
Saat ini, Diandra mencoba untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau begitu mendengar kalimat terakhir dari pria yang sudah meninggalkan rumah keluarganya. Ia bahkan sama sekali tidak menyangka jika Austin Matteo berbuat sejahat itu pada Yoshi yang bahkan baru saja sadar dari koma.
Hingga kembali berakhir tidak berdaya dan membuat seorang ibu harus merawat putranya yang mengalami koma sampai 1 tahun lamanya.
Rasa bersalah semakin menyeruak di dalam hatinya saat ini dan membuatnya jatuh terduduk di atas sofa karena merasa tubuhnya kehilangan seluruh tenaga begitu mengetahui apa yang baru saja didengar dari pria paruh baya yang merupakan paman dari Yoshi.
"Austin Matteo, tega-teganya kamu melakukan hal jahat seperti ini pada seorang pria tidak berdaya baru saja sadar dari koma. Apa obsesimu padaku membuatmu kehilangan nurani dan belas kasihan? Bagaimana bisa kau melakukan ini pada Yoshi?" Diandra masih merasa sangat syok dengan apa yang diketahuinya.
Ia selama ini sangat penasaran bagaimana bisa menikah dengan Austin saat posisinya adalah istri dari Yoshi, sekarang terjawab sudah dan tidak ada lagi yang tidak diketahuinya.
Bahkan saat ini berpikir bahwa selama ini hidup dengan seorang pria yang sehat yang banyak memikirkan semuanya sendiri tanpa mempedulikan orang lain hingga berbuat jahat sampai hampir mengorbankan nyawa Yoshi.
Bahkan jangan yang saat ini gemetar karena memikirkan tentang kejahatan dari pria yang bahkan membuatnya perlahan mencintainya saat amnesia. Hingga begitu mengingat semua hal yang terlupakan, kini merasa ragu dengan perasaannya.
'Apakah perasaanku ini bukanlah yang sesungguhnya karena hanyalah sebuah kepalsuan akibat sebuah konspirasi yang diciptakan oleh seorang Austin Matteo?' gumamnya dengan membuat gerakan mengepalkan tangan dan membukanya untuk menormalkan perasaannya yang kacau balau saat ini.
Ia bahkan berpikir jika ingatannya tidak akan pernah kembali, merasa menjalani kehidupan yang penuh dengan kepalsuan semata. Sampai pada akhirnya ia bahagia di atas penderitaan Yoshi dan itu membuatnya merasa sangat sesak dan seolah kesusahan untuk bernapas.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mungkin bisa hidup dengan pria jahat sepertinya." Diandra saat ini tengah memikirkan apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Satu-satunya hal yang membuatnya di bank adalah putranya karena jika tidak ada malaikat kecilnya tersebut, mungkin akan langsung pergi dari rumah tanpa mempertimbangkan apapun. Namun, ia saat ini berpikir Apakah menjadi orang yang egois jika membuat putranya kehilangan sosok ayah kandung yang selama ini menyayanginya.
Hingga ia mendengar suara dari pelayan dan membuatnya menoleh ke belakang.
"Nyonya, tuan Aksa dari tadi mencari Anda." Sang pelayan saat ini menggendong bocah berusia 5 tahun tersebut. Meskipun merasakan berat karena usianya sudah tidak lagi, tetap berusaha untuk kuat menggendong sang putra mahkota di rumah itu.
Diandra seketika bangkit berdiri dari posisinya dan merasa iba pada pelayan yang menimbang putranya karena belum bisa berjalan akibat luka di bagian punggung yang terjatuh dari ayunan.
Refleks ia meminta putranya dan menggendongnya. "Sini, Sayang, sama Mama." Kemudian berani menatap ke arah pelayan dan mengucapkan terima kasih.
Kemudian ia kembali ke dalam kamar karena ini memikirkan sesuatu hal yang terlintas di otaknya saat ini. Begitu ia sudah masuk ke dalam kamar dan menurunkan putranya di atas ranjang, bertanya sesuatu.
Hingga ia mendengar suara dari putranya yang membuatnya sangat tidak tega, tapi harus melakukan apa yang terlintas di pikirannya saat ini. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih ketika mengingat kejahatan yang dilakukan oleh Austin Matteo.
"Papa mana? Papa nggak ikut pergi?" tanya Aksa yang saat ini menatap ke arah sang ibu dengan raut wajah penuh pertanyaan karena merasa bingung dengan apa yang dimaksud oleh wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Sementara itu, Diandra yang saat ini menetap ke arah putranya, berusaha untuk menahan bola mata agar tidak mengeluarkan bulir kesedihan dan membuat malaikat kecilnya tersebut bersedih jika melihatnya menangis.
Ia bahkan berakting tersenyum simpul untuk menenangkan perasaan dari putranya ketika membahas tentang sang ayah. "Nggak, Sayang. Papa nggak ikut. Aksa mau ikut Mama, kan?"
__ADS_1
Meskipun bingung dengan apa yang dimaksud oleh sang ibu, saat ini Aksa hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan karena berpikir harus selalu bersama-sama sang ibu yang sangat disayangi.
"Ikut mama pergi," sahut Aksa yang saat ini terus menatap ke arah wanita yang melahirkannya tersebut.
Diandra seketika memeluk erat putranya dan mencium kening untuk menormalkan perasaannya yang saat ini membuncah. Ia saat ini berpikir untuk segera berkemas tanpa membawa banyak pakaian.
Ia berpikir membawa pakaian secukupnya saja karena bisa membeli nanti setelah keluar dari rumah itu. "Aksa tunggu di sini, ya. Mama mau berkemas dulu."
Begitu melihat putranya yang mengerti dengan menganggukkan kepala sebagai persetujuan dan merupakan bentuk menurut pada perkataannya, kini ia segera berjalan menuju ke ruangan ganti dan mengambil koper berukuran sedang.
Tanpa pikir panjang, ia memasukkan beberapa bagian miliknya dan juga putranya. "Aku harus segera pergi dari sini karena tidak bisa hidup dalam rasa bersalah sekaligus berdosa pada Yoshi karena perbuatan jahat Austin."
Ia hanya memasukkan beberapa pakaiannya saja karena berpikir bahwa semua itu adalah pemberian dari sang suami, sehingga memilih untuk membawa lebih banyak pakaian dari putranya.
Hingga ia pun kini sudah selesai berkemas dan langsung kembali menghampiri putranya yang benar-benar menurut pada perintahnya untuk diam di atas ranjang. Ia bahkan merasa sangat terharu melihat putranya saat ini.
'Sayang, maafkan Mama karena membuatmu terombang-ambing seperti ini,' gumam Diandra yang saat ini berpikir untuk datang menjemput orang tuanya karena mengetahui bahwa rumah yang ditinggali merupakan pemberian dari Austin.
To be continued...
__ADS_1