
Beberapa saat lalu, terlihat sosok pria yang memakai setelan lengkap dengan sepatu pantofel hitam mengkilat dan rambut berpomade rapi semakin menyempurnakan penampilannya.
Sosok pria itu adalah Yoshi Zaidan Narendra yang baru saja selesai meeting bersama salah satu rekan bisnisnya.
Saat berjalan keluar, sekilas netra pekatnya melihat siluet sosok wanita yang seperti sangat tidak asing baginya dan ingin memastikan jika itu apa yang ada di pikirannya benar.
Begitu melihat wajah cantik sosok wanita yang masih sangat dihafalnya, degup jantungnya kini berdetak kencang saat perasaan bersalah dan berdosa merebak memenuhi seluruh jiwanya.
'Diandra? Ya, itu adalah Diandra,' gumam Yoshi yang sekilas beralih menatap ke arah bocah laki-laki di sebelah wanita yang bahkan sampai sekarang tidak bisa dilupakannya. 'Aku harus bicara dengannya sebelum kehilangan kesempatan.'
Yoshi buru-buru melangkahkan kaki panjangnya untuk mendekat dan juga menyapa wanita yang masih sangat dicintainya sampai saat ini. Bahkan ia yang selama ini mencari keberadaan Diandra, tapi tidak bisa menemukannya, kini merasa sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan wanita itu.
Meskipun di masa lalu, takdir telah mempermainkan hidupnya hingga membuatnya jatuh terpuruk dalam nestapa.
Namun, saat ia sudah hampir mendekati Diandra, kebetulan melihat sosok pria yang selalu menjadi pengganggu dan sekaligus musuh besarnya.
'Sialan! Kenapa Austin juga datang? Kenapa dia juga mendekati Diandra? Apa mereka sudah bertemu sebelum aku?' Karena merasa penasaran dan ingin mendahului Austin untuk bicara dengan Diandra, kini Yoshi berjalan cepat menuju ke arah Diandra.
Sementara sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang tidak lain adalah Austin yang baru saja melewati pintu masuk dan mencari-cari sosok wanita yang dipercayainya mengetahui masa lalunya.
Austin memang tadi langsung membuntuti wanita yang tidak diketahui namanya tersebut karena ingin menuntaskan rahasia yang telah disembunyikan oleh semua orang darinya.
Ia seketika tersenyum simpul begitu menemukan siluet wanita dengan memakai setelan berwarna hitam putih itu.
__ADS_1
"Syukurlah aku bisa menemukan wanita itu. Hari ini aku akan mencari tahu semuanya. Semoga wanita itu mau menjelaskan tentang masa laluku jika pernah mengenalku dulu saat aku belum hilang ingatan."
Austin langsung berjalan mendekat dan membuka suara. "Nyonya."
Namun, di saat bersamaan, ia mengerutkan keningnya kala ada seseorang yang juga tengah memanggil wanita itu. Refleks ia langsung ber-sitatap dengan sosok pria berpenampilan sangat rapi memakai jas tersebut.
"Diandra!" seru Yoshi yang tidak memperdulikan Austin yang juga berada di hadapannya.
"Diandra?" Austin kini bisa mengetahui nama wanita itu berkat pria yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut. Namun, lagi dan lagi ia mengerutkan keningnya kala namanya dipanggil.
"Austin?" seru Yoshi yang sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang sudah tiga tahun tidak ditemui setelah hadir di pernikahan saat berada di Rumah Sakit.
"Kamu mengenalku?" tanya Austin dengan tatapan penuh pertanyaan.
'Apa maksud Austin bertanya konyol pada Yoshi? Apa dia sedang berakting di depanku untuk mengelabuiku?' gumam Diandra yang saat ini benar-benar dibuat bingung kala pertama kalinya menginjakkan kaki di Jakarta.
Sementara itu, Yoshi yang telah mengetahui kabar kecelakaan dari Austin karena mendengar dari sahabat pria itu yang pernah menjadi kliennya.
Ia menatap Austin yang terlihat seperti seperti seorang anak kecil yang tengah tersesat. 'Melihat Austin saat ini, seperti seorang anak kecil yang tidak tahu arah jalan untuk kembali pulang. Apalagi tidak ada yang memberitahu mengenai Diandra.'
Yoshi kini menatap ke arah Austin. "Jadi, ingatanmu masih belum pulih juga? Tapi bagaimana kau bisa bertemu dengan Diandra? Apa kamu mengingat siapa Diandra?" tanya Yoshi yang beralih menatap ke arah Diandra dan juga bocah laki-laki di sebelahnya yang sudah bisa ditebaknya adalah darah daging hasil dari hubungan yang dulu dilakukan atas dasar menjual harga diri.
Bahkan ia sudah menduga jika Diandra akan hamil setelah Austin melakukan tanpa pengaman karena biasanya hubungan terlarang akan mudah jadi daripada hubungan halal.
__ADS_1
'Apa anak kecil ini adalah putra Diandra dan Austin? Ya Allah, rasanya sesakit ini melihat seorang anak yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan karena divonis mandul oleh dokter dan rumah tanggaku hancur karena tidak ada yang mau bertahan dengan seorang pria tidak berguna sepertiku.'
Apalagi ia mengalaminya sendiri dan mengalami kepahitan hidup dalam rumah tangga yang selama ini tidak diinginkan dan terjadi atas perintah dari sang ayah yang telah meninggal setelah dua tahun pernikahannya.
Bahkan ia merasa jika penyebabnya adalah dirinya karena gagal mempertahankan pernikahannya.
"Diandra, apa anak ini adalah ...." Yoshi tidak melanjutkan perkataannya dan menatap intens wajah tampan anak kecil yang bahkan sangat mirip dengan Diandra.
"Aku ...." Austin tidak bisa melanjutkan perkataannya saat mendengar suara sosok wanita yang sudah bangkit dari kursi dan menampilkan wajah memerah penuh kilatan amarah.
"Jangan menggangguku! Pergi atau aku yang akan pergi dari sini!" Diandra merasa yakin jika Yoshi dan Austin tidak ada niat untuk pergi, sehingga ia berinisiatif untuk angkat kaki dari restoran.
Sebenarnya ia ingin menyapa Yoshi ala kadarnya, tapi tidak jadi karena tidak ingin kembali memiliki perasaan pada pria yang merupakan suami orang itu. Ia kini menggendong putranya karena ingin segera pergi dari restoran.
"Tunggu, Diandra!" seru Yoshi yang masih ingin berbicara dengan Diandra. Hingga ia menoleh ke arah Austin yang melakukan hal sama sepertinya.
Jika ia tadi menahan pergelangan tangan kiri Diandra, kini melihat Austin menahan tangan kanan wanita itu.
"Jangan pergi. Tolong ceritakan memoriku yang telah hilang. Aku mengalami sebuah kecelakaan dan membuatku tidak bisa mengingat sebagian masa laluku. Aku merasa jika kita saling mengenal karena dari caramu melihatku, seperti sangat membenciku."
"Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu? Tolong jelaskan semuanya agar aku tahu apa yang terjadi di masa lalu." Austin bahkan masih enggan untuk melepaskan genggamannya karena takut kehilangan kesempatan untuk mencari tahu.
To be continued...
__ADS_1