
Yoshi kini berpamitan pada sang ayah mertua dan ibunya yang sedang asyik berbincang. "Yah, Ma, aku dan istriku akan langsung pulang. Kasihan istriku kelelahan."
"Iya, kamu pulang saja sekarang. Nanti kami menyusul," ucap Asmita Cempaka yang kini melirik ke arah besannya yang tadi sudah diberikan sebuah kode agar mengiyakan perkataannya.
Sebenarnya beberapa saat yang lalu, mama Yoshi baru saja mengatakan pada besannya agar malam ini tinggal di rumahnya bersama Aksa. Itu karena putranya sudah menyiapkan kejutan besar untuk Diandra.
Meskipun pada awalnya ia sangat tidak setuju saat putranya mengatakan keinginannya, yaitu ingin tinggal bersama anak dan istri di rumah sendiri.
Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat putranya sudah mempunyai tekad kuat dan tidak bisa menghentikannya. Pada akhirnya, ia memilih untuk menerima dengan lapang dada keinginan putranya yang bisa bangkit dari keterpurukan setelah mengetahui vonis dokter dan bercerai dengan sang istri yang tidak bisa menerima ketidaknormalan yang diderita.
'Memang sangat berat untuk membiarkan putraku keluar dari rumah, tapi demi kebahagiaannya, apapun akan kulakukan,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini tengah menyembunyikan perasaan sebenarnya.
Bahwa selama ini ia merasa hampa begitu kehilangan suami dan mengetahui jika putra satu-satunya tidak bisa meneruskan jejak keturunan Narendra.
'Sayang, kamu melihatnya dari atas sana, kan senyuman putra kita telah kembali setelah lama hanya murung karena beban mental yang berat ketika mengetahui dirinya mandul. Kapan aku bisa menyusulmu karena sangat kesepian tinggal di rumah sendiri.'
Sementara itu ayah Diandra kini mengangguk perlahan. "Iya, Putriku. Pulanglah dulu bersama Yoshi. Nanti kami menyusul."
Asmita Cempaka kini bernapas lega kala besannya telah setuju tinggal di tempatnya malam ini dan membohongi Diandra yang akan diberikan sebuah kejutan, yaitu rumah baru.
"Sekarang kamu pergi bersama suamimu. Biar orang tuamu dan cucuku pulang bersamaku. Kalian langsung pulang saja dulu untuk beristirahat," seru Asmita Cempaka yang mengusap lengan sang menantu.
"Aku benar-benar sangat senang karena putraku sekarang memiliki seorang istri yang sangat cantik dan baik. Ia pun sangat menyayangi Aksa seperti putra sendiri. Aku pun juga menganggap Aksa sebagai cucuku sendiri." Asmita kini mengusap lembut lengan di balik gaun pengantin Diandra.
Diandra saat ini tersenyum simpul dan beralih menatap sekilas ke arah Yoshi. "Baiklah. Ayo, kita pulang dulu."
"Iya, Sayang." Kemudian Yoshi menatap ke arah gaun Diandra dan membantunya untuk mengangkat bagian belakang saat berjalan.
"Hati-hati di jalan," jawab dua orang tua yang kini sama-sama menganggukkan kepala kala Yoshi dan Diandra berpamitan.
Sementara itu, Diandra kini berjalan di depan menuju ke arah lobi hotel. Meskipun saat ini pikirannya malah membuatnya merinding.
Karena saat ini berpikir akan berduaan dengan Yoshi. Ia sebenarnya sangat risi ketika awak media mengikuti pergerakan mereka dan mengabadikan momen itu.
Yoshi tadi sudah meminta beberapa pengawal untuk melindungi dari ulah para awak media. Ia kini berbicara dengan Diandra yang ada di hadapannya.
"Bukankah kamu saat ini seperti seorang artis papan atas karena ada banyak kamera yang tertuju padamu?" Namun, Yoshi kini sadar jika sang istri merasa sangat tidak nyaman dengan tingkah para awak media yang mulai mengajukan banyak pertanyaan.
