
Diandra saat ini terdiam karena ini memikirkan tentang berbagai macam kemungkinan mengenai hal yang baru saja dikatakan oleh Yoshi mengenai Austin. Namun, ia masih mencoba untuk membantah karena berpikir bahwa pria itu tidak mungkin melakukannya.
"Aaarh ... sepertinya itu tidak mungkin karena tadi ia berkata seolah tengah mengancamku. Ia mengancam jika aku tidak kembali patuh padanya, yang terjadi adalah orang tuaku akan mengetahui bahwa aku menjual diri demi pengobatan ayah," lirih Diandra yang saat ini masih merasa ragu dan bimbang untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Yoshi.
Berbeda dengan keyakinan Yoshi saat ini ketika memikirkan berbagai macam hal mengenai Austin Matteo perlu menjelaskan pada Diandra agar lebih tenang dan tidak berpikir buruk.
"Saat berada di tempat wisata yang kita kunjungi bersama dengan Tony, bisa melihat bahwa tatapan Austin Matteo padamu jelas terlihat ia sangat terobsesi. Ia akan melakukan apapun untuk bisa memilikimu, Sayang. Jadi, ia pasti datang ke kampungmu demi bisa mendapatkan sebuah restu dari orang tuamu."
Kemudian Yoshi saat ini bergerak untuk mendekati diantara karena ingin memenangkan perasaan wanita itu agar tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri dan dipenuhi oleh kekhawatiran atas perbuatan Austin.
Hingga ia pun saat ini mengusap lembut punggung tangan Diandra untuk menyalurkan aura positif dan ketenangan. Saat ini ia benar-benar berpikir bahwa Diandra dikuasai ketakutan luar biasa pada Austin karena ancaman yang sebenarnya hanyalah sebuah gertakan semata.
Bahkan saat ini perasaannya dengan Austin sama, yaitu sama-sama mencintai Diandra dan ingin serius membina biduk rumah tangga.
Hingga ia pun berpikir bahwa Austin memakai jalur dalam demi bisa mendapatkan Diandra yang sama sekali tidak mau menikah dengan pria itu.
"Kamu nanti bisa menghubungi ibumu dan bertanya apa yang dilakukan Austin di rumah sakit. Atau kamu menunggu ibumu yang menelpon karena pasti ia akan menceritakan tentang kedatangan Austin." Masih terus mengusap telapak tangan yang berkeringat karena dipenuhi oleh kekhawatiran.
Bahkan rencana untuk berbelanja ke supermarket seolah tertunda karena mendapatkan kabar dari Austin. Yoshi tahu jika perasaan Diandra sangat tidak enak dan mungkin ingin segera pulang ke apartemen.
"Bagaimana? Apa kita pulang saja sekarang? Aku tahu bahwa mood mu sedang tidak baik karena dipenuhi oleh kegelisahan akibat perbuatan bajingan itu.
Hingga ia pun sambil menunggu sampai Diandra memberikan jawaban karena mengetahui jika perasaan wanita itu sedang dipenuhi oleh kekhawatiran serta kegelisahan luar biasa akibat ketakutan saat Austin mengatakan hal sebenarnya.
Sampai kemudian ia melihat pergerakan Diandra yang melepaskan genggaman tangannya dan membuatnya mengerutkan pening atas penolakan itu.
Diandra yang beberapa saat lalu memikirkan tentang perkataan dari Yoshi ada benarnya, sehingga mencoba untuk berpikir positif. Ia berusaha untuk menenangkan perasaannya yang kacau hari ini akibat perbuatan Austin.
Karena tidak ingin selalu merepotkan pria sebaik Yoshi, Diandra memilih untuk melepaskan genggaman tangan pria itu karena berniat untuk mengambil tisu di dalam tas.
Ia bisa melihat raut wajah Yoshi yang saat ini seperti heran melihat sikapnya. Kemudian menunjukkan tisu yang baru saja diambil. "Aku ingin membersihkan wajahku sebelum kita masuk untuk membeli persediaan makanan."
Kemudian ia mulai membersihkan wajahnya sambil menatap di depan cermin kecil yang menjadi satu dengan bedaknya.
"Apa tidak apa-apa kamu berbelanja dalam keadaanmu yang sedang tidak baik?" tanya Yoshi yang merasa iba saat melihat wajah sembab Diandra.
