Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Temani aku makan


__ADS_3

Sudah dua hari Diandra tinggal di apartemen yang di tempatnya adalah milik pria baik hati yang tidak mau mengakuinya karena memikirkan perasaannya.


Sebenarnya ia kemarin sudah menghubungi Yoshi untuk membicarakan mengenai tempat kos yang ingin dicarinya, tapi pria itu seolah tidak ingin mengangkat panggilan darinya.


Saat ia menelpon, tidak pernah diangkat dan pria itu hanya mengirimkan sebuah pesan bahwa sangat sibuk dengan pekerjaan. Hingga ia menelpon saat istirahat serta yang sudah bebas dari pekerjaan ketika malam hari, tapi hasilnya sama saja dan membuatnya tidak bisa berkomunikasi dengan Yoshi.


Diandra merasa aneh dengan sikap Yoshi dan membuatnya berpikir sesuatu hal yang buruk mengenai sikap pria yang seperti menghindarinya. Nasib baik semua kebutuhan sudah disiapkan dan ia tinggal memasak jika merasa lapar.


Sebenarnya ia ingin sekali keluar sendiri untuk mencari tempat kos, tapi entah mengapa semenjak kejadian yang membuatnya berpikir bahwa seorang pria sama seperti Austin, membuatnya tidak berani keluar dari apartemen sendirian.


Jadi, niatnya adalah ingin meminta tolong pada Yoshi untuk membantunya mencari tempat kos agar bisa segera pindah dari apartemen mewah yang membuatnya merasa tidak pantas tinggal di sana.


"Sebenarnya Apa alasan Yoshi tidak mau pernah mau mengangkat teleponku dan selalu beralasan sibuk? Apa ia marah padaku karena aku menolak untuk menerima tawaran dari Naura yang mengatakan di tempatnya membutuhkan seorang sekretaris pribadi?"


Diandra yang saat ini berada di meja makan karena baru saja menikmati makan malam setelah memasak menu spaghetti, masih bermalas-malasan untuk membereskan bekas makanannya karena tengah memikirkan pemilik apartemen.


Ia merasa yakin jika pria itulah yang menjadi pemilik apartemen karena melihat beberapa peralatan laki-laki serta pakaian Yoshi di kamar.


Meskipun Naura dari awal sudah menjelaskan jika apartemen itu kadangkala ditempati oleh Yoshi, tapi melihat interior dari ruangan pribadi yang mayoritas menunjukkan kesan maskulin.


Apalagi sama sekali tidak ada kesan feminim, semakin membuatnya merasa yakin jika itu adalah tempat tinggal seorang pria. Kini, Diandra masih memegang ponsel miliknya yang tadi digunakan untuk menelpon Yoshi, tapi sama sekali tidak diangkat seperti biasanya.


"Aku tidak mungkin tinggal di sini terus karena akan ada banyak dampak negatif. Akan ada kesalahpahaman jika ada orang yang tahu bahwa aku tinggal di apartemen milik seorang pria."

__ADS_1


Diandra tengah mengetuk beberapa kali meja saat memikirkan apa yang harus dilakukannya. Hingga beberapa saat kemudian, ia mulai mengetik pesan pada Yoshi.


"Semoga ia langsung membacanya dan meneleponku," ucap Diandra yang saat ini tengah berpikir untuk bisa berbicara secara langsung dengan Yoshi.


Besok, aku akan mencari tempat kos dan akan langsung pindah setelah mendapatkan tempat yang cocok. Jadi, jika aku tidak bisa bertemu denganmu untuk berpamitan, aku minta maaf.


Diandra masih membaca pesannya untuk mengecek apakah ada yang salah atau tidak sebelum dikirim. Kemudian ia langsung menekan tombol kirim setelah dirasa tidak ada yang salah dan berharap Yoshi bisa mengerti jika besok sudah tidak lagi berada di apartemen.


Kemudian ia sampai berdiri dari kursi dan membereskan bekas makanan. Beberapa saat kemudian, berjalan menuju ke arah kamar dan berniat untuk berdiam diri di sana.


