
Diandra masih menunggu jawaban dari pria yang masih diam membisu di seberang telpon. Bahkan perasaan tidak karuan kini dirasakan olehnya jika hari ini gagal mendapatkan uang pinjaman untuk biaya rumah sakit, tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.
Ia tidak terlalu akrab dengan tetangga kos karena belum lama tinggal di sana, jadi sadar jika tidak mungkin dipercaya saat meminjam uang ketika baru kenal.
Sementara itu, ia berpikir bahwa sosok pria yang tak lain adalah bos di perusahaan akan ada sedikit harapan karena akan bekerja di sana dan bisa dipotong gaji untuk membayar utang nanti.
Diandra yang tidak berani membuka suara, beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari seberang telpon.
"Baiklah. Aku tunggu kau di sini. Akan aku kirimkan alamatnya, datanglah dengan naik taksi karena aku tidak mungkin balik ke sana untuk menjemputmu." Austin tersenyum smirk kala berbicara karena merasa telah menjadi pemenang.
Kemudian melanjutkan perkataannya kala Diandra menyetujui perintahnya. "Aku akan bilang pada para sahabatku bahwa tadi sedang mengerjai mereka, jadi mereka akan menarik kata-kata buruknya tadi."
"Meskipun itu tidak menghilangkan kekesalanku, tapi paling tidak nama baikku bisa dibersihkan. Jadi, cepat datang ke sini memakai pakaian paling cantik yang kamu punya dan juga memakai riasan agar wajahmu tidak pucat seperti mayat hidup."
Saat Diandra hendak mengajukan pertanyaan, kini hanya menganga karena mendengar sambungan telpon sudah terputus sebelum ia sempat berkomentar.
"Astaga, sudah mati."
Diandra kini menatap ke arah benda pipih di tangannya dan membuatnya kesal. "Aku baru mau bilang kalau tidak punya gaun pesta. Bagaimana mungkin memakai pakaian paling bagus?"
Saat Diandra beranjak dari posisinya, hendak memeriksa pakaian paling bagus yang cocok digunakan ke pesta, kini menatap ke arah lemari plastik di hadapannya dan langsung mengeluarkan semuanya.
Hingga raut kekecewaan terlihat sangat jelas dari wajahnya dan mewakili perasaannya saat ini. "Tidak ada yang cocok untuk dikenakan ke pesta karena aku hanya punya celana jeans dan kaos serta kemeja saja."
"Disaat seperti ini, aku sangat menyesal karena dari dulu tidak suka memakai gaun dan lebih suka koleksi celana serta kaos polos. Sementara kemeja wanita ini adalah persiapan untuk bekerja di perusahaan jika diterima."
Saat ini Diandra memilih pakaian yang akan dikenakan, ia mendengar suara notifikasi dan begitu membacanya, seketika membulatkan mata.
"Waktumu hanya setengah jam, dimulai dari sekarang. Terlambat satu menit saja, aku akan memberimu pelajaran!" seru Diandra yang seketika menelan saliva dengan kasar dan tidak sempat untuk sekedar berkomentar.
Refleks ia buru-buru memakai pakaian yang menurutnya paling bagus, yaitu celana panjang berwarna biru dengan atasan kemeja dengan kerah tali berwarna peach.
"Sial! Aku sekarang seperti sedang dikejar hantu saja!" Diandra langsung meraih tas selempang setelah sebelumnya memasukkan bedak dan lipstik.
Itu adalah alat make up yang dimiliknya karena hanya memiliki itu saja. Jangankan untuk membeli peralatan make up yang banyak seperti para wanita lain, untuk makan saja ia harus berhemat.
Jadi, make up bukanlah sebuah hal penting untuknya. Ia berniat untuk memakai riasan begitu tiba di depan tempat yang dituju karena tidak akan memakai taksi seperti perintah pria yang membuatnya terpaksa bersikap manis demi bisa meminjam uang.
"Mana mungkin aku naik taksi, sedangkan uang di dompetku menipis dan sangat tragis." Kemudian ia memesan ojek online sambil keluar dari kamar kos.
Saat berjalan melewati beberapa kamar lain, ia mendengar suara dari salah satu teman kos.
__ADS_1
"Wah ... tumben mau keluar. Biasanya setiap malam kamu hanya diam di dalam kamar. Mau ke mana memangnya? Ada kencan ya?" tanya wanita dengan memakai kaos tanpa lengan dan hotpants.
Sementara itu, Diandra yang harus buru-buru, tapi tetap menjawab pertanyaan teman kosnya yang bernama Erin Saputri dengan sibuk menatap jam tangan. Mengetahui bahwa waktu tinggal 20 menit lagi dan ja benar-benar sangat gugup jika sampai terlambat.
"Aku ada janji dengan orang penting dan waktuku tinggal sedikit, jadi harus buru-buru. Besok aku ceritain!" seru Diandra yang kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu gerbang dan merasa lega ketika ojek yang dipesan sudah datang.
"Mbak Diandra?" tanya tukang ojek yang langsung menyerahkan helm pada wanita yang menganggukkan kepala tersebut.
"Bang ngebut aja karena ini menyangkut hidup dan mati saya!" Diandra langsung menerima helm dan memakainya, lalu naik ke atas motor.
"Baik, Mbak."
Kemudian pria yang langsung menjalankan motornya tersebut menyusuri gang dan mulai menambah kecepatan begitu tiba di jalan raya utama.
Diandra yang tadi bahkan tidak sempat menyisir rambut karena hanya langsung mengikatnya agar saat terkena angin ketika naik motor tidak akan terlalu membuat kusut dan susah disisir.
