
Hari ini Diandra pulang dari tempat tetapi langsung diantar supir ke perusahaan sang suami. Ia ingin memberikan sebuah kejutan pada pria yang sangat dicintai dengan tersebut. Tentu saja untuk menunjukkan bagaimana reaksi sang suami saat melihat dia sudah bisa berjalan kembali setelah perjuangan selama satu tahun belakangan ini yang cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran.
Diandra saat ini menyuruh sopir untuk mengeluarkan kursi roda miliknya karena memang akan berakting tetap duduk di sana. Kemudian ia menyuruh untuk mendorong kursi roda yang ia duduki tersebut ke lobby perusahaan.
"Sudah, sampai di sini saja, Pak. Aku akan masuk sendiri." Diandra yang baru memasuki lobby, ingin ke lantai atas sendirian tanpa dibantu sang supir.
"Baik, Nyonya." Kemudian ia pun mulai membungkuk hormat sebelum berlalu pergi dan pulang ke rumah karena majikannya tersebut akan menunggu sang suami di perusahaan.
Diandra yang saat ini sudah mengarahkan kursi roda ke arah lift, beberapa kali mendapatkan hormat dari staf yang melintas. Hingga ia pun saat ini berpikir bahwa semua orang merasa iba karena menawarkan bantuan untuk mengantarkan ruangan sang suami.
Namun, ia menolaknya dan masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan yang merupakan tempat pertama kali bertemu dengan pria yang dengan hebat mencintainya. Ia yang baru saja menekan tombol, kini tersenyum menatap angka digital yang bergerak menuju ke lantai atas.
"Setiap aku masuk ke dalam lift ini, pasti selalu mengingat pertemuan pertama dengan suamiku yang dulu sangat arogan dan menyuruhku untuk berakting menjadi kekasihnya. Padahal dulu aku sangat membencinya karena selalu berbuat sesuka hati dengan mengandalkan kekuasaannya," lirih Diandra yang saat ini menyadari bahwa benci dan cinta merupakan hal yang saling berkaitan.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika rasa benciku berubah menjadi cinta sebesar ini pada suamiku yang sangat tulus mencintaiku dengan menunjukkan keseriusannya untuk menikahi wanita cacat sepertiku. Bahkan mungkin di dunia ini tidak ada yang memiliki cinta sebesar itu pada seorang wanita karena selalu sabar menghadapiku yang sering berubah mood." Pintu lift terbuka dan ia langsung keluar dari ruangan kotak besi tersebut.
Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan apakah ruangan yang terlihat sangat sepi disebut ada orang atau tidak, tapi yang jelas saat ini ia ingin hanya berduaan dengan sang suami.
"Apa suamiku berada di ruangannya? Atau ada asisten pribadinya yang saat ini berada di ruangannya?" Diandra ia saat ini mengarahkan kursi roda ke ruangan kerja sang suami, kini terdiam sejenak sebelum menutup pintu di hadapannya.
Ia mengambil napas teratur sebelum masuk ke dalam. "Aku harus berakting dengan baik untuk mengerjainya."
Diandra bahkan tersenyum menyeringai karena membuat sang suami merasa rezeki atas keberhasilannya untuk berjalan. Kemudian ia mengarahkan tangannya untuk mengetuk pintu dan menunggu hingga suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Namun, sama sekali tidak ada suara dan membuatnya mengerutkan kening. Ia pun mulai membuka kenop pintu untuk memeriksa apakah ada orang di dalam.
Saat pintu terbuka, tidak ada orang di ruangan kerja sang suami dan membuatnya memicingkan mata. Hingga ia pun kini mulai mengambil ponsel miliknya untuk menelpon pria yang ingin diberikan kejutan.
"Ke mana suamiku?" tanya Diandra yang saat ini sudah memencet tombol panggil dan menunggu hingga panggilannya diangkat.
Beberapa detik kemudian, suara bariton dari seberang telepon terdengar dan membuatnya langsung membuka suara.
