
'Apakah kamu masih bisa berbicara dengan percaya diri sekarang setelah ingatanmu kembali, sayang? Sekarang aku sangat senang saat kamu menyatakan cintamu padaku, sekaligus ragu karena suatu saat kamu akan kembali mengingat kejadian masa lalu saat aku menyakitimu.'
Austin yang kini menatap sosok wanita di pelukannya usai bercinta beberapa waktu lalu telah pindah ke kamar karena tak ingin putra mereka terbangun lagi seperti sediakala.
Seperti biasa, rutinitas yang selalu dilakukan Austin setelah bercinta adalah memeluk dengan erat sambil berbasa-basi. Meski hanya membahas hal-hal sepele, mereka yakin hal itu akan semakin mempererat cinta mereka.
Lamunan Austin tiba-tiba sirna ketika merasakan ciuman lembut di pipi. Ia melihat senyum manis secerah mentari yang menghiasi wajah cantik istrinya.
"Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu." Diandra yang mulai mengantuk kini ingin mengakhiri perbincangan hangat mereka yang sempat membahas perjalanan bisnis ke luar negeri.
Austin yang kini menganggukkan kepalanya karena melihat bola matanya yang mulai redup, menandakan bahwa matanya belum sepenuhnya terbuka akibat efek kantuk.
"Semoga mimpi indah, Sayang. Aku juga mencintaimu." Lalu mendaratkan bibir untuk mencium lembut di bibir sang istri.
Bahkan setelah itu, ia kembali mempererat pelukan karena istrinya bersembunyi di dadanya. Seakan sangat hafal jika wanita yang sangat dicintainya itu suka mengendus aroma tubuhnya.
Ia juga sangat lelah dan ingin segera tidur karena perjalanan jauh ke London untuk bertemu Yoshi seakan meremukkan tulangnya. Austin merasakan pegal di sekujur tubuhnya karena kelelahan dan kurang istirahat selama tiga hari.
Beberapa saat kemudian, suara napas teratur memenuhi ruangan dan terlihat suami istri yang saling mencintai dan putra laki-lakinya telah larut ke dalam alam bawah sadar.
Beberapa jam kemudian, terlihat gerakan Diandra dengan keringat bercucuran dari pelipisnya sambil mengigau terus. Hingga terbangun saat merasakan detak jantung yang luar biasa saat merasakan badan terpental di dalam mobil sambil bermimpi.
"TIDAK!" teriak Diandra yang langsung membuka mata dan menormalkan detak jantung yang tidak beraturan saat ini.
Bahkan tidak sempat mengingat apa yang terjadi, mendengar suara bariton seorang pria yang baru bangun tidur dan langsung menanyakan berbagai pertanyaan.
"Sayang, apa yang terjadi? Apakah kamu mengalami mimpi buruk?" Austin yang sedang tertidur lelap, tiba-tiba terbangun begitu terkejut dengan suara teriakan dan gerakan ranjang.
Sementara Diandra yang masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan, kini menatap suaminya yang bangun untuk mengambilkan air minum.
"Lihat, kamu sampai berkeringat seperti ini." Austin mengusap peluh di pelipis istrinya dan menatap iba wanita yang masih menghela napas.
Diandra yang baru saja selesai minum air, kembali memberikan suaminya gelas kosong. Lalu terdiam karena masih terus mengingat kejadian mengerikan dalam mimpi itu.
Ia sangat khawatir tentang mimpi yang biasanya diartikan sebagai kemalangan.
__ADS_1
"Aku bermimpi buruk."
"Mimpi apa, Sayang? Boleh aku tahu?" Austin kini duduk di tepi ranjang sambil memegang erat telapak tangan istrinya agar bisa memberikan kenangan.
Diandra masih belum membuka mulut untuk menceritakan kisah mimpinya karena takut. "Bolehkah aku memberitahumu tentang mimpi yang selalu memiliki arti buruk ini?"
"Mimpi hanyalah bunga tidur, Sayang. Jadi jangan terlalu dipikirkan dan lupakan saja jika kamu tidak ingin membicarakannya." Austin masih sibuk membelai lembut punggung tangannya dengan jari-jarinya yang melengkung itu.
Sebenarnya Diandra mengalami dua kali mimpi seperti itu dan memang benar itu adalah mimpi yang mengandung arti kematian. Tak ingin menyimpan ketakutannya sendiri, kini Diandra mulai menjelaskan.
“Aku bermimpi kami sudah menikah dan masih memakai baju pengantin, tapi mengalami kecelakaan karena mobilnya ditabrak truk besar.” Refleks ia menghentikan ceritanya karena tidak ingin terjadi hal-hal yang membuatnya selalu takut dan khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi.
Sementara itu, Austin sangat terkejut karena yang baru saja diceritakan Diandra adalah diri sendiri.
"Lupakan saja, Sayang. Masih terlalu pagi untuk bangun, jadi kita masih bisa tidur lagi. Lagipula aku ada meeting besok." Kembali berbaring karena tidak mau ambil pusing dengan hal sepele seperti ini.
