal tapi tetap datang juga karena gratis!" ucap Raka Sarhan langsung menuang wiski ke dalam gelas yang sudah diberi es batu.
"Nasib baik aku free malam ini. Jadi, kebohonganmu bisa tetap berlanjut hari ini. Dasar playboy menyebalkan!" Mirza yang tadi masuk ke dalam private room tersebut mengamati apakah cocok untuk merayakan pesta ulang tahun gadungan.
"Mana kuenya? Bukankah di sini aku yang ulang tahun? Nanti kelinci kecilmu akan mengetahui bahwa semua ini hanyalah settingan semata untuk menipunya agar datang ke sini."
Sementara itu, Austin yang tadinya menatap ke arah ponsel karena menghitung sisa waktu yang dimiliki oleh Diandra untuk datang ke sana.
Kemudian ia menatap kesal empat sahabatnya yang dianggap sangat cerewet seperti seorang wanita. "Lebih baik kalian diam dan nikmati semuanya."
"Lagipula aku yang membayar semuanya, kan? Oh ya, sebentar lagi akan ada banyak wanita cantik yang menemani kalian di sini." Austin tersenyum menyeringai dan baru saja menutup mulut, melihat seorang pria yang di belakangnya ada empat wanita cantik dengan pakaian seksi.
Bahkan sekilas saja bisa melihat gundukan di balik bagian depan. "Nikmati malam ini dan buang segala beban pikiran yang kalian rasakan."
"Ini pesanan Anda, Tuan Austin. Apa ada lagi yang Anda butuhkan saat ini?" tanya pria dengan seragam hitam yang saat ini memberikan kode pada para wanita untuk berdiri di hadapan tamu VIP di Club.
Austin saat ini menatap empat wanita yang berdiri di hadapannya, lalu ia mengibaskan tangan pada pria itu. "Untuk sekarang cukup. Pergilah!"
"Baik, Tuan." Membungkuk hormat dan berbalik badan untuk berjalan keluar dari ruangan VVIP tersebut.
"Layani mereka!" seru Austin yang tidak tertarik pada empat wanita tersebut karena menurutnya tidak semenarik kelinci kecilnya yang sebentar lagi akan datang dan jika terlambat akan memberikan hukuman tambahan.
"Siap, Tuan Austin," ucap empat wanita yang menjawab secara bersamaan dan tentu saja langsung melayani dua pria yang sudah menata dengan nakal.
Karena melihat dua pria lain tidak menginginkan mereka, sehingga dua wanita melayani satu pria.
Mirza yang sama sekali tidak tertarik dan merasa jijik pada wanita yang bekerja melayani tamu di Club malam, tadi memang langsung mengibaskan tangan dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Bahkan ia duduk menyingkir agak menjauh agar tidak didekati oleh salah satu dari wanita itu. Mirza memilih untuk duduk di sebelah Austin dan berbisik di dekat telinga sahabatnya tersebut.
"Astaga! Sebenarnya apa rencanamu kali ini? Apa kau ingin membuat kelinci kecilmu melihat semua keburukanmu dan semakin bertambah ilfil padamu?" Mirza merasa penasaran sekaligus aneh melihat ulah sahabatnya yang pertama kali memanggil para wanita di Club malam.
Austin yang kembali menatap ke arah benda pipih di tangan karena menunggu telepon dari Diandra, kini menoleh ke arah Mirza dan berbicara dengan penuh percaya diri.
"Aku ingin Diandra menyadari bahwa uang bisa membeli segalanya. Bahwa pria sepertiku yang sangat tidak disukainya membuatnya patuh."
Kemudian melakukan hal sama seperti sahabatnya dengan mengeluarkan suara lirih di dekat daun telinga. "Kau lihat saja pertunjukannya sebentar lagi. Nanti kau juga akan tahu sendiri."
"Baiklah, terserah kau saja. Lagipula itu hidupmu. Mau hancur atau nantinya membuat Diandra semakin ilfil padamu, itu bukanlah urusanku. Jujur saja, jika boleh memilih, aku lebih memilih Diandra yang menemaniku daripada para wanita itu."
Mirza yang memang berbicara sangat lirih di dekat daun telinga Austin karena tidak ingin terdengar oleh para wanita yang sedang menuangkan minuman serta sudah bercanda tawa dengan Oscar dan Patrick.
Refleks Austin mengangkat tangan mengepal untuk memberikan sebuah kode meninju. "Awas saja kalau kau berani. Aku akan menghabisimu."
Austin yang baru saja menutup mulut dengan wajah kesal, mendengar suara dering ponsel miliknya dan seketika tersenyum smirk.
"Diandra datang." Austin menerima telepon dan menyuruh wanita yang sudah berada di depan untuk masuk.
Mirza saat ini hanya geleng-geleng kepala melihat ulah sahabatnya dan membiarkan berbuat sesuka hati karena hari ini akan menjadi penonton dari sang penjahat wanita mempermainkan seorang wanita polos.
Austin saat ini melambaikan tangan pada dua wanita yang sedang melayani Oscar. "Kalian layani aku di sini dan tunjukkan pada wanita yang sebentar lagi akan masuk ke sini."
Tentu saja mereka sangat tidak keberatan dan lebih menyukainya karena pria yang memanggil jauh lebih tampan dari yang lain.
"Baik, Tuan." Dua wanita menjawab dengan serempak.
Kini, salah satu dari wanita itu menuangkan minuman, sedangkan yang satu lagi memijat pundak.
