Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menggugurkan kandungan


__ADS_3

"Bagaimana keadaan pasien, Dokter? Kenapa tiba-tiba wanita ini pingsan?" tanya Emran yang saat ini sudah berada di salah satu ruangan IGD.


Sementara itu, sang dokter yang tadi sudah melakukan beberapa tes untuk memastikan keadaan pasien, kini langsung berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


"Setelah kami mengetes semuanya, ternyata disimpulkan bahwa pasien saat ini tengah mengandung," ucap sang dokter yang saat ini menjelaskan tentang kondisi dari pasien yang baru datang tersebut.


Tentu saja penjelasan dari sang dokter yang baru saja didengar, seketika membuat Emran membulatkan mata karena sama sekali tidak menyangka jika ternyata Diandra tengah mengandung.


Bahkan ia tahu jika Diandra masih single dan sama sekali tidak terlihat dekat dengan siapapun. "Apa, Dokter? Hamil?"


Sang dokter mengangguk-anggukkan kepala untuk membenarkan dan merasa ada yang aneh dari ekspresi wajah pria paruh baya tersebut yang dipikir tadi adalah ayah wanita yang tengah mengandung itu.


"Iya, setelah dilakukan pemeriksaan, saat ini mengandung 6 minggu. Jadi, berakhir pingsan karena terlalu memproses tenaga. Jadi, disarankan untuk tidak terlalu capek karena saat ini kondisi pasien serta janin yang dikandung sangat lemah. Saya akan meresepkan obat untuk pasien dan janin yang dikandung."


Sang dokter yang baru saja menjelaskan semuanya, kini berpamitan karena akan menangani pasien lain. Apalagi melihat respon dari pria paruh baya tersebut, mengerti jika butuh waktu karena sangat shock begitu mendengar penjelasan darinya.

__ADS_1


Emran yang masih belum bisa berpikir jernih karena merasa bingung harus menanggapinya seperti apa. Ia tidak tahu kabar itu baik atau buruk karena status Diandra yang belum menikah dengan siapapun.


Ia hanya mengangguk perlahan kala sang dokter berlalu pergi dan beralih menatap ke arah wanita di atas ranjang perawatan itu.


"Hamil? Lalu, siapa ayah dari janin yang dikandung Diandra saat ini?" Ketika Emran sibuk memikirkan siapa sosok pria yang merupakan ayah dari janin di rahim Diandra, tapi tidak pernah sekalipun melihat wanita itu dekat dengan para pria.


Apalagi selama di puncak, Diandra selalu menutup diri dari lawan jenis. Bahkan ia merasa sangat aneh kala mengingat tentang Diandra yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.


'Tapi Diandra baru di sini sekitar empat mingguan. Kemungkinan besar adalah Diandra sudah melakukannya sebelum berada di sini. Makanya hamil sudah berusia 6 minggu.'


"Apa yang terjadi padaku?" Diandra yang baru saja sadar, melihat area rumah sakit dan membuatnya mengingat-ingat.


"Aaah ... tadi aku pingsan di ruang meeting. Maaf karena mengacaukan meeting penting itu, Tuan Emran." Diandra bahkan kini merasa sangat pusing dan sambil perlahan memijat pelipisnya.


Hingga ia tiba-tiba merasakan mual dan ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya saat ini juga. "Aku ingin ke kamar mandi karena saat ini serasa ingin muntah."

__ADS_1


Karena merasa kebingungan harus bagaimana, langsung berteriak memanggil dokter agar segera mendekat.


"Dokter, pasien ingin ke kamar mandi sebentar. Apa diperbolehkan?" tanya Emran saat ini karena tidak ingin salah langkah juga." Hingga ia pun menunggu jawaban dari dokter.


"Tolong dibantu agar tidak jatuh saat ke kamar mandi." Sang perawat menyampaikan apa yang diketahuinya. demi kebaikan.


Karena merasa harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Diandra bertanya. "Suster, apa yang sebenarnya terjadi pada saya?"


"Selamat, Nyonya. Anda saat ini tengah mengandung. Usia kehamilan Anda diperkirakan 6 minggu." Sang perawat yang tadi berniat untuk kembali ke tempat duduknya, menjelaskan terlebih dahulu.


Diandra seketika membulatkan mata dan membekap mulut makin kuat karena dari tadi sudah melakukannya.


"Apa, aku hamil? Tidak!" teriak Diandra yang kini merasa sangat marah atas takdir hidupnya yang buruk sambil memukuli perutnya yang masih datar. "Aku tidak mau hamil benih bajingan itu!"


Diandra yang saat ini merasa sangat shock atas kehamilannya, refleks langsung meluapkan amarahnya. "Aku akan menggugurkannya karena tidak mau mengandung anak dari pria yang sangat kubenci."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2