
Diandra refleks langsung mendorong dada bidang pria yang saat ini ada di hadapannya. Bahwa perkataan dari Yoshi sangat konyol dan pertama kali mendengar ada seorang pria yang mengatakan seperti itu.
"Astaga! Menyingkirlah dariku karena rasanya aku tidak bisa bernapas."
Diandra akhirnya berhasil lepas dari kungkungan sosok pria dengan raut wajah terlihat sangat serius ketika mengatakan semua hal yang tadi diungkapkan padanya.
Yoshi mungkin sudah berubah gila karena baru saja mengatakan hal paling konyol seumur hidupnya. Meskipun itu terdengar sangat menjijikkan di telinga wanita baik-baik seperti Diandra, tapi sebenarnya ia benar-benar tulus dan jujur.
Bahwa ia benar-benar hanya ingin bersama wanita seperti Diandra yang dianggap adalah seorang wanita luar biasa karena mengorbankan diri demi kesembuhan sang ayah.
Bahkan sama sekali tidak tertarik pada Austin yang mengajak menikah dan bertanggung jawab. Itu menandakan bahwa wanita itu benar-benar tidak mudah didapatkan.
Bukan wanita yang silau akan harta ataupun nafsu semata. Bahkan ia sama sekali tidak mempermasalahkan jika wanita yang ada di hadapannya saat ini sudah tidak perawan lagi karena Austin lah yang berhasil mendapatkannya.
Ia sangat menyesal kenapa bertemu dengan Diandra setelah Austin. Mungkin jika ia yang terlebih dulu bertemu dengan Diandra, sudah dipastikan ceritanya mungkin akan berbeda.
Mungkin Diandra akan mau menerimanya tanpa pikir panjang. Apalagi baru saja wanita itu mengatakan bahwa ia adalah pria idaman bagi semua wanita, yang menandakan termasuk Diandra sendiri.
Hanya saja, tidak bisa memutuskan untuk menerimanya karena masa lalu kelam yang dialami, sehingga membangkitkan keraguan yang membuatnya tidak bisa memiliki Diandra.
"Diandra, maafkan aku. Tapi aku benar-benar sangat serius padamu. Aku tadi hanya menanggapi penjelasanmu mengenai alasan tidak mau menerimaku sebagai suami. Itu benar-benar tulus dari hatiku."
Bahkan Yoshi ingin Diandra berkomentar tentang perkataannya barusan dan berharap bisa mengetahui keinginan wanita itu.
"Apakah kamu ingin kita kawin lari atau memperkosaku karena aku akan menyerahkan keperjakaanku hanya padamu jika kita tidak berjodoh." Masih tidak mengalihkan pandangannya dari sosok wanita yang saat ini memijat pelipis.
Seolah ia telah membuat wanita itu sakit kepala. Hingga ia mendengar perkataan dari Diandra yang seolah mengejeknya habis-habisan.
"Astaga, Yoshi! Mana ada di dunia ini seorang perempuan yang memperkosa laki-laki? Yang ada, hanya akan merugikan pihak perempuan saja. Laki-laki hanya merasakan enak, sedangkan para wanita dirugikan jika sampai hamil."
Diandra seketika terdiam karena merasa tertampar dengan perkataannya sendiri. Ia seketika menatap ke arah perutnya yang masih datar dan khawatir jika apa yang baru saja dikatakan menjadi kenyataan.
"Hamil?"
Refleks ia langsung menggelengkan kepala karena berusaha untuk memenuhi pikirannya dengan energi positif agar tidak berpikiran buruk.
Yoshi pun seketika terdiam karena ia juga baru menyadari kesalahan, sehingga membuat Diandra sampai berpikir sejauh itu.
__ADS_1
Tentu saja ia tahu bahwa ada kemungkinan hal itu terjadi karena menurut cerita Diandra, Austin melakukannya tanpa mengenakan pengaman.
Jadi, besar kemungkinan jika mungkin hasilnya akan seperti yang baru saja disebutkan oleh Diandra. Karena merasa bersalah telah membuat wanita itu semakin tidak tenang, refleks Yoshi seketika menggenggam erat telapak tangan yang kini sudah berkeringat.
"Jika kamu sampai hamil anak bajingan itu, aku akan menikahimu untuk bertanggung jawab. Aku akan menyayangi anakmu seperti anak kandungku sendiri, Diandra. Percayalah padaku."
Bahkan saat ini Yoshi menatap teduh Diandra untuk menenangkan perasaan wanita yang terlihat dipenuhi oleh kekhawatiran. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat ketenangan Diandra terusik dengan perkataannya.
Bahwa ketulusannya berhasil membuat Diandra memikirkan hal-hal buruk akibat dari perbuatan Austin.
Diandra saat ini terdiam karena ada berbagai macam pikiran yang mengganggunya dan ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan jika sampai hamil.
Masa depannya pasti akan hancur dan jika anaknya dilahirkan tanpa ayah, pasti akan dipanggil anak haram. Ia tidak ingin itu terjadi.
Hingga begitu mendengar perkataan dari pria yang terlihat sangat tulus padanya, seolah membuatnya menjadi seorang wanita paling berharga di dunia.
"Yoshi, jangan memberikan sebuah harapan besar pada seorang wanita karena jika kau tidak bisa memenuhinya, wanita itu akan semakin hancur. Aku sudah hancur dan jika itu terjadi sekali lagi, aku tidak akan bisa menghadapinya."
