Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Apa kamu tahu namanya?


__ADS_3

Setelah permintaan Diandra yang mengatakan ingin kembali bekerja di perusahaan, beberapa hari kemudian terlihat Austin yang datang pagi-pagi sekali untuk menjemput.


Meskipun tadi agak kesulitan ketika menjelaskan pada putranya bahwa sang ibu mulai kembali bekerja hari ini.


Jadi, hari ini menyuruh di rumah saja dan berjanji bahwa hari Minggu akan mengajak pergi jalan bersama sang ibu. Dengan harapan putranya tidak menangis lagi.


Nasib baik putranya menurut dan tidak sabar menunggu hari Minggu, padahal hari ini masih hari Rabu. Kini, ia turun dari mobil setelah memarkirkan kendaraan, kini melangkah masuk lobi apartemen.


Begitu di depan lift, memencet tombol dan berharap bisa segera naik ke lantai lima, di mana apartemennya berada. Bahwa Diandra dan orang tuanya tinggal di sana.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan melihat sosok wanita yang hendak didatangi ternyata sudah ada di hadapannya.


"Sayang?"


"Austin?"


Keduanya sama-sama saling menatap dengan terkejut dan beberapa saat kemudian tertawa.


Hingga disadarkan oleh sosok pria paruh baya yang saat ini mendorong kursi roda putrinya. "Syukurlah kamu sudah datang. Putriku sangat bersemangat hari ini karena bisa bekerja lagi. Padahal aku sangat mengkhawatirkan keadaan putriku ini."


Sang ayah khawatir jika akan ada banyak orang di kantor yang mengejek putrinya karena sekarang cacat. Hal yang pastinya akan membuat satu-satunya putri kesayangan terluka hatinya, tapi karena tidak bisa dihentikan, sehingga hanya pasrah saja.


Hanya menggantungkan harapan besar pada calon menantu kesayangan tersebut agar sepenuhnya menjaga putrinya agar tidak sampai terluka.


Austin kini tersenyum simpul dan mengambil alih kuasa kursi roda yang diserahkan padanya. Tentu saja ia tahu jika pria paruh baya tersebut tidak tega melihat putrinya yang bahkan sudah banyak menghadapi ujian kehidupan, kembali bekerja dalam keadaan cacat.


"Tenang saja, Ayah. Jika di rumah ada kalian yang bisa menjaga Diandra, tapi ketika bekerja di kantor, aku yang akan sepenuhnya mengawasi calon istriku yang nakal dan keras kepala ini."


Kemudian mengusap kedua lengan Diandra dengan lembut. "Diandra akan selalu terlihat di mataku selama 24 jam. Jadi, Ayah tidak perlu khawatir."


Refleks Diandra mencubit lengan kekar pria di belakangnya setelah menoleh ke belakang. "Siapa yang nakal dan keras kepala? Mungkin kamu dulu saat masih jadi playboy."

__ADS_1


"Itu memang benar, tapi hanya masa lalu karena sekarang aku adalah seorang ayah yang bertanggungjawab dan sekaligus calon suamimu yang akan selalu membahagiakanmu."


Austin beralih menatap ke arah calon ayah mertua yang terkekeh melihat interaksi dengan Diandra. "Ayah kembali saja ke atas. Sekarang Diandra sudah bersamaku dan kami akan langsung berangkat ke kantor."


Pria itu menganggukkan kepala seraya tersenyum bahagia melihat putrinya yang mendapatkan seorang calon suami bertanggungjawab dan terlihat sangat tulus.


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Jaga putriku yang nakal dan keras kepala ini." Melangkah masuk ke dalam lift tanpa menunggu respon dari putrinya yang terlihat memasang wajah masam.


Begitu pintu lift tertutup, tidak membuang waktu, Austin sudah mendorong kursi roda menuju ke arah mobilnya yang terparkir rapi. Hingga mendengar suara Diandra yang sedikit menoleh ke belakang.


"Apa kamu memberitahukan kepada para staf perusahaan bahwa hari ini aku kembali bekerja setelah mengalami kecelakaan? Atau tidak ada informasi apapun yang kamu katakan?" Diandra ingin memastikan bagaimana bersikap pada para staf perusahaan jika nanti ada yang bertanya padanya.


Khususnya mengenai statusnya yang kini sebagai calon istri dari putra pemilik perusahaan. Jadi, tidak ingin salah berbicara atau pun bersikap karena harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan bersikap, agar tidak mempermalukan calon suami.


Austin yang kini baru saja tiba di dekat mobil, memencet remote control dan membuka. Kemudian menundukkan kepala sebelum membungkuk untuk menggendong wanita yang terlihat seperti sangat berhati-hati bersikap.


