Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Video call


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Austin terbangun dari tidurnya karena ponselnya berdering. Ia segera turun dari ranjang dan mengambil ponsel yang ada di atas laci. Tidak ingin sang istri yang sedang tertidur pulas itu terbangun, buru-buru ia berjalan keluar untuk menerima panggilan dari orang suruhannya yang mengawasi ibu dan anak di London.


Dengan suara serak karena efek bangun tidur, ia pun kini menggeser tombol hijau ke atas. "Apa kau berhasil mencari bukti untuk menghukum wanita jahat itu?"


Sebenarnya semalam ia menghubungi orang suruhannya untuk memeriksa CCTV agar mengetahui saat berbicara dengan Diandra karena telah memfitnahnya. Dengan tuduhan pencemaran nama baik, ia akan menggugat agar keluarga Yoshi yang selalu mengancamnya mendapatkan hukuman setimpal.


Bahkan paman Yoshi juga terlibat karena mengatakan semuanya pada sang istri serta mengirimkan teror, tapi masih mengumpulkan bukti.


"Ya, Tuan. Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di ruangan itu dan sudah meminta salinannya. Ada satu hal lagi. Pria bernama Yoshi itu telah benar-benar pulih dan sekarang bisa kembali seperti semula," ucap sosok pria yang saat ini berbicara di depan Rumah Sakit besar London.


Austin yang kini merasa sangat lega karena akhirnya bisa memberikan hukuman pada sosok wanita yang ingin menghancurkan rumah tangganya.


"Baguslah. Kalau begitu kirimkan padaku. Kebetulan Yoshi sudah pulih, jadi ibunya tidak perlu menjaganya lagi karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi." Ia saat ini berjanji tidak akan memberikan ampun pada siapapun yang mengusik keluarganya.


Bahkan sudah membayangkan bagaimana ekspresi wajah wanita yang dianggap tidak punya hati itu ketika ditangkap oleh aparat kepolisian.


'Pasti wanita jahat itu akan berteriak dan tidak merasa bersalah karena akan menyalahkanku. Yoshi pun harus tahu bahwa ia mempunyai seorang ibu yang sangat jahat.'


'Meskipun nanti Yoshi akan membenciku karena memenjarakan ibunya, aku sama sekali tidak takut jika ia membalas dendam,' gumamnya mengepalkan tangan ketika mengingat ekspresi wajah wanita yang telah memfitnahnya di depan sang istri.


"Baik, Tuan. Saya akan kirimkan sekarang." Kemudian pria itu langsung mengirimkan rekaman salinan dari CCTV di rumah sakit.


"Baiklah. Aku juga akan transfer uangnya." Kemudian Austin mematikan sambungan telepon karena saat ini tidak sabar ingin melihat seperti apa rekaman yang didapatkan oleh orang suruhannya.


"Terima kasih, Tuan Austin."


Austin yang tidak menjawab karena langsung mematikan sambungan telepon, kini menepati janji dengan mentransfer sejumlah uang.


Begitu notifikasi masuk, ia langsung melihat rekaman yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Ia bahkan sesekali tertawa karena merasa sangat kesal sekaligus marah karena wanita yang sangat dibencinya telah memutar balikan fakta.


"Wah ... wanita itu sangat pandai berakting dan pantas mendapatkan penghargaan. Seharusnya dia menjadi artis film saja daripada memfitnahku." Saat ia baru selesai menontonnya, mendengar suara dari dalam ruangan.


"Sayang!"


Refleks ia langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan berjalan masuk begitu mengetahui jika sang istri sudah terbangun dari tidur.


Begitu masuk ke dalam dan berjalan mendekati wanita yang masih berbaring telentang di atas ranjang dan terlihat mengerucutkan bibir seperti kesal.


"Kamu sudah bangun, Sayang?"


"Kamu dari mana saja? Rasanya sangat tidak nyaman tidur tanpa dipeluk." Diandra yang merasa sangat kesal karena sang suami bangun tanpa membangunkannya, sehingga ketika membuka mata dan tidak menemukan pria yang dicintai, membuat moodnya pagi ini berubah buruk.


Austin saat ini hanya terkekeh geli melihat sang istri yang seperti anak kecil. Namun, sangat senang melihatnya karena tidak malu lagi mengungkapkan semua perasaan padanya.


