Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bekerja dengan baik


__ADS_3

Gosip cepat menyebar di perusahaan Narendra setelah perbuatan Yoshi tadi yang menggandeng tangan Diandra di depan para staf yang menatap kedatangan mereka berdua pagi tadi.


Bahkan semua staf wanita di perusahaan itu yang belum mengetahui seperti apa wajah wanita yang dekat dengan bos mereka, tentu saja merasa sangat penasaran dan ingin tahu.


Ada beberapa wanita yang marah, kesal, kecewa serta kehilangan harapan ketika pria yang mereka idolakan malah dekat dengan pegawai baru yang mereka ketahui merupakan sekretaris pribadi.


Padahal selama ini pimpinan perusahaan itu tidak pernah sekalipun menggunakan sekretaris pribadi untuk membantu pekerjaan karena sudah mempunyai asisten yang menyelesaikan semuanya.


"Eh ... sebenarnya seperti apa wajah wanita yang tadi naik ke atas bersama bos?"


"Ada yang bilang wanita itu sangat biasa dan tidak terlalu cantik."


"Wah ... aku jadi iri dengan wanita itu yang memiliki nasib baik bisa disukai oleh bos."


"Jangan-jangan wanita itu memakai toilet atau susuk dan sejenisnya karena selama ini bos tidak pernah tertarik dengan satu wanita pun di perusahaan ini."


"Sepertinya begitu. Aku jadi ingin tahu seperti apa wanita itu. Kira-kira wanita itu nanti akan pergi ke kantin atau tidak saat meja makan siang ya?"


Suara beberapa staf wanita yang saat ini sibuk bergosip dengan sesuatu hal yang berhubungan pria idaman mereka telah kekal didapatkan hanya karena pegawai baru yang bahkan dianggap tidak jauh lebih cantik dari mereka.


Jika banyak para wanita yang merasa kecewa karena kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki hubungan spesial dengan bos mereka, hal berbeda dirasakan oleh staf pria yang merasa lega.


Itu karena mereka seolah sama sekali tidak berada di mata para wanita yang selama ini mengagumi ketampanan serta kehebatan seorang Yoshi. Jadi, seolah para staf pria di perusahaan tidak pernah terlihat menarik sama sekali di mata tetap wanita yang bekerja di sana.


Jadi, begitu melihat sendiri ketika bos menggandeng tangan seorang wanita masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan, tentu saja mengerti apa yang terjadi di antara mereka. Apalagi selama ini tidak pernah melihat bos yang dekat dengan para wanita.


"Akhirnya pesona kita sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi setelah kedatangan wanita itu di perusahaan."


"Iya, benar. Aku sangat mendukung terus memiliki hubungan dengan wanita itu. Ia sangat cantik dan pasti memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh para staf wanita di perusahaan ini yang mengidamkan bos."


"Sepertinya itu benar karena selama ini bos tidak pernah dekat sekalipun dengan satu wanita manapun. Pasti ada sesuatu yang istimewa dan membuat memutuskan untuk mengakhiri status jomlo."


Seperti itulah pembicaraan dari staf pria yang justru berbanding terbalik dengan staf wanita. Bahagia vs kecewa merupakan perbandingan antara mereka yang memiliki pendapat berbeda setelah mengetahui gosip yang beredar di perusahaan mengenai pimpinan perusahaan.


Sementara itu, sosok wanita yang saat ini berada di salah satu ruangan berukuran luas yang terlihat sangat rapi dengan beberapa furniture mahal di dalamnya.


Sosok wanita yang tak lain adalah Diandra, saat ini berada di ruangan Yoshi karena memang semalam pria itu menyuruh asisten pribadinya menyiapkan semuanya untuk menempatkan sekretaris pribadi di sana.


Yoshi tidak ingin berada di ruangan berbeda dengan Diandra setelah memikirkan mengenai Austin yang seperti mengancam tidak akan pernah melepaskan wanita yang saat ini sudah menerima lamarannya.


