Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merekam kejadian buruk


__ADS_3

Austin dan sang ibu hanya duduk diam di dekat ranjang saat menatap seorang ibu yang sebenarnya sangat lemah tengah menyuapi putranya.


Bahkan Diandra saat berusaha kuat saat menyuapi Aksa, meskipun kondisi masih belum memungkinkan untuk duduk.


Hal itu membuat Austin tadi memudahkan posisi Diandra dengan sedikit menaikkan ranjang agar bisa memudahkan seorang ibu yang tengah menyuapi putranya.


Meskipun tidak mengetahui jika yang sebenarnya ia adalah ibu kandung Aksa, Austin merasa terharu dengan ikatan batin antara Diandra dengan sang putra meskipun kehilangan ingatan.


Tadi ia buru-buru pergi ke kantin untuk membelikan makanan, tetapi karena bingung Aksa menyukai apa, jadi membawa aneka jenis makanan.


Berharap putranya menyukai salah satu jenis makanan yang dibelikan. Meskipun tadi beralasan pada Diandra agar tidak mencurigainya.


Nasib baik Diandra sama sekali tidak bertanya dan menawarkan pada Aksa, lalu langsung menyuapi makanan kesukaan anak laki-laki itu.


Diandra sudah menyuapi Aksa dengan nasi lauk ayam, tadi sedikit kesusahan untuk memotong karena efek tangan satunya diinfus. Nasib baik Austin langsung membantu untuk membuat ayam goreng itu menjadi potongan kecil-kecil.


"Aksa makan yang banyak, ya! Biar nanti cepat besar dan jadi anak pintar." Diandra tersenyum simpul saat menyuapi anak laki-laki yang selalu menempel padanya.


Bahkan sesekali mengusap tubuhnya, seolah ingin memastikan, apakah merasa sakit atau tidak.


Seolah anak kecil tersebut mengetahui jika saat ini sedang merasakan kenyerian di setiap sudut tubuhnya.


Aksa yang saat ini sangat lahap menikmati makanan, fokus menatap intens sang ibu. Hingga beberapa kali mengunyah makanan, tetap tidak mengalihkan perhatian.


"Mama atit?" tanya Aksa yang dari tadi menatap ke arah bagian kepala sang ibu yang dianggap sangat aneh.


Diandra yang beberapa saat lalu tidak paham, kini mengerti setelah melihat Aksa memegang kepala, seperti menunjukkan padanya mengenai perban yang memang belum dilepas sampai sekarang.


"Sedikit," ucap Diandra yang tidak ingin membuat anak laki-laki itu khawatir akan keadaannya.


"Mama apan ulang? Aksa ingin bobok ama Mama."


"Tunggu sampai dokter mengizinkan Mama pulang. Nanti kita tidur bersama." Diandra refleks mengingat jika selama ini tinggal di tempat kos.


Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Austin yang duduk agak jauh darinya bersama sang ibu. Ia berpikir, bagaimana akan tinggal di tempat kos yang sempit bersama sang ibu dan kini anak laki-laki itu ingin tidur bersamanya.


"Aksa nanti pasti tidak akan nyaman saat tinggal bersamaku di tempat kos yang sempit."


Saat Austin tadi berbicara lirih dengan sang ibu yang membahas mengenai tempat tinggal untuk Diandra setelah pulang dari rumah sakit. Begitu pertanyaan Diandra mewakili pemikirannya, sehingga berpikir bahwa harus membahas mengenai hal itu.

__ADS_1


Kemudian berjalan menuju ke ranjang perawatan agar bisa berbicara dengan lebih jelas. Namun, belum sempat membuka suara, mendengar suara pintu terbuka dan pasanga suami istri paruh baya baru masuk ke dalam ruangan.


Di saat bersamaan, suara Aksa seketika membuat semua orang saling bersitatap.


"Akek ... Nenek!" teriak Aksa yang terlihat berbinar begitu melihat orang-orang yang sangat disayangi.


"Kakek ... Nenek?" tanya Diandra yang kembali dibingungkan oleh keadaan.


Di mana Aksa juga memanggil orang tuanya dengan sebutan seperti itu. Bahkan langsung menatap ke arah orang tuanya.


Namun, belum sempat bertanya, melihat sang ayah yang bersikap seperti sudah pernah bertemu dengan Aksa.


"Cucuku yang sangat tampan dan pintar. Akhirnya kita ketemu lagi." Ayah Diandra yang mengerti dengan situasi di dalam ruangan perawatan, segera menghilangkan kecurigaan putrinya agar tidak berpikir macam-macam dengan mengarang sebuah kebohongan.


"Tadi kami bertemu di lantai dua dan nak Austin mengatakan pada Aksa untuk memanggil kakek dan nenek. Anak kecil ini memang sangat pintar mencuri hari orang tua dan sangat menggemaskan."


"Iya, cucuku memang sangat menggemaskan," sahut ibu Diandra yang menimpali perkataan dari sang suami yang dianggap sangat pandai mengendalikan situasi ketika aura ketegangan tercipta.


Beberapa saat kemudian, mendengar suara bariton dari Austin yang membuat mereka merasa harus mengikuti keinginan pria dengan paras rupawan tersebut.


"Kebetulan Ayah dan Ibu sudah datang. Tadi aku hendak membicarakan mengenai tempat tinggal Diandra setelah pulang dari rumah sakit. Aku tidak akan membiarkan kalian tinggal di tempat kos sempit, jadi lebih baik ke apartemenku saja."


