Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kedua kalinya


__ADS_3

Austin yang tadinya berniat untuk membalas rasa nyeri pada bibirnya yang robek dengan darah keluar dari sana, tidak jadi mengarahkan pukulan karena begitu melihat raut wajah memerah dari Yoshi yang seperti tengah hancur, kini membuatnya benar-benar sangat puas.


Bahkan berpikir berhasil mengalahkan pria yang dulunya sangat sombong seolah percaya diri telah mendapatkan Diandra, tapi hari ini ia yang menang tanpa harus mengotori tangannya untuk berbuat sesuatu.


"Wah ... calon pengantin pria saat ini tengah memikirkan wanita lain rupanya. Apa jadinya calon istrimu jika sampai mengetahui hal ini? Pastinya akan berdampak buruk pada ayahmu yang tengah berjuang hidup." Austin mengusap sudah bibir bagian kanan yang mengeluarkan darah dan melihatnya.


"Apakah aku salah ingin menikahi Diandra yang sudah berhasil kurenggut kesuciannya? Sementara kau sebentar lagi akan bahagia bersama dengan jaksa terkenal itu? Ternyata calon istrimu sangat cantik dan merupakan wanita hebat rupanya," sarkas Austin yang saat ini melihat respon dari Yoshi.


Apalagi ia bisa melihat saat sosok wanita yang tadi menyapanya itu mempunyai sifat yang biasa dimiliki oleh seorang independent woman. Bahwa wanita seperti itu sangatlah sulit untuk ditaklukan dan tidak akan memperlihatkan sifat lemah di depan seorang pria.


Jauh dari kata bermanja-manja, menangis ataupun terpuruk adalah ciri-ciri wanita independen. Hingga ia pun berpikir jika wanita seperti itu sangat cocok mengikat seorang Yoshi agar tidak berani macam-macam dengan mendekati Diandra lagi.


"Apa kau ingin aku mengatakan pada calon istrimu mengenai tentang Diandra yang membuatmu memikirkannya saat ini?" Austin melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan merasa jika ia tidak bisa berlama-lama di sana karena berniat untuk menjemput Diandra agar pindah dari apartemen pria yang sudah beristri.


Sementara itu, Yoshi yang saat ini masih tidak bisa menahan gejolak amarah yang membuncah di dalam hatinya, dari tadi mengepalkan tangan yang ingin diarahkan kembali pada wajah seorang Austin Matteo.


Hingga ia berpikir jika keluarga sosok wanita yang akan dinikahinya akan mengetahui tentang masalah Diandra dan berakhir seperti yang dikatakan oleh Austin, yaitu kondisi ayahnya akan drop.


'Sabarlah, Austin. Kau tidak boleh membuat keluarga wanita yang akan kau nikahi tahu tentang Diandra,' gumam Yoshi yang mencoba untuk mengambil napas teratur.


'Sekali kau berbuat ceroboh dengan membuat keributan, sudah dipastikan semuanya akan berakhir dan membuatmu menyesal,' gumam Yoshi yang menghembuskan napas kasar dan akhirnya meninju udara yang ada di sekitar untuk melampiaskan amarah.


Hingga ia pun mencoba untuk menenangkan perasaannya dengan beberapa kali mengambil nafas teratur dan berharap bisa lebih baik. Apalagi ia saat ini harus menghadapi tatapan mengejek serta senyuman nyeringai dari seorang Austin yang merupakan musuh besarnya untuk mendapatkan Diandra.


'Apakah aku akan kehilangan Diandra selamanya? Apakah Diandra akhirnya akan menerima Austin menjadi suaminya begitu mengetahui aku sudah menikahi wanita lain?'


Lamunan Yoshi seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria yang membuatnya benar-benar sangat marah karena mengejeknya habis-habisan.


"Selamat menempuh hidup baru. Aku tidak bisa berlama-lama di sini karena harus menjemput kekasihku. Mana mungkin aku membiarkan calon istriku tinggal di apartemen pria beristri? Bagaimana jika nama baik Diandra menjadi buruk dan tercemar hanya gara-gara tinggal di apartemen sepupumu?"


