Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Sangat seksi


__ADS_3

Detik demi detik pun berlalu dan jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Semua staf perusahaan menutup laptop mereka masing-masing dan bangkit dari kursi untuk pergi makan siang ke kantin perusahaan.


Berbeda dengan Diandra yang belum mematikan laptop karena mesih fokus pada pekerjaan. Ia sangat bersemangat dalam bekerja.


Sebenarnya ia malas untuk makan dan ingin fokus pada laptopnya. Namun, menyadari bahwa mendapatkan perintah dari bos untuk membeli makan siang. Ia menunggu semua rekan kerja keluar lebih dulu karena takut mendapatkan tatapan aneh atas penampilannya.


Karena ia tadi berbohong bahwa pakaiannya robek, sehingga tidak mungkin melepaskan jas di tubuhnya. Padahal ia sebenarnya merasa risi dan berpikir bahwa penampilannya sangat aneh ketika menjadi jas kebesaran itu.


'Apa aku harus memakai jas pria itu seharian? Rasanya ingin segera melepaskannya,' gumam Diandra yang kini melirik jam tangannya dan sudah lima menit berlalu saat jam istirahat.


Buru-buru ia mematikan laptop dan mendengar suara dari wanita yang menurutnya sangat baik padanya.


Adelia yang baru saja bangkit dari kursi, mengerutkan kening saat melihat Diandra tidak kunjung bangkit dari tempatnya. "Apa kamu mau pergi makan ke kantin bersamaku?"


Dengan menggeleng perlahan, Diandra menatap ke arah Adelia di sebelah kirinya. "Aku ada pekerjaan tambahan saat jam istirahat. Kamu pergi saja karena aku juga buru-buru."


"Pekerjaan tambahan? Memangnya apa? Atau kamu ada janji dengan kekasihmu yang mengajak makan bersama? Pasti kekasihmu sudah memesan makanan enak untukmu, kan?" tanya Adelia dengan mengedipkan sebelah mata.


Diandra kini hanya menampilkan wajah masamnya. "Seandainya begitu, aku pasti akan sangat senang, tapi itu hanya mimpi. Aku harus ...."


Diandra tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya karena ia khawatir jika Adelia berpikiran buruk tentangnya. "Aah ... aku harus cepat karena jika sampai terlambat, akan mendapatkan kemurkaan dari seseorang."


"Baiklah, aku pergi dulu. Selamat makan di kantin," seru Diandra yang kini langsung mengambil tas miliknya dan ia berjalan cepat menuju ke arah lift untuk segera turun ke lobi bersama beberapa staf lainnnya yang hanya menatap penampilannya.


Diandra memilih diam tanpa mengungkapkan nada protes dan kembali melihat jam tangannya. 'Aah ... sudah sepuluh menit berlalu. Aku harus cepat. Kira-kira lama atau tidak ya membeli makanannya?'

__ADS_1


Diandra kini langsung berjalan cepat keluar begitu tiba di lobi. Bahkan ia berlari kecil menuju ke arah restoran yang berada di sebelah kiri perusahaan. Nasib baik ia tidak perlu menyeberang jalan.


Jadi bisa berlari di trotoar agar bisa segera sampai di restoran. Saat ia tiba di pelataran restoran dengan konsep western dan Nusantara itu, Diandra mendengar dering ponsel miliknya.


Refleks ia mengambil benda pipih tersebut dari dalam tas dan melihat yang menelpon adalah pria yang membuatnya bernapas ngos-ngosan karena harus berlarian agar tidak membuang banyak waktu.


"Mengganggu saja. Apa maunya kali ini?" ucap Diandra yang kini menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Apa kamu sudah ada di restoran?" tanya Austin di seberang telpon.


"Iya, Presdir? Ada apa?" Diandra bahkan kini sudah masuk ke dalam area restoran dan berniat untuk memesan makanan. Namun, ia seketika bernapas lega begitu mendengar jawaban dari Austin.


