
Diandra yang beberapa saat lalu masuk ke dalam apartemen setelah memencet passcode, merasa kehilangan kekuatan untuk berjalan dan lunglai begitu berada di dalam. Ia saat ini bersimpuh di lantai dengan pandangan kosong dan lama-kelamaan bulir air mata menganak sungai di wajahnya.
Ia saat ini tidak bisa melupakan apa yang baru saja diungkapkan oleh Austin tadi mengenai Yoshi. Hingga suara menyayat hati Kini memenuhi ruangan apartemen yang hanya ditinggali olehnya.
Bahkan Diandra membiarkan wajahnya dipenuhi oleh bulir kesedihan yang mengungkapkan kehancuran ketika pria yang sangat diharapkan bisa menjadi malaikat pelindungnya kini seolah tidak mendapatkan dukungan dari alam semesta untuk bersamanya.
"Kenapa saat aku memberikan hatiku pada pria sebaik Yoshi, tapi ditampar oleh kenyataan yang menyakitkan seperti ini? Kenapa semua tidak terjadi sebelum aku mempercayakan hidupku pada Yoshi?" Diandra bahkan berbicara dengan suara serak bercampur dengan air mata yang mewakili perasaannya saat ini.
Ia kembali merasakan berada di titik paling rendah sepanjang sejarah hidupnya. Bahkan sangat lelah karena selalu saja mendapatkan cobaan yang membuatnya seolah tidak kuat untuk menghadapi.
Berawal dari sang ayah yang terkena serangan jantung dan berakhir menjual harga dirinya pada Austin, sampai berakhir ditinggalkan oleh Yoshi yang berjanji akan membahagiakannya setelah mempunyai keinginan untuk menikahinya.
"Jika Yoshi besok benar-benar menikah, lalu bagaimana dengan nasibku yang terkatung-katung di sini? Aku tidak mungkin tetap bekerja di perusahaan dengan gosip sebagai kekasihnya. Pasti istrinya akan sangat terluka dan aku tidak ingin itu terjadi."
Diandra masih belum berniat untuk bangkit dari posisinya yang terlihat mengenaskan duduk di lantai dingin tanpa alas itu. Ia saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan apartemen yang beberapa hari ini ditempati olehnya karena kebaikan seorang pria yang sangat dicintai.
"Aku pun tidak mungkin terus berada di apartemen ini karena setelah Yoshi menikah, tidak ingin ada kabar buruk yang mengaitkan aku punya hubungan dengan suami orang." Diandra masih terdiam di lantai dan memikirkan sesuatu yang harus dilakukan olehnya.
"Aku harus pergi dari sini dan tidak ingin melihat Austin dan Yoshi lagi," ucap Diandra yang saat ini berusaha untuk menguatkan hati agar tidak sampai hancur karena kenyataan yang menimpanya.
__ADS_1
Kini ia berjalan menuju ke arah kamar dan berniat untuk berkemas. "Besok pagi-pagi sekali aku akan pergi dari sini karena tidak mungkin tengah malam begini pergi."
Saat Diandra baru saja masuk ke dalam ruangan kamar, indra pendengaran menangkap suara notifikasi dari ponsel miliknya dan begitu memeriksa siapa yang mengirimkan pesan, kembali bulir air mata lolos tanpa seizinnya.
"Dia pasti berpikir jika aku belum mengetahui tentang perjodohan orang tuanya." Diandra kini mengusap kasar bulir air mata yang memenuhi wajahnya saat ini dan mulai menggerakkan jemari lentiknya untuk mengetik balasan.
Aku akan selalu berdoa untuk ayahmu agar segera diangkat penyakitnya dan sembuh seperti sedia kala. Kamu yang sabar ya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja dan ini semua sudah diatur oleh Tuhan.
Meskipun ia berusaha untuk tidak menangis lagi saat memencet tombol kirim, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena lagi dan lagi bulir kristal bening itu sudah memenuhi wajahnya.
Hingga ia pun seketika membulatkan mata begitu ponsel di tangan berdering dan ada kontak pria yang sangat dikhawatirkannya itu menelpon setelah membaca pesan.
"Tidak mungkin aku berbicara dengannya karena pasti akan curiga. Tapi jika tidak mengangkat telpon, ia pasti akan berpikir macam-macam padaku," lirih Diandra yang kini mencoba untuk berdehem beberapa saat sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
Begitu ia selesai berdehem dan merasa suaranya kembali normal, kini mulai menggeser tombol hijau untuk mengangkat telpon. Namun, di saat bersamaan, panggilan terputus karena memang sudah berlangsung selama beberapa detik tadi.
"Syukurlah mati," ucapnya yang saat ini tengah menatap ke arah benda pipih di tangannya.
Namun, rasa leganya hanya berlangsung beberapa detik saja karena saat ini ponsel miliknya kembali berdering. "Ia pasti tidak akan menyerah jika aku belum mengangkat telponnya."
__ADS_1
Begitu mengangkat panggilan, Diandra mendengar suara bariton dari pria di seberang telpon yang bisa diketahuinya tengah merasa hancur sepertinya.
Sejujurnya ia benar-benar tidak tega pada keadaan Yoshi karena tahu seperti apa pria yang merupakan dewa penyelamatnya tersebut, jadi berniat untuk menghibur.
"Halo, Sayang. Kenapa jam segini belum tidur? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? Aku tengah menunggu papa yang masih belum stabil, sehingga belum bisa dioperasi. Terima kasih karena sudah mendoakan papa," ucap Yoshi dengan bersikap biasa dan tidak menunjukkan kesedihan yang dirasakan.
Sementara itu, Diandra kini berusaha bersikap biasa seperti Yoshi dengan mendongak ke atas agar bulir air mata tidak kembali jatuh.
"Sama-sama, Sayang. Sebenarnya aku tadi sudah tidur, tapi baru saja pergi ke kamar mandi. Jadi, aku tadi memeriksa ponsel untuk melihat apakah kamu mengirimkan pesan dan ternyata benar," ujar Diandra yang saat ini menelan ludah dengan kasar untuk menormalkan perasaannya yang kacau balau.
Sementara di sisi lainnya, Yoshi merasa mendapatkan sebuah penghiburan kala mendengar suara dari sosok wanita yang sangat dicintai.
Berharap dengan mendengarkan Diandra berbicara, mendapatkan sebuah suntikan semangat agar kuat menjalani takdir esok hari yang mengharuskannya mengingkari janji.
'Diandra, maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janji untuk menikah denganmu?' Yoshi hanya bisa berbicara di dalam hati saat dikuasai oleh rasa bersalah pada sosok wanita yang sangat dicintai.
Ia pun mulai menceritakan semua hal yang dilakukan di Rumah Sakit tanpa menyinggung sedikit pun masalah yang berhubungan dengan perjodohan orang tuanya.
Sementara Diandra yang berpura-pura tidak tahu apapun, kini menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
To be continued...