Ia menganggap bahwa semuanya telah selesai karena berpikir jika orang tuanya akan setuju dan tidak akan melarang untuk menikahi wanita yang dicintai.


Hingga ia pun kini sudah jangan yakin jika Diandra sebentar lagi akan menjadi istrinya. Jadi, ingin selalu melihat calon istri dan berniat untuk melindungi wanita yang membuatnya ingin mengakhiri masa lajangnya.


Yoshi saat ini menatap ke arah Diandra yang duduk di sudut kiri ruangan dan membuatnya tidak berkedip saat melihat sosok wanita yang menurutnya jauh lebih cantik dari pertama bertemu.


Ia sadar jika saat ini telah jatuh cinta dan membuatnya seolah merasa jika tidak ada wanita yang cantik selain Diandra.

__ADS_1


Hingga ia yang tadinya memeriksa beberapa dokumen di atas meja, saat ini mengangkat pandangan untuk memanjakan mata saat menatap ke arah pemandangan yang jauh lebih menarik dari apapun.


'Calon istriku yang sangat cantik. Aku berjanji akan selalu melindungimu sampai kapanpun. Tidak akan kubiarkan pria itu merebutmu dariku karena aku tahu kamu sama sekali tidak menyukai Austin meskipun sudah melakukan hubungan dengan si berengsek itu.'


Saat ini Yoshi baru menyadari bahwa cinta selalu bermula dari mata turun ke hati dan berakhir dengan sebuah kenyamanan. Bahwa semua hal yang didasarkan atas kenyamanan, akan membuat siapapun tidak memperdulikan kekurangan pasangan.


Bahwa meskipun ia sudah mengetahui Diandra bukan lagi seorang wanita perawan yang menjadi idaman para pria perjaka, tetap saja cintanya tidak pernah hilang.


Bahwa sesuatu yang timbul dari sebuah kenyamanan karena ada sebuah klik ketika berbicara dengan seseorang yang membuat nyaman, sehingga dengan mudah memberikan hati yang tulus.


Saat Yoshi menyangga tulang pipi dengan tangan yang menopang di atas


meja, ia seketika tersenyum simpul begitu melihat wanita di depan komputer itu menatap ke arahnya.


"Jangan menatapku seperti itu! Tingkahmu seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta." Diandra tadinya berniat untuk bertanya pada Yoshi karena ada satu poin yang tidak ia mengerti.


Hingga ketika ia mengalihkan pandangan dari laptop ke arah meja kerja pria yang saat ini menjadi bosnya tengah menatap tidak berkedip seperti ia sangat mempesona saja.


Sebenarnya di dekat pria itu selalu membuatnya menjadi seorang wanita paling beruntung di muka bumi. Seolah ia melupakan apa yang terjadi sebelumnya karena perbuatan Austin dan juga kecerobohannya karena tidak memeriksa ponsel saat memutuskan sesuatu.


Jadi, semenjak itu, Diandra ini berhati-hati untuk mengambil keputusan agar tidak masuk ke dalam lubang yang sama seperti dulu yang menyerahkan diri atau menjual keperawanan pada Austin demi operasi sang ayah saat Yoshi bahkan sudah mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan.


Meskipun di dalam hati sangat menyesal atas kecerobohannya yang memutuskan tanpa berpikir, Diandra ingin melupakan itu dan menganggap bahwa semua hal yang terjadi padanya memang sudah diatur dan ada hikmah dari semua itu.


Bahwa ia bisa bertemu dengan seorang pria hebat serta luar biasa baik seperti Yoshi yang berniat untuk menikahinya setelah mengungkapkan lamaran yang kemarin ditolaknya.


Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menerima lamaran Yoshi secepat itu karena berpikir ia ingin menyembuhkan luka di hati terlebih dahulu.


