Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Karma


__ADS_3

Austin masih melihat siluet belakang dari sang ayah yang baru saja menghilang di balik pintu ruangan kerja. Begitu pintu sudah tertutup, refleks ia mengempeskan beberapa dokumen yang berada di atas meja hingga jatuh berhamburan di lantai.


"Berengsek! Kenapa semuanya malah jadi kacau seperti ini? Aku bahkan mengejek Yoshi dan merasa senang ia tidak bisa menikahi Diandra setelah dijodohkan, tapi kenapa sekarang aku malah mengalami hal yang sama?" Austin benar-benar tidak menyangka akan berada di posisi yang sama dengan pria yang paling dibenci.


"Aaaarggghh!" Austin berteriak dan memenuhi ruangan kerja dengan suaranya yang memekakkan telinga sambil mengacak frustasi rambutnya.


Ia bahkan menatap ke sekeliling ruangan kerja yang dan berusaha untuk menenangkan diri. "Aku harus mencari solusi dari masalah ini. Aku tidak ingin menikah dengan wanita lain selain Diandra."


"Aku tidak mungkin menghabiskan seluruh hidupku dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak berarti apa-apa di hatiku. Cinta akan datang seiring waktu, bagiku itu adalah hal yang mustahil karena saat ini hanya ada Diandra di hatiku." Masih menatap ke arah lantai yang dihiasi oleh beberapa dokumen, kini Austin mengembuskan nafas kasar.


Ia saat ini masih memijat pelipis dan berusaha untuk mencari sebuah jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.


"Aku tidak ingin bernasib sama dengan Yoshi menikah dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dicintai. Apalagi posisi kami sangat berbeda karena orang tuaku sehat-sehat saja dan tidak akan mengalami hal buruk seperti ayah Yoshi."


Kini, Austin berusaha untuk tenang dan memutar otak mencari sebuah solusi dari permasalahannya. Kini, suasana ruangan kerja terlihat sangat sunyi karena Austin masih berdiri di dekat meja kerjanya.


Hingga beberapa saat kemudian ia menemukan sebuah ide di kepalanya. "Aku akan menemui wanita itu di Singapura untuk mengatakan bahwa aku mencintai wanita lain dan tidak ingin menikah dengannya."


"Bahkan aku akan memohon padanya agar tidak membuat perusahaan bangkrut agar papa tidak merasa khawatir." Austin saat ini membuka ponselnya langsung memesan tiket pesawat ke Singapura untuk menemui sosok wanita yang tadi dilihatnya dari galeri ponsel sang ayah.


Ia sangat berharap jika wanita yang dianggap sangat hebat tersebut karena merupakan dokter bedah terkenal akan menolak perjodohan begitu mengetahui perasaannya pada wanita lain.


"Hanya itu satu-satunya hal yang bisa membuatku lolos dari perjodohan konyol ini. Aku sangat yakin jika wanita itu benar-benar berpendidikan, memiliki value yang tinggi, pasti tidak akan pernah mengemis cinta dari seorang laki-laki yang tidak menginginkannya.

__ADS_1


"Semoga wanita itu mengerti dan mau menolak perjodohan karena aku tidak mencintainya." Austin sudah memesan tiket pesawat menuju ke Singapura yang akan dilakukannya besok.


Karena hari ini ada banyak hal yang membuat kepalanya serasa mau meledak, ia kini menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja dan menatap kosong ke arah beberapa dokumen yang berhamburan di lantai.


Melihat banyak pekerjaan yang terlunta-lunta karena masalah yang dihadapi, ingin segera menyelesaikan. Ia benar-benar dipusingkan oleh masalah pribadi yang berhubungan dengan masa depannya.


"Diandra, apa yang akan terjadi pada kita? Apakah aku akan kehilanganmu? Apakah kamu akan menghilang selamanya dari pandanganku? Jika sampai aku gagal mempertahankan rasa cintaku padamu, bisa dibilang hanyalah seorang pecundang."


