Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Malaikat pelindungmu


__ADS_3

Saat mengingat hal itu dan memikirkan berbagai macam kemungkinan yang mungkin terjadi, kepalanya terasa pusing dan membuatnya memijat pelipis.


Di saat bersamaan, melihat Yoshi telah kembali dengan membawa laptop dan mengkhawatirkannya karena bertanya setelah mendaratkan tubuhnya di dekatnya.


"Apa kamu pusing, Diandra? Jika tidak enak badan, tidak perlu memforsir pikiranmu." Yoshi yang baru saja meletakkan laptop di atas meja, tidak jadi membohongi begitu merasa khawatir melihat Diandra yang memijat pelipis.


Refleks Diandra langsung menggelengkan kepala dan menjelaskan kekhawatiran yang dirasakan mengenai Austin. Jadi, ia menceritakan tentang ancaman Austin yang tadi saat di telpon.


Karena ia sudah menceritakan semuanya tanpa terkecuali pada Yoshi, sehingga berpikir bahwa pria itu bisa menjadi tempatnya untuk mencurahkan semua yang dirasakannya.


"Kira-kira, menurutmu apa yang akan dilakukan bajingan itu pada bukti transfer uangnya?" tanya Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pria di sebelahnya.


Sementara itu, Yoshi seolah memutar otak karena ia benar-benar tengah berusaha menjadi seorang Austin.


'Kira-kira apa yang akan kulakukan jika jadi Austin? Seorang pria yang terobsesi pada satu wanita yang baru saja dibeli dan ingin memilikinya selamanya dengan cara mengikat melalui pernikahan.'


Yoshi saat ini menatap ke arah Diandra dan ada sesuatu yang terbersit di pikirannya. Ia memiliki pertanyaan mengenai sesuatu yang bersifat pribadi pada Diandra, tapi khawatir jika wanita itu akan merasa tersinggung.


"Ada satu hal yang terpikirkan olehku, tapi aku perlu sebuah jawaban darimu. Hanya saja, ini bersifat sangat privasi, Diandra." Yoshi saat ini merasa sangat sungkan dan tidak ingin jika harus mengungkapkan pertanyaannya.

__ADS_1


Karena ingin tahu pemikiran Yoshi, Diandra saat ini mengerutkan kening. Justru ia makin merasa penasaran atas apa yang ingin ditanyakan oleh pria itu.


"Katakan saja. Semua sudah kamu ketahui dan tidak ada yang bisa aku tutupi karena percaya padamu bisa menolongku lepas dari si berengsek itu!"


Akhirnya terpaksa Yoshi mengungkapkan sesuatu yang terbesit di pikirannya untuk menjawab pertanyaan wanita itu yang ingin mencari tahu mengenai rencana Austin.


"Saat kamu pertama kali melayani bajingan itu, apa kamu ...." Yoshi menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena bingung harus mengungkapkan sesuatu yang sangat tidak pantas dikatakan pada wanita sebaik itu.


"Astaga!" Yoshi seketika berkacak pinggang pinggang setelah bangkit berdiri dari sofa.


Diandra makin tidak paham apa yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Yoshi. Ia mendongak menatap ke arah pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


Sementara itu, Yoshi saat ini berbalik badan dan menatap ke arah wanita di atas sofa tersebut, kini terpaksa menanyakannya.


"Maaf, sebelumnya karena aku tidak ingin membuatmu salah sangka atau berpikiran jelek padaku. Jadi, si berengsek itu tadi terlihat sangat terobsesi padamu dan ingin mengikatmu dalam pernikahan meskipun kamu sudah menolaknya berkali-kali."


"Pasti ada sesuatu yang membuatnya terobsesi padamu dan ingin membuatmu tetap menjadi miliknya dan tidak boleh dimiliki oleh pria lain. Apakah saat bercinta, kamu bersikap agresif padanya? Jadi, membuatnya tidak ingin kehilanganmu karena itu."


Yoshi yang baru saja mengakhiri pemikiran dan mengungkapkan pertanyaan yang ada di otaknya, kini merasa khawatir jika Diandra merasa tersinggung.

__ADS_1


Namun, ia seketika melihat gelengan kepala yang menunjukkan bahwa pemikirannya sangat salah.


"Tidak, aku sama sekali tidak melakukan apapun dan hanya diam sambil meneteskan air mata saat kehilangan kesucianku. Apa bajingan itu terobsesi padaku karena aku masih perawan?"


Kini, Diandra seolah mendapatkan sebuah titik terang ketika mengingat jika saat itu Austin mengungkapkan bahwa ia adalah milik pria itu.


Yoshi kini teringat akan tatapan tajam dari Austin tadi saat menatap Diandra ketika bertemu pertama kali. "Sepertinya Austin benar-benar jatuh cinta padamu begitu mengetahui kamu benar-benar perawan dan rela menjualnya demi kesehatan ayahmu."


"Bahkan aku pun juga tidak akan pernah melepaskanmu karena menyadari jika di zaman sekarang ini sangat sulit menemukan gadis perawan yang menjadi sebuah status dari para wanita belum menikah."


Bahkan saat ini para pria menganggap para wanita janda lebih menggoda karena sudah jelas statusnya daripada para gadis single yang hanyalah status semata.


"Austin akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkanmu, Diandra. Tapi saat kamu memutuskan untuk tidak menerimanya, aku akan selalu ada untuk melindungimu dari bajingan itu. Jadi, tenang saja dan anggap aku adalah malaikat pelindungmu."


Bahkan ketulusan dari Yoshi yang selalu mengatakan akan melindunginya dari obsesi Austin Matteo, membuatnya merasa sangat terharu dan terlindungi. Jadi, ia benar-benar merasa lega dan tidak takut lagi menghadapi pria itu.


"Terima kasih, Yoshi. Aku percaya bahwa kamu bisa melindungiku dari Austin," ucap Diandra yang kini menunjuk ke arah laptop. "Ayo, ajari aku agar besok bisa bekerja dengan baik untukmu."


"Baiklah, kita lupakan saja dulu mengenai bajingan yang tidak perlu kamu takutkan setelah ada aku." Kemudian Yoshi mulai membuka laptop dan membuka file dari email-nya untuk mengajari jenis pekerjaan yang akan dilakukan Diandra.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2