Puas adalah sebuah hal yang yang sangat mewakili kebahagiaan Austin hari ini. Karena dalam situasi apapun, takdir selalu berpihak padanya dan berpikir jika semua itu karena ketulusannya untuk menikahi wanita yang telah ia renggut kesuciannya.

__ADS_1


Kemudian menunggu tanggapan dari pria yang kembali terlihat murka tersebut, Austin seketika berjalan meninggalkan Yoshi dengan menepuk pundak ketika melewatinya.


Bahkan ia melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang untuk melihat raut wajah mengenaskan dari calon pengantin pria tersebut. "Dasar bodoh!"


"Bukankah seharusnya di hari pernikahan terlihat bahagia? Ini yang ada malah iya seperti baru saja ditinggalkan oleh calon istri saja," ujar Austin dengan tersenyum simpul ketika berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


Di sisi lain, Yoshi masih berusaha untuk menormalkan dekuk jantungnya yang seperti mau meledak saat itu juga, seketika beralih menatap ke arah pintu ruangan perawatan sang ayah.


"Kenapa semua ini terjadi secara kebetulan? Apakah benar Diandra ingin pergi bersama Austin dan tidak mau lagi tinggal di apartemen Naura?" Yoshi saat ini berjalan menuju ke arah sebelah kanan ia berdiri karena berniat untuk menelpon wanita yang sangat dikhawatirkannya.


"Diandra, ternyata kamu semalam sudah mengetahui bahwa aku dijodohkan oleh orang tuaku. Kenapa kamu bersikap seperti tidak mendengar apa-apa? Kamu pasti saat ini merasa sangat terluka karena takdir tidak berpihak pada hubungan kita."


Yoshi sudah tidak sabar untuk bisa mendengar suara Diandra dan memecat tombol panggil pada nomor wanita itu. Namun, ia merasa semakin khawatir pada Diandra begitu nomor yang dituju tidak aktif hanya operator yang menjawab.


"Diandra menonaktifkan ponselnya. Aku yakin jika ia tengah merencanakan sesuatu, tapi apa?" Yoshi saat ini memikirkan tentang apa yang dilakukan oleh Diandra dengan berusaha memahami wanita itu melalui sikap-sikapnya beberapa hari terakhir ini.


"Apa yang kira-kira dilakukan oleh seorang wanita dengan harga diri tinggi dan selalu tidak ingin menyusahkan orang lain?" Karena merasa sangat khawatir dengan keadaan Diandra dan tidak bisa berpikir jernih saat otaknya dipenuhi oleh kekhawatiran, sehingga membuatnya merendahkan harga diri.


"Apa kau merindukanku hingga menelpon saat aku masih berada di rumah sakit?" tanya Austin yang saat ini baru saja keluar dari lift dan menuju ke arah lobby rumah sakit.


Tanpa berniat untuk menanggapi, kini Yoshi berpikir bahwa ia lebih mengutamakan tentang keadaan Diandra daripada ejekan Austin.


"Apa kau tahu bahwa nomor Diandra tidak aktif? Apakah kau mengenal Diandra dengan baik? Karena jika mengenalnya dan mengetahui ia mematikan ponselnya, kira-kira apa yang dilakukan Diandra saat ini?"


Austin saat ini terdiam dan seketika menghentikan langkahnya yang sudah keluar dari lobi Rumah Sakit menuju ke parkiran. Tentu saja iya sangat hafal apa yang akan dilakukan oleh Diandra karena pernah mengalami situasi seperti ini.


"Sial! Aku seperti mengalami Dejavu!" Tanpa berniat untuk melanjutkan pembicaraan dengan pria yang dianggap tidak penting karena saat ini fokus pada keadaan wanita yang dicintai dan refleks langsung mematikan sambungan telepon.


Austin saat ini merasa khawatir jika Diandra melakukan hal yang sama ketika ia merenggut kesucian wanita itu yang langsung kabur darinya setelah membuang nomor lama.