"Halo, Sayang."
Suara Austin yang saat ini terdengar sangat aneh menurut Diandra, sehingga membuatnya merasa curiga ada sesuatu yang dilakukan.
"Sayang, kamu di mana? Itu kamu sedang ngapain? Kenapa seperti orang yang ngos-ngosan." Diandra merasa sangat aneh mendengar suara dari sang suami dan membuatnya curiga ada sesuatu yang dilakukan saat ini.
"Aku sedang makan sesuatu yang sangat pedas, Sayang karena tadi dibawakan oleh-oleh dari salah satu rekan bisnis dan saat ini sedang makan bersama dengan Daffa di ruangannya. Ada apa, Sayang?" tanya Austin yang merasa aneh karena tiba-tiba sang istri bertanya seperti orang yang curiga padanya.
Hingga ia pun seketika pagi dari kursi begitu mendengar jawaban dari sang istri yang ternyata berada di ruangannya.
"Aku mau juga. Cepat bawa ke sini karena saat ini aku ada di ruangan kerjamu?" Diandra yang selama ini suka pedas, merasa penasaran dengan makanan apa yang dinikmati oleh sang suami yang notabene tidak pernah suka dengan makanan pedas.
__ADS_1
Jadi, ia ingin juga merasakannya. Apalagi ia selama ini tidak ngemil karena khawatir berat badannya naik. Ia tidak mau gemuk dan membuat sang suami kesusahan saat menggendongnya. Akhirnya duduk di kursi roda dan tidak bisa berjalan, selalu menjaga pola makan agar berat badannya tetap stabil.
"Sebenarnya apa yang dimakan oleh suamiku? Tumben dia berani makan pedas. Aku jadi penasaran dan ingin merasakannya. Aku sekarang bebas makan apa saja. Sekarang tidak perlu khawatir berat badan naik karena sudah bisa berjalan sendiri." Ia saat ini masih duduk di kursi roda dan tentu saja melanjutkan aktingnya.
Sementara itu di ruangan asisten pribadi, Austin yang tadi memberikan makanan khas dengan rasa pedas itu pada Daffa, seketika menarik ucapannya karena sang istri memintanya.
"Kamu beli saja sendiri karena ternyata istriku datang dan memintanya," ucapnya sambil membereskan makanan.
Sementara itu, Daffa yang saat ini hanya menganggukkan kepala karena jujur saja ia tidak suka makanan yang berbau pedas. Apalagi mempunyai penyakit lambung yang langsung kumat jika memakan sesuatu yang terlalu pedas.
Hanya saja tadi tidak bisa menolak karena khawatir mengecewakan atasannya. Jadi, sekarang merasa sangat lega karena bebas dari makanan yang membuat lidahnya serasa terbakar. Padahal tadi hanya mencoba sedikit, tapi langsung membuat perutnya melilit.
"Tidak apa-apa, Presdir. Biar nyonya Diandra yang menghabiskan makanannya karena biasanya perempuan suka pedas," ucap Daffa yang baru saja membantu atasannya untuk membereskan makanan di atas meja.
Beberapa saat kemudian, Austin sudah membawa kotak berisi makanan yang membuatnya sampai mendesis karena lidahnya terasa terbakar ketika menikmatinya. Kemudian ia keluar dari ruangan asisten pribadinya menuju ruangan sendiri.
Begitu membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam, melihat sosok sang istri saat ini berada di dekat jendela kaca raksasa sambil menatap ke bawah. "Sayang, kenapa tidak bilang kamu datang ke sini?"
"Aku pasti akan menjemputmu di lobby dan kamu tidak perlu susah payah naik sendirian," ucap Austin yang langsung meletakkan kotak makanan ke atas meja dan menghampiri sang istri.
Kemudian membungkuk dan langsung mengecup kening seperti biasanya. "Aku sangat senang kamu datang, Sayang. Kebetulan tadi aku sedang makan siang bersama dengan Daffa, tapi rasanya benar-benar membakar lidah karena sangat pedas."