Ia langsung mencium kening serta pipi kanan kiri sekaligus bibir wanita dengan raut wajah masam itu. "Aku baru saja menerima telepon dari orang suruhanku yang berada di London, Sayang."


Austin sengaja tidak melanjutkannya karena ingin sang istri merasa penasaran dan tidak lagi marah padanya.


"Ada kabar apa memangnya? Apakah terjadi sesuatu hal yang buruk?" Wajah kesal Diandra seketika berubah menjadi raut penasaran.


Ia yang selama ini berpikir menjadi orang bersalah untuk Yoshi, sekarang sudah tidak menganggapnya seperti itu begitu mengetahui cerita sebenarnya dari semua orang. Bahkan merasa sangat lega karena tidak ada hubungannya.


Austin kini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah kiri sang istri dan menjelaskan semuanya. Bahwa orang yang bersalah harus membayar perbuatannya karena di dunia ini ada hukum tabur tuai.


"Kamu tidak keberatan kan, jika aku menjebloskan ibunya Yoshi ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya Austin yang ingin meminta pendapat dari sang istri.

__ADS_1


Diandra seketika terdiam karena merasa bingung. Ia berpikir jika ibu Yoshi tidak melakukan perbuatan jahat dengan menyakitinya, tapi hanya menipunya. Jadi, merasa ragu apakah pantas jika itu dilakukan.


"Memangnya ada hukuman untuk menjerat orang yang menipu? Bukankah itu sangat ringan, Sayang? Kita tidak menjadi orang kejam jika melakukannya, kan?" tanya Diandra yang kini merasa ragu.


Austin memicingkan mata karena tidak sependapat dengan sang istri dan merasa heran dengan pemikiran wanita yang saat ini beranjak dari posisinya.


"Maksudmu, wanita jahat itu melakukan perbuatan ringan saat memfitnahku? Kamu bahkan hampir saja pergi dengan kondisi hamil dan itu bisa berakibat fatal jika sampai terjadi. Apakah fitnah yang ditujukan padaku tidaklah berarti untukmu?" Austin ini malah bertambah besar pada sang istri karena menganggap jika wanita di hadapannya tersebut baik pada orang lain, tapi tidak padanya.


Apalagi sangat membencinya hingga berlangsung bertahun-tahun dan tidak mau memaafkannya, tapi malah dengan mudah ingin membebaskan orang yang bersalah.


'Jika saat ini istriku tidak hamil, mungkin sudah mengajaknya berdebat habis-habisan untuk menyadarkannya agar tidak terlalu polos pada orang jahat,' gumamnya dengan menatap kesalahan pada sang istri yang masih diam saja.


Diandra saat ini tidak bisa menjawab kekesalan dari Austin karena memang semua itu sangatlah benar dan merupakan faktanya. Akhirnya ia merasa bersalah pada sang suami karena iba pada orang lain.


"Maaf," lirihnya dengan raut wajah menyesal.


Ia bahkan saat ini menggenggam erat telapak tangan sang suami untuk meredam amarah pria itu dan menunjukkan penyesalannya. "Lakukan apapun yang menurutmu benar, Sayang. Aku memang bersalah jika membiarkannya."


Awalnya Austin merasa kesal pada sang istri, tapi begitu melihat jika wanita yang selalu arogan di depannya terlihat benar-benar menyesal, sehingga membuatnya langsung memeluk erat tubuh kurus itu dan mengusap bagian punggung dengan sangat lembut.


"Iya, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau mengerti apa yang kurasakan. Aku sebagai kepala keluarga harus melindungi rumah tangga kita dari orang-orang jahat. Bukankah begitu?" Masih tidak melepaskan pelukannya dan merasakan Diandra saat ini menganggukkan kepala sebagai persetujuan.


Diandra kini melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh sang suami dan benar-benar menyesal karena tidak bisa membantu, tapi malah selalu merepotkan.


"Iya, Sayang. Aku akan selalu mendukungmu karena apapun itu pasti adalah merupakan jalan yang terbaik untuk keluarga kecil kita." Diandra yang baru saja menutup mulut, kini merasakan cacing-cacing di perutnya berbunyi. "Sepertinya anak-anak kita lapar."


