Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bingung menjelaskan


__ADS_3

Beberapa saat lalu di apartemen, Austin terlihat sibuk menemani putranya bermain mobil-mobilan di ruangan santai. Di mana di sana ada fasilitas lengkap home theater.


Awalnya keduanya terlihat sangat asyik dengan bercanda tawa. Bahkan ia sering mencium gemas anak laki-laki yang merupakan putra kandungnya tersebut.


"Aksa nanti kalau sudah besar, mengikuti jejak Papa untuk mengurus perusahaan, ya! Atau punya cita-cita lain?" Mengusap rambut punggung anak laki-laki yang dianggap sangat menggemaskan dan disayangi tersebut.


Hingga suara yang keluar dari bibir mungil anak laki-laki tersebut ditangkap indra pendengarannya dan membuatnya terkekeh geli menanggapi.


"Piderman." Aksa menyukai tokoh superhero yang menjadi idola dan ingin seperti itu.


Saat Austin merasa putranya sangat menggemaskan karena salah mengartikan pertanyaan mempunyai cita-cita apa.


Namun, sepertinya berpikir ingin menjadi apa dan langsung menyebutkan tokoh superhero yang disukai. Kemudian ia langsung mengangkat tubuh seringan bulu tersebut ke atas pangkuan.


"Jadi, Aksa suka Spiderman?"


"Suka." Aksa tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala dengan wajah berbinar.


"Kalau begitu, kapan-kapan kita beli baju spiderman, oke!" ucap Austin yang berpikir akan mengajak putranya pergi shopping berdua dan membayangkan hal itu, merasa sangat bersemangat.


Berpikir akan pergi nanti sore saja karena sekarang ingin beristirahat. Rasanya sangat lelah karena semalaman menunggu di rumah sakit dan tidak bisa tidur.


Apalagi saat ini merasa bahagia ketika berhasil mendapatkan wanita yang selama ini dicintai, meski dengan melakukan sebuah tipuan saat Diandra amnesia.


Meskipun tidak ada penyesalan karena mendapatkan Diandra dengan cara seperti itu, tetapi ia berharap jika wanita yang dicintai sembuh dari amnesia setelah benar-benar mencintainya.


'Semoga Diandra mencintaiku sebelum ingatannya kembali, sehingga bisa memaklumi dan mau memaafkan perbuatanku serta tidak mempermasalahkan saat kami nanti menjadi pasangan suami istri.'


Ia saat ini menatap ke arah sosok anak kecil yang ada di hadapannya dan membuatnya merasa seperti melihat dirinya di masa kecil.


'Wajah Aksa bahkan sangat mirip denganku dan ini adalah sebuah berkah untukku. Tuhan sudah menghukumku dengan mengalami amnesia dan sepertinya sekarang menghukummu karena tidak berbicara jujur padaku serta kabur ketika aku ingin menikahimu.'


Ia yang sudah beberapa kali mencium gemas putranya tersebut, kini mendengar suara mungil itu.


"Beli baju piderman," ucap Aksa yang sudah sangat bersemangat untuk pergi dan mengajak pria di hadapannya tersebut agar segera membeli pakaian yang diinginkan.


"Beli sekarang?" Austin refleks menoleh ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul dua siang.


Tadi rencana ingin mengajak putranya tidur dengan saling memeluk saat siang hari, tapi tidak bisa melakukan itu begitu mendengar keinginan putranya.

__ADS_1


Bahkan sudah bangkit berdiri dan menarik pergelangan tangan agar keluar dari apartemen untuk pergi membeli pakaian superhero seperti yang tadi disebutkan.


Karena tidak ingin mengecewakan putranya yang pertama kali mengajaknya pergi, Austin seketika bangkit dari kasur lantai tersebut dan mengajak untuk ke kamar karena ini berganti pakaian, tapi tidak diizinkan dan mengajak ke pintu keluar.


Karena melihat semangat dari putranya yang sudah mengajak pergi dan tidak mengizinkan untuk mengganti pakaian, akhirnya ia menuruti dengan hanya mengambil dompet dan kunci mobil.


Setelah memberikan pesan pada dua pelayan yang ada di apartemen, Austin mengatakan akan pergi ke Mall sebentar. Kemudian berlalu pergi dan mulai berjalan menuju lift yang membawanya ke lobi apartemen.


Beberapa saat kemudian, ia sudah menurunkan putranya ke kursi di bagian depan dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu, menutup pintu mobil dan berjalan memutar untuk segera masuk dan duduk di balik kemudi.


Seperti yang diinginkan oleh putranya, ia mengajak ke Mall dan berjalan sebagai ayah dan anak dengan sangat bersemangat dan bahagia.


Bahkan membelikan semua yang ditunjuk oleh putranya, termasuk beberapa baju superhero karena Aksa menunjuk tidak hanya memilih satu saja, tetapi menyukai yang lain.


Bahkan ia sudah membawa beberapa paper bag di tangan sambil menggandeng putranya dan tak lupa senyuman penuh kebahagiaan terukir di bibir.


'Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika akan merasa bahagia yang luar biasa ketika bisa mengajak putraku pergi jalan-jalan dan membelikan semua barang-barang yang diinginkan.'


'Bahkan aku seperti seorang papa muda dan keren yang memiliki putra sangat tampan dan menggemaskan.'


Austin yang masih menemani putranya berjalan mengelilingi Mall, melewati barbershop dan langsung mengajak masuk ke dalam.