Diandra yang masih berakting, kini makin penasaran dengan apa yang membuat wajah memerah sang suami. "Aku tadi pulang terapi langsung menyuruh sopir untuk mengantarkan ke sini. Jadi, menyuruh mama untuk menjemput Aksa di sekolah. Memangnya apa yang kamu makan?"
"Kamu pasti suka karena suka makanan pedas, kan?" Austin kemudian membuka kotak berisi satu ekor ayam panggang tersebut lengkap dengan urap dan nasi. "Biar aku suapi agar tanganmu tidak kotor."
Refleks Diandra langsung membuka mulut begitu sang suami bergerak menyuapinya. Bahkan ia merasa sangat senang karena tidak perlu repot-repot mengotori tangannya untuk memotong ayam yang terlihat sangat merah dan pastinya benar-benar memiliki rasa pedas.
"Bagaimana, Sayang? Sangat pedas, kan?" tanya Austin yang saat ini menatap ke arah calon istri ketika mengunyah makanan seperti tengah merasakan kenikmatan yang ada di dalam mulut.
Diandra yang saat ini langsung menentukan kepala karena rasa dari ayam panggang tersebut memang sangat pedas, tapi sangat disukainya. "Pedas, tapi sangat enak, Sayang. Pantas saja tadi kamu berbicara sambil mendesis karena kepedasan."
Austin yang saat ini kembali bergerak untuk memotong ayam dan menyuapkan ke dalam mulut sang istri, lalu ia pun duduk di sofa karena tadi berdiri dan membungkuk.
"Kalau kamu suka, habiskan saja karena aku tidak suka pedas. Tadi hanya mencoba sedikit dengan Daffa. Dia pun sampai meneteskan air mata ketika memakan dan membuatku tertawa saat melihatnya." Ia ketika tertawa mengingat ekspresi wajah lucu asisten pribadinya beberapa saat lalu.
"Pasti Daffa tidak suka pedas, tapi kamu suruh makan, jadi tidak enak menolaknya." Diandra berbicara sambil mengunyah makanan dan merasa sangat menyukai rasa dari ayam panggang itu.
Ia saat ini merasa penasaran dengan makanan tersebut. "Memangnya rekan bisnismu itu berasal dari mana? Jika dekat, bisa dong beli ini lagi?"
Austin saat ini langsung menggelengkan kepala karena berpikir jika itu tidak mungkin terjadi. "Jauh, Sayang. Dia dari Jawa dan ini makanan khas dari kampung halamannya."
"Hanya saja, ia sekarang tinggal di Jakarta dan tadi orang tuanya datang membawakan ini. Hubungan kami sangat baik seperti saudara sendiri dan membuatnya mengingatku. Jadi, menyuruh orang mengantarkan makanan ini ke perusahaan untuk makan siangku." Ia merasa senang melihat sang istri sangat lahap saat makan.
__ADS_1
Diandra yang saat ini merasa kepedasan, mengedarkan pandangan ke atas meja. Kemudian menuju ke arah gelas berisi air putih. "Sayang, aku mau minum."
Ia sengaja menyuruh karena ingin memberikan kejutan sekarang. Jadi, bersiap-siap untuk berdiri dari kursi roda dan membuat sang suami terkejut atas kejutan yang diberikan.
"Iya, ambilkan dulu minumnya, Sayang." Austin saat ini bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke meja kerjanya.
Sementara itu, Diandra melakukan hal sama begitu pria itu memunggunginya. Bahkan ia berjalan dengan mengendap-ngendap di belakang pria dengan bahu lebar tersebut sambil membekap mulut agar tidak tertawa dan didengar oleh sang suami.
Hingga begitu melihat sang suami mengambil gelas berisi air putih tersebut dan berbalik badan, seketika ia langsung berteriak, "Surprise!"
