
Asmita Cempaka yang merasa sangat khawatir begitu sosok pria yang baru saja mengatakan status dengan Diandra yang telah menikah dan juga hampir saja menceritakan mengenai perbuatan dulu saat berada di rumah sakit.
Bahkan detak jantung melebihi batas normal ketika Austin mengatakan kalimat ambigu dan hampir saja ketahuan bahwa ia yang menjadi penyebab putranya bercerai.
'Bajingan itu benar-benar ingin balas dendam padaku dengan mengatakan pada putraku.' Nasib baik tidak mengatakan secara langsung, sehingga saat ini langsung melihat ke arah putranya yang dari tadi sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tentu saja sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi putranya, ia benar-benar khawatir terjadi sesuatu.
Refleks ia langsung mengusap lengan kekar putranya untuk memberikan sebuah ketenangan dan berharap tidak terjadi hal-hal buruk akibat kedatangan pria tidak diundang yang sangat dibenci.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" Ia sebenarnya ingin mengatakan panjang lebar mengenai sesuatu yang berhubungan dengan Diandra dan juga alasan tidak jujur pada putranya tersebut.
Namun, sebelum menjelaskan hal itu secara perlahan dan lembut, ingin melihat reaksi dari putranya terlebih dahulu karena sampai sekarang belum kunjung membuka mulut.
Bahkan saat setiap hari mendengar putranya hanya bisa memanggil nama Diandra dan membuatnya sangat iri, tetapi yang terjadi sekarang adalah seolah suara mendadak hilang karena hanya keheningan di dalam ruangan perawatan terbaik di rumah sakit itu.
Kini, ia mulai menggerakkan lengan yang tadi masih dipegang karena ingin melihat bahwa putranya baik-baik saja.
Sementara itu, saat ini Yoshi yang merasa sangat terluka begitu mengetahui sosok wanita yang dipikirnya masih menjadi istri dan sangat dicintai itu sudah bukan siapa-siapa untuknya.
Apalagi kini sudah menikah dengan sosok pria yang dari dulu dianggap adalah saingan mendapatkan Diandra.
'Diandra sudah menikah dengan Austin saat aku koma. Apakah selama ini tidak ada sedikit pun cinta yang dirasakan Diandra untukku?' gumam Yoshi yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati karena tidak bisa mengungkapkan semuanya melalui perkataan.
__ADS_1
Terluka kini dirasakan ketika memikirkan Diandra dan ia yang sempat merasa bahagia dulu saat menikah dengan wanita itu. Bahkan berpikir jika hari-harinya hanya akan merasakan kebahagiaan sampai tua dengan wanita yang bisa menerima kekurangannya.
Namun, semua berbeda setelah semua impiannya hancur hari ini. Meskipun itu sudah cukup lama dan terlambat mengetahui.
Yoshi kini menatap ke arah sang ibu yang saat ini sibuk menggerakkan lengannya.
Ia hanya diam ketika melihat raut wajah penuh kekhawatiran yang tampak jelas di sana. Ada sesuatu yang belum terjawab dan kini ia baru mengingat mengenai kalimat ambigu dari Austin pada ibunya.
'Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Austin ketika berbicara dengan menyindir mama tadi? Apakah mama juga ikut terlibat dalam penyebab Diandra berakhir menikah dengan Austin?' gumam Yoshi yang saat ini mencoba untuk mencari tahu dengan memeras otak.
Karena ia tidak bisa bertanya macam-macam pada sang ibu karena sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Ia terlalu memforsir kinerja otak karena dari tadi memikirkan apa yang dilakukan oleh sang ibu. Hingga ia pun merasakan kenyerian luar biasa hingga meringis menahan rasa sakit pada kepala.
"Sayang! Apa yang kamu rasakan? Apa sekarang sakit kepala?" Asmita Cempaka yang masih berusaha untuk kuat kala melihat wajah putranya berubah pucat dan suara menyayat hati terdengar sangat jelas.
"Bertahanlah, Putraku!" serunya yang terlihat langsung memencet tombol panggil pada punggung ranjang perawatan.
Hingga ia pun membungkuk untuk memeluk erat putranya. "Bertahanlah. Sebentar lagi dokter ke sini, Sayang."
Asmita Cempaka benar-benar tidak tega melihat putranya yang sangat menderita karena ulah pria yang diangggap tidak berperikemanusiaan.
'Bajingan itu sama sekali tidak punya perasaan melihat putraku yang bahkan tidak berdaya. Bahkan untuk berjalan saja sangat susah, tapi tega mengatakan semua kenyataan mengenai wanita pembawa sial itu.'
__ADS_1
Bulir air mata sudah menganak sungai di wajah seorang ibu yang merasakan ketakutan luar biasa ketika khawatir jika terjadi sesuatu hal buruk pada putranya.
Hingga merasa sangat lega ketika pintu terbuka dan melihat para perawat dan dokter baru saja masuk dan menghambur mendekat.
"Dokter, tolong periksa putraku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada putraku." Ia melepaskan pelukan begitu sang dokter memeriksa.
Ia hanya bisa melihat bagaimana putranya merintih kesakitan hingga terlihat bulir kesedihan juga memenuhi bola mata putranya.
"Sayang, bertahanlah! Kamu harus kuat, Putraku," lirih Asmita Cempaka sambil menangis tersedu-sedu karena melihat para perawat membantu dokter memeriksa.
Jujur saja dalam hati kecilnya berkata bahwa ia yang menjadi puncak dari masalah mengenai wanita yang tak lain adalah mantan istri dari putranya tersebut.
Namun, selama ini egonya terlalu tinggi dan tidak mau mengakui bahwa jika dulu tidak mengurus perceraian antara putranya dengan Diandra, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
'Sayang, maafkan mama karena membuatmu terpuruk seperti ini begitu mengetahui bahwa Diandra sekarang menjadi istri bajingan itu. Apakah jika aku dulu tidak menyuruh pengacara mengurus perceraian, pasti kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.'
Saat ia baru saja selesai berkeluh kesah di dalam hati untuk menyalahkan diri sendiri atas semua yang dilakukannya dulu, mendengar suara bariton dari sang dokter yang membuatnya membulatkan mata.
"Pasien harus segera dioperasi sebelum pembuluh darah pecah dan membahayakan nyawa putra Anda!" Sang dokter yang baru saja memeriksa tanda-tanda kesakitan pasien yang masih terus merintih kesakitan, sehingga langsung bertindak.
Apalagi melihat ciri-ciri yang ditunjukkan oleh beberapa bagian vital dan langsung memutuskan untuk menyuruh para perawat segera bertindak untuk mendorong brankar.
To be continued...
__ADS_1