Diandra tidak berniat untuk membuka mulut menjawab. Sebenarnya, ia merasa sangat tidak nyaman dengan itu semua, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena mengetahui bahwa pria yang menjadi suaminya bukanlah pria sembarangan.
Ia kini mulai membiasakan diri untuk dijadikan topik berita dari para wartawan.
__ADS_1
Mobil pengantin pun sudah terparkir rapi di depan lobi hotel.
Kini, salah satu pegawai hotel langsung membuka pintu. Kemudian Diandra masuk dengan dibantu Yoshi.
Kemudian Yoshi melakukan hal yang sama setelah menutup pintu dan berjalan memutar untuk masuk ke dalam dan duduk di balik kemudi. Ia menyalakan mesin mobil.
Namun, sebelumnya menatap ke arah Diandra yang duduk di sebelahnya. "Bersiaplah untuk menerima kejutan dariku, Sayang."
"Iya. Selalu membahas itu dan membuatku jadi makin penasaran saja. Ayo, cepat jalan! Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat kejutan apa yang ingin kamu berikan padaku." Diandra yang masih menatap kesal pada Yoshi, kini mengalihkan perhatian pada para wartawan yang sudah mengarahkan jepretan berulang kali.
"Mereka tidak bosan mengambil foto mobil ini saat kita pergi."
"Biarkan saja, Sayang. Para wartawan itu hanya mencari sesuap nasi dari pekerjaan mereka." Yoshi yang baru menasihati Diandra, kini mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area hotel bintang lima itu.
Ia tidak ingin Diandra kesal atas ulah para wartawan karena mengetahui itu memang pekerjaan para pemburu berita.
"Iya, aku tahu itu. Makanya aku tadi hanya diam dan tidak marah meskipun merasa sangat terganggu." Diandra saat ini meluapkan perasaan yang sebenarnya agar Yoshi tahu apa yang dirasakan.
Sementara itu, Yoshi hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan sang istri. "Aku tahu kalau istriku memiliki hati seluas samudra." Kemudian mengusap pipi putih dengan riasan khas pengantin itu. "Makanya aku selalu tergila-gila padamu dan mencintaimu."
Baru saja Diandra hendak membuka mulut untuk menanggapi kalimat yang dianggap hanyalah sebuah gombalan dari Yoshi, ia membulatkan mata begitu merasakan tangan tubuhnya terpental ke depan karena mendapatkan sebuah hantaman luar biasa dari belakang.
Seketika mobil pengantin tersebut berputar dan menabrak mobil lainnya dari depan hingga terbalik. Tubuh Diandra dan Yoshi terempas sangat keras dan membuat pengantin baru tersebut seketika tidak sadarkan diri.
Sementara itu di sisi yang berbeda, Austin yang hampir tiba di lokasi hotel yang merupakan tempat dari resepsi pernikahan, merasa sangat shock saat melihat kecelakaan tepat di depan matanya.
"Hati-hati, ada kecelakaan!" teriak Austin pada sang supir agar mengurangi kecepatan dan tidak ikut menjadi korban berikutnya dari kecelakaan beruntun dan membuat beberapa mobil menjadi korban.
Saat melihat kecelakaan dari mobil pengantin, kepala Austin terasa sangat pusing dan membuatnya memijat pelipis.
"Aaaarggghh ... kenapa sakit sekali kepalaku?" lirih Austin yang masih tidak melepaskan pandangan dari mobil pengantin yang sudah terlihat terbalik tepat di hadapannya.
Sekilas, ingatan lama muncul di pikirannya dan membuatnya mengingat kejadian saat ia kecelakaan di Singapura tiga tahun lalu. Bahwa dulu ia jauh-jauh ke sana hanya untuk membuat wanita yang berprofesi sebagai dokter itu membatalkan perjodohan karena tidak saling mencintai.
"Sekarang aku ingat semuanya. Kecelakaan yang tiga tahun terjadi dan membuatku berakhir mengalami amnesia disosiatif." Saat Austin baru saja menutup mulut, ia mendengar suara sang supir taksi yang baru saja menepikan mobil.