Ingin putranya tampil semakin tampan dan rapi dengan memotong rambut, kini ia memberitahu ingin model rambut yang kekinian.


"Pasti Diandra sering mengajak Aksa potong rambut di barbershop. Jadi, seolah tidak asing dan sangat tenang seperti pria dewasa. Putraku memang benar-benar sangat pintar."


Hingga beberapa saat kemudian, sudah selesai dan karena merasa lapar, mengajak ke salah satu tempat makan di dalam Mall. Karena tidak mengetahui makanan apa yang disukai oleh putranya, ia bertanya dengan menunjuk ke arah beberapa stand kuliner di sana.


Namun, saat ini melihat putranya hanya menggelengkan kepala. "Aksa pasti sudah lapar. Ayo, kita makan dulu."


Berharap putranya mau memilih salah satu kuliner yang disukai dengan menunjuk ke bagian gambar, tetapi berkali-kali hanya mendapatkan jawaban sebuah gelengan kepala.


Tentu saja Austin merasa sangat bingung harus bagaimana merayu putranya tersebut agar mau makan setelah memilih apa yang diinginkan.


Namun, seperti enggan untuk makan, Aksa masih terus mengatakan tidak mau makan dan baru mengerti apa yang menjadi alasan putranya tersebut menolak.


"Mama. Mamam disuap mama." Aksa tiba-tiba teringat sang ibu dan ingin makan dari tangan wanita yang dirasa sudah lama tidak bertemu.


Austin yang saat ini sangat kebingungan karena berpikir bahwa bukan sekarang untuk mempertemukan ibu dan anak tersebut. Rencananya akan mengajak bertemu dengan sang ibu setelah Diandra keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


'Sepertinya tidak mungkin memisahkan terlalu lama seorang anak laki-laki dengan sang ibu. Aksa bahkan langsung mengingat ibunya saat diajak makan. Jika setiap hari begini, putraku bisa sakit karena tidak mau makan.'


'Aksa hanya ingin makan ketika disuapi oleh sang ibu dan aku harus mengajaknya bertemu dengan Diandra sekarang, tapi kira-kira apakah tidak akan menambah masalah?'


Austin yang saat ini masih berdiri di depan stan kuliner, belum beranjak dari sana karena tengah memikirkan keputusan apa yang harus diambil.


Hingga beberapa saat kemudian kembali mendengar suara putranya yang memanggil-manggil sang ibu.


Hal itu membuatnya tidak tega untuk menunda mempertemukan ibu dan anak tersebut. Akhirnya karena merasa tidak punya pilihan lain, akhirnya ia menuruti dan mengajak ke parkiran karena akan langsung menuju rumah sakit.


Setengah jam kemudian, sudah berjalan memasuki lobi rumah sakit dengan menggendong putranya dan tengah memikirkan alasan apa yang tepat disampaikan pada Diandra mengenai Aksa yang pastinya akan langsung memanggil mama.


'Kira-kira, alasan apa yang pantas dan cocok untuk disampaikan pada Diandra?' gumam Austin yang saat ini masih berpikir mengenai sesuatu mengganggu pikiran jika sampai wanita yang dicintai tersebut curiga padanya.


"Semoga Diandra tidak curiga atau berpikir ada sesuatu hal yang aneh ketika Aksa memanggil mama dan pastinya akan langsung memeluk erat sang ibu."


Ia menormalkan napas sebelum masuk ke dalam ruangan perawatan Diandra. Tadi mengatakan pada putranya tersebut bahwa sang ibu sedang sakit dan tidak boleh rewel atau nakal.


Berharap putranya tersebut sedikit menjaga jarak agar tidak terlalu menempel dengan sang ibu yang sedang sakit. Bahkan ia sudah menemukan alasan untuk berbohong pada Diandra jika nanti bertanya.


Kemudian Austin membuka pintu di hadapannya dan menggendong putranya berjalan masuk. Namun, Aksa merengek untuk diturunkan karena ingin berjalan sendiri begitu melihat sang ibu yang masih berbaring di atas ranjang.


Karena tidak ingin putranya menangis atau marah, sehingga langsung menurunkan dan melihat anak laki-laki tersebut berlari ke arah ranjang perawatan.


"Mamaaa!" Aksa berteriak dan langsung mendekati sang ibu yang sangat dirindukan.


Sementara itu, Diandra yang tadi langsung menatap ke arah pintu dan melihat Austin tengah menggendong anak kecil dan dipastikan bahwa itu adalah putra yang diceritakan, sehingga merasa sangat aneh begitu mendengar suara yang memanggilnya ibu.


Ia bahkan tidak mengalihkan perhatian pada anak laki-laki yang sudah berada di hadapannya dan seperti ingin naik ke atas ranjang.


"Mama?" tanya Diandra yang masih merasa heran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh anak kecil itu.


"Mama, mau mamam."


Sementara itu, Diandra yang masih merasa bingung dengan situasi saat ini, di mana tiba-tiba ada anak kecil yang memanggilnya ibu, padahal baru pertama kali bertemu.


Ia merasa sangat aneh dan saat ini menatap ke arah pria yang sudah berada di dekat anak kecil itu.


"Kenapa putramu memanggilku mama?"

__ADS_1


Austin seketika bersitatap dengan sang ibu dan kebingungan untuk menjelaskan kepada Diandra, saat Aksa berusaha untuk naik atas ranjang memeluk sang ibu.


To be continued...


__ADS_2