Ia bahkan mengumpat Austin Matteo di dalam hati karena tidak ingin Diandra mendengar kemurkaannya pada pria yang dianggap sangat psyco itu.
'Aku tidak akan pernah melepaskan Diandra untuk bajingan sepertimu, Austin Matteo! Diandra tidak akan pernah hidup bahagia jika menikah denganmu karena ia hanya membencimu.'
Kemudian ia kini melihat Diandra yang tengah sibuk merapikan penampilannya saat suasana hati sedang tidak baik dan mendengar wanita itu selalu saja mengungkapkan rasa bersalah padanya.
"Kita sudah tiba di sini dan aku pun juga membutuhkan stok makanan agar tidak kelaparan di apartemen. Lagipula aku tidak mungkin terus membeli karena itu lebih boros," sahut Diandra yang ingin menenangkan perasaannya dengan cara berkeliling susah berbelanjaan agar merupakan hal yang ditakutkannya dari tadi.
Bahkan ia berpikir jika terus-menerus menyiksa diri dengan memikirkan ancaman dari Austin, hidupnya akan semakin kacau karena tidak bisa berbuat apapun.
Ia berusaha untuk selalu mempercayai apa yang diungkapkan oleh Yoshi yang dianggap sangat dewasa, baik dan selalu berusaha untuk menjadi rumah paling nyaman untuknya.
Bahkan janji pria itu untuk selalu melindunginya dari Austin, membuatnya merasa terlindungi dan aman. Diandra berpikir bahwa saat ini tidak mungkin menghubungi sang ibu untuk menanyakan apakah akan ada Austin yang datang.
__ADS_1
Akhirnya ia memilih untuk dihubungi wanita yang telah melahirkannya tersebut. 'Semoga semua yang dikatakan oleh Yoshi benar adanya dan hosting hanya ingin melamarku saja pada orang tua.'
Diandra berpikir bahwa kedatangan Austin untuk menjenguk orang tuanya sekaligus melamar, itu sama sekali tidak berpengaruh apapun karena ia tetap tidak akan menerima pria itu sampai kapanpun.
Kini, Diandra memasukkan bedak yang digunakan untuk merapikan biasanya yang kacau karena menangis. Kemudian menoleh ke arah pria yang dari tadi dengan sabar menunggunya.
"Ayo, kita masuk berbelanja. Aku pun ingin membeli coklat agar mood-ku berubah baik setelah makan yang manis-manis." Diandra membuka pintu mobil setelah melihat Yoshi menganggukkan kepala padanya.
Kemudian ia berjalan masuk ke dalam Mall dengan tangannya digenggam urat oleh Yoshi. Ia hanya membiarkan pria itu melakukan apapun sesuka hati karena berpikir tidak berada di kantor.
Hingga ia memasuki area lantai dua dan menuju ke arah supermarket. Ini pertama kalinya memasuki area perbelanjaan terbesar di Jakarta dan membuat Diandra tahu bahwa pastinya harga-harga di sana jauh lebih mahal.
Namun, ia sudah tahu bahwa yang membiayai semuanya adalah Yoshi dan tidak akan membiarkannya membayar. Meskipun isi tabungannya menipis, ia yakin akan bisa bertahan tanpa menggunakan uang dalam tabungannya karena ada Yoshi yang sudah melamarnya.
Seolah pria itu menganggap sudah berhak memenuhi kebutuhan hidupnya karena tadi sudah membahasnya sebelum Austin menelpon. Bahwa mulai hari ini, ia jadi tanggung jawab Yosi karena menjadi calon istri.
Awalnya ia menolak karena takut jika nanti tidak mendapatkan restu dari orang tua Yoshi, makan malu karena hidup dari biaya yang dikeluarkan pria itu.
Namun, Yoshi beralasan jika sampai itu terjadi, akan menganggap sedekah dan tidak akan pernah mempermasalahkannya dengan mengatakan uangnya sangat banyak.
Saat ini, Yoshi sudah mengambil troli dan berjalan di depan karena ia yang sering berbelanja di sana bersama sang ibu dan ingin menunjukkan pada Diandra agar membiasakan diri mulai hari ini karena akan menjadi istrinya.