"Suka-suka aku mau melihatmu sepuasnya atau tidak. Itu merupakan sebuah hak yang tidak bisa dilarang oleh siapapun!" Yoshi terkekeh mendengar perkataannya sendiri yang dianggap sangat konyol.


Sementara itu, Diandra hanya tersenyum masam karena mendapat penolakan dari pria yang bahkan tidak sekalipun mengalihkan pandangan darinya. "Kamu punya hak dan aku tidak punya hak untuk menolaknya?"


"Wah ... bukankah itu namanya berat sebelah dan tidak adil? Jika kamu jadi hakim, pasti akan menuai kontroversi dan dimusuhi banyak orang."


Diandra yang masih menampilkan wajah masam dengan bibir mengerucut, kini melambaikan tangan agar pria yang hanya menanggapinya dengan tertawa bisa mendekat karena ia membutuhkan bantuan.


Yoshi seketika bangkit berdiri begitu melihat Diandra memanggilnya. "Tidak masalah semua orang mengusir diriku asalkan kamu mencintaiku."


Ia berbicara saat berjalan mendekati wanita yang sama sekali tidak menjawab pernyataan cintanya dan tentu saja membuatnya merasa kecewa karena tidak mendengar Diandra mengucapkan cinta untuk membalas pernyataan yang baru saja diungkapkan.


"Ada apa? Apa kamu Ingin membuatku semakin jatuh cinta padamu dengan berdekatan seperti ini?" tanya Yoshi yang saat ini sudah berdiri di sebelah kanan Diandra dengan menopang beban tubuhnya di atas meja.


Ia sekolah sangat menyukai posisi berhadapan dengan wanita yang akan menjadi istrinya sebentar lagi karena Setelah orang tuanya merestui, akan langsung menikah dan tidak lagi berstatus jomlo sejati.


Bahkan saat ini sudah memikirkan beberapa konsep pernikahan yang akan dilakukan dengan Diandra. Meskipun belum membicarakan dengan wanita itu karena ia masih mematangkan konsep yang dipilihnya.


Semenjak Diandra menerima lamarannya, ia saat ini merasa hidupnya lebih berwarna dan bersemangat karena tidak lagi merasa khawatir cintanya ditolak.

__ADS_1


Seolah wanita itu memiliki perasaan yang sama serta tujuan dalam hidup dan membuat mereka memutuskan untuk menjalin hubungan serius demi melaksanakan salah satu perintah Tuhan, yaitu menikah.


Diandra hanya geleng-geleng kepala melihat sikap nakal yang menggoda dari Yoshi. Sebenarnya ia merasa sangat gemas dan ingin sekali mencubit kedua pipi pria itu, tapi menahan sekuat tenaga agar tidak terlihat seperti seorang wanita yang sangat berani pada bosnya.


"Terserah apa yang kamu pikirkan padaku." Kemudian mengarahkan jari telunjuk pada layar. "Ada satu poin penting yang tidak kumengerti. Apa kamu bisa menjelaskannya padaku?" ucap Diandra yang saat ini fokus menatap pada layar komputer.


Sementara itu, Yoshi yang merasa sangat kecewa karena ternyata Diandra memanggilnya bukan karena pribadi. Melainkan membutuhkan bantuannya untuk menyelesaikan hal yang tidak diketahui.


Kini, ia mengalihkan perhatian dari wajah cantik wanita itu dan beralih pada layar yang ditunjukkan oleh Diandra. "Aaah ... jadi itu yang membuat pesonaku aku tidak berharga di matamu?"


Diandra mengerutkan kening karena merasa bahwa perkataan dari Yoshi seperti seorang pria yang suka merayu wanita. Namun, ketika ia ingin membuat pria itu makin menyukainya dan tergila-gila padanya dengan mengeluarkan rayuan seperti ia sangat ahli dalam mencuri hati pria.