"Kami tidak ingin merepotkanmu." Ia masih mencoba untuk bersandiwara di depan putrinya karena mengetahui bagaimana sifat Diandra yang tidak mudah menerima bantuan orang lain.


Hingga sosok wanita yang tadi masih duduk di sofa, seketika ikut berbicara untuk menanggapi. "Putraku sama sekali tidak merasa direpotkan. Jadi, jangan membuat kami kecewa. Lagipula, kami tidak mungkin membiarkan menantu dan orang tuanya tinggal di tempat kos sempit."


"Itu sungguh membuat kami seperti tidak berguna saja." Ibu dari Austin kini menatap ke arah Diandra agar tidak menolak. "Kamu tidak boleh menolak niat baik calon suamimu."


Saat Diandra melihat orang tuanya dan beberapa orang di sebelahnya, kini tengah memikirkan sesuatu hal mengenai tawaran menggiurkan tersebut.


'Tinggal di apartemen mewah milik Austin bersama keluargaku, bukankah itu sangat menyenangkan? Lagipula kami akan menikah dan dia sangat mencintaiku. Tidak mungkin aku menolak tawaran luar biasa seperti ini,' gumam Diandra yang saat ini masih melihat Austin menampilkan wajah penuh permohonan.


Tidak tega melihat Austin yang seperti tengah memohon padanya, padahal menawarkan sebuah hal yang besar, sehingga langsung menganggukkan kepala.


"Baiklah. Aku akan tinggal di apartemen karena juga tidak mungkin menyuruh orang tuaku pulang di tempat kos yang sempit." Beralih menatap ke arah orang tuanya. "Bagaimana, Ayah, Ibu? Kalian setuju tidak?"


"Kami akan setuju pada semua keputusanmu dan juga calon menantu," sahut ibu Diandra yang kini melihat sang suami juga langsung mengangguk tanda setuju.


"Syukurlah jika kalian semua setuju," sahut Austin yang bernapas lega begitu mendengar jawaban Diandra dan calon mertua.

__ADS_1


Padahal sebenarnya merasa aneh karena melihat Diandra seperti menjadi sosok wanita lain.


'Diandra yang amnesia sangat mudah dibujuk tanpa harus merayu. Sementara Diandra yang dulu, selalu menolak dan sangat sulit mengatakan iya saat aku menawarkan bantuan apapun,' gumam Austin yang saat ini merasa jika Diandra terlihat sangat berbeda, tapi lebih menyukai sosok wanita amnesia.


Karena tidak kesusahan lagi untuk berusaha mendapatkan hati wanita yang sangat dicintai tersebut.


Kemudian Austin berpura-pura untuk menyuruh orang tua Diandra tidur di apartemen malam nanti karena ia yang akan menunggu saat malam.


Namun, refleks Diandra langsung menolak keinginan Austin karena khawatir akan satu hal. "Nanti Ibu akan tinggal di sini untuk menemaniku. Kamu pulang saja."


Austin yang kini mengerutkan kening karena merasa aneh ketika Diandra tidak mau dijaga olehnya. "Kenapa? Apa kamu tidak mau aku menjagamu?"


"Bukan seperti itu. Aku adalah wanita dan kamu pria. Kita belum menikah. Dengan kondisiku yang sekarang, tidak memungkinkan aku bisa berbuat sesuka hati." Diandra menyentuh kedua kaki yang tidak bisa digerakkan.


Berharap Austin bisa mengerti apa yang saat ini dipikirkan, bahwa ia hanya akan berbaring di atas ranjang tanpa bisa berjalan seperti biasa untuk pergi ke toilet. Jadi, mana mungkin akan menyuruh Austin melihat itu.


'Aku tidak ingin merepotkannya saat belum menjadi istri. Jadi, lebih baik ibu yang kurepotkan daripada Austin. Daripada nanti malah dia merasa ilfil padaku, lebih baik menyuruhnya pergi,' gumam Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pria di hadapannya.


Tentu saja kini Austin mengerti apa yang dipikirkan oleh Diandra, padahal sebenarnya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Apalagi sudah mengetahui sisi luar dalam wanita itu.


Namun, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjelaskan, sehingga tidak bisa mengatakan hal sebenarnya mengenai situasi di antara mereka.


"Aku mengerti, tapi setelah kita menikah, semua kekhawatiranmu itu harus disingkirkan."


Diandra mengangguk setuju karena sudah memikirkan hal tersebut. "Aku tahu jika itu akan berbeda saat kita sudah menikah."


Saat Diandra baru saja menutup mulut, mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian melihat sosok pria paruh baya berjalan masuk ke dalam.


Namun, ia yang merasa seperti wajah itu tidak asing, kini berusaha untuk mengingat, tapi hanya rasa sakit pada kepala yang dirasakan. Refleks langsung memegangi kepala dan meringis kesakitan.


"Sakit sekali!" rintih Diandra yang saat ini tidak melepaskan kepala.


Sontak saja semua orang yang tadinya menoleh ke arah pintu dan melihat sosok pria paruh baya, tak lain adalah Malik Matteo, seketika beralih pada Diandra yang kesakitan.


Austin yang merasa sangat khawatir pada respon Diandra, refleks mendekat. "Diandra, apa yang terjadi?"


"Aku seperti pernah melihat pria itu, tapi saat berusaha untuk mengingat, kepalaku rasanya sangat sakit," lirih Diandra yang masih mencoba untuk menenangkan diri dan rasa sakit di kepala.


Austin seketika menoleh ke arah sang ayah dan berpikir jika Diandra tengah merekam kejadian buruk bersama pria yang sangat disayangi tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2