
"Nak, apa kamu baik-baik saja?" tanya ibu Diandra begitu menghambur masuk ke dalam ruangan perawatan begitu melihat putrinya saat ini sudah sadar.
Ia dan sang suami tadi mendapatkan kabar dari Austin mengenai ide yang akan dilakukan dan meminta untuk mendukungnya karena tengah berakting mengalami kecelakaan.
Meskipun tadi merasa sangat tidak setuju karena khawatir jika rencana penuh dengan kebohongan tersebut menjadi kenyataan. Namun, permohonan dari menantunya tersebut sama sekali tidak bisa ditolak karena sangat yakin jika Diandra pergi jika mengetahui kenyataan sebenarnya.
"Ibu, Ayah?" lirih Diandra yang saat ini merasa sangat terkejut dengan kedatangan orang tuanya secara tiba-tiba.
Ia merasa sangat lega karena padi sudah menghapus kasar bulir air mata di wajah. Kini, bisa merasakan pelukan dari sang ibu yang membungkuk dan mengusap lengannya. Seolah menyalurkan aura positif ketika ia tengah tidak baik-baik saja.
"Mama, siapa yang memberi tahu jika aku berada di sini?" Diandra bahkan saat ini mengingat jika tadi berniat untuk pergi tanpa memberitahu orang tuanya karena berpikir jika berkomplot dengan Austin.
__ADS_1
Jadi, ingin mengetahui bagaimana respon orang tuanya begitu mengetahui jika ia tidak berdaya saat ini karena ambil anak kembar dan membuatnya benar-benar pusing serta sangat lemas.
"Ibu dan ayah tadi mendapatkan kabar dari asisten suamimu. Makanya langsung buru-buru datang ke rumah sakit dan ketakutan kami berubah menjadi rasa lega begitu tadi menanyakan keadaanmu pada perawat," sahut wanita paruh baya yang saat ini melepaskan pelukan dan berdiri tegak di samping ranjang perawatan putrinya.
Hingga suara bariton dari ayah Diandra yang tengah mengungkapkan sesuatu hal agar diketahui oleh putrinya tersebut. "Tadi Ayah bertemu dengan bodyguard yang selama ini menjagamu karena perintah suami."
"Salah satu dari mereka menceritakan jika kamu tadi ingin pergi dari rumah dengan membawa koper dan juga Aksa. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kamu dengan suami bertengkar? Katakan apa alasannya agar aku bisa berguna sebagai seorang ayah." Ia bahkan saat ini ingin menyadarkan putrinya agar tidak berbuat macam-macam.
'Menantu kesayanganku ini benar-benar menjadi seorang pria idaman untuk dijadikan suami karena sangat mencintai putriku, sehingga rela melakukan apapun agar tidak ditinggalkan,' gumamnya sambil kembali fokus pada putrinya.
"Iya, Nak. Katakan saja pada kami agar bisa membantu dan tidak menjadi beban selamanya untuk suamimu. Dia yang selama ini membantu kami, jadi kami tadi berpikir jika kamu pergi, maka harus melakukan hal yang sama." Masih melihat putrinya belum berusaha untuk membuka suara menjelaskan.
__ADS_1
'Kenapa putriku sama sekali tidak bersyukur dan memilih untuk kabur dari rumah yang selama ini dipenuhi oleh kebahagiaan? Apa yang ia benci dari seorang Austin?' gumamnya di dalam hati dan kini menoleh ke arah menantunya ketika mendengar suara lirih berupa rintihan yang diketahui hanyalah sebuah kebohongan semata.
Austin tidak ingin membuat Diandra merasa pusing atas pertanyaan dari orang tua yang seolah menyudutkan posisi. Apalagi ia tahu jika sang istri baru mengetahui kehamilannya dan tidak ingin merubah mood semakin buruk.
Ia pun berpura-pura untuk merintih ketika baru saja membuka kelopak mata dan berakting mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Aaarggh ... di mana ini? Apa aku sudah berada di surga?" Austin yang berakting seperti orang bodoh karena menganggap kata-katanya sangat konyol.
Namun, tetap melanjutkan aktingnya karena ia berpikir bahwa saat ini ingin menghibur perasaan saya istri yang tengah hamil dan memiliki mood berubah-ubah.
To be continued...
__ADS_1