
Hanya itulah yang terbesit di pikiran Diandra saat ini ketika kekhawatiran menghantuinya jika sewaktu-waktu Austin kembali mengingat semuanya. Apalagi dulu saat melakukan itu, ia masih perawan dan hal itulah yang membuat Austin terobsesi padanya.
'Aku tidak pernah menyangka jika Austin ternyata kehilangan sebagian memorinya dan bisa mempunyai filing begitu melihatku. Itu sangat berbahaya dan membuatku tidak bisa berpikir lain selain meminta tolong atau lebih tepatnya memanfaatkan Yoshi.'
Diandra yang sibuk bergumam sendiri di dalam hati, merasa sangat lega karena ia tadi hanya menggantung ceritanya saat berbicara dengan Austin. Jadi, berpikir jika Austin akan mempercayai semua perkataannya jika mengarang sebuah kebohongan jika pria yang sangat dibencinya itu mengingat kembali semuanya.
Tentu saja Yoshi saat ini merasa memiliki sebuah jalan untuk bisa selalu berada di sisi Diandra. Tanpa pikir panjang, ia saat ini langsung mengangguk penuh keyakinan.
"Aku sama sekali tidak keberatan, Diandra. Aku bersedia menjadi ayah dari puttamu," jawab Yoshi dengan sangat yakin tanpa keraguan.
Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas saat membayangkan jika ia bisa menikahi Diandra dan menjadi ayah untuk bocah laki-laki tersebut. Bukan hanya untuk menipu Austin yang saat masih mengalami amnesia.
"Terima kasih, Yoshi. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa untuk mengakui Aksa sebagai seorang putra demi menghindari Austin. Aku harus berjaga-jaga dan mulai memikirkan sekarang." Diandra mengulurkan tangannya dan menyunggingkan senyumnya.
Refleks Yoshi langsung menyambut uluran tangan Diandra dan menjabat tangan wanita yang miring ke arahnya.
"Jangan sungkan padaku, Diandra. Seperti dulu, aku akan selalu ada untukmu. Meskipun aku dulu tidak bisa memenuhi janjiku padamu, tapi aku berharap sekarang bisa menebusnya." Yoshi kemudian menatap ke arah sosok anak laki-laki yang duduk di kursi depan itu.
"Sebagai awal perkenalan untuk putraku, aku ingin membelikannya mainan apapun yang diinginkannya. Boleh, kan aku menggendongnya?" tanya Yoshi yang kini beralih kembali pada Diandra untuk meminta izin.
Karena memang butuh pendekatan antara putranya dengan Yoshi yang akan dijadikannya kambing hitam, akhirnya tanpa pikir panjang, Diandra langsung mengangguk setuju.
Ia menatap ke arah putranya yang kini masih memegang mobil-mobilan. "Sayang, ini Papa. Ayo, panggil papa."
"Pa ... pa?" Aksa seketika menatap ke arah belakang dan menuruti perintah dari sang ibu. "Papa."
"Anak Mama pinter banget ya. Papa mau membelikan Aksa banyak mainan. Aksa sayang papa, kan?" Diandra sebenarnya merasa sangat aneh mengatakan itu pada putranya, tapi karena berpikir jika itu demi kebaikan, sehingga berusaha untuk membiasakan diri.
__ADS_1
"Sayang," sahut Aksa yang kini menunjukkan mobil di tangannya dan berbicara tidak jelas yang mengatakan ingin dibelikan mainan.
Yoshi yang sama sekali tidak menyangka akan bisa dipanggil papa saat ia divonis mandul, sehingga membuatnya merasa sangat bahagia. Bahkan kebahagiaan tak terperi dirasakannya saat ini, sampai bulir air mata memenuhi bola matanya.
"Ya Allah, jadi seperti ini rasanya dipanggil papa saat aku tidak bisa memiliki keturunan? Rasanya seperti alam semesta berada di tanganku saat ini." Yoshi berbicara dengan suara serak kala meluapkan kebahagiaan yang dirasakan ketika hal yang dipikir mustahil baginya, kini bisa dirasakan.
Diandra yang kini merasa sangat iba melihat Yoshi karena ditakdirkan tidak akan pernah bisa memiliki keturunan, membuatnya menepuk pundak kokoh pria yang saat ini mengusap kepala putranya.
"Sabarlah, Yoshi. Aku yakin ada hikmah di balik semuanya. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya. Yakinlah itu. Bahwa suatu saat nanti, akan ada kebahagiaan untukmu. Aku contohnya. Dulu aku sangat menderita, tapi sekarang aku sangat bahagia memiliki puttaku."