"Kamu kali ini tidak akan menghilang untuk kedua kalinya, bukan?" Kemudian mencari kontak Diandra dan langsung memencet tombol panggil dan seperti yang ditakutkan atau dikatakan oleh Yoshi beberapa saat lalu, sehingga membuatnya mengepalkan tangan kirinya.

__ADS_1


"Diandra! Kali ini kamu kabur ke mana?" Tanpa membuang waktu karena berharap masih bisa menemukan Diandra, Austin saat ini berjalan cepat menuju ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil yang langsung dikemudikan meninggalkan area rumah sakit.


Ia berkali-kali mengempeskan tangan pada kemudi untuk melampiaskan kekesalan hari ini karena khawatir jika Diandra benar-benar sudah pergi dari apartemen tanpa memberitahu siapa pun.


"Apa orang tuanya tahu jika putri mereka yang keras kepala itu kabur? Diandra pasti akan tetap menghubungi orang tuanya dan tidak akan menghilang ditelan bumi begitu saja." Menatap ke arah jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan karena jam kerja saat ini membuat jalanan macet.


"Aku akan menghubungi orang tuanya nanti jika sampai Diandra benar-benar kabur dari apartemen sepupu Yoshi." Bahkan ia seketika mengacak frustasi rambutnya dan membuatnya khawatir jika saat ini keadaan Diandra tidak baik-baik saja karena mendapatkan kejahatan dari orang lain.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, Austin sudah tiba di lokasi apartemen yang semalam dikunjungi saat mengantarkan Diandra. Ia tidak langsung menuju ke unit apartemen yang ditempati oleh wanita itu karena pergi ke tempat informasi.


"Aku harus memeriksa CCTV karena jika Diandra sudah pergi seperti tebakanku, akan terlihat jelas." Kemudian ia bertanya pada security dan ditunjukkan tempatnya.


Karena mengetahui bahwa semua orang sangat memuja uang dan bisa melakukan apapun demi bisa memilikinya, kini Austin meminta rekaman CCTV mulai dari pukul 12.00 malam.


"Tolong bantu aku!" Austin membungkukkan badan dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Baik, Tuan," sahut sosok pria berseragam berwarna biru yang saat ini duduk di antara layar yang menunjukkan rekaman CCTV apartemen.


Saat ini, Austin masih berdiri di sebelah pria yang sudah melaksanakan perintahnya. Bahkan selama beberapa menit ia fokus menatap ke arah layar dan seketika mengeluarkan suara begitu mengetahui apa yang ditakutkan yang benar benar terjadi.


"Stop! Wanita ini yang kumaksud!" Tolong putar lagi rekamannya dengan si zoom karena aku ingin melihatnya lebih deka." Austin ingin melihat ekspresi wajah Diandra ketika keluar membawa koper dan berdiri di depan apartemen.


Sementara itu, pria berseragam itu seketika mematuhi perintah dan menunjukkannya. "Baik, Tuan."


Masih fokus menatap ke arah CCTV, Austin seketika menghembuskan napas kasar begitu melihat ekspresi wajah muram dan juga terlihat jelas jika Diandra mengusap bulir air mata dari wajahnya karena menangis.


'Sial! Ternyata sesakit ini rasanya melihat wanita yang kucintai menangisi pria lain yang bahkan sudah akan menikah. Aku bisa ngomong mengobati lukamu dan bertanggung jawab menikahimu, Diandra.'


'Namun, sepertinya kamu selalu saja membenciku meskipun aku sudah menunjukkan keseriusanku padamu. Bahkan kamu bilang rela mencium kakiku agar aku melepaskanmu. Haruskah aku marah atau patah hati karena perbuatanmu?' gumamnya saat ini merasa bingung harus bagaimana karena Diandra sudah pergi tanpa sepengetahuannya.


Akhirnya Austin yang sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya, kini mengucapkan terima kasih pada dua pria yang ada di ruangan kontrol tersebut dan berlalu pergi untuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukan demi bisa menemukan sosok wanita yang kabur darinya untuk kedua kali.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2