Jika boleh egois, Diandra ingin langsung menghambur memeluk pria itu. Hanya saja, ada dinding pembatas yang sangat tinggi dan membuatnya seolah tidak sanggup untuk merengkuhnya.
Ia tidak ingin Yoshi durhaka pada orang tua karena lebih memilihnya daripada mereka yang sudah susah payah berjuang membesarkan serta merawat dengan baik dan memberikan semua hal sampai pria itu sehebat ini.
Yoshi benar-benar sangat kecewa pada Diandra yang tidak mempercayainya. Seolah menganggap bahwa perkataannya tidak tulus dari hati.
"Kenapa kamu sama sekali tidak percaya pada ketulusanku, Diandra? Aku benar-benar sangat tulus padamu dan tidak berniat untuk mempermainkanmu sama sekali. Bahkan aku sudah mengajakmu untuk menikah, bukan?"
Hingga ia kembali melihat wanita dengan kulit putih tersebut menggelengkan kepala, seolah tidak membenarkan perkataannya barusan.
"Lalu apa? Aku mohon katakan padaku apa yang bisa membuatmu menerima lamaranku." Yoshi akan melakukan apapun yang diinginkan oleh Diandra agar bisa segera menikahi wanita itu.
Sementara di sisi lain, Diandra yang saat ini merasa sangat bimbang, sebenarnya tidak berniat untuk mengatakan pada Yoshi. Namun, ia tidak ingin dianggap seperti meremehkan ketulusan Yoshi.
Kini, ia membalas genggaman tangan dari Yoshi dan menatap intens wajah dengan rahang tegas yang dipenuhi oleh pahatan sempurna di hadapannya.
"Kamu harus membuktikan keseriusanmu setelah mendapatkan restu dari orang tuamu karena aku tidak akan pernah bisa menerimamu jika mereka tidak memberikan izin kamu menikahiku."
Diandra berhenti sejenak untuk melihat bagaimana ekspresi dari wajah Yoshi dan melanjutkan apa yang ada di otaknya saat ini.
__ADS_1
"Aku pun tidak ingin kawin lari maupun berbuat gila dengan memperkosamu yang ingin menyerahkan keperjakaanmu padaku."
Bukti adalah sebuah hal yang selama ini diinginkan oleh para wanita. Bukan janji-janji yang kadang bisa diingkari dan Diandra tidak ingin kembali masuk ke dalam lubang yang sama.
Tanpa pikir panjang, Yoshi menyetujui syarat dari Diandra karena ia yakin jika sang ayah ataupun ibunya akan setuju dengan pilihannya. Ia tahu bahwa orang tuanya tidak pernah membedakan kasta orang lain.
Apalagi dari dulu sering berbuat baik pada orang-orang yang mengalami kekurangan dalam kehidupan ekonomi. Jadi, berpikir bahwa orang tuanya akan langsung menyetujui keinginannya untuk menikahi Diandra.
"Baiklah. Aku akan mengatakan pada orang tuaku. Jadi, kita langsung menikah jika nanti mereka setuju, oke!" Kemudian Yoshi langsung memberikan jari kelingkingnya agar Diandra mau mengaitkan dengan jari kelingkingnya.
Meskipun sebenarnya tidak yakin pada perkataan Yoshi, tetap saja Diandra tidak ingin membuat pria itu menunggu lama karena ia sendirilah yang memberikan sebuah harapan.
Meskipun nantinya ia sendirilah yang terbebani dengan harapan itu jika sampai ditolak mentah-mentah oleh orang tua Yoshi.
"Baiklah. Aku janji padamu." Kemudian Diandra langsung mengaitkan jari kelingkingnya.
Seketika Yoshi tersenyum lebar karena merasa sangat bahagia. Ia benar-benar berharap sebentar lagi bisa menikahi Diandra yang merupakan satu-satunya wanita luar biasa yang pernah ditemuinya.
"Deal, kita menikah!" sahut Yoshi yang saat ini semakin mengeratkan jari kelingkingnya seolah tidak ingin melepaskannya.
Diandra bisa melihat raut wajah berbinar dari Yoshi dan hal itu seolah sebuah penghiburan untuk dirinya.
Karena seolah memberikan penghiburan untuknya agar tidak dipenuhi oleh pikiran buruk mengenai hal yang ditakutkan, yaitu khawatir jika hamil benih Austin. Itu sangat dikhawatirkan olehnya.
Namun, saat melihat keseriusan dan ketulusan dari Yoshi, kini seolah ia menemukan sumber mata air di padang pasir.
"Kamu baru boleh tertawa setelah mendapatkan restu. Daripada tertawa, kemudian menangis. Lebih baik menangis dulu, baru kemudian tertawa. Ayo, kita turun! Nanti terlambat. Bisa-bisa, aku mendapatkan cibiran dari para staf di perusahaanmu."
Diandra kini melepaskan jari kelingking dan beranjak turun. Namun, ia mendengar perkataan dari Yoshi sebelum turun dan membuatnya merasa sangat terharu.
"Aku akan selalu tertawa jika selalu bersamamu, Diandra." Yoshi melakukan hal yang sama begitu Diandra sudah tidak menolaknya lagi.
Bahwa ia saat ini punya harapan untuk bisa bersama wanita yang diyakini akan menjadi istri baik hati dan juga ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
'Ya Allah, bolehkah aku berharap jika Yoshi adalah jodohku? Aku hanya ingin pria sepertinya menjadi suami karena ia adalah seorang pria baik dan bertanggungjawab. Bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai aku yang sudah tidak perawan.'
To be continued...
__ADS_1