
"Stop, Nyonya! Di dunia ini tidak ada orang pembawa sial, tapi semua kejadian buruk yang terjadi sudah diatur oleh Tuhan karena lebih berkuasa untuk melakukan apapun." Austin yang tadi langsung melihat respon dari ibu Diandra ketika mendapatkan kemurkaan dengan menyebut putrinya sebagai wanita pembawa sial.
Ia tahu jika semua orang tua akan merasa terpukul saat melihat anaknya meregang nyawa setelah mengalami kecelakaan, tapi itu bukan berarti tidak memperdulikan perasaanmu orang lain.
Apalagi hal yang sama juga tengah dirasakan oleh orang tua Diandra karena memiliki seorang putri yang mengalami kecelakaan di hari pernikahan. Ia ingin menghibur dan membela ibu Diandra yang hanya diam saat mendapatkan sebuah kemurkaan.
Hingga ia mendapatkan sebuah sentuhan di pundaknya dari ibu Diandra yang menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Semua ibu pasti akan berekpresi seperti ini saat mengalami shock dan kesedihan luar biasa." Wanita paruh baya tersebut sebenarnya merasa bahwa saat ini mendapatkan sebuah penghinaan dan membuatnya sadar diri tidak sederajat dengan keluarga besannya tersebut.
Jadi, memilih diam dan tidak ingin menanggapi kemurkaan dari ibu Yoshi yang tengah dikuasai oleh kesedihan luar biasa.
"Tapi, bukankah Ibu juga merasakan hal yang sama? Namun, Ibu sama sekali tidak melakukan hal yang sama dengan mengumpat." Austin tidak bisa diam saja karena saat ini berpikir bahwa ibu dari Yoshi tetap saja bersalah.
Namun, ia kini mendapatkan sebuah kode dari pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Diandra. Akhirnya terpaksa ia diam dan tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
Sebenarnya, sebagai seorang kepala keluarga, ayah Diandra berniat untuk membalas hinaan dari ibunya Yoshi pada putrinya, tapi ia merasa akan percuma dan sama saja berdebat dengan orang egois.
Bahwa emosi tidak akan hilang jika dilawan dengan hal yang sama. Jadi, ingin ada ketenangan di depan ruangan operasi. Ia hanya ingin berdoa agar operasi putri dan menantunya berjalan lancar dan keduanya selamat.
Kini, ia menatap ke arah pria dengan tubuh tinggi tegap yang pernah diyakini akan menjadi menantunya, tapi takdir berkata lain.
"Semua orang saat ini sangat shock dan sedih. Jadi, sebaiknya kita tidak mengambil hati apa yang dikatakannya oleh Nyonya Asmita," lirihnya pada istri dan Austin.
"Iya, lebih baik kita berdoa saja untuk Diandra dan Yoshi agar bisa selamat." Ibu dari Diandra yang baru saja menutup mulut, jin mendengar suara pintu yang terbuka.
Ia beralih menatap ke arah pintu ruangan operasi yang terbuka dan dilihatnya dua dokter berjalan keluar.
__ADS_1
Refleks semua orang langsung berjalan mendekat untuk menanyakan bagaimana keadaan pasangan suami istri yang baru saja mengalami kecelakaan tersebut.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" sahut pasangan suami istri tersebut dengan bersamaan
"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" ucap Asmita Cempaka yang kini sudah dipeluk erat oleh adiknya yang dari tadi berusaha untuk menghibur agar tidak terbawa emosi.
Sementara itu, Dokter yang saat ini hanya mengamati raut wajah penuh kesedihan dari orang-orang di hadapannya, hanya bisa mengungkapkan apa yang terjadi.
Meski sebelumnya menghela napas berat sebelum mengatakan hasil dari operasi beberapa saat lalu.
"Dengan sangat menyesal kami memberitahukan kabar buruk ini. Bahwa pasien laki-laki mengalami kematian otak dan berakhir koma karena benturan kepala yang sangat keras saat kecelakaan."
"Tidak!" Suara teriakan histeris dari sosok wanita paruh baya yang tidak lain adalah Asmita Cempaka sudah memenuhi area depan ruangan operasi tersebut.
"Putraku akan sembuh dan tidak mengalami itu." Asmita Cempaka kini meraih telapak tangan sang dokter. "Tolong selamatkan nyawa putraku, Dokter! Kematian otak, itu sama saja dengan kematian secara perlahan. Aku akan membayar berapapun demi kesembuhan putraku."
