Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Penyebab Austin memutuskan sambungan telpon


__ADS_3

Masih berdiri di hadapan pasangan suami istri dengan raut wajah penuh kekhawatiran itu, ia pun mengungkapkan apa yang dirasakan. "Aku turut berdukacita atas apa yang menimpa Diandra."


"Ternyata Tuhan itu Maha adil karena bukan hanya putraku yang mengalami nasib buruk dalam kecelakaan itu. Jadi, aku bisa menganggapnya impas."


"Bedanya, putri kalian sudah sadar, sedangkan putraku masih berjuang untuk lolos dari masa kritis." Asmita Cempaka kini berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan setelah melirik ke arah adiknya agar segera ikut bersamanya.


Orang tua Diandra hanya diam dengan perasaan yang hancur. Mereka memilih saling menguatkan dan belum tenang perasaan mereka, kini mendengar suara cucunya yang terbangun dan menangis mencari sang ibu.


"Mamaaa!" teriak Aksa yang menggeliat di gendongan sang kakak dan begitu membuka mata tidak melihat sang ibu, sehingga langsung menangis tersedu-sedu.


Bahkan suara tangisan bocah laki-laki itu memecahkan keheningan di koridor rumah sakit.


"Sayang, tenanglah. Ada Kakek dan Nenek di sini, Sayang. Mama sedang sakit. Aksa tidak boleh nangis, ya?" Ayah Diandra kini kembali berdiri dan berusaha untuk menenangkan cucunya yang memang selalu terbiasa bangun di samping ibunya.

__ADS_1


Sementara itu, sang istri seketika ikut menangis begitu melihat cucunya dan benar-benar tidak tega. 'Diandra, apa yang harus ibu lakukan, Putriku? Putramu menangis mencarimu, sedangkan kamu tidak bisa mengingatnya.'


Wanita paruh baya itu tidak bisa berhenti menangis melihat nasib malang cucunya yang tengah didiamkan oleh sang suami. Ia benar-benar sangat lemah dan tidak kuat berdiri untuk ikut menenangkan cucunya yang masih merengek memanggil-manggil nama ibunya.


"Sayang, jangan menangis, ya. Sekarang kita beli es krim sama kakek, ya." Dengan penuh kesabaran, ia mengusap lembut punggung cucunya.


Beberapa saat kemudian, ia berhasil mendiamkan cucunya dan menyerahkan pada sang istri agar diajak ke kantin untuk membeli es krim. Namun, sebelum pergi, mengungkapkan ide yang tadi terlintas di pikirannya.


"Aku akan menghubungi Austin untuk mengatakan semuanya karena Aksa adalah darah dagingnya. Jika Diandra tidak boleh mengetahui tentang Aksa, maka yang berhak merawat adalah ayah kandungnya." Ia ingin mendengar jawaban dari sang istri.


"Iya, Pak. Sebenarnya, tadi aku juga memikirkan hal yang sama begitu dokter bilang jika Diandra tidak boleh tahu tentang Aksa. Itu adalah jalan terbaik untuk cucu kita dan Austin berhak tahu jika dia adalah ayah biologis dari Aksa," ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah. Kalau begitu aku hubungi dia sekarang juga. Untungnya tadi dia memberikan kartu namanya." Kemudian mulai memencet tombol panggil dan sambungan telepon pun terhubung.

__ADS_1


"Semoga dia belum tidur," ucapnya dengan menunggu hingga panggilannya dijawab dan tidak perlu menunggu lama, suara bariton dari seberang telpon terdengar.


"Halo."


"Nak, Austin. Maaf mengganggu waktu istirahatmu," lirih ayah Diandra yang merasa bersalah karena mendengar suara serak khas bangun tidur dari Austin.


"Aaah ... tidak sama sekali. Anda tidak menggangguku. Apa ada yang Ayah butuhkan sekarang?" jawab Austin yang tadi sempat tertidur sejenak dan kini langsung bangkit berdiri dari posisinya yang telentang di atas ranjang.


Sementara itu, ayah Diandra merasa sangat bingung harus memulai dari mana. Akhirnya ia pun menceritakan semua yang dikatakan oleh dokter.


"Jadi, seperti itu, Nak Aliando. Apa sekarang kamu bisa datang ke rumah sakit?"ucapnya dengan penuh permohonan.


Hanya keheningan yang terjadi karena tidak ada lagi suara yang terdengar. Bahkan saat ini sambungan telepon pun terputus dan membuatnya mengerutkan kening saat melihat benda pipih di tangannya.

__ADS_1


"Telponnya terputus. Apakah Austin marah karena kami menyembunyikan fakta tentang Aksa atas permintaan Diandra?" lirih ayah Diandra yang saat ini ingin mengetahui apa penyebab dari Austin tiba-tiba memutuskan sambungan telpon.


To be continued....


__ADS_2