
Sebelum mengucapkan salam, beberapa saat lalu, Austin bisa melihat Yoshi dan Diandra berdiri saling berhadapan. Ia mengerti apa yang dilakukan keduanya karena mendengar dari detektif jika hari ini adalah acara lamaran.
Bahkan terlihat Yoshi kini tengah memegang kotak berbentuk hati dengan warna merah yang tentu saja sudah terbuka dan ada cincin pertunangan di sana.
"Selamat siang," ucap Austin yang masih tetap berdiri di depan pintu. Ia tadinya berniat untuk menunggu sampai dipersilakan masuk oleh sang tuan rumah.
Namun, ia hanya melihat tatapan yang sama dari sosok wanita tak lain adalah Diandra.
"Austin?" Diandra benar-benar merasa sangat shock melihat sosok pria yang tiba-tiba datang.
Bahkan kini semua orang yang tadinya fokus pada momen penting, yaitu tukar cincin antara pasangan, beralih menatap ke arah sosok pria yang tiba-tiba mengganggu jalannya acara.
"Kenapa kau ada di sini?" sarkas Yoshi dengan kilatan api di matanya. Ia saat ini khawatir jika acara hari ini akan berantakan gara-gara Austin yang pastinya mempunyai niat tersembunyi saat datang.
Yoshi kini menoleh ke arah Diandra yang juga dipenuhi oleh kekhawatiran. "Sebentar, Diandra. Kemudian menyerahkan kotak perhiasan berisi cincin pada Diandra . "Aku akan mengajaknya keluar. Biarkan aku berbicara dengan Aliando di luar."
"Aku juga ingin bicara dengannya," sahut Diandra yang saat ini juga ingin menyelesaikan masalah antara aku dan dia!" Diandra yang baru saja menutup mulut, mendengar suara dari sang ayah yang berjalan mendekat.
"Diandra, tidak baik membiarkan tamu berada di luar terus. Suruh masuk." Pria paruh baya itu berniat untuk mempersilakan pria yang dulu pernah direstui untuk menjadi menantunya.
Namun, mendapatkan penolakan mentah-mentah dari putrinya. Jadi, ia tidak jadi mempersilakan pria dengan setelan jas lengkap itu masuk.
"Tidak perlu, Yah. Kami akan bicara di luar." Diandra yang merasa sangat kesal pada Austin, kini bertambah kesal pada Yoshi yang melarangnya ikut.
Yoshi tidak ingin membiarkan Austin berinteraksi secara langsung dengan Diandra karena jujur saja sangat khawatir jika keduanya malah tumbuh benih-benih cinta. Apalagi ia sering mendengar mendengar istilah membenci bisa berubah menjadi cinta.
__ADS_1
'Aku takut kebencian berlebihan yang dirasakan Diandra pada Austin malah berubah menjadi cinta. Seperti yang sering kudengar, tidak boleh membenci sesuatu secara berlebihan karena bisa saja itu berbanding terbalik di akhir. Aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku jika sampai berpisah dengan Diandra,' gumam Yoshi yang kini menatap Diandra agar mau mematuhi perintah darinya.
Karena tidak bisa berbicara dari kejauhan untuk melaksanakan niatnya, Austin akhirnya memilih berjalan ke dalam meskipun tidak ada satu pun orang yang menyuruhnya masuk.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut. Termasuk sosok anak kecil yang ada di gendongan wanita paruh baya di sebelah kiri.
"Maafkan saya karena telah mengganggu acara ini, tapi ini sangat penting bagi saya. Saya ingin berbicara dengan Diandra sebelum acara lamaran dilanjutkan." Austin saat ini hanya fokus pada wanita yang ingin ia ajak bicara serius.
Hingga ia menoleh ke arah Yoshi dan tidak menyangka jika pria itu tiba-tiba menariknya keluar ruangan.
"Kita bicara di luar!" sarkas Yoshi yang berjalan keluar tanpa memperdulikan tatapan dari semua orang.
Austin saat ini mengerti alasan Yoshi yang marah padanya karena khawatir jika ia menjadi penyebab utama perpisahan di antara mereka. Jadi, ia hanya membiarkan Yoshi berbuat sesuka hati dan ingin bicara secara baik-baik nantinya.
