Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Pria yang terlalu baik


__ADS_3

Diandra saat ini masih berdiri mematung di depan pintu kotak besi yang baru saja tertutup dan sosok pria yang terlihat buru-buru pergi itu sudah tidak terlihat lagi. Ada banyak keanehan yang dirasakan oleh Diandra ketika melihat semua gerak-gerik seorang Yoshi.


"Apa Yoshi bisa membaca jika aku sebenarnya sangat takut berinteraksi dengan lawan jenis? Ia berusaha bersikap senatural mungkin di depanku, tapi aku yakin jika ia berusaha sekuat tenaga untuk membuatku merasa nyaman."


"Terbuat dari apa hati pria itu? Kenapa aku tidak bertemu dengannya dulu daripada bajingan itu," lirih Diandra yang kini mengembuskan napas berat, seolah mewakili perasaan saat ini yang sebenarnya merasa tidak enak pada Yoshi.


Diandra kini mengedarkan pandangan ke sekeliling dan bulu kuduk meremang seketika kala menyadari jika unit itu sangat sepi dan ia buru-buru mencari unit apartemen milik Naura.


Begitu menemukan angka 205, Diandra seketika memencet tombol passcode. "Berapa tadi? Oh iya, 140390."


Diandra seketika merasa lega begitu pintu sudah tidak terkunci dan ia segera membukanya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam apartemen.


Ini bukan pertama kali ia masuk ke dalam apartemen karena ada jejak terekam di otaknya kala mengingat sosok pria yang sangat dibencinya. Refleks ia menggelengkan kepala berkali-kali.


"Aku harus melupakannya dan menghapus dari ingatanku!" Diandra memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena mengingat semua hal yang terjadi menimpanya.


Diandra menarik koper sambil terus memegangi kepalanya dan berjalan menuju ke arah ruangan untuk beristirahat karena ia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Tenaganya seperti terkuras habis dan merasa lemah kala mengingat semua kejadian yang membuatnya trauma. Begitu menemukan ruangan kamar, ia segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ranjang king size di sudut sebelah kanan.


Tanpa membuang waktu, Diandra kini membanting tubuhnya di atas ranjang super empuk itu dan rentetan kejadian saat pertama kali didorong oleh Austin terbayang di kepalanya.


Diandra kini memejamkan mata karena merasa sangat pedas saat bola matanya terasa lelah efek semalaman tidak tidur.


"Aku lelah sekali. Aku ingin tidur," lirih Diandra yang kini masih dengan posisi telentang dan kelopak mata tertutup rapat.


Berharap dengan memejamkan mata, ia segera tertidur dan larut dalam alam bawah sadar agar bisa sebentar melupakan memori buruk dalam pikirannya.


"Aku harus tidur dan melupakan kejadian itu." Diandra yang tiba-tiba mengingat sesuatu, kini segera bangkit dari tempat tidur dan membuka tas miliknya.

__ADS_1


"Ibu pasti sangat khawatir karena nomorku sudah tidak aktif. Aku harus menelpon ibu." Diandra tidak membuang waktu langsung mencari daftar kontak sang ayah.


Selama sakit, ponsel sang ayah dipegang ibunya dan ia kini menunggu hingga panggilan diangkat. Namun, tidak ada jawaban hingga ia melakukannya selama tiga kali.


"Kenapa ibu tidak mengangkat telponnya? Sepertinya ibu takut mengangkat nomor tidak terdaftar karena mengira penipuan," ujar Diandra yang kini mulai mengetik pesan untuk menjelaskan bahwa ia mengganti nomornya.


Dengan alasan ada orang jahat yang sering menghubungi, ia berharap sang ibu percaya dan tidak bertanya macam-macam.


Saat ia hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, kini suara dering ponsel menggema memenuhi ruangan kamar apartemen yang sunyi itu.


Diandra tersenyum karena berpikir bahwa sang ibu yang menelpon, sehingga langsung menggeser tombol hijau ke atas dan berbicara.


"Halo, Ibu. Bagaimana keadaan ayah sekarang?"


"Diandra, ini aku."


Diandra kini memicingkan mata dan melihat ke arah ponsel miliknya. Kemudian menepuk jidat begitu melihat kontak wanita yang telah ia tolong.


"Iya, aku Naura, bukan ibumu. Apa kamu menyimpan nomorku dengan nama ibu?" sahut Naura di seberang telpon dengan terkekeh geli mendengar perkataannya yang konyol.


