Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Dendam jauh lebih besar


__ADS_3

"Kenapa aku merasa kamu sama sekali tidak mencintai Yoshi?" Austin masih merasa aneh melihat sikap dingin Diandra pada Yoshi.


Ia bingung kenapa Diandra mau menikah dengan Yoshi, sedangkan sikapnya tidak menunjukkan tanda-tanda mencintai.


"Apa katamu? Pergilah karena aku benar-benar sangat muak melihatmu," sarkas Diandra yang masih menatap penuh kemurkaan pada sosok pria yang sangat dibencinya.


Mendapatkan tatapan penuh kebencian dari Diandra, serasa membuat dada Austin sesak. Seolah kebencian dari wanita yang berhubungan dengan masa lalunya itu bagaikan sebuah belati tajam yang tepat menembus jantungnya dan meninggalkan rasa sakit tak berbekas.


Tidak ingin semakin memperkeruh suasana hati wanita yang sebentar lagi akan menjadi pengantin wanita tersebut, Austin berniat untuk kembali meminta maaf, tapi malah mendapatkan sebuah pukulan dari Yoshi.


"Cepat pergi dari sini! Atau aku akan membawamu ke kantor polisi!" sarkas Yoshi yang sangat tidak suka melihat Austin berinteraksi dengan Diandra.


Bahkan ia sudah mengarahkan pukulan pada perut sixpack Austin karena kesal sekaligus marah. "Kau hanya mengacaukan acara kami saja!"


Merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan di masa lalu, Austin hanya diam tanpa melawan. Ia menatap Yoshi dan beralih pada Diandra.


"Aku tahu kamu marah karena mengacaukan acara lamaran kalian, tapi sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa. Tujuanku datang ke sini adalah untuk menyelesaikan semua masalah yang telah aku buat di masa lalu."

__ADS_1


Austin merasa tidak bisa berbicara dengan tenang saat ingin meminta maaf pada Diandra. Namun, menyadari jika sikap yang ditunjukkan oleh Yoshi adalah sebuah ungkapan kecemburuan.


"Aku benar-benar minta maaf dan ingin mengetahui semuanya tanpa terkecuali. Aku merasa telah melakukan dosa besar padam dengan memisahkan dua orang yang saling mencintai." Austin ingin Diandra membenarkan tebakannya.


Namun, ia melihat raut wajah wanita di hadapannya pucat dan bertanya padanya untuk sekedar memastikan.


"Apa maksudmu? Apa kau sudah mengingat semuanya?" Menatap intens wajah pria yang berhasil membuat jantungnya berdetak sangat kencang begitu karena kalimat terakhir dari Austin yang amnesia.


Ia merasa takut jika Austin telah mengingat masa lalunya yang dulu membeli kesuciannya hingga membuatnya hamil tanpa suami dan menjadi single parent. Namun, hidupnya terasa berwarna setelah melahirkan Aksa.


"Seperti yang kukatakan tadi, Tuhan masih menghukumku dengan mengalami kecelakaan dan berakhir amnesia."


Kemudian ia menatap penuh kebencian Austin. "Pergilah dari sini sekarang juga! Jangan sampai istri dan anakmu salah sangka padaku! Jika sampai kau berani datang ke sini lagi, aku akan melapor pada istrimu."


Tentu saja saat ini Austin memicingkan mata refleks penuh kebingungan dengan perkataan aneh Diandra. "Apa maksudmu, Diandra? Bagaimana mungkin kamu menyebut istri dan ...."


Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba jasnya ditarik oleh Yoshi.

__ADS_1


Tentu saja saat ini Yoshi sangat takut jika Diandra mengetahui kenyataan mengenai pria di hadapannya sebenarnya belum menikah. 'Aku tidak akan membiarkan Austin mengatakan bahwa ia belum menikah.'


Yoshi mengangkat tangan ke atas dan melayangkan tinju pada wajah Austin. "Kesabaranku sudah habis, berengsek! Bukankah tadi kubilang pergi!"


Tubuh Austin seketika terhuyung ke belakang dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Bahkan belum sempat ia menanggapi, Yoshi kembali


memukulnya hingga berkali-kali.


"Diandra sudah muak melihatmu, tapi kau tak kunjung pergi juga. Jadi, ini bukan salahku!" sarkas Yoshi yang kembali mengarahkan tinju pada wajah pria yang hanya diam saja tanpa melawan.


Pukulan terakhirnya berhasil membuat Austin terjatuh dan kepalanya membentur tanah dan tidak berdaya. Bahkan saat ini telentang di atas tanah tanpa bergerak dan beberapa saat kemudian pingsan.


Sementara itu, Diandra hanya melihat Yoshi yang memberikan pelajaran pada Austin. Awalnya, ia berpikir akan merasa puas dan senang melihat Austin jatuh terkapar di tanah.


Namun, tidak seperti yang dibayangkannya karena saat ini, ia ingin berlari untuk memeriksa keadaan pria itu. Akan tetapi, dendamnya jauh lebih besar dan tidak melakukan apapun untuk melihat keadaan Austin.


'Dia pantas mendapatkan sebuah hukuman,' lirih Diandra yang tengah berusaha keras untuk menguatkan hatinya agar tidak sampai merasa iba pada Austin.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2