Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bukan lawan yang sepadan


__ADS_3

Sementara itu, Diandra yang berada di seberang telpon, kini merasa jantungnya hampir meledak karena ia sangat takut sekaligus khawatir. Ia sebenarnya tidak tahu bukti apa yang dimaksud oleh Austin, ada dua hal yang terpikirkan olehnya.


'Bukti? Apakah itu adalah sebuah video mengenai apa yang kami lakukan? Ataukah bukti transfer uang untuk biaya rumah sakit yang sudah dikirimkannya sebelum melakukannya padaku?'


Saat Diandra masih sibuk dengan pemikirannya untuk menebak bukti apa yang dimaksud oleh Austin, ia kembali merasa hidupnya diambang kehancuran saat mendengar suara pria itu dengan jelas saat berbicara.


"Berikan padaku ponselnya karena aku akan berbicara empat mata dengan Diandra!" sarkas Austin yang saat ini merebut ponsel milik Yoshi karena ingin menyelesaikan masalah tanpa ada campur tangan orang lain.


"Berengsek! Kembalikan ponselku!" sarkas Yoshi yang berniat untuk mengejar Austin, tapi tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh aparat keamanan tersebut.


"Lebih baik Anda memberikan kesempatan pada pasangan itu untuk menyelesaikan masalahnya," ucap pria dengan seragam biru tersebut karena kini mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara dua pria itu hingga membuat keributan di tempat wisata.


Yoshi benar-benar sangat frustasi karena tangannya sudah ditahan dengan sangat kuat oleh pria tersebut dan tidak bisa melakukan apapun.


Satu-satunya hal yang sangat dikhawatirkan olehnya hanyalah bagaimana keadaan Diandra saat ini jika sampai berbicara dengan pria yang sangat dibenci.


'Sial! Aku sangat kasihan pada Diandra karena tidak bisa melindunginya dari bajingan berengsek itu!' gumam Yoshi yang saat ini hanya bisa menatap dari jauh ketika Austin terlihat sangat serius berbicara dengan Diandra melalui telepon miliknya.


Ia merasa sangat menyesal karena menghubungi Diandra dan membuat wanita itu terjerumus pada pria yang sangat dibenci. "Diandra, maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janjiku untuk melindungimu dari si berengsek itu!"


Sementara di sisi berbeda, Austin tersenyum menyeringai karena rencananya telah berhasil dan saat ini bisa berbicara dengan Diandra di telpon.


"Kenapa kamu hanya diam saja, Diandra? Apa kamu tidak ingin bertanya padaku mengenai bukti apa yang kusimpan dan akan bisa menghancurkanmu?"


Diandra yang saat ini merasa kebingungan untuk membuka suara karena merasa sangat jijik mendengar suara bariton dari Austin yang dianggap adalah seorang bajingan.

__ADS_1


Namun, menyadari bahwa ia harus tahu agar bisa melanjutkan hidup karena tidak akan bisa tenang tanpa mengetahui rencana apa sebenarnya yang disusun oleh pria licik itu.


"Apa maumu sebenarnya? Bahkan semua yang terjadi di antara kita sudah selesai di malam itu. Lalu, apa lagi maumu?" teriak Diandra dari seberang telpon karena benar-benar sangat marah saat gagal untuk menjauh dari pria yang sangat dibenci.


Hingga rasa bencinya semakin bertambah besar saat selalu mendengar suara Austin yang tertawa terbahak-bahak padanya.


Bahkan ia yang saat ini bersembunyi di balik salah satu wahana anak-anak, meremas pakaian untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan akibat perbuatan dari Austin.


"Diandra ... Diandra, bukankah kamu sudah mengetahui apa yang kuinginkan? Aku bahkan tadi sudah mengatakannya ketika pertama kali melihatmu. Apa aku perlu menjelaskan lagi?"


Austin merasa bahwa Diandra adalah seorang wanita yang sangat sulit untuk ia taklukkan. Namun, ia malah semakin ingin segera mendapatkan Diandra agar bisa merantai wanita itu hanya menjadi miliknya.


Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara teriakan yang menunjukkan sebuah kemurkaan dan sama sekali tidak diperdulikannya karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin memiliki Diandra.