"Bekerjalah seperti biasa dan jangan pikirkan macam-macam. Untuk hal lainnya, serahkan pada calon suamimu ini. Lagipula, kamu akan menjadi sekretaris pribadi CEO perusahaan dan aku tidak akan mengizinkanmu lepas dari pandanganku."


Kemudian membungkuk untuk mengangkat tubuh Diandra dan perlahan menurunkan di kursi depan dan membereskan kursi roda agar bisa masuk ke bagian belakang mobil.


'Saat seluruh dunia tahu jika kamu mengalami amnesia disosiatif, tetapi kamu sama sekali tidak tahu mengenai keadaanmu sendiri. Maafkan aku karena telah melakukan segala hal mengenai akses masa lalumu bersama Yoshi dan juga perbuatanku di masa lalu,' gumamnya di dalam hati.


Austin berjalan memutar untuk masuk ke kursi depan dan duduk di balik kemudi. Kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah perusahaan yang letaknya cukup jauh dari apartemen.


Sebenarnya lebih dekat jika berangkat dari rumah karena searah, tapi lebih bersemangat bekerja karena setiap hari bisa kembali bersama dengan seorang wanita yang punya arti penting dalam sejarah hidupnya.


Sementara itu, Diandra yang dari tadi hanya diam di kursi sebelah, sebenarnya sangat tidak puas dengan jawaban Austin karena sama sekali tidak menjawab pertanyaan darinya.


Namun, karena tidak ingin pria yang sudah banyak melakukan apapun untuknya tersebut kecewa atau merasa kesal padanya, sehingga hanya memilih patuh pada perintah.


'Kenapa aku merasa sikapnya sangat aneh? Karena tidak menjawab dengan pasti rasa ingin tahuku yang sebenarnya,' gumam Diandra yang kali ini tengah sibuk menebak sendiri alasan pria di balik kemudi tersebut.

__ADS_1


Bahkan ia rela mengeluarkan banyak uang untuk membayar orang yang menempati tempat kos Diandra mau pergi sementara dan kembali lagi setelah diberikan informasi. Juga mengatakan pada pemilik tempat kos agar berakting biasa layaknya Diandra yang akan memutuskan pindah.


'Semoga tidak ada masalah yang terjadi di perusahaan di hari pertama Diandra bekerja kembali di perusahaan. Jika sampai ada masalah, aku akan membuat perhitungan pada siapapun orang yang mengusik masa lalunya,' gumam Austin yang saat ini fokus menatap ke arah depan ketika mengemudi.


Hingga setengah jam lebih perjalanan, mobil yang dikendarai sudah berbelok di area perusahaan.


Seperti beberapa saat lalu, ia melakukan hal yang sama pada Diandra, yaitu membantu turun dengan cukup mengeluarkan tenaga ekstra dan mendorong kursi roda menuju ke arah lobi perusahaan.


Karena dari tadi melihat Diandra sepanjang perjalanan hanya diam, sehingga berpikir jika itu wanita itu tengah gugup di hari pertama bekerja.


"Tenang dan jangan gugup karena ada aku di sini."


Diandra yang dari tadi sudah kecewa pada Austin, kini melihat para staf perusahaan yang selalu menatapnya dan mengulas senyuman.


Sikap para staf perusahaan yang terlihat sangat sopan dan mengulas senyuman padanya, justru terasa sangat aneh dan berlebihan.


'Mereka pasti sudah tahu mengenai hubunganku dengan bos di perusahaan ini. Kenapa aku merasa sangat tidak percaya diri dengan keadaanku yang seperti ini? Ternyata benar kata ayah, jika mungkin ada beberapa orang yang mengejek cacat dan tidak pantas untuk CEO perusahaan ini.'


Saat sibuk dengan lamunan sendiri, di sisi lain, terlihat Diandra yang baru saja masuk ke dalam lobi perusahaan dan tanpa sengaja bersitatap dengan wanita yang tak lain adalah rekan kerjanya dulu.


Sosok wanita yang tak lain adalah Adelia, berpura-pura tidak mengenal Diandra.


'Diandra, aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu akan bisa kembali ke pelukan tuan Austin. Padahal dulu selalu kesal dan marah jika membahas mengenai bos.'


'Sekarang, kamu bahkan sama sekali tidak mengingatku,' gumam Adelia yang berjalan menuju ke arah lift dan begitu berada di dekat Diandra, kini mengulas senyuman pada presiden direktur perusahaan.


"Selamat pagi, Presdir."


Bahkan ia mendengar suara-suara dari beberapa orang yang melakukan hal sama sepertinya dan langsung masuk ke dalam lift begitu terbuka.


Sementara itu, Austin yang baru masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan dengan masih mendorong kursi roda, mendengar suara Diandra yang kini menatapnya.

__ADS_1


"Wanita tadi, apa kamu tahu namanya?"


To be continued...


__ADS_2