"Anda tunggu di mobil saja, Tuan. Saya akan mencoba untuk melihat korban kecelakaan itu." Sang supir kini turun dari mobil dan berniat untuk melihat situasi yang kacau balau macet karena kecelakaan dari mobil pengantin itu melintang di tengah jalan.
Hingga membuat kemacetan luar biasa di jalanan ibu kota yang sangat ramai malam itu.
"Aku tidak mungkin berdiam diri di sini," ucap Austin yang saat ini ikut keluar dari taksi dan berniat untuk membantu beberapa korban kecelakaan.
__ADS_1
Saat ia berjalan mendekati mobil pengantin yang membuatnya merasa kasihan, refleks membulatkan mata saat melihat sosok wanita yang tidak asing.
"Tidak mungkin! Itu bukan Diandra!" teriak Austin yang seketika berlari mendekati mobil pengantin dan membuat degup jantungnya berdetak melebihi batas normal karena khawatir jika sosok wanita yang dari dulu dicintai kehilangan nyawa.
"Diandra!" Suara teriakan Austin membuat beberapa orang yang menolong korban kecelakaan itu beralih menatapnya.
"Anda mengenal korban kecelakaan itu, Tuan?" sahut salah satu orang yang berkerumun sambil berusaha untuk menyelamatkan korban kecelakaan.
Apalagi korban yang paling parah adalah pasangan pengantin itu karena mobil sudah terbalik. Sementara korban lainnya hanya mengalami luka lecet ringan dan penyok di bagian depan karena saling berbenturan.
Austin yang kini berusaha untuk membuka pintu mobil, langsung menyahut, "Ya, aku mengenal mereka. Tolong bantu aku membuka pintu ini!"
"Pecahkan saja kacanya karena tidak ada cara selain itu." Salah satu pria yang berdiri di belakang, mengungkapkan hal yang ada di pikirannya.
Menyadari jika benar apa yang dikatakan pria tersebut, refleks Austin tanpa pikir panjang langsung mengepalkan tangannya dan mengarahkan tinjunya pada kaca mobil.
Meskipun saat ini rasa sakit luar biasa menghujam buku-buku tangannya, tidak diperdulikan karena saat ini hanya memikirkan ingin segera mengeluarkan Diandra dari dalam mobil.
"Diandra, bertahanlah!" Suara Austin yang menahan nyeri pada tangannya yang berdarah, kini berhasil membuat jendela kaca mobil pecah dan ia langsung bergerak untuk membuka pintu.
Saat ia berhasil melakukannya, melihat Diandra yang membuka kedua mata wah berbicara sangat lirih padanya.
"Austin?" lirih Diandra dengan suara serak setelah bersusah payah membuka mulut.
Saat kejadian kecelakaan beberapa saat lalu, ia bisa melihat kilasan balik dari seluruh hidupnya mulai dari kecil hingga dewasa dan berpikir jika nyawanya sudah tidak lama lagi.
Bahwa hari ini adalah akhir dari hidupnya dan saat ia melihat Austin yang berusaha untuk menyelamatkannya dengan meninju kaca mobil, membuatnya berpikir jika pria itu saat ini tengah mengkhawatirkannya.
Apalagi melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari Austin yang sudah berbicara padanya.
"Jangan bicara apapun, Diandra. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang. Kamu tidak akan apa-apa, percayalah!" ucap Austin yang saat ini berusaha menggendong sosok wanita dengan tubuh tidak berdaya yang masih mengenakan gaun pengantin.
Bahkan saat ini ia gaun pengantin indah itu sudah dipenuhi oleh noda darah akibat kecelakaan tersebut.
Saat Austin berhasil mengeluarkan Diandra dari dalam mobil dengan dibantu orang-orang, ia mendengar suara lirih wanita yang sangat mengenaskan itu.
"Aksa ....." Diandra yang belum selesai berbicara, seketika kehilangan kesadaran dan tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan.
"Diandra? Tidak! Kamu masih hidup, kan? Aku akan membawamu ke Rumah Sakit sekarang. Kamu akan baik-baik saja," ujar Austin dengan suara serak penuh nada kekhawatiran melihat wanita di gendongannya tidak sadarkan diri.
To be continued...
__ADS_1