Austin saat ini mengerjapkan mata dan sangat terkejut dengan apa yang dilihat ketika sang istri berdiri di hadapannya. "Sayang? Kamu ...."
Ia tidak bisa melanjutkan pertanyaannya karena sudah dipotong oleh sang istri yang berbicara dengan menertawakannya.
"Iya, aku sekarang sudah bisa berjalan, Sayang. Alhamdulillah sekarang tidak merepotkanmu lagi. Setelah banyak perjuangan yang kulakukan dan mendapatkan dukungan penuh darimu, akhirnya sekarang usaha tidak mengkhianati hasil. Bukankah itu yang selalu kamu bilang padaku?" tanya Diandra yang tersenyum simpul.
Diandra yang baru saja menutup mulut, seketika merasakan tubuhnya terhuyung karena sang suami telah memeluknya dengan untuk mengungkapkan kebahagiaan luar biasa hari ini begitu melihatnya bisa berjalan.
Austin yang tadinya menaruh kembali gelas ke atas meja, tidak kuasa menyembunyikan perasaan membuncah yang dipenuhi oleh kebahagiaan luar biasa di hari ini.
Ia bahkan saat ini sudah memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya tersebut. "Syukurlah kamu akhirnya bisa kembali normal seperti dulu lagi, Sayang. Aku tidak menyangka jika akan secepat ini. Kamu benar-benar memberikan sebuah kejutan luar biasa untukku."
Diandra seketika menarik diri karena ingin memfilter perkataan dari sang suami. "Mana ada cepat, Sayang. Satu tahun adalah waktu yang sangat lama bagiku karena benar-benar membutuhkan banyak perjuangan. Enak saja bilang 1 tahun itu cepat."
Austin saat ini hanya terkekeh geli dan merapikan anak rambut yang berantakan dari wanita dengan bibir mengerucut tersebut. "Ya karena aku tidak merasakannya sendiri, Sayang. Maafkan aku. Iya, satu tahun adalah waktu yang lama untukmu berjuang agar bisa kembali normal dan membuat putra kita tidak khawatir lagi."
"Aksa pasti akan sangat bahagia melihat mamanya bisa berjalan lagi," ucap Austin yang saat ini sudah tidak sabar ingin melihat reaksi dari putranya.
Diandra seketika mengangguk perlahan karena juga memikirkan hal sama seperti sang suami. "Aku juga akan memberikan kejutan pada putraku nanti saat pulang, tapi sengaja ke sini agar kamu melihatnya terlebih dahulu sebelum putra kita."
"Terima kasih, Sayang karena memberikan kejutan luar biasa hari ini." Austin refleks langsung mendekatkan wajahnya untuk meraup bibir merah jambu sang istri.
Awalnya ia hanya ingin memberikan sebuah kecupan lembut, tapi karena merasa bibir sang istri adalah sebuah candu, sehingga membuatnya tidak bisa berhenti. Hingga ia pun mulai menyesal serta ********** dan berbagi saliva dengan penuh gairah.
Diandra yang tidak pernah bisa menolak perbuatan dari sang suami, kini mengimbangi dengan membalas ciuman. Entah sudah berapa menit berlalu, hingga ia kehabisan pasokan oksigen dan mendorong pada bidang pria yang seperti kehausan tersebut.
Sampai ia membulatkan mata begitu mendengar perkataan dari sang suami yang tidak pernah diduga sama sekali.
"Sayang, kita lanjutkan di dalam karena aku sudah berhasrat padamu. Bukankah sudah saatnya membuatkan adik untuk Aksa karena kamu sudah bisa berjalan lagi?" ucap Austin yang saat ini meminta persetujuan sebelum menanam benih di rahim sang istri.
Selama ini ia selalu berhati-hati dan memakai pengaman agar sang istri tidak hamil, jadi sekarang berpikir sudah saatnya memberikan adik perempuan untuk putranya.
To be continued...
__ADS_1