Hingga pintu terbuka dan melihat seorang wanita berpenampilan sangat berbanding terbalik dengan yang mereka kenakan baru saja masuk.
Tentu saja mereka heran dengan penampilan wanita yang seperti hendak berangkat bekerja karena memakai setelan panjang formal, layaknya pergi bekerja.
Austin yang tadinya berpikir bahwa Diandra datang dengan gaun panjang pesta, memicingkan mata melihat penampilan wanita yang dianggapnya tidak tahu cara berpakaian yang menarik.
Namun, ia tidak berkomentar mengenai pakaian yang dikenakan oleh wanita dengan mata membulat itu tengah menampilkan rasa terkejut tersebut. Ia refleks bertepuk tangan dan tersenyum.
"Wah ... kekasihku yang baru kuputuskan hari ini benar-benar datang demi bisa kembali padaku." Austin kini melambaikan tangan agar wanita yang masih berdiri agak jauh darinya tersebut segera mendekat.
"Kemarilah, Sayang!"
Sementara itu, Diandra yang masih terdiam membisu karena merasa sangat shock atas pemandangan di hadapannya. Ini adalah pertama kali ya datang ke Club malam dan melihat pria dilayani oleh wanita dengan gaun kurang bahan dan menurutnya terlalu terbuka.
__ADS_1
Meskipun ia mengetahui bahwa itu sangat disukai oleh para pria yang dianggapnya sangat berengsek dan membuatnya muak.
'Sialan! Kenapa aku bisa berakhir di sini? Jika bukan karena ingin meminjam uang untuk biaya rumah sakit, mana mungkin mau merendahkan harga diriku hanya demi mengikuti sandiwara konyol ini.'
Diandra masih merasa ragu untuk berjalan mendekat dan menghampiri pria yang membuatnya sangat ilfil karena melihat dua wanita berpakaian seksi tersebut.
Ia tidak pernah menyangka jika keadaannya akan seperti itu karena tadinya berpikir bahwa ruangan tersebut dipenuhi oleh beberapa rekan sang dokter karena merupakan acara ulang tahun Mirza.
'Apa seperti ini para orang kaya merayakan ulang tahun dengan menghabiskan uang di tempat terkutuk ini? Apakah aku terlalu bodoh dan lugu karena tidak mengetahui gaya hidup para anak konglomerat?'
'Seharusnya sebagai seorang dokter, Mirza tidak boleh datang ke tempat seperti ini dan minum minuman beralkohol. Bagaimana jika memeriksa pasien saat efek mabuk belum hilang. Dasar dokter gila!'
Melihat Diandra tidak langsung datang mendekat dan hanya melihat dua wanita yang berada di kanan kirinya, Austin seketika memberikan kode agar segera pergi dari sisinya.
Saat dua wanita yang saat ini langsung kembali ke tempat semula, merasa sangat kesal dengan wajah cemberut karena diombang-ambingkan hanya demi wanita yang dianggap berpenampilan kampungan tersebut.
Namun, hanya bisa mengumpat di dalam hati dan kembali melayani pria yang tadi dipanggil dengan nama Patrick.
"Kemarilah, Sayang. Tadi aku sangat kesal karena kamu meminta putus dan tidak bisa datang untuk merayakan pesta ulang tahun Mirza. Jadi, tadi sangat kesal dengan memanggil para wanita untuk menghilangkan patah hati."
"Nasib baik kamu cepat sadar dan tidak jadi memutuskanku. Aku sangat bahagia, Sayang. Kemarilah!" Austin saat ini menepuk sebelah kanan tempat duduknya untuk memberikan kode agar Diandra duduk di sebelahnya.
Sementara itu, Diandra yang merasa tidak punya pilihan lain, seketika membuang rasa kesal dengan melangkahkan kaki jenjangnya mendekati pria yang sangat ingin ia maki tapi tidak bisa melakukannya.
Ia benar-benar bingung harus berbicara apa untuk menanggapi akting Austin. Sekilas Diandra melirik ke arah sang dokter dan sangat membenci pria itu karena dianggap menjadi puncak permasalahan yang dialaminya saat ini.
'Rasanya aku ingin menarik rambut Mirza. Semua ini tidak akan terjadi jika ia tidak ulang tahun dan mengundangku untuk datang.'
Saat Diandra asik dengan pikirannya, mendengar suara bariton dari pria yang ingin ia berikan pelajaran.
"Akhirnya kamu datang juga, Diandra. Maaf karena mengundangmu di tempat seperti ini karena aku menyesuaikan dengan keinginan mereka semua yang lebih menyukai menghabiskan waktu di sini."
Mirza menunjuk ke arah meja. "Tenang saja karena ada minuman non alkohol di sini seperti yang kuminum."
Saat Diandra hendak membuka suara untuk menanggapi perkataan dari sang dokter di sebelah kirinya, merasakan tangan Austin mendarat di pinggangnya.
Tentu saja ia merasa sangat terkejut atas perbuatan pria yang berbicara tepat di dekat daun telinganya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam karena mengingat akan meminjam uang yang jumlahnya tidak sedikit.
"Terima kasih karena tidak jadi memutuskan aku, Sayang. Aku sangat mencintaimu," bisik Austin dengan tersenyum smirk ada wanita yang tidak bisa bergerak ataupun mengungkapkan ada protes padanya.
Hal itu benar-benar membuatnya merasa sangat senang dan merasa yakin bahwa sebentar lagi Diandra akan memohon untuk memberikan uang.
To be continued...
__ADS_1