Austin kembali mengembuskan napas kasar dan kali ini merasa bahwa hidupnya tidak berjalan mulus seperti sebelum mengenal Diandra. "Kenapa semenjak bertemu denganmu, aku tidak bersemangat jika tidak melihatmu?"


Dengan menatap ke sembarang arah, Austin saat ini mengingat kenangan bersama dengan Diandra di hari terakhir melihatnya. Kini, ia membuka ponsel miliknya dan melihat galeri.


Di mana di sana ada foto-foto Diandra yang pernah tertidur di ranjangnya. Wajah damai wanita di kamera tersebut membuatnya bergerak mengusap layar.


"Sampai aku tidak tahu kepergianmu yang tiba-tiba tanpa pesan apapun. Hingga sekarang terulang kembali dan serasa aku mengalami Dejavu." Austin yang baru saja menutup mulut, ketukan pintu dari luar.


Hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka dan melihat asisten pribadinya berjalan mendekat sambil melihat beberapa dokumen yang berserakan di lantai karena polanya.


"Presdir?" Daffa merasa terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Ia sudah bisa menebak apa yang membuat bosnya tersebut memporak-porandakan dokumen yang harusnya ia ambil setelah ditandatangani.


"Saya berniat untuk mengambil dokumen yang sudah ditandatangani, Tuan." Kemudian meletakkan beberapa dokumen lain yang sudah diperiksanya dan ingin meminta tanda tangan.


Sementara itu, Austin yang sama sekali tidak mempunyai semangat kerja hari ini, menatap ke arah asisten pribadinya. "Aku ingin pergi ke suatu tempat. Jadi, bereskan semua pekerjaan di perusahaan."

__ADS_1


Kemudian ia sakit terdiri dari kursi kerjanya dan berjalan melewati asisten pribadinya. Namun, ia sebelumnya terlebih dahulu menepuk pundak kokoh asistennya tersebut.


"Otakku saat ini sedang tumpul dan tidak bisa memeriksa dokumen itu. Jadi, sekarang ingin menenangkan diri. Jika ada yang mencariku, katakan aku sedang ada meeting di luar." Austin rencana pergi ke apartemen untuk menenangkan diri.


Ia ingin mendinginkan otak yang serasa panas karena terlalu banyak diforsir untuk memikirkan masalah yang menimpanya hari ini.


Hingga ia pun merasa bahwa dunianya akan hancur jika menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintai dan harus menghabiskan waktu seumur hidup bersama dengan pasangan yang tidak diinginkan.


"Diandra, kamu di mana? Kalau perlu, aku ingin kawin lari denganmu sekarang juga tanpa mempedulikan keluargaku. Sialnya, kamu sama sekali tidak tertarik untuk menerima lamaranku. Apa kurangnya aku? Bukankah wanita ingin dicintai teramat besar oleh pasangannya?"


"Tapi sepertinya kamu tidak suka dicintai olehku, tapi sangat tergila-gila pada seorang Yoshi. Padahal aku sangat yakin jika cintaku jauh lebih besar dari Yoshi." Austin yang saat ini berada di dalam mobil, mengempaskan tangan pada kemudi.


Hingga ia pun kini menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan menuju ke arah jalanan menuju apartemen.


"Diandra, semoga aku bisa menemukanmu dan kita menikah. Aku hanya ingin menikah denganmu, bukan wanita lain." Menatap ke arah jalanan yang menampilkan banyak kendaraan melintas.


Hingga ia pun saat ini berpikir bahwa seseorang yang membuatnya tergila-gila itu adalah sebuah karma karena selama ini suka mempermainkan banyak wanita.


"Ternyata karma itu ada dan saat ini aku tengah mengalami hukum tabur tuai yang sering dikatakan oleh orang-orang. Baiklah, aku akan menjalani semua ini dengan baik dan berharap suatu saat bisa bersatu denganmu."


Austin menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan karena ingin segera tiba di apartemen. Melihat banyaknya kendaraan yang melintas, membuatnya merasa kesal karena mengingatkan saat ia gila mencari keberadaan Diandra yang kabur dari apartemen setelah bercinta dengannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2