Saat kekhawatiran belum terjawab, kini ia mengungkapkan sesuatu yang ada di pikirannya. "Kamu harus tahu bahwa aku dulu bermimpi seseorang duduk di singgasana dan beberapa hari kemudian meninggal. Sejak itu dan karena tekanan, aku sulit tidur. Jadi aku tidak bisa tidur nyenyak di mana pun kecuali di rumah ini."
Kemudian melihat ke kakinya. "Sampai kapan aku akan cacat. Aku lelah, Sayang karena sampai sekarang masih belum bisa berjalan dan hanya bisa menyusahkanmu."
“Ya, sabar dan semangat, agar tidak merasa kehilangan satu-satunya hal berharga, yaitu harapan.” Austin saat ini khawatir jika wanita yang ada di sebelahnya tersebut mengingat wajah mempelai pria yang berada di dalam mobil hingga kecelakaan itu.
'Apakah Diandra melihat kalau mempelai pria yang ada di dalam mobil hingga kecelakaan itu adalah Yoshi, bukan aku?'
Austin sebenarnya tidak tertarik membahas pengantin pria yang sedang bersama Diandra dalam mimpinya. Namun, hanya ingin bertanya apakah lelaki di dalam mobil yang mengenakan gaun pengantin itu adalah Yoshi atau dirinya.
"Sayang, jadi aku bersamamu di dalam mobil. Apakah aku yang menyebabkan kecelakaan itu? Maafkan aku."
Diandra refleks menggelengkan kepalanya karena ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa dalam mimpi wajah pria di belakang kemudi tidak terlihat jelas.
"Aku tidak melihat wajahmu saat itu karena hanya fokus pada pakaianku. Jadi, aku mengenakan gaun pengantin dan itu pasti kamu. Tidak mungkin aku menikah dengan pria lain."
Diandra benar-benar merasa takut jika yang dikhawatirkannya terjadi. "Semoga tidak terjadi apa-apa dalam kehidupan rumah tangga kita."
"Jangan khawatir, Sayang. Semoga tidak akan terjadi apa-apa pada kita." Kini Austin mulai mengerti bahwa yang dipikirkan Diandra adalah apa yang terjadi saat bersama Yoshi.
__ADS_1
'Apa yang akan ia pikirkan jika wajah Jimmy terlihat jelas dalam mimpinya? Apakah ia akan bertanya padaku tentang pria yang pernah menikah dengannya, tapi mengalami kecelakaan hari itu?' gumam Austin yang saat ini hanya bisa bertanya dalam hati untuk menghilangkan keraguan.
Ketika Diandra masih merasa cemas akan mimpinya karena sangat takut akan terjadi sesuatu yang buruk, sehingga tidak bisa tidur meskipun suaminya telah menghiburnya.
Jika biasanya ia cepat tertidur setelah dipeluk erat oleh pria yang sangat dicintainya, tapi hari ini tidak berlaku karena yang terjadi adalah tidak bisa melanjutkan tidur sama sekali.
"Sayang, aku tidak bisa tidur. Apa yang harus kita lakukan?"
"Haruskah kita melakukan ronde kedua?" tanya Austin yang saat ini juga tidak bisa berpikir jernih untuk menenangkan istrinya yang gelisah karena mimpi buruk.
Sejujurnya, ia juga tahu bahwa arti mimpi tentang wanita dalam pelukan memang pertanda buruk, tapi tetap berusaha berpikir positif agar tidak terganggu dengan apa yang dipikirkan istrinya.
Refleks Diandra langsung mencubit lengan kokoh suaminya karena merasa apa yang dikatakannya telah membuatnya kesal.
"Aku serius dan tidak bercanda."
"Aku juga, Sayang." Austin saat ini hanya meringis dengan rasa sakit di lengannya akibat ulah wanita dengan bibir mengerucut itu. Padahal sebenarnya hanya berakting karena berharap bisa menenangkan perasaan istri yang sedang galau karena mimpi buruk.
"Aku tidak ingin ronde kedua." Diandra yang sedari tadi memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan perasaan yang berkecamuk itu, kini mendapat ide dan berharap suaminya akan setuju.
"Aku ingin melakukan sesuatu."
"Ya, Sayang?"
"Bawa aku ke ruang olahraga."
Austin mengernyitkan dahi karena terkejut mendengar permintaan istrinya saat masih jam tiga pagi.
"Untuk apa kamu pergi ke sana?"
"Lakukan saja apa yang aku mau. Nanti kamu juga akan tahu jawabannya," kata Diandra yang kini sedang mengarahkan jarinya ke kursi roda.
Karena tak ingin semakin penasaran dengan keinginan sang istri, kini Austin menunggu untuk mengangkat tubuh sang istri dan menurunkannya ke kursi roda, lalu mendorongnya keluar ruangan.
To be continued...
__ADS_1