Ia ingin Diandra selamanya hanya menjadi miliknya. Meskipun wanita itu seribu kali menolaknya, tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan wanita yang telah membuatnya mengakhiri masa lajang dan membuatnya ingin membina rumah tangga.


Hingga ia kembali membulatkan mata dan mengepalkan tangan karena meskipun berkali-kali menolak pria itu, sama sekali tidak diperdulikan ataupun didengarkan.


"Aku sudah memilihmu untuk menjadi istriku dan kamu tidak berhak sekalipun untuk menolaknya, Diandra! Apalagi aku memiliki bukti saat mentransfer sejumlah uang pada ibumu. Apa kamu ingin aku menunjukkan pada semua orang mengenai kedatanganmu ke apartemen saat menjual diri?"


Austin sangat yakin jika semua orang akan membelanya karena ia berniat baik untuk menikahi Diandra setelah merenggut kesucian wanita itu.


Bahwa pria lain mungkin hanya menginginkan tubuh seorang wanita setelah mengeluarkan banyak uang, sedangkan ia berniat serius untuk menikahi wanita yang telah disetubuhi.


Karena tidak langsung mendengar jawaban dari Diandra, Austin saat ini berniat untuk menunjukkan kekuasaannya pada wanita itu agar menyadari bahwa ia bukanlah pria yang mudah untuk ditolak ataupun dihindari.

__ADS_1


"Baiklah. Jika memang itu yang kamu inginkan, aku akan melakukan cara apapun sesuai dengan yang kuinginkan." Kemudian Austin mematikan sambungan telpon secara sepihak dan tentu saja langsung mengirim nomor milik Diandra ke nomornya agar bisa langsung ia simpan.


Ia kini sudah memutuskan untuk memakai cara sesuai dengan pemikirannya karena yang terjadi adalah cara kelembutan tidak membuat Diandra berlari padanya.


Bahkan saat menatap ke arah Yoshi, ia mendapatkan sebuah ide untuk membuat Diandra menyadari bahwa hanya ia yang pantas mendapatkan wanita itu.


'Baiklah. Kita mulai rencananya sekarang,' gumam Austin yang saat ini tersenyum menyeringai pada pria yang terlihat sangat membencinya.


Ia pun langsung memberikan ponsel milik Yoshi. "Aku sudah selesai." Kemudian ia menatap ke arah dua aparat keamanan tersebut. "Apa saya bisa pergi dari sini?"


Aparat keamanan tersebut saling bersitatap karena merasa bingung saat pria itu tidak lagi membahas mengenai calon istri yang tadi dikatakan. Namun, mereka juga tidak ingin terkesan mencampuri urusan pribadi untuk bertanya bagaimana dengan hasil pembicaraan di telpon.


Akhirnya mereka menganggukkan kepala dan mempersilakan pria itu pergi.


Sementara itu, Yoshi yang dari tadi menatap ke arah Austin saat menelpon, tentu saja mengetahui apa yang dilakukan pria itu.


Bahwa Austin saat ini sudah mengetahui nomor telepon Diandra dan tentunya membuatnya merasa semakin bersalah dan berniat untuk menyuruh wanita itu mengganti nomor.


'Aku sangat yakin jika Austin pergi untuk melaksanakan rencana jahatnya pada Diandra. Aku akan menyuruhnya untuk tinggal di apartemen Naura saja karena di sana jauh lebih aman daripada tempat kos. Semoga Diandra mau dan tidak menolak kebaikanku saat ingin menebus kesalahan.'


Austin yang tersenyum karena diizinkan pergi, sebelum melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar, melirik Yoshi dan mengungkapkan kalimat bernada sindiran.


"Sampai kapan pun, Diandra akan menjadi milikku dan kau tidak akan pernah bisa memilikinya. Itu janjiku padamu, Yoshi?" Menepuk pundak pria yang sangat ingin disingkirkan.


Tanpa berniat untuk menunggu tanggapan dari pria yang menurutnya bukan lawan yang pantas untuknya karena ia sudah mendapatkan keperawanan Diandra, lalu langsung beranjak pergi meninggalkan Yoshi dengan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2