Bahkan akan berbelanja di sana saat stok makanan habis. Kini, Yoshi mengajak Diandra ke area sayur dan daging. "Kamu ambil saja sayuran serta lauk yang akan digunakan sebagai stok bahan makanan."
Diandra yang dari tadi mengamati semua yang dilaluinya, kini pandangannya jatuh pada sayur-sayuran hijau yang sangat menyelirkan karena ia dari dulu sangat menyukai makan dengan sayuran.
Sementara itu, Yoshi memilih untuk memenuhi troli dengan daging, seafood, ayam karena berpikir bahwa Diandra pasti tidak banyak mengambilnya karena merasa tidak enak padanya.
Benar saja, saat Diandra menaruh sayuran di troli, seketika mengomel panjang kali lebar padanya.
"Kenapa sekali mengambil ini? Kembalikan di tempatnya! Ambil ayam dan telur saja sebagai lauknya. Itu adalah menu andalanku." Diandra benar-benar sangat terkejut dengan perbuatan Yoshi yang menurutnya sangat berlebihan.
Bahkan sekolah kalkulator di letaknya langsung berjalan jika barang-barang yang diambil Yoshi bisa mencapai jutaan.
Namun, perintahnya sama sekali tidak dipedulikan oleh pria itu mengungkapkan alasannya dan membuatnya tidak berkutik.
Yoshi segera menahan tangan Diandra yang hendak mengembalikan apa yang tadi diambilnya. "Aku mengambil ini karena ingin kamu memasaknya untukku. Aku perencanaan untuk selalu antar jemput calon istriku. Jadi, mau minta imbalan untuk di masakan makanan yang enak."
"Aku makan sarapan dan juga makan malam di tempatmu," ujar Yoshi yang saat ini tersenyum simpul agar Diandra tidak mengomel lagi.
Kini, Diandra akhirnya diam saja dan tidak lagi mau berdebat karena sadar tidak akan pernah menang melawan Yoshi. Ia pun mulai berjalan ke sisi bumbu-bumbu dapur.
Diandra dari dulu suka memasak dan selalu dipuji oleh sang ibu jika masakannya ingat. Jadi, saat sang ibu malas memasak, ia yang menggantikannya dan selalu dipuji oleh orang tuanya.
Tentu saja ujian membuatnya semakin semangat untuk memasak karena merasa sangat senang ketika masakan yang dimasak sepenuh hati selalu dihabiskan oleh orang tuanya.
Namun, terkadang ia juga sangat merindukan masakan sang ibu saat berada di tempat kos. Hingga ia menyadari bahwa kedewasaannya semakin bertambah setelah merasakan hidup mandiri di perantauan.
Tanpa dukungan atau sponsor dari orang tua yang hanya merupakan buruh biasa. Namun, ia tidak pernah menyalahkan takdirnya yang dilahirkan dari keluarga sederhana.
__ADS_1
Karena ia sadar bahwa semuanya sudah tertakar dan rezeki pun tidak akan pernah tertukar atau salah sasaran. Saat Diandra memilih beberapa bumbu dapur, ia merasakan sebuah tepukan dari belakang dan menoleh saat ternyata Yoshi menunjukkan jamur enoki.
"Kamu bisa masak ini, Sayang?" tanya Yoshi yang baru saja mengambil jamur enoki karena nanti berniat untuk memasak steamboat dan sudah memasukkan beberapa bahan yang dibutuhkan.
Yoshi ingin membuat Diandra sibuk dan tidak terlalu memikirkan Austin yang sedang dalam perjalanan menuju ke kampungnya.
Meskipun ia tahu bahwa itu tidak sepenuhnya membuat pikiran Diandra teralihkan ataupun melupakan apa yang dilakukan oleh Austin, tapi paling tidak, wanita itu tidak diam saja di apartemen. Karena jika sendirian di apartemen, pasti akan merasa sedih dan terpuruk lagi.
Diandra seketika menggiringkan kepala karena jujur saja ia tidak pernah membeli itu. Tadi ia hanya membeli sayuran biasa seperti kubis, wortel, bayam, brokoli dan kembang kol. Sayuran umum biasa dimasak oleh orang-orang kalangan menengah ke bawah sepertinya.
Jadi, melihat jamur enoki serasa asing di matanya. Bahkan merasa bingung harus dimasak seperti apa. Hingga ia tersenyum simpul ketika Yoshi menyuruh untuk menyerahkan padanya.