"Aaah ... maaf. Aku tadi menelpon ibuku, tapi tidak diangkat. Jadi, berpikir jika ibuku yang menelpon balik. Oh ya, ada apa, Naura? Apa ada sesuatu yang terlupa?" Diandra kini berbicara sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling area kamar dan baru menyadari bahwa segala interior di ruangan itu tidak menunjukkan tanda-tanda tempat seorang pria.


Apalagi ruangan dengan nuansa cat gelap itu membuatnya merasa jika kamar itu bukanlah tempat seorang wanita, tapi pria dan satu-satunya yang terpikirkan hanyalah satu hal.


'Apa apartemen ini adalah milik Yoshi? Namun, Naura berpikir ingin membela sepupunya dengan mengaku miliknya. Dengan berpikir tidak ingin membuatku takut atau pun merasa tidak nyaman saat menempati tempat tinggal seorang pria.'


Saat ini, hanya itu saja yang terlintas di pikiran seorang Diandra saat ini dan semakin bertambah besar begitu mendengar suara dari seberang telpon.


"Lupakan itu. Aku menelponmu karena ingin kamu keluar sebentar karena ada beberapa barang di depan pintu. Aku tadi menyuruh orang untuk membelikan bahan makanan karena di sana tidak ada apapun untuk dimakan."

__ADS_1


Naura yang lagi-lagi harus berbohong karena disuruh oleh sepupunya tadi yang mengirimkan pesan agar Diandra mengambil beberapa bahan-bahan makanan yang dibeli oleh Yoshi.


Sementara itu, Diandra yang kini semakin berutang budi, segera turun dari ranjang dan berjalan ke depan.


"Kenapa harus repot-repot membeli bahan makanan jika aku hanya sementara di sini? Aku besok akan mencari tempat kos yang sesuai untukku." Diandra yang kini membuka pintu, seketika membulatkan mata begitu melihat dua kantong plastik besar penuh dengan macam-macam bahan makanan.


"Banyak sekali, Naura? Ini terlalu berlebihan." Diandra buru-buru memasukkan tiga kantong plastik berisi makanan pokok tersebut ke dalam.


Bahkan ia saja sampai keberatan mengangkat satu kantong plastik terakhir karena berisi bahan-bahan pokok seperti beras, minyak, mie instan, telur, gula, kopi teh.


"Ini seperti saat aku di kampung ketika mendapatkan bantuan sembako komplit." Diandra saat ini malah merasa curiga jika yang melakukan ini adalah sang pria bai hati dengan mengatasnamakan Naura.


Namun, ia tidak ingin bertanya karena khawatir para orang baik itu tersinggung pada sesuatu yang dipikirkannya.


"Aku tidak ingin Dewi penolongku kelaparan. Oh ya, Diandra, bukankah kamu membutuhkan pekerjaan? Ada lowongan di perusahaan sepupuku sebagai sekretaris. Jika kamu mau, aku akan berbicara padanya agar menutup lowongan dan langsung menerimamu."


Diandra yang tidak ingin terjebak dua kali karena menerima pekerjaan lewat jalur koneksi, kini memilih untuk menolaknya.


"Naura, terima kasih atas kebaikanmu padaku, tapi kali ini aku tidak bisa menerimanya. Bukan karena apa, tapi aku pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja melalui koneksi dan itu membuatku seperti menjadi orang tidak berguna."


Diandra yakin jika semuanya adalah karena pria bernama Yoshi yang sudah mengatur semuanya, jadi membuatnya mengingat ketika ia bekerja di perusahaan pria yang telah mendapatkan kesuciannya.


Tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali, kini Diandra mengambil keputusan penting dalam hidupnya.


"Aku ingin mencari pekerjaan lain. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Terima kasih atas semuanya hari ini, Naura." Kemudian ia langsung mematikan sambungan telpon setelah mendengar suara wanita di seberang yang mengatakan iya.


Kemudian ia menatap kantong plastik berisi banyak makanan dan bahan-bahan yang ada di atas lantai.


"Pasti Yoshi yang membeli ini semua untukku. Apakah aku terlihat sangat mengenaskan? Hingga pria berhati baik itu sampai memikirkan makananku selama berada di sini? Pria itu terlalu baik, merupakan kebalikan dari bajingan itu."

__ADS_1


Diandra mengepalkan tangannya dan wajahnya seketika berubah memerah kala mengingat semua hal yang berhubungan dengan seorang Austin Matteo.


To be continued...


__ADS_2