"Kakak, tenanglah. Dokter pasti akan melakukan hal terbaik untuk Yoshi," ucap pria berusia 45 tahunan yang merupakan saudara laki-laki dari Asmita Cempaka yang terlihat sangat shock.
Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada sang kakak jika garis takdir semua orang sudah ditentukan.
Bahwa jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh Tuhan dan manusia hanya bisa mengikuti semua yang direncanakan oleh Tuhan. Namun, ia sadar jika menasihati orang yang sedang terpuruk hanya akan menambah masalah makin kacau balau.
Jadi, ia hanya bisa memeluk erat tubuh sang kakak dan berharap bisa menyalurkan aura positif.
"Tidak! Bagaimana aku bisa tenang atau menerima takdir kejam ini padaku. Suamiku sudah meninggalkanku dan aku tidak ingin putraku pun pergi menyusulnya. Aku lebih baik ikut menyusul mereka daripada harus berada di dunia ingin sendirian!" sarkas Asmita Cempaka yang tidak memperdulikan tatapan semua orang padanya.
Saat ingin, ia melepaskan pelukan dari adiknya karena ingin berbicara dengan sang dokter. "Jika rumah sakit ini tidak bisa menyembuhkan putraku, aku akan membawanya ke luar negri!"
__ADS_1
"Anda bisa melakukannya setelah pasien lepas dari masa kritis, Nyonya. Saat ini, putra Anda hanya bergantung hidup pada alat-alat medis. Jika Anda nekad membawa ke luar negri, harus menandatangani surat pernyataan jika sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, tidak akan menuntut pihak terkait di Rumah Sakit ini."
Sang dokter yang menangani pengantin pria tersebut sempat kesal karena berpikir jika apa yang dilakukannya secara terbaik hari ini sama sekali tidak dihargai. Namun, ia tahu jika itu semua karena efek kesedihan luar biasa dari seorang ibu.
Saat ini, Asmita Cempaka merasa dunianya seperti runtuh saat itu juga dan tiba-tiba pandangannya kabur dan lama-kelamaan gelap. Hingga ia pun kehilangan kesadaran karena menanggung beban berat mengenai keadaan putranya.
Refleks pria yang merupakan saudara laki-laki tersebut langsung menahan tubuh sang kakak dan membawanya ke ruangan gawat darurat karena khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk.
Sementara itu, orang tua Diandra kini juga merasa sangat takut akan hal buruk yang terjadi pada putri mereka. Mendengar tentang keadaan menantunya saja sudah membuat mereka sangat shock. Namun, ingin segera mengetahui bagaimana keadaan dari putri mereka.
"Lalu, kondisi putri kami setelah dilakukan operasi bagaimana, Dokter?" tanya seorang ibu dengan wajah sangat pucat itu.
"Untuk pasien wanita, tadi sempat mengeluarkan banyak darah saat dilakukan operasi. Nasib baik semuanya terkendali setelah dilakukan transfusi. Kita tinggal menunggu pasien sadar." Sang dokter saat ini tengah menatap ke arah orang tua pasien yang mulai bernapas lega.
"Terima kasih, Dokter," sahut pasangan suami istri tersebut bersamaan.
Hal yang sama dilakukan oleh Austin yang merasa sangat lega karena Diandra tidak mengalami nasib buruk seperti Yoshi.
'Syukurlah kamu selamat, Diandra. Aku benar-benar sangat lega dan senang,' lirih Austin yang kini kembali mendengar perkataan dari sang dokter.
"Pasien akan dipindahkan ke ruangan ICU dan setelah sadar, itu berarti telah melewati masa kritisnya." Sang dokter kemudian berjalan meninggalkan keluarga pasien.
"Terima kasih, Dokter." Ayah Diandra mengungkapkan syukur pada Tuhan dan juga dokter yang telah menyelamatkan nyawa putrinya.
Sementara itu, Austin saat ini tengah sibuk dengan pikirannya saat ini ketika menatap sosok bocah laki-laki di gendongan pria paruh baya tersebut.
'Apa aku tanyakan tentang perihal anak ini? Apalagi tadi Diandra menyebut nama Aksa sebelum kehilangan kesadaran. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu padaku, tapi sepertinya itu tidaklah sopan karena saat ini Diandra masih belum sadarkan diri.'
__ADS_1
To be continued...