Bahkan ia sebentar-sebentar menatap ke arah jam tangan di pergelangan tangan kiri dan menghitung sisa waktunya.
Sementara itu, tukang ojek yang mengetahui bahwa penumpang wanita itu akan pergi ke Club, merasa sangat heran dengan penampilannya.
'Wanita ini pergi ke Club dengan memakai pakaian panjang seperti hendak pergi menghadiri acara resmi saja.'
"Lebih cepat lagi, Bang. Waktu saya tinggal sepuluh menit lagi." Diandra tadinya hanya diam dengan mengamati suasana kota Jakarta, di mana ada banyak bangunan menjulang tinggi di kanan kiri.
Ia bahkan merasa sangat kedinginan dan merutuki kebodohannya karena tidak memakai jaket. Kini, ia mengusap kedua lengan kala merasakan angin malam menembus pakaiannya dan menusuk kulit.
Saat pria yang mengantarnya mengatakan iya dan langsung menambah kecepatan, sebenarnya merasa sangat takut. Namun, berusaha untuk tenang, meskipun degup jantung tidak beraturan saat ini.
'Seumur-umur, baru kali ini aku naik motor dengan kecepatan tinggi. Padahal dulu selalu paling lambat mengendarai motor. Ayah, apapun akan kulakukan untuk membiayai rumah sakit. Jadi, ayah harus sembuh.'
Wajah Diandra yang terkena angin malam, kini membuat bola matanya berkaca-kaca. Namun, itu bukan karena terkena angin saat motor melaju dengan kencang, tapi karena ia sangat merindukan orang tuanya dan berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan mereka.
'Semoga ayah dan ibu panjang umur dan bisa melihat putrinya yang berusaha untuk merubah nasib demi bisa menjadi anak yang berbakti.'
Beberapa saat kemudian, motor yang membawa Diandra telah tiba di area depan Club malam.
"Sudah sampai, Mbak," ucap pria yang baru saja mematikan mesin motor.
Sementara itu, Diandra yang kini langsung turun dari motor, seketika melihat bangunan tinggi di hadapannya dengan mengerutkan kening.
"Ini ... Club?" tanya Diandra dengan pandangan tak percaya dan seketika memeriksa pesan dari atasannya yang bahkan tidak disadari mengirimkan alamat Club malam.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa harus di Club merayakan ulang tahunnya? Apa dokter itu tidak waras?" Diandra tersadar saat mengumpat kala tukang ojek menyahut.
"Bukankah tadi mengirimkan alamat Club ini, Mbak? Apa saya yang salah?" Pria dengan jaket khas berwarna hijau itu seolah ada yang sedang tidak beres dan berusaha untuk menjernihkan.
Sementara itu, Diandra yang menyadari kebodohannya karena tadi tidak sadar saat alamat yang dikirimkan jelas-jelas menyebutkan sebuah Club malam.
Ia kini melirik jam dan sedikit lega begitu mengetahui masih ada sisa waktu lima menit dan bisa digunakan untuk merias wajah agar tidak pucat seperti yang dikatakan oleh Austin. Refleks ia mengambil uang dalam dompet dan langsung memberikan pada sang tukang ojek.
"Aaah ... tidak apa-apa, Bang. Ini uangnya. Sisanya ambil saja. Saya buru-buru." Kemudian berlari ke arah sebelah kiri bangunan yang identik dengan minuman beralkohol itu.
Tentu saja kini Diandra langsung melepaskan ikatan rambut, lalu menyisirnya dan membiarkan tergerai. Kemudian mengaplikasikan bedak serta lipstik.
Merasa penampilannya tidak akan diejek seperti mayat hidup, kini Diandra berjalan menuju ke arah pintu masuk yang disambut dengan dua pria berbadan besar dan berpakaian hitam-hitam.
Bahkan ia menelan saliva dengan kasar ketika bulu kuduk meremang seketika saat masuk ke area dengan lampu remang-remang dan suara musik DJ mulai masuk indra pendengaran.
'Mimpi apa aku semalam hingga bisa masuk ke tempat mengerikan seperti ini.'
Diandra kini mengedarkan pandangan ke area sekeliling yang dipenuhi oleh para wanita berpenampilan seksi dan kebalikan darinya.
"Sepertinya pria itu mengirimkan alamat yang salah. Jika benar mengadakan pesta ulang tahun di sini, bagaimana bisa aku menemukan mereka di antara banyak orang yang memenuhi tempat ini."
Diandra kini memilih untuk menghubungi pria yang membuatnya berakhir di tempat menakutkan baginya. Hingga saat diangkat, ia langsung berbicara sambil berteriak-teriak karena tengah beradu dengan hentakan musik DJ.
"Halo, Tuan Austin. Saya sudah berada di dalam Club. Anda ada di mana?"
"Bilang saja pada salah satu pegawai untuk mengantarkanmu ke private room karena ada janji denganku."
Saat berbicara sambil melihat ke sekeliling, Diandra seketika memanggil salah satu pegawai dengan seragam hitam dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Mas ... Mas! Tolong antarkan saya ke private room karena ada janji dengan tuan Austin Matteo."
"Baik, Nona. Mari, saya antar karena kebetulan tadi tuan Austin sudah mengatakan agar mengantar kekasihnya masuk," ucap pria muda dengan setelan hitam yang langsung memberikan kode dengan membuka tangan dan berjalan lebih dulu.
Sementara itu, Diandra hanya menurut saja dan berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya tersebut yang langsung membuka pintu dan mempersilakan ia masuk.
"Terima kasih, Mas."
Tanpa membuang waktu, ia pun berjalan menuju ke arah pintu masuk dan seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya.
To be continued...
__ADS_1