Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Keputusan akhir


__ADS_3

Suasana di ruangan perawatan Rumah Sakit yang ada di London, terlihat sangat sepi karena hanya ada suara napas teratur dari seorang pasien pria yang tengah telentang di atas ranjang.


Pria yang tak lain adalah Yoshi sudah satu tahun ini koma dan belum ada perkembangan signifikan meskipun sudah dioperasi dulu.


Seolah pria tersebut tidak ada keinginan untuk hidup atau pun meninggalkan dunia yang fana ini karena sampai sekarang masih bisa bernapas dengan alat bantu dari Rumah Sakit.


Sementara itu, sosok wanita yang saat ini baru keluar dari ruangan putranya, kini memilih duduk di kursi kosong sambil menatap ke arah beberapa perawat serta dokter yang hendak mengecek pasien.


Wanita bernama Asmita Cempaka tersebut sudah memutuskan hubungan dengan saudara laki-lakinya karena dulu memberikan perintah untuk menculik Diandra, tapi sama sekali tidak dilaksanakan dengan alasan tidak mau masuk penjara.


Bahkan ia mendapatkan sebuah ancaman dari adiknya tersebut agar tidak menculik Diandra dan putranya karena akan lapor polisi jika nekad. Akhirnya ia mengurungkan niatnya karena khawatir jika nanti sampai masuk penjara, yang merawat putranya tidak ada.


Bahkan banyak yang menasihatinya agar melakukan suntik mati pada putranya agar tidak tersiksa karena koma. Ia saat itu sangat marah dan meluapkan emosinya dengan marah-marah pada orang-orang yang berpikir segila itu.


Hingga ia membiarkan dan tidak lagi berpikir untuk meladeni itu agar lebih fokus merawat putranya. Asmita Cempaka saat ini mengembuskan napas kasar kala melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh detektif suruhannya mengenai kehidupan Diandra dan putranya.


"Lihatlah wanita sialan ini, dia bisa hidup bahagia bersama dengan bajingan itu. Sialnya aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghancurkan mereka karena adikku sendiri. Sebenarnya siapa kakaknya? Apa dia pikir Austin adalah kakaknya?" Ia kini menatap foto Diandra yang menjalani terapi di salah satu Rumah Sakit.


Bahkan ada foto ketika menjemput anak laki-laki yang sudah dianggap seperti putra sendiri dulu oleh Yoshi. Ia pun sempat menyayangi Aksa seperti cucunya sendiri. Namun, setelah putranya kecelakaan, semua rasa itu hilang.


"Aku bahkan sudah melakukan segalanya untuk putraku dengan membawanya ke sini dan mengeluarkan banyak uang, tapi masih belum ada perkembangan setelah dioperasi. Apa aku menuruti saran dokter untuk dilakukan operasi kedua?" Ia mengingat tentang perkataan dokter putranya.

__ADS_1


Saat putranya tidak kunjung mengalami perkembangan, disarankan untuk operasi lagi. Namun, ia sangat takut jika terjadi sesuatu hal yang makin buruk pada putranya.


Jadi, menolak saran dokter dan membuatnya memilih untuk membiarkan kondisi putranya yang koma dan mendapatkan obat-obatan serta asupan nutrisi melalui selang.


"Mama tidak kuat, Sayang. Apa Mama harus mati ikut denganmu jika nanti operasi gagal? Mama pikir kamu akan bangun dari koma, tapi ini sudah satu tahun, tetap belum bangun juga. Apa yang harus Mama lakukan, Sayang?" Asmita Cempaka kini tengah mempertimbangkan keputusannya.


Apalagi ini adalah keputusan sangat penting yang membuatnya tidak bisa sembarangan. Hingga ia pun kini terdiam sejenak karena mendapatkan sebuah pesan untuk kesekian kali, yaitu sebuah foto Diandra yang lain dari biasanya.


"Tidak mungkin!" Ia yang masih menatap ke arah foto Diandra ketika sudah bisa berjalan, membuatnya merasa sangat marah sekaligus bersedih.