Hingga ia merapikan jasnya begitu Yoshi mengempaskan tubuhnya ke depan. "Aku datang ke sini baik-baik dan tidak menginginkan kekerasan. Kau tenang saja karena aku akan segera pergi dari sini setelah kau menceritakan tentang masa lalu yang kulupakan karena amnesia."
Namun, keinginannya tidak menjadi kenyataan kala mendengar suara bariton Austin.
"Aku ingin memastikannya dengan Diandra. Baru aku pergi." Austin yang baru saja menutup mulut, kini seketika menoleh ke arah wanita yang berjalan mendekat.
Diandra yang tadinya menyuruh orang tuanya serta keluarga Yoshi tetap di dalam rumah karena mengatakan jika urusan dengan Austin bukanlah sebuah hal penting. Ia bahkan tidak mematuhi perintah Yoshi beberapa saat lalu dan menatap tajam Austin.
"Semua yang dikatakan Yoshi benar. Apa kau ingin sekali lagi menghancurkan hidupku? Apa kau belum puas membuatku berakhir hidup seperti di neraka setelah perbuatanmu yang memisahkan kami?" Diandra masih mengarahkan tatapan tajam penuh kebencian.
Awalnya ia berpikir jika Austin akan makin membuatnya kesal, tapi saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Seolah ia melihat dua orang berbeda saat ini.
__ADS_1
"Maafkan aku karena menjadi penyebab kalian tidak bersatu." Austin yang tadinya ingin melanjutkan perkataannya saat ada ganjalan di hati, tidak jadi melakukannya saat kembali mendapatkan sikap sinis dari Diandra.
"Pergilah dan jangan muncul di depanku lagi!" ujar Diandra yang sebenarnya sangat muak melihat Austin.
Yoshi ingin membuat Austin sadar diri dan langsung pergi, sehingga kini mengarahkan tangan untuk mengusap lembut punggung di balik kebaya tersebut. "Kenapa tidak di dalam saja? Aku bisa mengusirnya dari sini."
Entah mengapa Diandra merasa tidak nyaman disentuh punggungnya karena saat ini mood-nya sedang tidak baik. Ia pun melepaskan tangan Yoshi yang beralih memeluknya.
"Turunkan tanganmu!" sarkas Diandra yang kali ini tidak ingin disentuh siapa-siapa.
"Baiklah, tapi tenangkan dirimu." Yoshi berusaha sabar menghadapi sikap Diandra yang benar-benar sangat dingin padanya sekaligus membuatnya merasa bingung.
Tapi ia masih berpikir positif thinking pada Diandra yang bersedia menjadi teman hidupnya. Namun, sekarang malah terlihat sangat dingin seperti seseorang yang tidak mempunyai hati.
Hal yang sama dipikirkan oleh Austin saat melihat sikap Diandra pada Yoshi. Seperti tidak ada cinta di mata Diandra untuk Yoshi. "Diandra, apa benar kamu mencintainya? Kenapa aku merasa aneh melihat sikapmu padanya?"
Diandra menelan saliva dengan kasar kala diejek oleh Austin. "Pergilah sesuai janjimu tadi, berengsek!"
Tatapan kebencian yang jelas terlihat dari bola mata Diandra, dianggap sangat menyesakkan. Seolah kebencian dari Diandra makin membuatnya merasa sesak.
"Aku tidak tahu harus dengan cara apa membuatmu tidak membenciku sebesar itu, Diandra. Tujuanku datang ke sini adalah untuk menyelesaikan semua masalah yang telah aku buat di masa lalu. Aku benar-benar minta maaf pada kalian, khususnya kamu, Diandra karena saat melihatmu pertama kali, hatiku bergetar."
Saat ini, Diandra seperti melihat sosok Austin di masa lalu dan ia khawatir jika sampai pria itu mengetahui jati diri Aksa. "Omong kosong!"
"Sepertinya tidak ada kata maaf darimu, Diandra. Aku harus menerimanya lapang dada saat Tuhan masih menghukumku dengan tidak mengembalikan ingatanku." Austin kini berniat untuk berbalik badan pergi.
__ADS_1
To be continued...