"Aku tadi sudah menyuruh asistenku untuk memesannya, kamu tinggal mengambilnya saja."


'Astaga! Jika ia sudah menyuruh asistennya, kenapa tidak sekalian saja mengambil. Atau memanfaatkan jasa antar, pasti ada. Sepertinya ia memang sengaja melakukan itu untuk mengerjaiku karena berpikir adalah hukuman.'


Saat baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas, Diandra langsung bertanya pada salah satu waiters dan disuruh untuk duduk sebentar menunggu saat diambilkan pesanan.


Dua menit kemudian, Diandra melihat waiters sudah membawa bungkusan makanan dan ia berniat ke kasir untuk membayar.


"Sudah dibayar lunas untuk satu bulan, Nona karena tuan Austin sudah berlangganan di restoran ini," sahut pegawai pria yang kini menyerahkan kotak makanan.


Diandra kini mengerutkan kening dan merasa sangat bingung karena yang dalam rekeningnya akan utuh karena jika tidak untuk membayar makan siang.


'Jika uang yang dikirim pria itu hanya untuk makan pagi, apa sisanya untukku? Apa ia menganggap itu adalah bayaran untukku?' gumam Diandra dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Diandra yang tadi langsung menerima kotak makanan, kini sudah kembali melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri trotoar. Karena berpikir masih punya banyak waktu, ia tidak berlari seperti tadi.


"Sepertinya nanti aku harus bertanya pada penjahat wanita itu mengenai apa maksudnya. Ia mengirimkan uang lima juta kemarin, cuma untuk sarapan? Sultan memang beda dengan orang miskin sepertiku yang hanya butuh satu juta untuk biaya makan."


"Itu pun aku harus irit agar tidak lebih dari itu karena ingin mengumpulkan uang demi bisa membayar utang. Kira-kira berapa gajiku di perusahaan ya? Jadi, aku bisa menghitung berapa sisanya setelah dipotong untuk mencicil utang pada presdir."


Menyadari kekonyolannya, Diandra seketika menepuk jidatnya. "Baru bekerja sehari saja sudah menghitung gaji. Lupakan itu dan fokus saja bekerja, Diandra."


Diandra kini berjalan lebih cepat memasuki lobi perusahaan. Sebenarnya ia tadi menyapa security dengan tersenyum, tapi bisa melihat tatapan aneh dan mengerti karena semua itu akibat jas yang dikenakan.


Tidak hanya itu, resepsionis pun juga menatapnya dengan tatapan mengintimidasi dan bahkan melihat mereka berbisik-bisik dan yakin jika itu tengah membicarakannya.


Diandra tidak memperdulikan itu dan buru-buru masuk ke dalam lift. Beberapa saat kemudian, ia sudah tiba di ruangan kerja atasannya. Setelah mengetuk pintu, langsung membukanya dan melihat siluet belakang pria yang berdiri di dekat jendela kaca raksasa.


Untuk beberapa saat ia menyadari bahwa siluet tubuh pria yang memunggunginya itu sangat seksi. Bahu lebar dan tubuh tinggi tegap serta proporsional membuatnya menyadari bahwa pantas sekali jika pria itu adalah seorang penjahat wanita.


Begitu ia melihat pria itu berbalik badan dan bersitatap dengannya, membuatnya menelan ludah dan degup jantung tidak beraturan. Karena gugup, ia langsung menyembunyikan dengan menunjukkan kotak makanan di tangan.


"Ini makan siang untuk Anda, Presdir. Apa boleh saya makan siang di meja kerja?" Diandra meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja.


Namun, ia merasa sangat malu dan tidak punya muka begitu mendengar jawaban dari pria yang kini malah menertawakannya.


"Apa kamu berpikir makanan itu satunya untukmu? Kekasihku sebentar lagi datang dan aku mengajaknya makan siang di ruanganku." Austin tersenyum menyeringai dan berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah memerah karena malu tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2