Tempat ternyaman untuknya hanyalah kamar yang membuatnya bisa meringkuk di atas ranjang empuk nan nyaman.


Ia sekarang lebih menyukai keheningan dan kesendirian, meskipun lama-kelamaan berakhir penuh deraian air mata saat mengingat momen paling menyedihkan yang ini sekali dilupakan, tapi sadar jika tidak mungkin bisa melakukannya.


"Aku harus bisa melupakan kejadian laknat itu. Aku harus melanjutkan hidup dan tidak boleh terpuruk hanya gara-gara ulah satu orang bajingan!"


Mengempaskan tangannya dengan sangat kuat pada ranjang king size yang menjadi tempat peraduannya. Hingga ia beralih posisi dengan posisi telentang dan menatap langit-langit kamar.


Ia mengingat percakapan dengan sang Ibu kemarin yang menanyakan mengenai uang. Bahwa ada uang masuk dalam jumlah besar yang tentu saja membuat sang ibu merasa kebingungan.


Namun, ia berbohong dengan mengatakan bahwa itu adalah pinjaman dari bosnya yang dicicil dari gaji. Sementara uang dari Yoshi sudah digunakan untuk membayar biaya operasi.


Awalnya saya ibu menyuruh untuk mengembalikan uang tersebut, tapi Diandra beralasan bahwa bosnya tidak mau dikembalikan karena ingin menolongnya.

__ADS_1


Ia bahkan mengatakan pada sang ibu agar tidak khawatir mengenai masalah pinjaman karena memiliki gaji yang besar di perusahaan dan bisa mengembalikan utang secepat mungkin.


"Aku tidak mungkin mengembalikan uang yang merupakan harga dari keperawananku, ibu," lirih Diandra yang berurai air mata ketika mengingat kegilaannya saat menjual diri.


Saat masih sibuk memikirkan mengenai masalah yang sangat susah untuk dilupakan, Diandra mendengar suara notifikasi dari ponsel yang berada di atas nakas dan sangat yakin jika itu dari pria yang tadi dikirimkan pesan.


Hingga ia pun buru-buru mengambil ponsel dan saat membuka pesan yang memang dari Yoshi, kini membuatnya memicingkan mata.


Turunlah, aku ada di lobi.


"Dia ada di lobi apartemen? Bagaimana mungkin? Apa ia tadi langsung menuju ke sini setelah aku mengirimkan pesan padanya?" Diandra tidak langsung membalas karena masih memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Sepertinya ia tidak mau membuatku tidak nyaman jika datang ke apartemen. Padahal ia berhak melakukannya karena ini adalah tempat miliknya." Diandra kini menyadari bahwa Yoshi benar-benar adalah seorang pria yang baik karena memilih untuk bertemu di luar.


Kini, ia segera bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke koper yang masih dibiarkan terbuka di sebelah kanan ruangan. Kebetulan ia tadi memakai celana jeans panjang dengan kaos casual dan kini mengambil jaket untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya angin malam.


"Apa yang ingin dibicarakan oleh Yoshi denganku? Hingga ia ingin bertemu setelah aku bilang besok akan pergi dari sini." Diandra berjalan keluar apartemen sambil sibuk bertanya-tanya dan beberapa saat kemudian, ia masuk ke dalam lift yang membawanya turun ke lobi.


Begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, ia berjalan keluar dan melihat sosok pria yang saat ini berdiri di hadapannya dan langsung bersitatap dengan iris berkilat itu dan membuat jantungnya berdegup kencang.


"Yoshi? Aku pikir kamu di sana." Diandra menunjuk ke dekat pintu masuk.


"Aku sengaja berdiri di depan lift agar kamu tidak takut jika ada pria jahat setelah melihatku ada di hadapanmu." Yoshi kini mengangkat paper bag di tangannya. "Temani aku makan di taman di depan. Aku sangat lapar."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2