Austin yang saat ini menarik diri dengan melepaskan pelukan, mengusap perut datar sang istri. "Biasanya pagi-pagi sekali sudah datang sarapan untuk pasien. Tumben belum datang."


Saat ia baru saja selesai berbicara, pintu terbuka dan melihat perawat membawa makanan. "Kebetulan sekali, Sayang."


"Terima kasih," sahut Austin yang saat ini sudah menerima menu makanan untuk sang istri dan berniat menyuapinya begitu perawat keluar dari ruangan.


Diandra yang selama ini tidak suka makan makanan dari rumah sakit, langsung menggelengkan kepala. "Aku tidak mau makan itu."


Austin yang tadinya berniat untuk membuka kotak makan tersebut, tidak jadi melakukannya. "Lalu? Kamu mau makan apa, Sayang?"


"Makan nasi lemak dengan rendang. Pasti sangat enak. Aku sudah membayangkannya makan dengan tangan telanjang." Diandra pagi ini tiba-tiba mengidam ingin sesuatu yang gurih.


Jadi, berharap sang suami mau menurutinya karena selama hamil pertama dulu tidak bisa meminta pada siapapun karena selalu memendamnya sendiri. Ia dulu tidak ingin merepotkan orang yang menolongnya dan sudah dianggap sebagai orang tua kandungnya sendiri.


Jadi, sekarang tidak ingin menahan apapun yang diinginkannya karena ada sang suami yang sangat mencintainya dan mau melakukan apapun untuknya.


"Baiklah. Aku pesan lewat aplikasi dulu." Austin bukan niat untuk membuka aplikasi makanan pesan antar, tapi laki-laki dilarang oleh sang istri yang membuatnya makin bingung.


"Tidak. Aku inginnya kamu membeli sendiri dan pastikan tempatnya bersih. Mau pinggir jalan tidak apa-apa, yang penting bersih." Diandra memang dari dulu tidak suka makan di restoran karena berpikir jika warung pinggir jalan jauh lebih enak rasanya.


Ia bahkan merasa jika makanan mahal sangat tidak cocok dengan lidahnya karena lebih menyukai makanan lokal.


"Jadi, kamu sendirian di kamar tanpa ada yang menemani?" Austin sebenarnya merasa ragu sekaligus khawatir meninggalkan sang istri.


Ia tidak mungkin menyuruh bodyguard untuk masuk ke dalam karena hanya menunggu di depan pintu. Jadi, merasa ragu untuk pergi melaksanakan perintah dari sang istri.


"Iya, tidak apa-apa aku sendirian. Aku akan menunggumu dengan menonton TV atau melihat sosial media," ucap Diandra yang tidak ingin sang suami merasa khawatir padanya dan agar segera pergi untuk membelikan makanan yang ingin dimakannya pagi ini.


"Baiklah kalau begitu. Nanti telepon aku jika ada apa-apa. Pengawal juga ada di depan dan bisa kamu panggil jika membutuhkan sesuatu. Aku cuci muka dulu." Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus gosok gigi.

__ADS_1


Diandra yang tadi langsung mengiyakan perintah dari sang suami, kini tersenyum dan sangat senang karena kali ini bisa mendapatkan apapun yang diinginkan karena ada pria yang selalu di sisinya.


"Nikmat mana lagi yang kau dustakan," lirihnya sambil tersenyum dan mengisi waktu dengan mengambil ponsel di dalam laci.


Ia membuka ponsel miliknya dan di saat bersamaan mendengar suara notifikasi masuk. Kini, ia membaca pesan dari wanita yang tadi baru saja dibicarakan.


Diandra, kamu tidak jadi pergi ke sini?


Ia saat ini terdiam beberapa saat karena merasa bingung harus menjawab apa. Tidak ingin ketahuan jika ia sudah mengetahui niat jahat wanita itu, akhirnya membalas dengan mengarang sebuah cerita palsu.


Aku menunda pergi karena saat ini Austin mengalami kecelakaan dan ada pengawal yang berjaga, jadi tidak bisa pergi begitu saja. Nanti aku kabari Mama jika sudah tiba saatnya.