"Nanti aku akan memasak dan kamu menjadi penonton untuk bagian mencicipi." Yoshi kini baru mengingat sesuatu. "Kamu lanjutkan saja karena aku ingin mengambil sesuatu."
Diandra seketika mengangukkan kepala dan menatap kepergian pria dengan bahu lebar tersebut ke arah bagian depan dan berbelok ke kanan, sehingga tidak terlihat lagi di matanya.
Ia saat ini merasa kesepian meskipun ada banyak orang yang berbelanja sepertinya. Apalagi saat tidak ada Yoshi yang selalu menghiburnya, kini ingatannya kembali pada perbuatan Austin.
Diandra melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah satu jam berlalu ia menelpon Austin tadi. "Kira-kira sekitar tiga jam lagi bajingan itu bertemu dengan orang tuaku."
"Apa aku minta bantuan orang untuk melarang Austin menemui orang tuaku? Jika tidak ada di Jakarta, ia sama sekali tidak mempunyai kekuasaan, bukan?" Diandra kini terdiam sejenak dan merutuki kebodohannya.
"Tapi, aku harus menghubungi siapa?" lirih Diandra yang saat ini menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa dan tidak mungkin bisa melarang orang untuk menemui pasien di rumah sakit.
"Aku seolah terbawa kebiasaan para orang-orang kaya di sini yang bisa menyelesaikan masalah apapun dengan sekali tunjuk. Sementara aku siapa?" Menepuk jidat karena berpikir masuknya berubah menjadi orang hebat hanya karena dekat dengan seorang Yoshi.
Karena tidak ini bertanya-tanya dalam pikirannya mengenai Austin, Diandra kini langsung menghubungi sang ibu. Hingga ia menunggu panggilan diangkat sampai beberapa detik dan begitu mendengar suara sang ibu yang seolah penuh dengan ketenangan hati, membuatnya langsung membuka mulut setelah mengucapkan salam.
"Bagaimana keadaan ayah, Bu? Apa ayah sudah bisa makan seperti biasa?" tanya Diandra yang saat ini melihat beberapa ibu-ibu berbelanja dengan putra-putri mereka dan terlihat sangat menggemaskan balita balita yang naik ke atas troli belanjaan.
Hingga ia berpikir jika benar-benar hamil, akan seperti ibu-ibu yang berjalan di dekatnya dan terdengar suara menggemaskan dari anak anak kecil.
Meskipun menatap ke arah anak-anak kecil itu, Diandra kita kan masih fokus pada perkataan sang ibu yang menjelaskan mengenai keadaan sang ayah.
"Ayahmu sudah jauh lebih baik, Diandra. Oh iya, ayahmu ingin berbicara denganmu untuk menanyakan perihal uang yang kamu dapatkan. Ayahmu sangat curiga jika kamu meminjam dari rentenir dan tidak bisa, malah akan membuatmu celaka," sahut sang ibu di seberang telpon.
Hingga ia langsung menyerahkan pada sang suami yang ada di atas ranjang perawatan. Ia sebenarnya sudah mengatakan sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Diandra, tapi sang suami sama sekali tidak mempercayai perkataannya dan dituduh mengarang cerita.
Jadi, saat kondisinya sudah pulih, memang ini berbicara dengan putrinya mengenai uang yang berjumlah 3 digit itu. Bahkan merasa bahwa orang miskin seperti mereka tidak akan pernah bisa melihat uang sebanyak itu meskipun sudah bekerja bertahun-tahun lamanya.
Karena ibaratnya kerja sehari hanya untuk bisa makan sehari. Jadi, mana bisa menyimpan uang sebanyak itu.
"Halo, Diandra!"
Diandra saat ini merasa jantungnya seperti mau meledak karena mendengar suara dari sang ayah yang pastinya akan menginterogasinya mengenai dari mana uang yang didapatkan untuk biaya operasi serta perawatan.
'Ya Allah, apa yang harus kukatakan pada ayah yang curiga dengan uang itu?' gumam Diandra saat ini yang tengah memikirkan alasan paling tepat agar tidak membuat sang ayah merasa curiga padanya mengenai uang dari Austin saat ia menjual diri.
To be continued...
__ADS_1