"Pesonamu tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh apapun dan siapapun. Jadi, jangan khawatir karena aku tidak akan pernah melirik pria lain setelah kita menikah nanti," ucap Diandra yang kemudian tertawa karena merasa perkataannya sangat konyol.


"Apa aku sudah pantas menjadi seorang wanita perayu?" Diandra sebenarnya merasa konyol atas perbuatannya yang bisa segila itu menanggapi candaan dari Yoshi.


Namun, pria itu benar-benar berhasil membuat luka di hatinya sembuh begitu saja hanya dengan sebuah perhatian serta keseriusan yang ditunjukkan oleh Yoshi.


Bahkan ia seolah tidak peduli dengan apapun selain pria itu yang menjadi satu-satunya tujuan hidup setelah mendengar ajakan menikah. Hingga ia merasakan sebuah cubitan pada pipinya dari tangan dengan buku-buku kuat itu.


"Iiish ... bikin aku gemes saja!" sarkas Yoshi yang refleks tanpa pikir panjang langsung membuat pipi putih itu berada dalam kuasanya dan terkekeh melihat respon dari bibir mengerucut Diandra.


Bahkan posisinya yang sangat dekat dengan Diandra membuatnya bisa jelas melihat setiap pahatan dari wajah cantik wanita di hadapannya tersebut.


Hingga pandangannya terhenti pada bibir sensual yang merekah serta berwarna merah jambu itu.


Karena tidak ingin melakukan kesalahan ataupun berpikir macam-macam saat melihat bibir yang seolah menggoda untuk dibungkamnya, seketika membuat Yoshi melepaskan tangannya dari kedua sisi pipi putih Diandra.


Bahkan bertepatan saat ia menurunkan tangannya, meringis kesakitan ketika mendapatkan sebuah cuplikan pada pahanya.


"Rasakan ini!" sarkas Diandra yang mengungkapkan rasa kesalnya karena tadi merasakan nyeri pada bagian pipi akibat perbuatan Yoshi yang gemas padanya.


'Padahal aku tadi ingin melakukan itu padanya, tapi malah ia yang melakukannya padaku. Menyebalkan sekali!' gumam Diandra yang bisa melihat raut wajah kesakitan dari pria yang saat ini menahan tangannya.


"Sakit ... sakit! Kenapa malah mencubitku sekuat itu?" Yoshi merasakan panas pada pahanya karena ternyata Diandra mencubit sangat kuat.


Seolah ingin memberikan hukuman agar ia tidak mengulangi kesalahan. Jadi, segera mengangkat tangan ke atas sebagai tanda bahwa ia menyerah.


"Ampun ... ampun, Bos!" ucapnya untuk memohon agar wanita itu melepaskan kuasa karena mungkin pahanya sudah berubah memerah karena perbuatan Diandra.


Diandra seketika tertawa melihat pemandangan yang membuat Yoshi seperti seorang penjahat yang tertangkap.


"Rasakan! Makanya jangan macam-macam padaku!" seru Diandra yang masih terkekeh geli melihat wajah Yoshi yang lucu saat menyerah padanya.


Kemudian ia kembali menunjuk ke arah layar komputer. "Aku memintamu untuk menjelaskan itu, bukan mengajakmu bermesraan atau menggodamu. Nanti para staf di perusahaanmu akan mengejekku tidak bisa bekerja dan hanya mengandalkan koneksi masuk ke sini."


Meskipun itu benar, tetap saja Diandra tetap tidak ingin membuat orang-orang bergosip miring padanya bahwa ia tidak punya kemampuan apapun dan mudah diremehkan.

__ADS_1


'Akan kutunjukkan bahwa aku bisa bekerja dengan baik,' gumam Diandra yang saat ini menatap serius pada pria yang mulai menjelaskan padanya mengenai sesuatu hal yang tidak ia pahami karena berpikir jika nanti ada yang bertanya padanya, akan mudah dijawab olehnya.


To be continued...


__ADS_2