"Kenapa wanita jahat itu dengan mudahnya bisa berjalan dan selalu hidup berbahagia? Sementara putraku sama sekali tidak berdaya di ruangan kamar Rumah Sakit. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan," sarkasnya dengan langsung memencet tombol panggil pada ponselnya.


Ia menunggu beberapa detik hingga panggilan telponnya diangkat oleh detektif. Hingga kemudian langsung membuka suara begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Aku ingin kau membuat wanita itu mengalami kecelakaan, tapi harus benar-benar terlihat asli. Bukan merupakan setingan untuk menyingkirkannya dari muka bumi ini. Tapi bukan sekarang karena aku ingin dia mati sesuai dengan tanggal yang kutentukan!" ucapnya dengan perasaan dipenuhi luka mendalam.


Asmita Cempaka bahkan merasa sangat marah melihat kebahagiaan yang dengan mudah dirasakan oleh Diandra. Sementara putranya bahkan belum sadar dari koma. Ia paling takut jika putranya mengalami kematian otak seperti penjelasan dari dokter.


Kemungkinan paling buruk yang sangat ditakutkan olehnya itu tidak membuatnya menyerah untuk terus membiarkan putranya tetap bernapas hingga sekarang.


Ia tadi langsung mematikan sambungan telpon setelah detektif mengiyakan perintahnya dan akan menyusun rencana. "Jika nanti adikku sendiri yang melaporkanku atas hal yang menimpa wanita itu, dia pasti tidak akan tega pada putraku dan tetap mau membiayai, bukan?"

__ADS_1


Saat ini, ia terdiam sambil menatap ke arah layar ponsel miliknya. Ia kini menyadari tentang sesuatu hal yang terpikirkan di otaknya. Kemudian menepuk jidat berkali-kali karena baru menyadari kebodohannya.


"Sial! Bisa-bisanya aku percaya jika adikku sendiri melaporkanku pada polisi jika sampai berbuat jahat pada wanita itu. Dia pasti tidak akan melakukannya karena selama ini akulah yang merawatnya dengan baik semenjak orang tua kami meninggal." Ia bahkan tahu seperti apa watak saudaranya yang bahkan membunuh semut saja bilang berdosa.


Masih sekali lagi menepuk jidat


dan berpikir jika ia teramat bodoh. "Memang akulah yang bodoh karena melupakan bagaimana watak adikku. Harusnya aku menyadari jika adikku menghentikan dengan cara mengancam demi bisa menakutiku dan dia berhasil."


Saat menyadari kebodohannya, ia kini tertawa terbahak-bahak karena semenjak tenaga dan otak terforsir selama satu tahun belakangan ini, ia makin lambat berpikir tentang segala sesuatu.


"Saat Diandra mati, adikku tidak akan pernah melaporkanku karena akulah satu-satunya saudaranya. Apalagi ia saat ini tengah memimpin perusahaan pusat yang dulu dipimpin oleh putraku," ucap Asmita Cempaka yang berusaha untuk berpikir positif tentang semua hal yang berhubungan dengan adiknya.


Hingga ia pun kini mencari kalender di ponselnya untuk memutuskan kapan rencananya dilaksanakan. "Apa aku berikan akhir bulan ini sebagai sebuah kejutan untuk bajingan itu, ya?"


Merasa jika itu adalah waktu yang paling tepat, kini ia mengirimkan pesan untuk sang detektif agar melakukan eksekusi di hari paling akhir bulan ini.


"Kita akan mati bersama-sama, Diandra karena saat operasi kedua putraku gagal, akan menemaninya dan tidak akan pernah menyesali keputusanku," lirih Asmita Cempaka yang kini bangkit berdiri dari kursi tunggu dan berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan.


Bahwa setelah ia yakin dengan keputusannya untuk mati bersama karena tidak bisa hidup sendirian di dunia ini tanpa putranya, sehingga membuatnya berpikir untuk mengakhiri nyawanya.


"Putraku, jika operasi ini tidak ada gunanya, itu berarti kamu ingin Mama mati. Jika operasi ini berhasil, akan merasa sangat bahagia dan kita bisa selamanya bersama sampai ajal menjemput Mama." Tanpa seizinnya, kini bulir air mata mulai membasahi wajahnya saat ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2