Kemudian langsung mengirimkan pesan itu. Di dalam hati ia merasa bersalah, tapi tetap saja berbohong demi kebaikan agar bisa mendukung sang suami yang ingin menangkap wanita itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


'Maafkan aku, Ma. Mungkin mama akan semakin membenciku setelah ini. Aku akan menerimanya dan tidak akan membantahnya,' gumam Diandra yang saat ini baru saja menatap sang suami sudah keluar dari kamar mandi dan terlihat segar.


Austin yang saat ini berniat untuk mengambil dompet di laci, mengerutkan kening melihat ekspresi wajah sang istri yang sangat mencurigakan. "Ada apa, Sayang?"


Diandra seketika menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh ibunya Yoshi. "Aku benar, kan membalas seperti ini?"


Austin beberapa saat membaca pesan yang ditunjukkan dan seketika melakukan kepala. "Ya, ini sudah benar karena wanita itu tidak boleh mengetahui jika kamu sudah mengerti dengan akal bulusnya. Aku pergi dulu dan ingat jangan terbujuk dengan apapun yang dikatakan oleh wanita jahat itu, mata aku akan menyita ponselmu."


"Iya ... iya, Sayang. Aku bukan anak kecil yang suka diancam lho. Sudah sana pergi. Anak-anak kita sudah kelaparan ini." Mengibaskan tangan agar sang suami segera pergi membelikan pesanannya.


"Anak-anak kita dan mamanya." Kemudian Austin mencium kening sang istri sebelum pergi dan melambaikan tangannya setelah berjalan menuju ke arah pintu.


Sementara itu, Diandra hanya tertawa kecil saat diingatkan oleh sang suami yang kini sudah menghilang di balik pintu. Kemudian ia kembali beralih menatap ke arah ponselnya yang tidak mendapatkan balasan lagi.


"Pasti saat ini mama sangat kesal karena rencananya tidak berhasil untuk menjebakku." Saat ia berniat untuk scroll media sosial, melihat ada panggilan masuk dan dari wanita yang merupakan mantan mertuanya.


Degup jantungnya seketika tidak beraturan dan ia menelan saliva dengan kasar karena merasa gugup. Ia tiba-tiba merasa takut berbicara dengan mantan mertuanya yang dianggap playing fighting.


Ia takut terbawa oleh fitnah wanita itu dan lebih mempercayainya, jadi kini membiarkannya tanpa menjawab. "Aku tidak boleh mengangkatnya. Jika ada suamiku, mungkin aku berani. Tapi kenapa aku menjadi wanita penakut seperti ini?"


Merasa telah berubah menjadi wanita lemah dan pengecut, Diandra menyadari bahwa itu bukanlah dirinya. Akhirnya ia berubah pikiran dan memilih untuk menggeser tombol hijau ke atas. Hingga suara dari seberang telepon terdengar dan membuatnya kebingungan.


"Halo, Diandra?"


"Yoshi?" lirih Diandra dengan perasaan berkecamuk karena tidak menyangka jika yang berbicara bukanlah ibu mertuanya.


Ia merasa bingung harus mengatakan apa dan memilih untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan Yoshi.


"Akhirnya setelah sekian lama bisa mendengar suaramu lagi. Sudah berapa tahun berlalu? Sangat lama, kan?" Yoshi yang merasa keadaannya sudah jauh lebih baik, meminta sang ibu menelpon Diandra.


Ia benar-benar merindukan wanita yang sangat dicintainya itu. Hingga ia mengalihkan panggilan suara dengan video call. Berharap bisa melihat Diandra meski hanya di layar ponsel.


Sementara itu, Diandra saat ini masih menatap ponselnya yang meminta untuk digeser ke arah video call. Ia benar-benar belum siap untuk melihat sosok pria yang pernah membuatnya memutuskan untuk menikah.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku semakin merasa bersalah jika melihat wajah Yoshi,' gumam Diandra yang saat ini merasa ragu untuk menggeser panggilan tersebut.


"Kenapa tidak panggilan biasa saja? Kenapa harus panggilan video?" ucap Diandra panggilan telepon terputus.


Namun, ponselnya kembali berdering dan melihat nomor milik mertuanya masih menelepon. Bukan panggilan video yang dilakukan, ia pun langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Kenapa tidak mau mengangkat panggilan video, Diandra? Aku sangat ingin melihat seperti apa kamu yang sekarang," ucap Yoshi yang saat ini masih menunggu tanggapan dari wanita yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2