Diandra yang bisa melihat ekspresi penuh kesedihan dari Yoshi, berharap kata-katanya yang singkat bisa menghibur pria yang bernasib malang itu.
Yoshi sebenarnya tidak yakin dengan kalimat penghiburan dari Diandra, tapi ia berusaha untuk tersenyum. Meskipun ia tahu jika kebahagiaannya saat ini ada di depan mata dan sama sekali tidak disadari oleh Diandra.
"Terima kasih, Diandra. Aku akan selalu mengingatnya. Biarkan aku menggendong putraku," ucap Yoshi yang saat ini sangat berharap jika hari ini bisa mendekatkan diri dengan Aksa.
Yoshi kini sudah menggendong Aksa dan keluar dari mobil. Bisa dilihatnya Aksa saat ini memeluknya begitu digendong.
"Pilih mainan sepuasnya, Sayang. Papa akan membelikan banyak mainan." Yoshi ingin mendekatkan diri dengan Aksa agar tidak ada rasa asing di antara mereka ke depannya.
Sementara itu, bocah laki-laki itu bersifat kegirangan begitu mendengarnya dan begitu melihat banyak mainan di depannya, langsung menunjuk ke arah rak yang dihiasi beberapa yang disukai.
Diandra awalnya berpikir hanya ingin pengakuan dalam bentuk lisan dari Yoshi. Bukan menjadi ayah betulan, tapi melihat respon dari Yoshi yang berusaha mengambil hati putranya, membuatnya tidak tega untuk menolak.
'Kasihan sekali Yoshi. Seandainya aku bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Sayangnya aku tidak bisa,' gumam Diandra yang saat ini hanya membiarkan Yoshi dan putranya berbuat sesuka hati.
Ia yang selama ini menjadi sosok wanita dingin, seolah langsung mencair begitu melihat wajah Yoshi. Dinding pembatas yang selama ini dibangun kokoh dan tinggi, tidak berlaku di depan pria yang pernah menjadi satu-satunya orang yang dipercaya dan satu-satunya pusat harapan.
__ADS_1
Yoshi melangkahkan kaki panjangnya untuk mengambil troli dan menurunkan Aksa di sana. "Pilih yang mana lagi, Putraku?"
"Yang itu, itu dan itu." Aksa kini kembali menunjuk beberapa mainan yang disukainya.
Yoshi dengan bibir yang selalu mengulas senyuman, kini mengambil apapun yang diminta oleh bocah di dalam troli tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara perut keroncongan Diandra dan seketika menoleh ke belakang. "Sepertinya kalian belum makan. Habis ini kita pergi makan saja di warung sebelah."
"Bukankah kamu dulu lebih suka makan di warung pinggir jalan? Apalagi warung di depan perusahaanku makanannya sangat enak. Aku setiap makan siang selalu ke sana dan pasti ditanya oleh pemilik warung, di mana kamu."
Masa-masa sulit dulu ketika berpisah dengan Diandra, membuatnya selalu ingin mengenang semuanya, yaitu pergi ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi berdua. "Aku awalnya beralasan kamu tidak bisa ikut karena ada kerjaan tambahan, tapi lama-kelamaan mereka mengerti dan tidak bertanya lagi."
Diandra yang tadinya seketika langsung memegangi perut karena merasa malu, kini terdiam karena perkataan Yoshi. Ia makin canggung mengingat masa lalu yang paling indah ketika menjalin hubungan dulu.
"Ternyata kamu masih mengingatnya. Selama ini aku berpikir kamu sudah lupa dan hidup berbahagia dengan istrimu, tapi ternyata jauh lebih menderita," ucap Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah putranya. "Putraku pasti juga lapar. Sepertinya sudah cukup mainannya, Sayang. Sekarang kita mamam dulu, ya?"
"Mamam." Aksa mengusap perutnya yang datar untuk menunjukkan jika ia lapar.
Sementara itu, Yoshi yang tadi sudah makan bersama klien tadi di restoran, tidak mengatakannya karena ingin makan dengan Diandra dan Aksa.
"Aku tidak pernah melupakannya. Sudahlah, lupakan masalahku dan tidak perlu membahas itu karena aku tidak suka melihatmu merasa iba padaku." Kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar sepuluh mainan yang diambil Aksa tadi.
Dalam hati, ia tengah menimbang-nimbang apa yang ingin ditanyakan pada Diandra, seolah merasa takut jika wanita itu merasa kesal padanya. Akhirnya ia mengurungkan niatnya.
'Sabar, Yoshi. Kamu tidak boleh terburu-buru untuk mengungkapkan niatmu menikahi Diandra dan menjadi ayah Aksa. Semuanya butuh waktu dan semoga kali ini takdir berpihak padaku.'
To be continued...
__ADS_1